Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Buona Notte


__ADS_3

Mia tersenyum manis. Gadis itu mengangguk pelan. “Aku akan memindahkanmu ke gudang tempat penyimpanan bahan makanan. Ayahku hampir tidak pernah ke sana, karena akulah yang biasa mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan pergudangan,” terang Mia. Sikapnya kini terlihat jauh lebih luwes.


“Ya, tidak apa-apa. Kau bisa menempatkanku di manapun selama itu tersembunyi,” sahut Matteo masih dengan suara beratnya.


“Kalau begitu, ikuti aku!” ajak Mia seraya beranjak dari duduknya. “Kau bisa berdiri sendiri, kan?” tanya Mia dengan polos, membuat Matteo kembali tertawa seraya berdiri perlahan.


“Tentu saja, Mia,” jawab Matteo. Ia menunjukkan jika dirinya adalah pria yang kuat dan tangguh. Luka sekecil itu, tidak berarti apa-apa bagi seorang Matteo de Luca.


Mia kemudian membalikan badannya. Ia lalu melangkah ke bagian lain dari kedai itu, jauh ke bagian dalam di dekat dapur. Di sana ada sebuah ruangan berukuran 2x1, dengan berbagai macam bahan makanan kering.


Wangi aroma rempah-rempah seketika menyeruak ke dalam hidung Matteo, membuat pria itu merasa tidak nyaman. Matteo bukan seorang koki yang bersahabat dengan aroma aneh seperti itu. Namun, ia harus mengesampingkan segala rasa tidak nyamannya. Bagaimanapun juga, ia harus tinggal di sana hingga lukanya benar-benar pulih. Barulah setelah itu ia akan kembali ke Brescia untuk menemui kedua orang tuanya.


“Kau tidak keberatan bukan jika kutempatkan di sini, Tuan?” tanya Mia seraya melirik Matteo.


Matteo menggeleng dengan yakin. “Tentu saja tidak. Ini sudah jauh lebih dari cukup,” jawabnya. Ia berusaha untuk menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Matteo harus membiasakan dirinya dengan tempat sempit itu.


Ya, saat ini Matteo tidak sedang berada di kediaman megahnya di Brescia. Ia tidak akan menemukan kamar dengan tempat tidur mewah dan empuk di kedai sederhana itu. Namun, Matteo patut bersyukur, karena Mia masih bersedia membantunya tanpa banyak bertanya yang macam-macam sehingga ia tidak harus terlalu banyak memberikan penjelasan.


Matteo kemudian berdiri tepat di hadapan Mia. Sementara Mia lagi-lagi hanya menundukan wajahnya, membuat Matteo merasa semakin penasaran akan diri gadis itu. “Terima kasih, Mia,” ucap Matteo dengan setengah berbisik. Suaranya terdengar begitu menggoda, membuat bulu-bulu halus di sekujur tubuh Mia seketika meremang.


“Ternyata, selain cantik kau juga sangat baik. Aku tidak akan pernah melupakan hal ini. Semua yang telah kau lakukan untukku,” ucap Matteo lagi masih dengan nada bicara yang sama. Sementara Mia terlihat kikuk. Ia hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


“Ayahku selalu mengajariku tentang tolong menolong. Satu kebaikan sekecil apapun, jika itu ditujukan kepada orang yang tepat, maka hal itu akan menjadi sejuta anugerah bagi orang yang menerimanya,” sahut Mia pelan. “Maaf, Tuan. Aku harus segera pulang. Ini sudah terlalu malam,” lanjut gadis itu.


“Iya. Berhati-hatilah!” pesan Matteo yang saat itu masih berdiri di hadapan Mia dan menatapnya dengan lekat meskipun gadis itu masih terus menundukan wajahnya.


Mia mengangguk pelan. “Terima kasih. Aku juga akan mengunci kedai ini, jadi ....” Mia tidak melanjutkan kata-katanya. Rasa penasaran itu kembali hinggap dalam hatinya. Mia tidak ingin salah mengambil langkah.


“Tuan ....” terdengar kembali suara lembut itu di telinga Matteo. Pria itu hanya menggumam pelan tanpa melepaskan tatapannya dari gadis lugu dan pemalu yang ada di hadapannya.


“Aku harap kau bukan orang yang sedang mereka cari,” ucap Mia lagi. Entah memiliki keberanian dari mana, sehingga ia bisa mengatakan hal itu kepada Matteo.


Matteo mengernyitkan keningnya. Ia mulai memasang ancang-ancang untuk menjawab semua keraguan Mia tentangnya. “Maksudmu?” tanyanya. Ia berpura-pura tidak mengerti dengan ucapan Mia.


Mia terdiam sejenak. Sesaat kemudian, ia kembali bicara. “Mayat di kanal utara yang mereka temukan ....” Mia kembali terdiam. Ia merasa bingung untuk melanjutkan kata-katanya. Mia takut menyinggung perasaan Matteo. “Ah, lupakan! Aku harus segera pulang,” ucapnya lagi seraya membalikan badannya.


Mia menatap wajah Matteo. Ia memberanikan dirinya untuk melawan tatapan dari warna abu-abu yang indah itu. “Kenapa kau menolongku, Mia? Kau bahkan melakukannya tanpa ragu,” ujar Matteo masih dengan tatapan tajamnya.


“Entahlah. Aku sama sekali tidak mengerti,” jawab Mia pelan.


Matteo semakin mendekatkan dirinya. Mia bahkan dapat mendengar helaan napas berat pria itu. Gadis itupun semakin menyembunyikan wajah cantiknya dari si pria.


“Kau percaya padaku, Mia?” tanya Matteo lagi. “Aku tidak akan pernah menyakitimu,” tegas Matteo meski masih dengan suaranya yang pelan. “Aku tidak akan melakukannya,” ucap Matteo lagi membuat Mia kembali mengangguk.

__ADS_1


Entah kenapa, Mia begitu percaya pada setiap ucapan yang dilontarkan pria itu kepada dirinya. Bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya, gadis itu menuruti semua permintaan Matteo tanpa protes sedikitpun.


“Pulanglah, jangan sampai kau membuat ayahmu merasa semakin cemas!” suruh Matteo. Ia lalu melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Mia. Gadis itu kembali membalikan badannya dan berlalu tanpa banyak bicara. Sementara Matteo hanya berdiri mematung. Ada perasaan aneh yang mulai menyapa hati kecilnya. Perasaan yang begitu asing bagi dirinya.


Untuk sejenak, pria dengan tato berupa simbol aneh di bagian lehernya itu tampak berpikir. Tiba-tiba ia merasa jika ia tidak sedang berada dalam karakter yang sebenarnya. Entah kenapa, atau apa yang telah membuatnya seperti itu.


“Tuan!” suara Mia kembali terdengar dan membuyarkan semua lamunannya. Matteo segera menoleh dan menyembunyikan keterkejutannya. Ia pikir, Mia telah pergi dari kedai itu.


Mia kembali menghampirinya. Gadis itu menyodorkan bantal berbentuk bunga yang tadi. “Ini adalah bantal kesayanganku, tapi kau akan jauh lebih membutuhkannya di sini,” ucap Mia.


Matteo menatapnya. Ia menerima bantal yang disodorkan oleh Mia dan memegangnya. “Terima kasih,” jawabnya. Mia tersenyum dan mengangguk pelan.


“Aku permisi dulu, Tuan,” balas gadis itu seraya berlalu.


“Mia!” panggil Matteo sebelum Mia benar-benar pergi dari sana. Gadis itu tertegun dan menoleh. Matteo terlihat sedikit kikuk. Namun, ia terus berusaha untuk menyembunyikan hal itu. “Um ... sekali lagi terima kasih, dan ... berhentilah memanggilku dengan sebutan tuan,” pinta Matteo.


Mia terdiam. Ia kemudian mengernyitkan keningnya. “Lalu, aku harus memanggilmu apa?” tanya Mia. Ia kembali menunjukkan sikap polosnya di depan Matteo.


Matteo tersenyum simpul. “Panggil saja aku Theo. Hanya Theo,” jawab Matteo dengan sikap kikuk yang terus berusaha untuk ia tutupi dari Mia.


Mia tersenyum lembut. Gadis itu kemudian mengangguk pelan.

__ADS_1


“Theo ....” lembut suaranya menyebutkan nama Matteo dengan penuh perasaan. Hal itu telah membuat Matteo merasa semakin aneh dan menghadirkan sebuah gelitikan yang sulit untuk dipahami oleh seorang Matteo de Luca. Namun, pada akhirnya pria itu tersenyum dengan jauh lebih bersahabat. Bukan lagi sebuah senyum simpul yang penuh keraguan.


“Buona notte,” ucap Mia. Ia berpamitan kepada Matteo. Kali ini, gadis itu benar-benar pergi dari kedai dan meninggalkan Matteo seorang diri dalam renungannya. Matteo harus segera memulihkan lukanya. Ia harus kembali dan membuat perhitungan dengan Silvio yang telah mengkhianatinya.


__ADS_2