
Keesokan harinya, Mia sudah diizinkan untuk pulang oleh dokter yang menangani proses persalinan dirinya kemarin. Rona bahagia terlukis dengan begitu jelas pada wajah Matteo dan Mia, begitu juga dengan Damiano, Coco, Francesca, dan Daniella yang ikut menjemput kepulangan Mia dari rumah sakit. Sementara Marco tengah berada di Palermo, berhubung pusat organisasi sudah berpindah ke kota itu.
Setibanya di Casa de Luca, Matteo segera mengajak Damiano dan Coco untuk berbicara serius di ruang kerja. Ia bermaksud akan membahas rencana pesta penyambutan atas kelahiran putri kecilnya, Miabella. Ketiga pria itu berdiskusi dengan cukup serius. Mereka membuat rencana dengan sedetail mungkin, agar acara pesta nanti berjalan dengan lancar.
Sementara itu di dalam kamar, Daniella dan juga Francesca tak bosan-bosannya memandangi wajah cantik bayi mungil yang baru Mia lahirkan. Keduanya tampak sangat bahagia. “Apa kau tidak tertarik untuk segera hamil, Dani?” tanya Mia. Kondisi wanita itu belum terlalu pulih pasca melahirkan kemarin, sehingga dirinya harus beristirahat terlebih dahulu.
“Ah, tidak. Aku dan Marco akan menunda untuk beberapa waktu. Kami belum sempat berbulan madu karena suamimu sudah langsung memberinya tanggung jawab yang besar. Sungguh keterlaluan!” Daniella berkata dengan gaya bicaranya yang khas. Kesan ketus dan judes masih tetap melekat dalam diri wanita berambut pirang itu. Namun, tak lama kemudian ia pun tertawa. “Kau tahu? Akhirnya aku dan Marco bisa bercinta tanpa harus memakai pengaman,” ujarnya seraya terkikik geli dan bersambut tawa lebar dari Mia serta Francesca.
“Kenapa kau ikut tertawa? Apakah Ricci tidak pernah memakai pengaman saat bercinta denganmu?” Daniella mendelik kepada sang adik yang saat itu langsung menghentikan tawanya.
“Kenapa harus membahas hal itu?” Francesca memalingkan wajahnya karena merasa malu.
“Sudahlah, Francy. Kau tidak perlu berpura-pura. Katakan padaku, apakah Ricci merupakan pria pertama yang tidur denganmu?” Daniella kembali menggoda sang adik.
“Aku tidak akan menjawabnya!” sahut Francesca tegas. Lagi-lagi, hal itu membuat Mia dan Daniella sama-sama tergelak.
“Kalian berisik sekali,” suara Matteo tiba-tiba terdengar di dalam kamar dan mengejutkan mereka bertiga. “Dani, kapan Marco akan kembali dari Palermo?” Matteo berdiri dengan setengah bersandar pada tepian meja rias sambil memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya.
“Sore ini ia baru akan kembali. Memangnya ada apa?” tanya Daniella. “Ayolah, Theo. Kumohon jangan berikan suamiku tugas yang terlalu banyak. Kami belum sempat berbulan madu,” pinta wanita bertubuh sintal tersebut.
“Kau dan Marco dapat berbulan madu ke Pulau Elba, Sardinia, atau Corsica. Semuanya bagus. Setelah urusan Marco selesai tentunya. Aku rasa jika Marco sudah bisa beradaptasi dengan jabatan barunya, maka kalian bisa pergi ke luar negeri dengan tenang,” ujar Matteo. “Kabari aku jika Marco sudah kembali. Sekarang, silakan keluar dari kamar ini karena aku ingin menghabiskan waktu bersama istri dan putri kecilku yang cantik.”
__ADS_1
Daniella mendengus kesal atas sikap Matteo yang seenaknya. “Semoga nanti ketika putrimu sudah besar, ia akan lebih dekat kepada kami daripada denganmu!” sungutnya seraya menarik lengan Francesca. “Ayo, Francy!” ajaknyam
“Selamat bersenang-senang dengan bayi kalian, Theo dan Mia! Aku akan menenangkan Daniella. Kalian tidak perlu khawatir,” Francesca melambaikan tangannya pada pasangan suami istri itu dengan wajah ceria seraya keluar kamar dan menutup pintunya.
“Sedang apa dia, Cara mia?” tanya Matteo yang telah mengalihkan pandangannya pada boks bayi tempat Miabella berada.
“Tentu saja tidur, Sayang. Anak kita masih berumur beberapa hari. Waktunya akan lebih banyak dihabiskan untuk tidur,” jawab Mia.
Seakan tak percaya, Matteo membuka kelambu yang menutupi boks berwarna putih tersebut dan memandang lembut pada bayi cantik yang tengah tertidur lelap tersebut. “Aku tak sabar ingin segera mengajarinya menembak,” ujar Matteo sambil mengangkat Miabella lalu menggendongnya. Diciuminya sang buah hati berkali-kali, sampai terdengar tangisan lirih bayi mungil itu.
“Kau membuatnya terbangun, Theo,” keluh Mia. Sementara Matteo hanya meringis lucu dan meletakkan bayinya kembali serta menepuk-nepuknya hingga tertidur. Tak bosan-bosannya ia menatap sang malaikat kecil hingga tak terasa petang pun mulai menjelang.
Saat itu malam telah larut ketika Matteo terbangun karena suara tangisan bayi dari dalam boks, yang berada tak jauh dari tempat tidurnya. Perlahan, pria itu bangkit dan menyugar rambut ke belakang. Ia lalu melirik Mia yang masih terlelap. “Cara mia, bangunlah. Bella menangis,” Matteo membangunkan Mia dengan matanya yang sesekali terpejam karena rasa kantuk.
“Astaga, Sayangku. Sebenarnya apa yang diinginkan bayi kecil itu?” dengan setengah sadar, Matteo beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju boks berhiaskan kelambu putih. Untuk sesaat ia terdiam dan mencoba mengembalikan kesadarannya hingga seratus persen. Setelah matanya benar-benar terbuka dengan sempurna, barulah ia menyibakan kelambu itu. “Halo, Cantik. Kau senang sekali mengganggu ayah dan ibumu,” ucap Matteo seraya mengangkat tubuh mungil Miabella dari tempat tidurnya. Ia lalu menimang bayi mungil bermata abu-abu tersebut sambil tersenyum lebar.
Kebahagiaan yang sempurna bagi seorang Matteo yang akan segera menginjak usia dua puluh sembilan tahun, beberapa bulan lagi. Hidupnya kini terasa sudah lengkap di saat dirinya mencoba untuk menjadi seseorang yang jauh lebih baik dan menjauh dari dunia hitam.
Miabella terdiam. Sesekali bayi itu menggeliat dengan kepala yang bergerak ke kiri dan kanan seperti tengah mencari sesuatu. Matteo tahu jika putri kecilnya pasti merasa lapar. Kembali diliriknya Mia yang masih terlelap tanpa terganggu sama sekali. Pria itu kembali tersenyum kecil. Ia lalu membawa Miabella ke tempat tidurnya, ke dekat Mia berada. “Cara mia, bangunlah. Sepertinya Bella merasa lapar. Ayo, Sayangku. Kasihan putri kita,” ia kembali membangunkan Mia dengan lemah lembut.
“Ah, Theo. Kau saja yang menyusuinya. Mataku terasa sulit untuk dibuka,” racau Mia tanpa membuka matanya.
__ADS_1
“Astaga, Cara mia! Bagaimana bisa aku menyusui seorang bayi?” Matteo segera menidurkan Miabella di atas kasur. Ia lalu turun dan berjalan mengitari tempat tidur berukuran besar itu menuju ke sisi di mana Mia tertidur. Disibakannya selimut yang menutupi sebagian tubuh sang istri. “Ayo, Sayang. Bangunlah,” Matteo mengangkat pundak Mia, membuat wanita itu merasa terganggu.
“Theo!” sergah Mia. Dengan terpaksa ia membuka matanya. “Oh, astaga! Belum ada satu jam aku tertidur, dan sekarang sudah harus bangun lagi,” keluh Mia seraya mengempaskan napas panjang.
“Mau bagaimana lagi, Sayangku. Ayo, buka matamu. Lihatlah, Bella sudah mencari-cari sumber makanannya,” sikap Matteo tetap lembut kepada Mia. Ia mengerti dengan kondisi sang istri saat itu.
Mia kemudian duduk bersandar dan mencoba mengumpulkan segenap tenaga yang belum sepenuhnya datang. Sesaat kemudian, ia lalu menatap Matteo dan tersenyum. Setelah itu, wanita dengan senyuman indah tersebut meraih bayinya yang mulai menagis lagi. Mia segera mengangkat tubuh Miabella ke dalam pelukannya. Ia pun mulai menyusui, selayaknya seorang ibu.
Sementara Matteo terus memperhatikan Mia dan bayinya dengan tatapan yang mewakili perasaan terdalam pria itu. Ia kembali naik ke tempat tidur dan duduk di sebelah Mia. Diamatinya Miabella yang tengah menyusu kepada sang ibu dengan lahap. “Bagaimana rasanya, Cara mia?” tanya Matteo pelan.
“Apanya?” Mia balik bertanya.
Akan tetapi, bukannya menjawab, Matteo justru malah tertawa pelan. “Maksudku, apakah ada perbedaannya antara aku dan Bella saat melakukan hal seperti itu?” sepasang mata abu-abu Matteo menunjuk pada apa yang tengah dilakukan Miabella terhadap Mia.
Sontak saja Mia membelalakan mata. Ia mencubit pinggang Matteo dengan tangan kanannya. “Kau nakal sekali, Theo," ujarnya sambil tersipu. Sedangkan Matteo terus saja tertawa geli. Dengan setia, ia menemani Mia malam itu melawan rasa kantuk yang mendera mereka berdua.
Beberapa saat kemudian, Mia bermaksud untuk menidurkan Miabella di dalam boks bayi. Namun, Miabella terbangun dan menangis. Mia kembali menggendong bayi mungil itu dan menimangnya beberapa saat hingga kembali tertidur.
Mia kemudian bermaksud untuk menidurkan Miabella lagi di dalam boks bayi. Akan tetapi, putri kecilnya itu lagi-lagi menangis dengan nyaring. “Bagaimana ini, Theo? Bella tidak mau tidur di dalam boks-nya,” Mia meringis sambil menoleh kepada Matteo yang saat itu tengah memperhatikan ke arahnya.
“Coba bawa kemari,” Matteo merentangkan tangannya dan mengajak sang istri untuk mendekat. Mia pun menurut. Ia menghampiri suami tampannya sambil terus menggendong sang bayi. Mia kemudian menyerahkan Miabella kepada Matteo yang terlihat begitu luwes dalam memperlakukan bayi mungil tersebut. Sesuatu yang luar biasa dan membuat Mia merasa kagum. Ia tak menyangka bahwa Matteo bisa bersikap selayaknya seorang ayah yang penuh kasih.
__ADS_1
Berada di gendongan Matteo, Miabella sepertinya merasa lebih nyaman. Terbukti karena ia segera menghentikan tangisnya. Lengan Matteo yang kokoh pasti terasa lebih menenangkan daripada boks bayi. Makhluk mungil itu pun mulai tertidur.
"Coba baringkan di sini, Theo," Mia menepuk-nepuk bagian kasur yang hendak dijadikan tempat bayinya. Matteo menurut dan segera membaringkan tubuh mungil itu di antara dirinya dan Mia.