
Tiga bulan telah berlalu, tetapi Matteo tak jua menemukan kabar baik tentang keberadaan Mia. Hampir setiap hari Lorenzo menghubunginya, meskipun hanya melalui layanan pesan singkat. Matteo dapat memahami jika informasi yang ia berikan kepada Lorenzo memang sangat minim dan bahkan sepertinya tidak membantu sama sekali. Karena itu, ia tidak menyalahkannya sama sekali.
Sore itu, Lorenzo meminta untuk bertemu di tempat biasa. Matteo menyetujuinya, lagi pula sudah hampir satu minggu detektif yang ia sewa itu tidak memberinya kabar. Angan Matteo sudah melambung, ketika ia berhadapan langsung dengan pria tersebut. Namun, semua harapan indah untuk kembali bertemu dengan Mia ternyata harus ia kubur dalam-dalam.
“Saya benar-benar minta maaf, Tuan. Semua informasi yang saya dapatkan dari sekolah Francesca Ranallo ternyata tidak valid. Saya sudah memeriksa semua universitas di kota Milan, mulai dari universitas terkenal sampai yang biasa saja, tapi saya tidak menemukan nama Francesca Ranallo. Dari situ saya mengambil kesimpulan bahwa gadis yang Anda cari tidak berada di kota Milan,” papar Lorenzo membuat Matteo tercenung. Pria bermata abu-abu itu tak tahu harus berkata apa.
“Kita bisa saja melebarkan wilayah pencarian. Namun, ada lebih dari enam puluh juta jiwa yang mendiami negara ini, dan saya rasa tidak menutup kemungkinan juga jika gadis yang Anda cari telah mengganti identitas. Apalagi Anda sendiri tidak mengetahui nama lengkapnya dengan pasti. Rasanya akan sangat sulit mencari seseorang tanpa nama belakang, meskipun kita sudah mengantongi nama Ranallo. Buktinya, hal itu tidak membantu sama sekali,” ujar Lorenzo lagi dengan penuh sesal. Ia melihat raut kecewa yang terlukis di wajah Matteo.
“Namun, ada satu kabar gembira untuk Anda. Saya telah menemukan kakak dari Francesca Ranallo. Sepertinya gadis itu tidak ikut pindah dengan kedua saudarinya. Saya rasa, tidak mungkin jika ia tidak mengetahui ke mana saudari-saudarinya pergi,” ucapnya kemudian, membuat Matteo kembali terlihat antusias.
“Daniella?” gumam Matteo pelan.
“Ya, Tuan. Daniella Ranallo tinggal di salah satu apartemen yang berjarak sekitar 1,83 Km dari pusat kota. Ia menempati lantai lima belas. Di sana ia tinggal dengan seorang kekasihnya yang merupakan pria keturunan Rusia bernama Alexander Kanchelskis. Anda bisa menemuinya sendiri, karena akan terlalu mencurigakan jika saya yang mendatangi gadis itu,” tutur Lorenzo. Matteo mengangguk. Ia sudah mengerti dengan apa yang harus dilakukannya.
Setelah mendapat alamat lengkap yang dituliskan Lorenzo pada secarik kertas, Matteo memutuskan untuk pulang. Ada sedikit harapan yang kembali menghampiri dirinya. Ia berencana akan berangkat ke Venice besok. Semoga saja, Daniella mau bekerja sama dengannya.
Sekitar pukul delapan pagi, Matteo kembali ke kota Venice. Berbekal alamat yang diberikan oleh Lorenzo, ia langsung menuju ke alamat itu. Akan tetapi, ketika sampai di lantai lima belas ternyata Matteo tidak bertemu dengan Daniella. Berkali-kali ia mengetuk pintu apartemen, tetapi tempat itu seakan tak berpenghuni. Ia bahkan rela menunggu di sana hingga malam menjelang, tetapi Daniella tidak juga terlihat. Hal itu telah membuat Matteo menjadi hilang kesabaran.
Dengan penuh amarah, ia kembali ke mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut. Harapan yang sempat muncul, kini seketika terkikis habis. Ia tidak mengerti karena semuanya terasa serba dipersulit. Urusannya dengan Mia saat ini, telah sangat menyita waktu dan pikirannya. Namun, Matteo tidak bisa melepaskan gadis itu begitu saja, meskipun ia belum tahu langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya.
__ADS_1
Matteo tidak menyadari jika saat itu Daniella melihat kedatangannya. Gadis itu baru kembali, entah dari mana. Dengan segera ia masuk dan mengirimkan pesan kepada Mia.
Matteo datang ke apartemen milik Alex. Aku rasa pria itu pasti sedang mencarimu, Mia.
......................
Hingga dini hari tiba, Matteo tak juga dapat memejamkan matanya. Ia memilih untuk berdiri di dekat bukaan ruang tamu, seraya memandang pada kegelapan malam yang menyelimuti halaman luas Casa de Luca. Marah dan putus asa, Matteo merasa kesal karena ia tidak juga mendapatkan titik terang di mana keberadaan Mia. Seluruh amarah yang ia tahan selama ini, sudah tak mampu ia kendalikan lagi.
Setelah meneguk minumannya, Matteo kemudian melemparkan gelas itu dengan sekuat tenaga. Gelas tak bersalah itupun hancur berkeping-keping di lantai, karena harus menjadi pelampiasan dari seorang Matteo.
“Ada apa, Theo? Kenapa kau melampiaskan kemarahanmu pada sebuah gelas yang tak dapat memberikan perlawanan. Apakah hanya sampai di situ keberanianmu?” terdengar suara Antonio dari arah belakang.
“Salurkan semua amarah dalam dirimu, Theo. Datanglah ke wilayah tenggara dan tundukkan Roccia Nerra. Ini kesempatan yang baik untukmu selagi Vincenzo Moriarty berada di Amerika. Lakukan apa yang kusarankan, Nak! Kau harus menuntaskan semuanya! Tunjukkan bahwa putra mahkota de Luca bukanlah pria yang lemah!” Antonio memanas-manasi Matteo dengan kata-katanya, membuat amarah dalam diri pria itu kian memuncak.
“Kau sangat kuat, Theo. Kau adalah penguasa! Jangan membuang-buang energimu untuk mengurusi sesuatu yang tidak penting dan tidak menghasilkan apapun. Akan sangat disayangkan jika waktumu yang berharga terlewat begitu saja dan berakhir dengan sia-sia,” ucap Antonio lagi. Pria paruh baya tersebut semakin mendekat kepada Matteo yang saat itu masih dengan amarahnya yang tertahan.
Matteo memukulkan tangan kanannya yang sudah terkepal ke dinding. Sakit, ya tentu saja. Ia merasakan tangannya begitu sakit. Namun, semua itu ternyata tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kepedihan karena kehilangan jejak Mia. Gadis itu benar-benar telah membuatnya gila. Matteo kembali memukul dinding itu dengan keras. Setelah itu, ia menempelkan keningnya di sana. Matteo mencoba menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, Theo. Siapa yang telah membuatmu menjadi terlihat lemah seperti ini?"
"Aku bukan pria yang lemah!" bantah Matteo dengan nada tegas dan cukup tinggi. Amarah yang besar kembali menyelimuti dirinya.
"Kau mengaku jika dirimu bukan pria yang lemah, tapi lihat keadaanmu saat ini! Aku yakin bukan urusan organisasi yang telah membuatmu tampak seperti seorang pecundang menyedihkan!" lagi, Antonio memprovokasi Matteo sehingga membuat pria itu semakin dilanda amarah.
"Jaga bicaramu, Paman!" tunjuk Matteo dengan penuh emosi. Helaan napasnya terdengar begitu berat dan tersengal-sengal. "Aku bukan seorang pecundang. Ingat itu baik-baik!" tunjuk Matteo dengan tegas. "Aku tidak seperti putramu, Marco yang pemalas!" Matteo kembali memukulkan tinjunya ke dinding dengan penuh emosi.
Sementara Antonio masih terlihat tenang. Ia lalu menyentuh pundak Matteo dan berkata, "Karena itulah, aku berharap banyak padamu, Theo," ucapnya. "Karena kau bukan Marco yang pemalas! Karena kau adalah Matteo de Luca! Darah seorang petarung mengalir deras di dalam tubuhmu, dan kau tidak akan bisa jika tidak melampiaskan semuanya dengan berperang!" lanjut Antonio lagi seraya menepuk pundak Matteo beberapa kali. Setelah itu, ia meninggalkan sang keponakan dengan begitu saja.
Matteo terpekur sendiri setelah sepeninggal Antonio. Ditatapnya dinding bercat putih yang kini ternoda oleh darah yang keluar dari buku-buku jarinya. Rasa nyeri itu tak seberapa, jika dibandingkan dengan perasaan tidak nyaman yang mengganggu hati dan pikirannya kini. “Apa yang harus kulakukan, Mia? Apa kau benar-benar tak ingin ditemukan? Haruskah aku menyerah padamu?” gumam Matteo seorang diri.
Matteo mengusap dan mengamati punggung tangannya yang penuh dengan luka lecet. Begitu banyak beban yang menggelayut di pundaknya kini. Tatapan mata pria dua puluh enam tahun itu, kemudian beralih pada lukisan orang tuanya yang terpajang anggun dengan berhiaskan pigura emas. Terngiang kembali kalimat Antonio yang seakan membakar egonya.
“Mungkin itu jauh lebih baik. Ya, aku sang penguasa. Aku bukanlah pria yang lemah,” gumam Matteo lagi.
Semuanya akan menjadi baik-baik saja, saat ia kembali membasahi tangannya dengan darah lawannya. Ia akan melakoni peperangan antar klan dan memperluas kekuasaan de Luca. Itu merupakan cara yang luar biasa, untuk membunuh rasa sakit serta menghilangkan bayangan Mia dari hati dan hidupnya.
hai ... sambil nunggu Theo nemuin Mia lagi, gada salahnya cek novel keren di bawah ini. Dijamin pasti syukaaaa. Ayo, serbu!
🍒
🍒
🍒
__ADS_1