Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Jealousy


__ADS_3


Semenjak hari itu, setiap pagi buta Mia selalu datang ke kedai. Mia juga selalu pulang terlambat dari sana. Ia bahkan kerap menyuruh Mr. Gio untuk pulang terlebih dulu darinya, dengan alasan jika ayahnya harus lebih banyak beristirahat.


Sementara ia yang akan membereskan kedai.


Matteo pun memperhatikan setiap gerak-gerik dari gadis itu. Bahasa tubuhnya, senyum manis, ia bahkan telah begitu hapal dengan suara dan logat bicara Mia. Keramahan, sikap malu-malunya, semuanya. Bukan hal yang sulit bagi seorang Matteo untuk dapat menangkap sinyal yang menunjukkan jika Mia memiliki perasaan lebih terhadap dirinya.


Akan tetapi, Matteo tetap berpegang teguh pada niat awal. Tidak ada satu hal pun yang dapat mengalihkan niatnya dari balas dendam terhadap Silvio Moriarty. Ia bersumpah jika pria itu harus membayar semua pengkhianatan yang telah dilakukannya. Terlebih karena pria itu pula, Matteo harus kehilangan ketiga anak buah kepercayaan, dan juga mobil Jeep Wrangler kesayangannya. Intinya, ada banyak kerugian yang telah ditimbukan oleh Silvio. Satu hal yang Matteo syukuri dari kesialan yang ia dapat, adalah perkenalannya dengan Mia.


Matteo kembali menggelengkan kepala. Ia menolak semua perasaan yang mulai menghinggapi hati kecilnya. “Tidak! Aku tidak boleh terbawa perasaan terhadap gadis itu!” gumamnya. Ia harus terus menegaskan hal tersebut. Pagi-pagi sekali, Matteo sudah terbangun karena ia tahu jika Mia akan segera datang dan membawakan sarapan. Setidaknya itu yang sudah sering Mia lakukan selama hampir empat hari Matteo bersembunyi di dalam gudang itu. Perkiraan Matteo memang tidaklah salah. Tak berselang lama, terdengar seseorang yang datang ke sana. Tiba-tiba, Matteo merasa begitu bahagia. Entah kenapa, tapi ia selalu menikmati saat-saat ketika ia bisa berdekatan dengan gadis pemalu itu.


“Selamat pagi, Theo,” sapa Mia dengan suara lembut. Ia lalu melepas jaket dan penutup kepala yang menyembunyikan wajah cantiknya. Setelah itu, Mia kemudian menyodorkan kotak bekal berisi menu sarapan untuk Matteo. “Bagaimana lukamu sekarang?” tanya Mia seraya duduk di dekat Matteo. Gadis itu sudah tidak terlalu canggung lagi terhadapnya.


“Sudah jauh lebih baik. Aku rasa ini sudah sembuh,” pikir Mateo seraya mengernyitkan keningnya.


Mia terdiam sejenak. Setelah itu, ia kembali berkata, “Boleh aku melihatnya?”

__ADS_1


Matteo tidak segera menjawab. Pria berambut gondrong itu menatap Mia dengan tatapan yang tampak aneh. Namun, sesaat kemudian ia lalu mengangguk. “Tentu,” jawabnya.


Mia kemudian menggeser tubuhnya sehingga menjadi lebih dekat dengan Matteo. Ia lalu melepas perban yang membelit lengan kekar berhiaskan tato itu. Kebetulan saat itu Matteo memang tidak memakai baju. Dengan sangat hati-hati, Mia melepas perban itu hingga tampaklah bekas luka jahit di sana. Mia menyentuhnya dengan lembut, dengan tangannya yang agak gemetaran. Sementara itu, Matteo terus melayangkan tatapannya kepada Mia, terlebih lagi karena wajah mereka saat itu berada cukup dekat.


“Rambutmu sangat wangi, Mia,” bisik Matteo dengan tanpa sadar, sehingga membuat Mia segera menoleh kepadanya. Mereka pun akhirnya saling pandang. Perlahan Matteo semakin mendekatkan wajahnya, sementara Mia hanya bisa terdiam. Sedikit lagi jarak antara kedua bibir itu untuk dapat saling bertemu, tapi mereka harus segera menjauhkan wajah masing-masing ketika terdengar suara sinis seseorang yang tiba-tiba berada di sana.


“Jadi, karena inikah kau selalu pulang larut dari kedai, Mia?” Daniella sudah berdiri dengan angkuh di pintu masuk gudang. Sebuah senyuman sinis tersungging di sudut bibirnya, dengan ekspresi wajah yang tidak bersahabat. Mia terkejut bukan main atas kehadiran Daniella di sana. Gadis itu segera berdiri dan menghampiri saudari tirinya itu.


“Aku akan mengadukan hal ini kepada ayah! Aku akan mengatakan kepadanya jika kau menyembunyikan seorang pria di sini!” ancam Daniella dengan seringai culasnya.


Mendengar hal itu, Mia yang polos segera menunjukkan kecemasannya. Ia segera meraih tangan Daniella dan memohon kepada gadis berambut pirang tersebut. “Tidak, Dani! Aku mohon jangan katakan apapun kepada ayah!” pinta Mia. Sementara Daniella hanya tersenyum sinis melihat saudarinya memohon seperti itu.


Tanpa berpikir panjang, Mia segera berlutut di hadapan gadis itu dan menundukan wajahnya. “Aku mohon, Dani! Jangan katakan apapun kepada ayahku! Aku berjanji akan menuruti semua yang kau perintahkan. Aku akan mencucikan pakaianmu selama satu bulan dan membebaskanmu dari tugas harian yang diberikan ibu, tapi tolong jangan katakan apapun kepada ayahku!”


Matteo tak percaya melihat adegan yang tersaji di depan matanya. Dengan segera pria itu bangkit dan menghampiri Mia yang masih berlutut di hadapan Daniella. “Mia, apa yang kau lakukan?” Matteo membantu gadis itu untuk bangkit. Sementara Daniella begitu terpukau melihat Matteo yang kini berdiri dengan gagah di hadapannya.


Daniella tak sedikitpun memalingkan wajahnya dari tubuh atletis yang berhiaskan tato di beberapa bagian itu. Tubuh yang terekspos dengan sangat jelas dan begitu menggoda. Selain itu, Daniella juga tampak sangat tertarik dengan wajah rupawan seorang Matteo yang terlihat sangat maskulin dan misterius.

__ADS_1


Gadis dengan rambut pirang itu melangkah ke dekat Matteo. Ia berdiri di sana dan memperhatikan pria yang juga tengah meliriknya dengan sepasang mata abu-abu yang tajam. Matteo seakan sudah bisa menangkap sesuatu, dari gelagat aneh yang ditunjukan Daniella terhadap dirinya. “Hai, Tampan. Boleh kutahu ada hubungan apa antara dirimu dengan adik tiriku?” selidik Daniella dengan sikap nakalnya. Sikap yang sangat berlainan dengan Mia.


Matteo membalikan badannya hingga ia menghadap kepada Daniella. Pria itu kemudian menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya. “Kami hanya berteman. Tidak lebih dari itu,” jawab Matteo dengan tatapan aneh kepada Daniella.


Ada rasa kecewa di hati Mia, tapi ia juga tidak dapat protes atas jawaban Matteo terhadap Daniella. Mia hanya terdiam dan kembali menundukan wajahnya. Namun, Mia kembali mengangkat wajah dan menoleh kepada Daniella ketika ia mendengar apa yang diucapkan oleh gadis itu. “Baguslah. Dengan begitu, kita bisa membuat satu kesepakatan,” ucap Daniella yang ditujukan kepada Matteo.


“Kesepakatan seperti apa?” tanya Matteo dengan kalemnya.


Daniella semakin mendekat. Disentuhnya wajah rupawan berhiaskan janggut tipis itu dengan nakal. Sementara Matteo hanya membiarkan apa yang dilakukan Daniella terhadapnya. “Bekencanlah denganku, maka aku akan menutup mulutku rapat-rapat!” ujarnya.


Matteo terus menatap Daniella. Sesaat kemudian ia mengalihkan tatapannya kepada Mia. Gadis itu terlihat cemas menunggu jawaban dari Matteo untuk Daniella. Raut kecemasan itu, akhirnya berubah menjadi rona kecewa yang sangat besar, ketika Matteo mengabulkan persyaratan yang diajukan oleh Daniella sebagai imbalan untuk aksi tutup mulut yang ia janjikan.


“Dengan senang hati. Aku tidak akan menolak ajakan kencan dari gadis secantik dirimu, Nona,” ucap Matteo dengan senyumnya yang terlihat datar.


“Aku tidak percaya ini,” desis Mia. Ia hampir meneteskan air matanya saat itu.


“Astaga! Berlebihan sekali kau, Mia! Bukankah kalian sekadar teman?” sindir Daniella.

__ADS_1


Mia tidak menjawab, begitu pula Matteo. Pria rupawan itu hanya menatap Mia dengan raut menyesal. “Jangan lupa sarapanmu, atau kau boleh membuangnya jika kau tak suka! Tak perlu lagi berpura-pura!” ucap Mia kepada Matteo. Ia lalu meninggalkan Matteo bersama saudari tirinya di sana.


 


__ADS_2