Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Siasat Antonio


__ADS_3

Saat itu sudah hampir tengah malam. Akan tetapi, Matteo masih berdiri di salah satu bukaan ruang tamu dengan bagian atas yang berbentuk melengkung itu. Dari sana tatapannya lurus tertuju ke luar, pada perkebunan anggur yang sangat luas, yang kini telah diselimuti oleh suasana gelap. Begitu gelap, sama halnya seperti hati dari seorang Matteo de Luca saat ini.


Segelas minuman di dalam gelas kristal kecil, ia genggam dengan tangan kanannya. Sesekali, Matteo meneguk isi dari gelas tersebut. Hidupnya kini terasa semakin kacau. Semua hal bercampur menjadi satu, dan membuatnya berpikir keras untuk dapat memilah mana yang harus ia dahulukan.


Matteo sebenarnya telah menyadari jika semua rentetan tragedi yang terjadi selama ini, pastilah saling berkaitan. Pikirannya kembali tertuju kepada Vincenzo Moriarty. Siapa lagi yang mampu menciptkan kekisruhan sebesar itu, jika bukan seseorang yang memiliki kekuasaan dan juga kekuatan yang sangat berpengaruh. Lalu, bagaimana dengan teka-teki tentang para pengkhianat de Luca?


Matteo kembali meneguk minuman di dalam gelas itu, ketika ia menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikan dirinya. Instingnya masih sangat tajam, meskipun pikirannya sedang berada dalam sebuah kekalutan. Matteo menoleh dan menatap ke arah di mana ia mencurigai menjadi tempat orang itu untuk mengawasinya. “Siapa di sana?” suara berat Matteo terdengar memecah kesunyian di ruang tamu tersebut. Mata abu-abunya menatap tajam. Ia tidak mengalihkan pandangan dari tempat yang menjadi fokusnya kini, hingga seseorang muncul dari dalam keremangan cahaya di ruangan itu.


“Paman?” sapa Matteo yang melihat bahwa Antonio-lah yang saat itu tengah berjalan ke arahnya. Pria berjanggut tebal itu tersenyum kecil seraya berdiri tidak jauh dari Matteo.


“Kenapa kau belum tidur, Theo?” terdengar suara Antonio yang meskipun pelan, tapi begitu berwibawa.


“Aku belum mengantuk,” jawab Matteo. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada halaman luas Casa de Luca, meskipun saat itu tidak ada hal yang dapat Matteo lihat kecuali warna hitam. Sementara Antonio memilih untuk berdiri di sebelahnya.


“Aku juga tidak bisa tidur. Marco belum pulang. Entah pergi ke mana anak itu, kelakukannya sangat mengecewakan!” Antonio terdengar mengeluh pelan. Sedangkan Matteo hanya terdiam. Ia tidak ingin menanggapi ucapan sang paman tentang putranya. Seperti yang telah diketahui, hubungan Matteo dan juga Marco selama ini memang kurang harmonis.


Antonio kemudian menoleh kepada keponakannya, dengan raut muka yang saat itu terlihat begitu datar. “Apa kau baik-baik saja, Theo?” tanyanya.


“Tidak terlalu," jawab Matteo datar. "Ada banyak hal yang mengganggu pikiranku saat ini,” ucap Matteo lagi tanpa menoleh. Ia kembali meneguk minumannya.


“Tanggung jawab yang kau emban di pundakmu memang sangat besar, Theo. Namun, kau telah dinobatkan sebagai pemimpin yang baru. Itu artinya kau tidak dapat mundur ataupun bermalas-malasan. Ingat! Kau memiliki tenggat waktu satu tahun untuk mempertahankan tato mahkota de Luca di punggungmu,” ujar Antonio dengan gaya bicaranya yang khas. “Apa ada sesuatu yang bisa kubantu? Katakan saja, tak perlu sungkan,” lanjutnya setelah terdiam beberapa saat.


Matteo mengempaskan sebuah keluhan pendek. Ia masih merasa bingung untuk menceritakan segalanya kepada orang lain, termasuk kepada pamannya sendiri. Sesaat kemudian, Matteo menghabiskan minumannya yang tersisa tinggal sedikit. “Aku memikirkan tentang tragedi yang menimpa kedua orang tuaku. Hingga saat ini, aku belum menemukan titik terang tentang siapa yang telah memasang bom itu di mobilku. Aku yakin jika ia bukanlah orang luar, karena tidak akan mudah bagi orang luar dapat memasuki wilayah Casa de Luca,” jelas Matteo dengan nada ragu.


“Tidak menutup kemungkinan jika memang seperti itu adanya, Theo. Setiap orang memiliki akal dan kecerdasan untuk berpikir, bertindak, dan tentu saja bersiasat. Tak dapat kita pungkiri, jika siasat itu dibutuhkan dalam segala hal. Siasat yang bagus dan matang, akan membuat sebuah rencana berjalan dengan mulus dan tanpa hambatan yang berarti. Jika memang ada orang dalam yang kau curigai, maka itu artinya ia bukan orang yang sembarangn, karena ia berani bertindak di depan matamu. Namun, seandainya ada orang yang kau curigai saat ini yang berasal dari luar, maka aku yakin orang itu pasti Vincenzo Moriarty,” tegas  Antonio seraya menyeringai kecil kepada Matteo yang saat itu menoleh kepadanya.


“Paman yakin jika semua ini adalah hasil campur tangan Vincenzo?” Matteo mencoba untuk menegaskan bahwa sesuatu yang menjadi kecurigaannya kini, menjadi kecurigaan sang paman juga.


Antonio menyunggingkan sedikit senyuman di sudut bibirnya. Pria paruh baya itu kembali menatap Matteo yang saat itu masih menoleh ke arahnya. “Aku tahu jika selama ini hubungan Roberto dengan Moriarty memang terbilang baik. Akan tetapi, kita tidak tahu siasat apa yang tengah ia jalankan di balik hubungan baik yang dijalinnya dengan ayahmu. Lagi pula, aku mendengar kabar tentang tewasnya Silvio beserta seluruh anak buahnya,” terang Antonio membuat Matteo mengernyitkan keningnya.


“Dari mana Paman mengetahui hal itu?” tanya Matteo dengan keheranan.

__ADS_1


Antonio kembali tersenyum simpul. “Vincenzo berusaha untuk menutup-nutupi berita tentang kematian adiknya. Namun, itu hanya menjadi hal yang sia-sia ketika ada seekor anjing yang tanpa sengaja mengendus kabar buruk itu. Anjing itu berlari dan berhenti pada seseorang yang memberinya makan secara gratis. Ia pun menggonggong dengan nyaring,” tutur Antonio membuat Matteo berpikir dengan dalam.


“Aku tidak yakin ada pengkhianat dalam Klan Moriarty. Anak buah dalam organisasi itu terkenal sangat loyal terhadap tuannya. Mereka juga sangat selektif dalam mencari pengikut, sama seperti kita,” bantah Matteo.


“Kau memang harus lebih banyak belajar, Theo,” ujar Antonio pelan. “Apa artinya sebuah loyalitas jika dihadapkan pada setumpuk Euro. Setiap orang memiliki sisi serakah dalam dirinya,” tegas Antonio. “Kita tahu jika Klan Moriarty memiliki banyak sekutu. Mereka telah berhasil menaklukan banyak gembong mafia dari berbagai pelosok Italia. Hal itu telah menjadikan kekuasaan mereka menjadi semakin besar dan luas. Tentunya daerah-daerah yang telah berada dalam jaringan kekuasaan mereka, akan menjadi sekutu yang selalu siap untuk membantu. Namun, itu bukan berarti gembong-gembong mafia kelas teri itu tidak berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Moriarty,” terang pria itu kemudian.


“Jika kau bersedia untuk mengikuti saran dariku, maka aku akan memberitahu sebuah siasat yang bagus untukmu,” tawar Antonio dengan seringai anehnya. Sementara Matteo terus menatap sang paman. Rasa penasaran mulai menghinggapinya. Ia kini menjadi sangat tertarik dengan pembicaraan tersebut.


“Apa itu, Paman?” tanya Matteo.


Antonio menoleh kepada Matteo untuk sesaat, sebelum akhirnya ia kembali mengarahkan pandangan pada kegelapan malam di depannya.


“Aku ingin agar Klan de Luca terus berada pada puncak kejayaannya dan tidak terusik oleh klan yang lain. Selama ini, hanya Klan Moriarty-lah yang dapat disejajarkan dengan kita. Aku pernah menyarankan kepada Roberto untuk menaklukan Klan Moriarty. Dengan begitu, jaringan kekuasaan kita pun akan menjadi semakin luas dan kuat. Italia pasti akan berada dalam genggaman de Luca. Akan tetapi, ayahmu menolak hal itu mentah-mentah. Ia terlalu mencintai perdamaian. Ia tidak sadar jika hidup kita, bukanlah kehidupan seperti orang kebanyakan. Darah dan peperangan bukan lagi merupakan sesuatu yang asing bagi seseorang seperti kita,” papar Antonio dengan panjang lebar.


“Ayahku sangat baik, meskipun ia pria yang tegas dan tidak segan memberikan hukuman kepada para pelanggar peraturan,” timpal Matteo dengan bangga.


“Ayahmu terlalu banyak berpikir, maka lihatlah keadaan Klan de Luca saat ini. Kita tertinggal beberapa langkah di belakang Moriarty. Aku sangat tidak menyukai hal itu, Theo,” sesal Antonio.


“Mudah sekali, Theo,” jawab Antonio dengan tenangnya. ”Sebagai pembukaan, pergilah ke daerah tenggara Italia . Daerah itu sudah berada di dalam jaringan kekuasaan Moriarty. Aku dengar, mereka telah lama ingin melepaskan diri. Itu berita yang sangat baik untuk kita," terang Antonio.


"Roccia Nera (Batu Hitam) adalah gembong mafia kecil yang berada dalam kepemimpinan Bernardo Costa. Tawarkan kerja sama kepada mereka. Pasok mereka dengan persenjataan lengkap. Jika mereka menolak, barulah kau bisa bertindak tegas. Tidak akan sulit bagimu untuk bisa menghancurkan kerikil kecil itu. Jika kau telah berhasil di sana, maka lanjutkan petualanganmu ke pinggiran Napoli dan penjuru Italia lainnya yang menjadi wilayah kekuasaan Moriarty,” ucap Antonio dengan nada bicara yang terdengar sangat ambisius.


Matteo berpikir untuk sejenak. Sesaat kemudian, pria bermata abu-abu itu berkata,”Paman pikir Vincenzo akan diam saja ketika mengetahui pergerakan kita? Ditambah lagi dengan adanya mata-mata di klan de Luca. Semuanya semakin membuat kondisi menjadi tidak aman,” ujar Matteo.


“Identitas mata-mata itu akan terungkap dengan sendirinya, jika kau berhasil mengalahkan  Moriarty secara perlahan-lahan,” sanggah Antonio, membuat Matteo terdiam.


Tiba-tiba bayangan wajah sedih Mia, menguasai pikiran Matteo. Sorot mata gadis itu tajam dan penuh kebencian kepada dirinya. Entah kenapa, tiap kali Matteo mengingat hal itu, rasanya begitu menyakitkan.


“Besok kita bicara lagi, Paman. Aku sangat lelah,” ucap Matteo begitu saja seraya berlalu meninggalkan Antonio.


Tak dipedulikan tatapan dari bola mata gelap sang paman yang terus mengikutinya. Matteo terus berjalan menuju kamar. Sesaat, tangannya sudah menyentuh daun pintu, tetapi ia urungkan.

__ADS_1


Matteo memilih untuk memasuki kamar Coco yang kebetulan tidak terkunci. Dilihatnya Coco masih termenung dengan posisi bersandar di kepala ranjang. Tangan kirinya tampak sedang memainkan ponsel, memutar-mutar benda pipih itu di atas telapak tangannya.


“Aku harus bagaimana, Coco?” Matteo merebahkan dirinya secara tiba-tiba di samping sahabatnya itu. Coco yang tengah melamun, sedikit terperanjat dengan ulah Matteo.


“Aku sendiri juga tidak tahu, Sobat,” desahnya pelan. Pandangannya kembali mengarah ke layar ponsel.


“Kau menunggu telepon dari siapa?” tanya Matteo.


“Bukan siapa-siapa,” Coco menggeser tubuhnya, lalu berbaring membelakangi Matteo.


“Apa lagi yang kau sembunyikan?” desak Matteo. Tak sabar menunggu Coco yang masih juga tak membuka mulut, Matteo segera menarik kaus bagian belakangnya, hingga Coco mengaduh dan membalikkan badan.


“Kau tahu kau tak bisa menyembunyikan apapun dariku, Amico!” tegas Matteo.


“Baiklah!” sentak Coco. Pria berambut ikal itu kembali duduk dan melemparkan ponselnya pada Matteo. “Aku baru saja menghubungi Francesca. Awalnya ia tidak mau menerima panggilan dariku. Lalu, aku terus memaksa. Akhirnya, ia mau menjawab dan bercerita tentang .…”


“Tentang apa?” potong Matteo.


“Kemarin Francesca memergoki Mia yang sedang memotong urat nadinya,” jawab Coco resah.


🍒


🍒


🍒


Hai, semua. Serius banget bacanya😁 Yang butuh penyegaran, yuk tambah koleksi bacaannya. Nih, Ceuceu kasih rekomendasi novel keren. Mampir ya🤗



 

__ADS_1


 


__ADS_2