
Sebuah Rolls Royce berwarna hitam memasuki halaman Casa de Luca siang itu. Di belakangnya mengikuti sebuah sedan hitam yang langsung diparkirkan di sebelah Rolls Royce tersebut.
Seorang pria dengan tubuh tegap, keluar dari dalam Rolls Royce itu. Ia memakai kemeja yang dilapisi blazer berwarna biru navy.
Tidak berselang lama, seorang wanita berambut coklat sebatas pundak dengan penampilan yang terlihat sangat elegan, mengikutinya keluar dari dalam mobil yang sama. Merekalah Tuan dan Nyonya de Luca yang baru kembali dari kota Milan. Dengan mesra, Gabriella de Luca menggandeng lengan sang suami Roberto de Luca masuk ke rumah megah mereka.
Sementara itu, dari dalam sedan hitam keluar dua orang pria. Seorang pria muda berwajah klimis, disertai seorang pria yang berusia jauh lebih tua jika dibandingkan dengan Roberto. Dialah Marco de Luca dan sang ayah yang bernama Antonio de Luca.
Antonio, adalah seorang pria berusia lima puluh tahun. Tampilannya cukup sangar dengan brewok lebat yang menghiasi sebagian wajahnya. Antonio adalah kakak kandung dari Roberto. Itu artinya, ia merupakan paman dari Matteo.
Sementara Marco, pria itu berusia dua tahun lebih muda dari Matteo. Ia seorang perayu dan juga pemalas. Namun, Antonio selalu menggembleng putra semata wayangnya untuk dapat bersikap selayaknya pria sejati yang tak hanya menjual tampang. Akan tetapi, lain Antonio lain Marco. Mereka kerap kali berselisih paham.
Kembali pada Roberto dan Gabriella yang saat itu sudah berada di dalam rumah. Mereka disambut dengan hormat oleh seorang pelayan. “Selamat datang, Tuan. Selamat datang, Nyonya. Anda ingin saya buatkan sesuatu?” tawarnya wanita itu.
“Tidak usah, Matilde. Suruh Lionel untuk membawakan barang-barang kami di dalam bagasi,” perintah Gabriella dengan nada bicaranya yang lembut dan berkelas. Setelah itu ia mengajak sang suami untuk duduk sejenak.
“Apa kau lelah, Sayang?” tanya Roberto seraya menuangkan minuman untuk mereka berdua.
Gabriella tersenyum seraya menyilangkan kaki jenjangnya yang berhiaskan stiletto berwarna putih. Ia mengalihkan pandangannya pada Antonio dan Marco yang baru masuk ke ruangan itu.
Antonio ikut duduk bersama Roberto dan Gabriella. Sementara Marco memutuskan untuk segera ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat Matteo muncul dari lorong yang menuju kamarnya. “Matteo?” sebutnya.
Seketika mereka yang tengah berkumpul di sana menoleh ke arah Marco, kemudian beralih kepada Matteo yang saat itu segera menghampiri kedua orang tuanya. Ia merengkuh sang ayah dan mencium pipi sang ibu yang saat itu begitu bahagia atas kepulangannya. Sementara Antonio tampak mengernyitkan keningnya.
“Kapan kau pulang, Theo?” tanya Gabriella dengan wajah yang begitu berseri sembari melingkarkan tangannya di bahu Matteo.
“Kupikir ia sudah lupa jalan menuju rumah, Sayang,” sindir Roberto seraya tertawa.
“Certo che no, Padre (Tentu saja tidak, Ayah). Aku merindukan kalian selama beberapa hari ini,” balas Matteo sambil mendekat pada sang ayah dan memeluknya erat. “Setelah pengalaman berat yang kulewati, aku tak menyangka bisa pulang kembali tanpa kurang suatu apapun,” bisiknya.
Roberto segera mengurai pelukannya dan menatap putra semata wayangnya dengan penuh tanda tanya. Ia tahu, pasti telah terjadi sesuatu yang luar biasa pada diri Matteo. “Memangnya, apa yang terjadi, Nak?” kata-kata pria paruh baya itu terdengar dingin, tapu juga penuh kekhawatiran di saat yang sama.
__ADS_1
“Akan kuceritakan setelah makan malam. Saat ini, ada sesuatu yang harus kuurus,” Matteo memegang pundak sebelah kanan ayahnya. Sejenak, ia memandangi wajah pria paruh baya yang mulai dipenuhi bulu-bulu halus di sekitar rahangnya.
Antonio terlihat gugup. Ia menyentuh punggung Matteo dan ikut menyapanya. “Berapa hari kami tak melihatmu, tinggimu sepertinya sudah bertambah beberapa senti,” kelakarnya dengan wajah yang sedikit kaku tapi dipaksakan untuk terlihat ramah. Pria itu ikut menyalami dan memeluk keponakannya.
Matteo menoleh dan tersenyum samar kepada pria itu. “Apa kabar, Zio Antonio?” sapanya.
“Kau bicara begitu, seakan-akan kita tidak berjumpa selama bertahun-tahun, Mio Nipote (keponakanku)!” Antonio terkekeh pelan. Ia lalu melangkah ke arah sofa mewah berwarna putih dan duduk di sana dengan kaki kanan yang ia lipat, dan diletakan di atas paha sebelah kirinya.
Pandangannya sama sekali tak lepas dari mata abu-abu Matteo. Bahkan setelah Matteo berpamitan untuk menelepon seseorang dan setengah berlari menaiki tangga menuju kamarnya, Antonio masih terus mengawasinya.
Sementara Marco, pria itu tidak peduli dengan kepulangan Matteo. Selama ini, hubungan antara dirinya dengan Matteo memang tidak terlalu harmonis. Ada banyak hal yang membuat keduanya jarang sekali bertegur sapa, jika bukan karena sesuatu yang sangat penting. Marco lebih memilih untuk melanjutkan langkah menuju kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Matteo berniat menelepon Luigi. Ia ingin tahu di mana posisi senjata rakitannya yang berharga itu. Cukup lama nada sambung berdenging di telinganya, sampai akhirnya Luigi mengangkat panggilan darinya.
Pria rupawan itu mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Luigi. Terbersit sedikit kekecewaan di wajahnya. “Jadi, kapal kargo baru merapat besok? Baiklah, aku tunggu kabar selanjutnya darimu,” tutup Matteo seraya berbalik. Ia bermaksud untuk menutup pintu kamarnya. Namun, Matteo begitu terkejut ketika mendapati Marco yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
“Siapa yang kau hubungi? Kau pasti menelepon salah satu gadismu lagi, ya?” cibir sepupunya itu dengan sinis.
Marco sedikit terkejut melihat kehadiran Coco di sana. “Hai!” sapa Coco seraya melambaikan tangannya kepada Marco. Sementara Marco hanya mengangguk dan berlalu.
Setelah beberapa langkah, pria berwajah klimis itu berhenti dan menoleh kepada Matteo. “Aku benar-benar tak menyangka bahwa dirimu bisa pulang secepat ini,” ujarnya sambil meringis. Ia kemudian melanjutkan langkahnya. Terdengar Marco bersiul-siul saat berjalan menuruni anak tangga.
"Apa kau memiliki masalah dengan sepupumu?” tanya Coco.
“Tidak," jawab Matteo. "Entah kenapa aku hanya selalu merasa tidak nyaman jika berada di dekatnya,” lanjut Matteo sembari mengajak Coco memasuki kamar. Matteo menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan menguncinya. Matteo tak ingin siapapun memasuki kamarnya, karena ia hendak membicarakan sesuatu yang penting bersama Coco.
“Ada apa? Wajahmu terlihat tegang,” tanya Coco.
“Aku akan mengatakan semuanya pada padre setelah makan malam nanti. Aku harap kau ikut menemaniku berbicara dengannya,” pinta Matteo.
“Tentu saja! Hanya itu?” Coco menautkan alis dan mengamati perubahan mimik Matteo. Jelas masih ada sesuatu yang disembunyikan oleh sahabatnya itu. “Hanya itu?” ulang Coco.
__ADS_1
Matteo mengembuskan napasnya perlahan, kemudian menyugar rambutnya. Ia berjalan ke arah jendela kamar dan menerawang ke luar.
“Apakah tentang Mia?” tebak Coco.
Matteo menggeleng. “Tadi pagi, aku menyempatkan diri untuk jogging di sekitar perkebunan. Aku melihat beberapa orang yang mencurigakan. Mereka seperti tengah mengawasi tempat ini. Saat akan kuhampiri, mereka segera menyalakan mobilnya dan pergi,” tuturnya.
“Mungkin itu salah satu keluarga pegawaimu yang menunggu jam pulang?” Coco mencoba untuk berpikiran positif.
Matteo kembali menggeleng. “Tidak! Aku mengenal setiap anggota keluarga pekerja perkebunan. Tak ada yang terlewat dari pengamatanku,” sanggahnya.
“Lalu, siapa?” tanya Coco ragu.
“Kau pasti sudah dapat menebaknya dengan baik. Apa kau takut untuk mengakuinya?” lirik Matteo.
Coco tergelak untuk beberapa saat. Ia kemudian terdiam dan mengusap hidung mancungnya. “Kau tahu aku tak pernah takut pada siapapun, Amico!” elaknya.
“Baguslah, karena mulai detik ini aku akan meminta tolong lagi padamu. Aku ingin kau membantuku mengawasi setiap sudut area perkebunan dan rumah ini menggunakan peralatan canggihmu,” ucap Matteo.
“Serahkan semuanya padaku. Aku akan berusaha semampuku untuk menghalau sekecil apapun bahaya yang mungkin akan mendatangi keluarga kalian,” sahut Coco percaya diri.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menguping dari luar kamar Matteo sambil menempelkan alat penyadap di pintu berbahan kayu tersebut. Orang itu kemudian tersenyum sinis. Ia mulai menulis dan mengirimkan pesan dari ponselnya.
__ADS_1