Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
First Kiss


__ADS_3

Mia berjalan sambil terus menundukan wajahnya. Sementara Matteo, sesekali ia melirik gadis yang masih menunjukkan sikap malu-malu kepadanya. Pria itu kemudian tersenyum simpul.


Malam sudah mulai larut, suasana pun cukup sepi. Mereka melewati gang-gang kecil di antara bangunan tinggi. Matteo mengela napas dalam-dalam, ia tidak mengerti karena dirinya merasa gugup jika berdekatan dengan gadis itu.


Matteo belum pernah berdekatan dengan seorang gadis yang sangat pemalu seperti Mia, sehingga dirinya merasa bingung bagaimana cara memerlakukan gadis seperti itu.


“Mia, apakah kau sudah menjadi seorang pendiam sejak dulu?” Matteo mengawali perbincangan di antara mereka berdua. Sedangkan Mia tidak segera menjawab. Gadis itu hanya menggumam pelan. Sementara Matteo terlihat kebingungan. Ia merasa lucu pada dirinya sendiri.


“Kau membuatku bingung,” keluh Matteo pelan.


Mia melirik pria itu untuk sesaat. Ia kemudian tersenyum kecil. “Kenapa kau harus bingung? Justru aku yang merasa bingung. Aku pikir kau tidak akan pergi malam ini,” sahut Mia pelan.


“Aku sudah terlalu lama merepotkan kalian. Lagi pula, aku harus segera kembali ke Brescia. Aku merindukan ibuku yang cerewet,” tutur Matteo seraya tersenyum kecil.


"Setidaknya kau masih bisa bertemu dengan ibumu, Theo. Berbeda denganku," balas Mia pelan. Ia lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia tidak sanggup terlalu lama memandangi wajah rupawan Matteo. Mia merasa takut jika dirinya akan semakin jatuh cinta kepada sosok bertato itu.


“Memangnya kau tidak pernah bicara dengan wanita lain selain ibumu?” tanya Mia. Sebuah pertanyaan jebakan untuk Matteo.


Seketika Matteo tertawa pelan seraya mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia adalah pria yang sudah berpengalaman. Matteo paham jika Mia pasti sedang memancingnya. “Pertanyaan macam apa itu, Mia?” Matteo mengulum senyumnya seraya menggelengkan kepalanya. Matteo menyesalkan dirinya yang tiba-tiba menjadi salah tingkah.


“Apa kau punya pacar, Mia?” tanya Matteo.


Seketika Mia menghentikan langkahnya. Gadis itu menatap Matteo dengan sepasang matanya yang teduh. “Pertanyaan macam apa itu?” Mia membalikan kata-kata Matteo, membuat pria itu tersenyum dengan kalemnya.

__ADS_1


“Ya Tuhan, Mia,” Matteo menarik pergelangan tangan Mia. Gadis itupun terkejut dan menatap kepadanya. Segera Matteo menggiring mundur tubuh ramping Mia hingga bersandar pada dinding salah satu bangunan di gang sempit itu. Tanpa permisi, Matteo menyentuh bibir Mia dan membuat si pemiliknya terkejut.


“Apa itu?” desah Mia pelan seraya memundurkan wajahnya.


Matteo tidak menjawab. Ia menatap wajah lugu dan manis yang berada tepat di hadapannya. Begitu dekat, bahkan seolah tidak ada jarak di antara mereka. Napas berat Matteo terasa menghangat di wajah Mia, gadis itupun menatapnya dengan sayu.


“Aku sudah bersumpah untuk tidak melakukan apapun terhadap dirimu, tapi ternyata aku tidak bisa. Aku tidak mampu mengendalikannya lagi. Biarlah dosaku bertambah karena telah melanggar sumpahku sendiri,” ujar Matteo dengan setengah berbisik. Sementara Mia masih terdiam. Ia yang tadinya merasa terkejut, kini tampak begitu menikmati setiap embusan napas berat Matteo di wajahnya. Semakin lama pandangannya semakin sayu, dan wajah Matteo pun semakin mendekat.


“Chiudi gli occhi, Bella ....” ucap Matteo dengan bibirnya yang hampir menyentuh bibir Mia. (Pejamkan matamu, Cantik)


Mia terdiam. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain menuruti perintah Matteo. Baru saja ia memejamkan matanya, Mia langsung merasakan sebuah luma•tan lembut di bibirnya. Gadis itu semakin bingung. Ia belum mengetahui bagaimana cara melakukannya.


Perlahan, Mia merasakan lidah Matteo menyentuh bibir tipisnya dan menerobos masuk ketika ia membuka mulutnya. Meski ragu, tetapi gadis itu mulai mengikuti permainan kecil yang diajarkan Matteo kepadanya. Semakin lama, Mia mulai menemukan ritmenya dan ia semakin menikmati setiap luma•tan lembut itu.


Cukup lama mereka berdua terhanyut dalam desa•han napas berat yang memburu. Matteo merasakan hasratnya yang semakin besar. Ia tidak ingin mengakhiri hal itu dengan begitu cepat.


Matteo akan pergi. Ia tidak tahu kapan akan menemui gadis itu lagi. Matteo berharap semoga itu tidak menjadi ciuman terakhirnya dengan Mia.


Sebuah desa•han pendek terdengar dari bibir Mia. Gadis itu membutuhkan udara lebih untuk dapat bernapas, karena sejak tadi Matteo tidak melepaskan bibirnya sama sekali. Pada akhirnya, Matteo harus menghentikan permainan itu. Ia melakukannya dengan sebuah gigitan lembut pada bibir bawah Mia. Perlahan gadis itu membuka matanya.


“Apa kau juga mencium Daniella seperti itu?” sebuah pertanyaan yang begitu lugu dari Mia dan membuat Matteo hanya terdiam.


“Kenapa kau diam, Theo?” desak Mia. Rasa penasaran bercampur cemburu mulai menguasai hatinya. Namun, dengan melihat sikap Matteo yang memilih untuk diam, rasanya Mia sudah mendapatkan jawaban yang ia butuhkan.

__ADS_1


Mengeluh pelan, Mia kemudian mendorong tubuh tegap yang masih berdiri di hadapannya. Ia berlalu meninggalkan pria yang baru saja mencuri ciuman pertamanya. Sementara Matteo tak tinggal diam. Ia segera mengejar Mia dan meraih pergelangan tangan gadis itu.


Matteo tidak melepaskannya meskipun Mia berontak dan berusaha untuk melepaskan genggaman tangan kekar itu dari pergelangan tangannya.


“Dengarkan aku, Mia!” pinta Matteo yang masih memegangi tangan Mia dengan kencang. Sementara Mia terus berusaha untuk melepaskannya.


“Aku memang sempat mencium saudarimu, tapi bukan ciuman seperti itu!” bantah Matteo. Entah kenapa ia merasa perlu untuk memberikan sebuah penjelasan kepada gadis itu.


Mia kembali menatap wajah pria yang sebentar lagi akan pergi dan kembali ke kota asalnya. Rona kecewa kembali menyelimuti wajah cantik nan lugu itu. “Kau bohong! Aku melihatnya sendiri! Aku melihatmu mencium Daniella malam itu!” Mia tampak marah. Tanpa terasa air mata menetes di pipinya.


Melihat hal itu, rasa bersalah kian muncul di hati Matteo. Segera dipeluknya tubuh Mia dengan erat. Ia tidak memedulikan penolakan yang Mia lakukan. “Diamlah, Mia! Biarkan aku memelukmu saat ini. Aku tidak tahu kapan bisa melakukan hal ini lagi kepadamu,” bisik Matteo. Ia terus mendekap tubuh ramping itu. Mengirup aroma semerbak yang akan selalu ia rindukan.


“Marahi aku, pukulah aku! Tetapi, biarkan aku memelukmu dengan puas!” pinta Matteo.


Mia yang sejak tadi terus berontak, kini mulai tenang. Ia berdiri mematung dan membiarkan Matteo dengan apa yang diinginkannya. Beberapa saat kemudian Mia menggerakan tangannya. Ia membalas pelukan dari Matteo dengan hangat.


Mia tidak mampu untuk melawan. Perasaan itu terlalu besar dan kuat bagi dirinya. Mia memilih untuk takluk dan meluruhkan perasaan, serta membiarkannya terhanyut dalam hangatnya pelukan dari seorang Matteo.


“Jangan menangis karena aku, Mia! Aku tidak pantas menerima air mata darimu,” bisik Matteo. Ia benar-benar telah menjadi seseorang yang melankolis karena terbawa perasaan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.


“Aku akan pergi, dan aku harap kita bisa bertemu kembali. Saat nanti aku menemuimu lagi, aku ingin kau sudah mengetahui siapa diriku yang sebenarnya,” ucap Matteo lagi dengan lirihnya.


Mia terdiam. Ia tidak memahami hal itu.

__ADS_1


__ADS_2