Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Tragic Destiny


__ADS_3

Matteo tertegun ketika ia baru keluar dari mobilnya. Dengan langkah tegap dan terlihat begitu gagah, Matteo memasuki bungalow yang kebetulan sudah dibuka oleh Coco. Pria itu dengan segera menghubungi Matteo dan memintanya untuk datang.


Sesampainya di area yang menjadi tempat berlangsungnya pesta, Matteo sempat tertegun. Ia sama sekali tidak melihat ada kemeriahan pesta di sana, melainkan sebuah kekacauan yang sangat mengerikan. Tempat itu tampak berantakan dengan mayat yang bergelimpangan di mana-mana. Semuanya tewas karena mengalami luka tembak.


Suara sirene polisi dan ambulans meraung-raung dari kejauhan. Tentu saja, tak lama lagi tempat itu akan dipenuhi oleh polisi dan petugas medis.


Matteo kemudian melangkah masuk ke dalam hall bungalow dan mencari sosok Mia yang tak ia temukan di sana. Ia pun akhirnya terus melintasi ruangan luas itu ke arah kolam renang.


Di sana, Matteo melihat seseorang dengan gaun pengantin putih yang kini telah dipenuhi oleh bercak darah. Mia duduk bersimpuh di dekat jasad Valentino yang sudah tak bernyawa dengan luka tembak di beberapa bagian. Darah segar pun tampak membasahi tubuh pria itu. Sementara di sisi lain, Matteo melihat Francesca dan Daniella yang tengah meratapi jasad Mr. Gio. Kondisi pria paruh baya itu sama dengan kondisi Valentino.


Seketika tubuh Matteo bergetar hebat. Ia mengepalkan kedua tangan dan berusaha untuk meredam gejolak yang hampir meledak. Amarahnya memuncak, terlebih ketika ia mendengar suara tangisan Mia. Matteo segera mengalihkan pandangannya kepada wanita bergaun pengantin itu. Segera ia melangkah ke arahnya dan bermaksud untuk menenangkan gadis pujaan hatinya. “Mia ....” sebut Matteo dengan suara bergetar.


Mia terdiam. Ia menghentikan tangisnya. Gadis itu lalu menoleh kepada Matteo dengan sepasang matanya yang menyiratkan kepedihan teramat dalam. Namun, Matteo melihat ada kebencian dan kemarahan dalam tatapannya yang menyedihkan. Hal itu membuatnya ragu untuk semakin mendekat.


"Menjauh dariku, Matteo de Luca!” tolak Mia dengan tegas. Ia berdiri sehingga makin terlihat jelas gaun pengantinnya yang dipenuhi noda darah. “Jangan berani-barani mendekat! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi!” Mia berkata dengan pelan, tetapi sangat tegas. Suaranya terdengar begitu bergetar. Ia seakan tengah menahan amarah dalam dirinya.


“Mia, aku ....” Matteo tidak melanjutkan kata-katanya. Ia melihat Coco datang ke sana. Pria itu masih memegang pistol di tangan kanannya. “Apa yang terjadi?” tanya Matteo dengan raut yang dipenuhi rasa penasaran.


“Seperti yang kau lihat, Amico. Aku tidak bisa melindungi mereka semua sendirian,” sesal Coco.


Mia sedikit terkejut, karena ternyata Coco mengenali Matteo. Mereka bahkan terlihat dekat dan akrab. Begitu pula Francesca yang terus mengamati Coco dari kejauhan. Gadis belia itu sejak awal telah mengikuti setiap detil adegan Coco yang berusaha mati-matian melindungi Mia. Akan tetapi, kini ia harus merasakan kecewa karena pria itu tidak sebaik yang ia kira.


Coco menunjukkan perangainya saat itu. Ia memiliki senjata api dan kebengisan yang luar biasa saat melumpuhkan lawan-lawannya, jelas menyiratkan bahwa dia bukan pria biasa. Pria itu terlihat sangat berbeda, dari pria yang Francesca temui beberapa waktu yang lalu.


Sementara Matteo hanya bisa terdiam. Ia kembali mengalihkan tatapannya kepada Mia yang saat itu masih berdiri dengan wajah tertunduk. Penampilannya terlihat sangat kacau. Ini adalah sebuah mimpi buruk bagi Mia. Ia baru saja menikah, tetapi ia langsung menjadi janda.

__ADS_1


Pesta pernikahan yang telah ia siapkan dengan susah payah selama hampir dua bulan, kini berakhir dengan sebuah tragedi berdarah yang menyakitkan. Ayah dan suaminya pun harus tewas dalam kondisi yang sangat mengenaskan.


Entah mimpi apa Mia, sehingga ia harus mengalami hal seperti itu. Entah kepada siapa ia akan mencurahkan segala keresahan hatinya. Ia tidak tahu harus berbuat apa kini, selain menangis sejadi-jadinya. Ambruk, tubuhnya terduduk di lantai. Ingin rasanya ia menjerit dengan sekuat tenaga.


“Mia ....” Matteo kembali menyebut nama gadis pujaan hatinya dengan penuh iba. Akan tetapi, Mia masih terus menangis seraya menundukan kepalanya. “Mia ... aku ... aku berjanji akan ....” Matteo kembali menjeda kata-katanya ketika ia melihat Mia tiba-tiba menatapnya dengan sangat tajam. Gadis itu kembali berdiri. Ia melangkah ke arah Matteo dan Coco. Sesaat kemudian, Daniella dan Francesca pun menghampiri Mia. Mereka berdiri di sisi kiri dan kanan gadis malang itu.


Tanpa diduga, Mia merebut pistol dari tangan kanan Coco dan mengarahkan senjata itu tepat kepada dirinya sendiri. “Mia! Apa yang kau lakukan?” sergah Matteo ketika Mia mengarahkan pistol yang dipegang Coco ke arah pelipisnya sendiri.


“Kenapa kau tidak sekalian menghabisi aku dan kedua saudariku saat ini juga, Theo! Jangan biarkan kami hidup. Ibu kami meninggal beberapa bulan yang lalu, dan sekarang ayah pun ... kau benar-benar keterlaluan, Tuan de Luca!” amuk Mia di sela-sela deraian air matanya.


Coco mengalihkan pandangannya kepada Matteo yang masih tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Mia. Setelah itu, ia lalu menatap Francesca yang hanya terdiam menatapnya. Coco menggeleng pelan. Pria itu seakan ingin meyakinkan Francesca bahwa mereka telah salah paham. Akan tetapi, Francesca memberi isyarat lain. Gadis itu merengkuh pundak Mia. Itu artinya, Francesca mendukung apa yang Mia katakan kepada Matteo.


“Kau telah salah paham, Mia,” bantah Coco pelan dan terdengar sangat lembut. Ia tidak berani menggerakan tangannya, karena jemari Mia berada di pelatuk pistol dan bisa saja setiap saat gadis itu menekannya.


“Apanya yang salah paham, Tuan Ricci? Oh, aku bahkan tidak tahu apakah itu namamu yang sebenarnya atau bukan,” ujar Mia pelan. “Lihatlah mayat-mayat tak berdosa itu! Apa salah mereka pada Klan de Luca? Kami warga kota Venice, tidak ada kaitannya dengan urusan organisasi kalian! Namun, jika kau melakukan semua ini karena aku, maka seberapa besar beban dosa yang harus kutanggung untuk setiap air mata dari keluarga orang-orang malang itu? Ayahku, suamiku, kenapa tidak kau habisi aku sekalian, Matteo! Suruh ajudanmu ini untuk menembak kepalaku sekarang juga!” tantang Mia dengan lantang. 


“Tenanglah, Mia,” ucap Coco seraya merentangkan tangan kirinya ke hadapan Mia. “Tenanglah, dan lepaskan tanganmu dari pistolku. Ini bukan pistol mainan.”


Tatapan Mia tajam tertuju kepada Coco. Setelah itu, tatapanya beralih kepada Matteo. Air matanya terus menetes di pipi hingga ke sudut bibir. Lemas, Mia tertunduk lesu. Perlahan ia melepaskan tangannya dari pistol milik Coco dan melemparnya begitu saja ke atas rerumputan di sisi kolam renang.


“Aku harap ini adalah terakhir kalinya aku bisa melihat wajahmu Matteo de Luca! Setelah hari ini, aku bersumpah bahwa aku akan mengakhiri hidupku seandainya kau berani menampakkan dirimu lagi di hadapanku! Kau benar, Theo. Hidupku akan lebih aman jika aku berada jauh darimu!” Mia kembali menangis histeris. Sementara Francesca segera memeluknya. Kedua gadis itu sama-sama berurai air mata.


“Pergilah, Theo!” usir Daniella dengan sinis. Ia juga tampak begitu marah kepada pria itu. "Kau memang pria brengsek!" umpat Daniella. Meskipun selama ini perangainya selalu buruk, tetapi ia merasakan kepedihan yang dalam atas tewasnya Mr. Gio yang sudah ia anggap seperti ayah kandungnya sendiri.


Tanpa banyak bicara, Coco segera menarik lengan Matteo meskipun pria itu menolaknya. Ia masih ingin di sana untuk meminta penjelasan kepada Mia atas kata-katanya yang tidak  Matteo pahami.

__ADS_1


“Ayo, Amico! Ini bukan saat yang tepat,” ajak Coco. Ditambah suara sirene polisi dan ambulans yang sudah berada di dekat mereka. Sayup-sayup terdengar suara polisi yang saling berteriak memanggil apabila ada korban yang masih selamat.


“Tidak! Mia harus memberiku penjelasan!” tolak Matteo dengan tegas. Sementara Coco menggelengkan kepalanya tanda tak setuju. Ia terus memaksa Matteo untuk segera pergi dari sana. “Aku yang akan menjelaskan semuanya padamu! Namun, ayo kita pergi dulu dari sini!” ajak Coco. Ia terus menyeret lengan Matteo hingga menjauh dari ketiga gadis malang itu.


Coco memaksa Matteo melompati pagar belakang bungalow yang terbuat dari kayu dengan hiasan bunga-bunga merambat. Pagar itu setinggi dada Matteo dan mereka bisa melompatinya dengan mudah. Di balik pagar, Coco melepas kemeja putihnya begitu saja dan membuangnya ke tong sampah yang berada di dekat situ. Dengan bertelanjang dada, ia terus menyeret Matteo.


“Di mana kendaraanmu?” tanya Coco. Dengan segera Matteo menunjuk mobil jeep kesayangannya yang terparkir beberapa meter di seberang jalan di depannya. Mereka berdua menyeberangi jalanan yang tampak lengang, karena semua perhatian masyarakat sekitar tertuju pada bagian depan bungalow.


Matteo masuk ke mobilnya dengan raut muka yang terlihat sangat aneh, sehingga membuat Coco tidak membiarkannya memegang kemudi saat itu. “Apa perlu kupasangkan sabuk pengaman untukmu?” tanya Coco seraya melirik Matteo yang masih tampak bingung dengan wajahnya yang berkerut. Matteo menoleh untuk sesaat. Ia pun segera memasang sabuk pengamannya.


“Tolong katakan sesuatu! Aku sama sekali tidak mengerti dengan maksud dari semua ucapan Mia!” Matteo sepertinya tengah menahan emosi yang ingin segera ia lampiaskan.


Coco mengela napas dalam-dalam kemudian mengempaskannya perlahan. Sebenarnya ia merasa begitu lelah. Segera, ia menyalakan mesin mobil itu dan menjalankannya. Mobil itupun melaju dengan tidak terlalu cepat.


“Itulah yang harus kau perbaiki, Amico. Ingatlah kata-kata Damiano, kau harus belajar untuk mengendalikan emosimu,” ucap Coco dengan tenangnya. Tatapannya lurus tertuju ke depan, pada jalanan kecil kota Venice yang akan segera mereka tinggalkan.


“Keadaan Mia dan saudari-saudarinya sedang tidak baik. Tidak ada gunanya kita memaksakan agar mereka bersedia berbicara dengan biasa saja kepada kita, terutama kepadamu,” ucapan Coco telah membuat tanda tanya di hati Matteo kian besar. Pria itu semakin tidak mengerti.


“Bisakah untuk tidak berbelit-belit?” Matteo terlihat jengkel. Sementara Coco hanya menanggapinya dengan sebuah tawa pelan. Sesaat kemudian, Coco menghentikan tawanya. Raut wajahnya kini berubah serius.


“Kau harus mengetahui sesuatu yang sangat penting. Orang-orang yang menyerang ke pesta pernikahan Mia dan menewaskan ayah serta suaminya, adalah orang-orang dari Klan de Luca. Aku melihat sendiri tato di pergelangan tangan kiri salah satu pelaku yang berhasil kulumpuhkan. Sialnya, Mia juga melihat hal itu. Aku harap kau bisa memahami penjelasanku, Amico,” terang Coco dengan datar. Namun, penjelasan dari Coco justru telah membuat raut wajah Matteo terlihat semakin tegang.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2