Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Shocking Morning


__ADS_3

Seorang gadis berambut pirang keluar dari lift yang menuju apartemen Mia. Langkahnya terlihat percaya diri, hingga ia tiba di depan pintu. Dengan tergesa-gesa, gadis itu merogoh ranselnya dan mengeluarkan sebuah kunci. Ia memutar kunci itu dan membuka pintunya dengan pelan-pelan, berhubung saat itu masih terlalu pagi.


Gadis tersebut sempat kesulitan ketika pintu sedikit terbuka, karena pengait pintunya ternyata tak segera terlepas. Beberapa saat kemudian, barulah ia berhasil melepas pengaitnya dan masuk. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang apartemen yang masih terlihat sepi. “Aneh sekali,” gumamnya heran. Sepasang bola matanya yang berwarna hazel, bergerak ke sana kemari mencari keberadaan si tuan rumah.


Sejauh yang gadis itu ketahui, Mia biasanya tak pernah bangun lebih dari jam enam pagi. Sedangkan, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tepat. Rasa was-was pun mulai muncul di dalam hati si gadis.


“Mia?” panggil gadis tersebut dengan cukup nyaring. Ia lalu memberanikan diri membuka pintu kamar utama, yang selama ini menjadi kamar Mia. Akan tetapi, apa yang dilihatnya saat itu, terasa bagaikan petir yang menyambar tubuhnya berkali-kali. Dilihatnya, Mia tengah tertidur nyenyak dalam pelukan seorang pria. Mia dan juga sang pria, terbaring dalam keadaan polos dan hanya berbalut selimut yang menutupi bagian bawah tubuh keduanya. “Mia!” seru gadis itu nyaring. Ransel yang sedari tadi menggantung di pundaknya pun terjatuh begitu saja di lantai, dekat kakinya.


Sontak Mia terbangun mendengar seseorang memanggil namanya. Ia segera mencari arah suara dan seketika tertegun ketika melihat seorang gadis yang tiada lain adalah Daniella. Kakak tirinya itu sudah berdiri di depan ranjang dengan mulut menganga. Ia tak percaya dengan prmandangan di pagi hari yang membuatnya sungguh terkejut.


Segera Mia menarik selimut hingga ke atas dada dan mere•mas ujung selimut itu erat-erat. “Dani? Se-sejak kapan kau ....” Mia tergagap. Satu tangannya meraba dada Matteo. Ia berusaha untuk membangunkan pria itu. Akan tetapi, ternyata pria itu telah terjaga, bahkan Matteo sudah terbangun dari semenjak Daniella memasuki apartemen secara diam-diam. “Apa kabar, Daniella?” sapa Matteo datar.


Daniella tersenyum nakal. Pipi gadis itu merona. Jantungnya pun berdegup kencang saat melihat kedua orang di atas tempat tidur tersebut. Ia mencoba untuk menelaah adegan yang terjadi di depan matanya. Akan tetapi, sesaat kemudian Daniella kembali tersenyum kecil. “A-aku tunggu di luar saja. Kalian berpakaian saja dulu,” ucapnya seraya berlalu. Berbagai macam pikiran aneh mulai berkecamuk di kepala gadis itu. Tanpa menunggu izin dari Mia, ia segera mengeluarkan cangkir dari kabinet dan mulai menyeduh kopi.


Beberapa saat kemudian, dengan malu-malu Mia keluar dari kamar sambil menggandeng Matteo. Gadis itu berjalan menuju tempat Daniella berdiri, yaitu di depan meja makan yang bersebelahan dengan dapur. Daniella kemudian duduk berhadapan dengan Mia dan Matteo. Ia sama sekali tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. Tak disangka, baru seminggu tak bertemu dengan Mia, gadis itu sudah menunjukkan perubahan yang sangat drastis.


“Kau sudah tidak takut lagi padanya?” tanya Daniella keheranan seraya memegangi cangkir berisi kopi yang baru ia seduh.


Mia tersipu. Ia menjawab pertanyaan Daniella dengan menggelengkan kepalanya perlahan. Sementara Matteo hanya menyandarkan punggungnya di kursi meja makan, tanpa bersuara, ia mengamati Mia yang terlihat gugup.


Diraihnya jemari Mia yang terlihat gemetar. Matteo kemudian menggenggamnya dengan erat. “Kami akan pulang ke Brescia. Mia sudah bersedia menikah untuk denganku,” ujar Matteo, membuat Daniella kembali terkejut setengah mati.


Dia yang saat itu tengah meneguk kopinya, hampir saja menyemburkan kopi panas tersebut ke arah Matteo, andai saja ia tidak segera menutupi mulutnya dengan tisu.


“Ba-bagaimana bisa? Sejak kapan kalian saling bertemu?” Daniella tergagap sambil mengelap bibirnya.


“Dua hari yang lalu,” Mia melirik Matteo sesaat, untuk kemudian kembali menatap Daniella dengan pipi merona.

__ADS_1


“Baguslah. Aku turut berbahagia untuk kalian. Lalu, bagaimana dengan restoran yang kau bangun dengan susah payah itu, Mia?” tanya Daniella sembari meneguk kopinya lagi.


“Kuserahkan padamu untuk mengawasi semuanya,” jawab Mia dengan enteng. Ia tertawa kecil, menampakkan giginya yang rapi dan putih. Sementara Daniella terbelalak tak percaya.


“Mia! Kau tahu sendiri aku tak bisa berdiam di satu tempat terlalu lama. Apalagi melakukan pekerjaan yang sama dan membosankan setiap harinya,” gadis itu mendengus kesal sembari melipat tangannya di depan dada.


“Ayolah, Dani, kumohon. Francy terlalu sibuk dengan kuliah dan pemotretannya,” ucap Mia memelas.


“Aku juga sibuk!” dalih Daniella dengan tak acuh.


“Oh, ya? Apa kesibukanmu sekarang, Daniella?” sela Matteo yang sedari tadi memperhatikan percakapan dua bersaudara itu.


Daniella menoleh sesaat pada Matteo. Ia menatap pria rupawan itu dalam-dalam. Matteo hanya mengenakan kaus putih polos dengan tangan kirinya yang terus menggenggam tangan kanan Mia.


Daniella kemudian mengalihkan pandangannya kepada Mia yang masih berpenampilan berantakan dengan rambut yang sedikit kusut. Kimononya pun tampak melorot di salah satu sisi bahu yang kemudian segera Matteo betulkan letaknya. Ia juga sempat mengusap bahu mulus Mia.


“Incredibile,” gumam Daniella. “Kau sekarang sudah tak polos lagi ya, Mia,” Daniella tertawa geli, “artinya kita bisa bertukar cerita tentang .…” kerling gadis berambut pirang itu. Ia memang tak berniat melanjutkan kalimatnya.


“Kau boleh tinggal di sini selama yang kau mau, asalkan kau mau memegang kendali penuh atas La Florecita," tegas Mia.


Daniella mendengus kesal seraya menghentakkan kaki. “Baiklah! Baiklah! Akan kucoba!” akhirnya ia pun setuju.


“Terima kasih, Dani,” Mia berdiri dan menghambur ke arah Daniella, lalu memeluk erat kakak tirinya itu. Daniella membalas pelukan Mia dengan tak kalah hangat. Terciumlah aroma seorang pria yang menguar dari tubuh Mia. Tak disangka, Mia yang dulunya begitu polos dan lugu, sanggup menundukkan seorang pria seperti Matteo. Namun, itu bukan hal yang aneh bagi Daniella.


“Kapan kalian akan berangkat ke Brescia?” tanya Daniella sesaat setelah melepaskan pelukannya dari Mia.


“Secepatnya,” sahut Matteo. “Pagi ini, jika Mia bersedia,” imbuhnya dengan tenang, tetapi berhasil membuat Mia dan Daniella melotot secara bersamaan kepada Matteo.

__ADS_1


“Yang benar saja, Theo! Aku belum bersiap-siap dan juga belum berkemas!” protes Mia panik.


Matteo terkekeh. Ia kemudian berdiri dari tempatnya. “Kau tak perlu membawa apa-apa, cara mia. Aku akan menyiapkan segala keperluanmu di sana,” jawabnya datar. Tanpa kata, Matteo segera beranjak ke kamar Mia.


Daniella tertegun melihat itu semua. Beberapa saat kemudian, ia meraih dagu Mia dan mengarahkan wajah gadis itu kepadanya. “Apa yang terjadi selama aku pergi? Kau berhutang penjelasan padaku,” desisnya dengan mimik wajah Daniella yang terlihat ketus.


“Tidak ada. Tiba-tiba saja ia menemukanku di malam itu. Theo berdiri di belakang restoran saat aku hendak pulang,” jawab Mia seraya berbisik.


“Lalu, bagaimana dengan penyakitmu? Apa kau sudah tidak histeris lagi?” cecar Daniella.


“Aku tidak tahu, Dani! Semua terjadi begitu saja. Yang jelas, sekarang aku merasa nyaman dan damai berada di dekatnya,” Mia menyunggingkan senyum manisnya untuk Daniella. Gadis itu semakin terheran-heran atas semua yang dilihatnya pagi ini.


“Lalu, bagaimana dengan hari pertamaku di restoran? Aku tidak tahu apa saja yang akan kulakukan nanti,” ujar Daniella cemas.


“Aku akan menghubungi asistenku dan menceritakan semuanya. Ia yang akan membimbingmu, Dani. Jangan khawatir,” bujuk Mia. Ditepuknya pundak Daniella. Setelah itu, ia lalu melangkah masuk ke kamar.


“Tunggu, Mia! Apa menurutmu, semua ini tidak terlalu cepat?” cegah Daniella. Tangannya spontan mencekal lengan Mia.


Sementara Mia hanya mengangkat kedua bahunya sambil berkata, “Aku tak mau lari lagi. Aku sudah menemukan tempatku untuk pulang. Semoga suatu saat nanti, kau juga segera menemukan ‘rumah’, Dani.” Setelah itu, Mia segera menyusul Matteo masuk ke dalam kamar. “Aku akan berkemas dan membersihkan diri,” pamitnya pada Daniella yang masih mengerutkan dahi, berusaha mencerna ucapan Mia, tapi tetap saja ia tak mengerti. Pikirannya terlalu panas dan lelah. Putus cinta dari pacarnya telah menguras emosi dan juga energinya.


“Jika kau membutuhkanku, aku ada di kamar Francy!” seru Daniella pada Mia yang sudah tak terlihat. Ia pun berjalan menuju satu kamar yang dulunya adalah ruangan Francesca, lalu merebahkan dirinya di atas ranjang. Sayup-sayup terdengar percakapan antara Matteo dan Mia yang tak begitu jelas terdengar. Namun, Daniella bersikap tak peduli. Dia memilih untuk memejamkan mata dan tidur sejenak.


Di dalam kamarnya, Mia melihat Matteo tengah sibuk menelepon seseorang. “Siapkan semuanya, Damiano. Aku sudah menemukannya. Ia gadis yang akan kuberikan bros mawar merah milik Madre. Nanti malam akan kupertemukan ia dengan para tetua,” ucap pria itu.


“Siapa yang kau bicarakan, Theo? Bros apa yang kau maksud?” Mia mendudukan dirinya di ujung ranjang, tepat di samping Matteo yang baru saja menutup telponnya.


“Nanti kau juga akan tahu,” Matteo mencium bibir Mia lembut dan sedikit bermain-main dengan lidahnya.

__ADS_1


“Theo,” Mia terengah saat ciuman Matteo semakin dalam dan intens. Susah payah dia mendorong pria bertubuh atletis itu agar menjauh darinya. “Kau bilang kita sedang terburu-buru,” sergah Mia. “Mandilah dulu! Aku akan berkemas,” suruhnya.


Matteo terpaksa harus mengakhiri ciumannya lalu menempelkan keningnya pada kening Mia, hal yang kini telah menjadi favoritnya. “Bagaimana jika kau temani aku mandi, dan aku akan membantumu berkemas,” tawar Matteo yang seakan tidak menerima penolakan dari Mia. Ia lalu menarik tangan Mia dan membawanya ke dalam kamar mandi.


__ADS_2