
Semua pelayan di dalam Kastil Corradeo tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk pesta nanti malam. Sementara Matteo lebih memilih mengajak Mia berjalan-jalan di sekitar tempat itu. Begitu juga dengan Coco dan Francesca. Mereka tak ingin kedatangannya ke sana menjadi sia-sia dan tak berkesan sama sekali. Lain halnya dengan Daniella yang selalu sibuk dengan urusannya sendiri.
Matteo dan Mia asyik mengajak Maximus bermain, sedangkan Coco memilih untuk membawa Francesca sedikit menjauh dari mereka berdua. Ia mengajak gadis bertubuh semampai itu untuk berjalan-jalan di bibir pantai. “Aku merasa seperti sedang terdampar di pulau tak berpenghuni,” ujar Francesca. Sesekali ia menyibakan rambut panjangnya yang meriap-riap karena tiupan angin.
“Aku akan sangat bersyukur jika terdampar berdua denganmu,” balas Coco. Pria bermata coklat itu mulai mengeluarkan rayuan mautnya. Ia tersenyum kepada Francesca dengan disertai lirikan dari sorot matanya yang menggoda. “Ayolah, Francy! Sejujurnya aku sangat terganggu saat melihatmu dengan pria berwajah cantik itu. Aku berharap kau segera membuka matamu lebar-lebar,” celoteh Coco.
Francesca tertawa renyah mendengar celotehan pria yang merupakan cinta pertamanya tersebut. Ia menghentikan langkah dan sesekali memainkan air laut yang menggenang di kakinya. “Aku tidak bisa, Ricci,” tolak Francesca datar. Tatapannya menerawang jauh pada lautan yang terbentang luas.
“Apa yang membuatmu begitu berat untuk melepaskannya? Aku jadi merasa penasaran, memangnya sehebat apa pria itu?”
Francesca menatap pria yang berdiri tepat di sebelahnya. Coco akan selalu menjadi pria paling istimewa baginya, terlebih karena ia merupakan pria pertama dalam hidup Francesca. "Tidak ada yang istimewa darinya. Aku bahkan tidak nyaman berada di dekat Fillipo. Namun, ada alasan yang sangat mendasar kenapa aku harus memaksakan diriku untuk tetap bersamanya," terang Francesca membuat harapan dalam diri Coco kian meningkat.
Ditatapnya gadis cantik dengan bola mata hazelnya yang indah. Francesca adalah gadis belia yang telah berhasil membuat langkahnya menjadi goyah, karena terombang-ambing oleh perasaan yang tak menentu. Entah kelebihan apa yang telah dimiliki gadis itu, sehingga Coco menjadikannya begitu berarti jika dibandingkan dengan semua gadis yang pernah dekat dengannya. "Katakan padaku apa alasanmu. Buatlah aku mengerti dan memahami jika memang kau sedang tidak membodohi dirimu sendiri," pinta Coco.
Francesca tidak segera menjawab. Gadis itu asyik memainkan kakinya yang basah. Sedangkan Coco terus manantikan penjelasan darinya. Ia tak habis pikir, karena bisa begitu sabar dalam menghadapi gadis yang berusia hampir tujuh tahun lebih muda darinya. "Kenapa kau hanya diam? Apa kau tidak memiliki jawaban yang pasti?" tanya Coco dengan nada bicara yang agak mendesak.
"Tidak begitu, Ricci. Itu memang kenyataannya. Aku tidak pernah tertarik kepada Fillipo. Ia bukan tipeku, tapi aku tidak punya pilihan lain," bantah Francesca. Ia semakin bermain-main dengan rasa penasaran di hati Coco.
"Ayolah, Sayang! Aku tidak suka alur yang berkelok-kelok," Coco membalikan badannya sehingga jadi menghadap kepada Francesca. Ia menatap gadis itu dengan lekat, meskipun Francesca masih asyik memainkan air laut dengan kakinya. Perlahan Coco meraih lengan dengan kulit putih mulus itu. Ia membuat Francesca menghentikan keasyikannya. Gadis itu kini menghadap kepada Coco dengan sebuah senyuman kecil, sesuatu yang membuat Coco tak dapat menahan dirinya, untuk menikmati manisnya bibir berwarna peach yang terlihat sangat segar.
Francesca tak menolak sama sekali ketika Cock merangkul pinggang rampingnya, saat pertautan itu mulai berlangsung. Ia justru membalas apa yang dilakukan Coco, membuat pria tersebut semakin bersemangat. "Tinggalkan pria itu dan datanglah padaku, Francy," bisik Coco di sela-sela ciumannya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa!" tolak Francesca.
"Kenapa?" Coco menangkup wajah cantik yang kini terlihat semakin dewasa.
Francesca terlihat resah. "Karena ... karena keberadaan Fillipo di dekatku sangat berarti ... untuk kelangsungan karierku, Ricci," jelas gadis itu membuat Coco mengernyitkan keningnya. Dengan segera ia melepaskan tangannya dari wajah Francesca dan memalingkan muka dengan kesal. Francesca tahu jika Coco pasti tidak menyukai alasannya.
"Aku sangat menyadari hal ini. Rasanya begitu jahat dan tidak adil. Akan tetapi, kedekatanku dengan Fillipo sudah sangat membantu dan cukup berpengaruh dalam karierku selama ini. Ia adalah putra dari pemilik agency yang menaungiku. Orang tuanya memiliki banyak relasi dalam dunia modeling yang sedang kutekuni saat ini. Mereka selalu merekomendasikanku dan ...."
"Apa kau tidak percaya dengan keterampilanmu sendiri? Kau tidak yakin pada bakat dan potensi yang ada dalam dirimu sehingga harus melakukan kebodohan seperti itu?"
"Bukan begitu, Ricci! Persaingannya sangat ketat dan aku takut tidak dapat bertahan. Ini adalah mimpiku sejak lama, jauh sebelum aku mengenalmu. Aku sudah bercita-cita untuk terjun ke dalam dunia yang saat ini membesarkan namaku," jelas Francesca.
"Ya aku bisa memahami hal itu, tapi tidak dengan cara bodohmu, Francy!" sergah Coco tegas. "Ayolah! Kau cantik, pintar dan berbakat. Kau punya segalanya untuk dijadikan modal utama dalam mengembangkan kariermu. Kenapa kau harus mengorbankan dirimu dengan cara seprti itu?" protes Coco lagi dengan keras. Ia terlihat kesal. Sedangkan Francecsa memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan itu. Ia berlalu begitu saja dari hadapan Coco dengan wajah kecewa.
"Apa yang kau inginkan, Ricci?" tanya Francesca. Sepasang bola mata berwarna hazel miliknya tampak memberikan sebuah tantangan besar bagi Coco.
"Dirimu," jawab Coco dengan yakin.
Francesca tidak menjawab. Namun, tatapannya masih tertuju pada wajah rupawan Coco. Beberapa saat kemudian, gadis itu mendekat dan memeluk Coco dengan erat, membuat pria berambut coklat tersebut menyunggingkan senyuman lebar seraya membalas pelukan Francesca dengan jauh lebih erat. Coco bahkan mengangkat tubuh semampai itu sehingga lebih tinggi darinya. Sementara Francesca tertawa lebar, ia tampak sangat bahagia saat itu. "Turunkan aku, Ricci!" pinta Francesca setelah beberapa saat.
"Tidak akan!" tolak Coco. Ia berjalan sambil terus mengangkat tubuh Francesca. "Jika kuturunkan, kau pasti akan pergi meninggalkanku," ujar Coco membuat Francesca tergelak.
__ADS_1
"Tidak akan. Aku janji aku tidak akan pergi, tapi turunkan aku dan katakan sesuatu padaku,," Francesca meletakan kedua tangannya di pundak Coco yang masih mengangkat tubuhnya sambil terus berjalan menyusuri bibir pantai.
"Apa?"
"Beri tahu aku siapa namamu yang sebenarnya," pinta Francesca.
"Sejak kapan kau ingin tahu hal itu? Apakah begitu penting?" Coco terus mengulur-ulur waktu untuk memberikan jawaban. Ia hanya ingin sedikit bermain-main, agar gadis cantik itu merasa semakin penasaran.
“Ayolah, Ricci! Aku hanya mengetahui sedikit sekali tentang dirimu. Sementara kau tahu banyak tentang diriku. Itu namanya tidak adil!” protes Francesca dengan bibir cemberut. Ia sampai lupa jika Coco belum juga menurunkan tubuhnya.
“Bagaimana jika kita membuat perjanjian saja?” tawar Coco seraya mengangkat salah satu alisnya.
“Apa itu?” tanya Francesca.
"Kuberitahukan namaku, asalkan kau bersedia meninggalkan Filippo!" tegas Coco sambil menyeringai, membuat Francesca segera mendengus kesal. Tampaknya Francesca merasa keberatan dengan tawaran itu. "Kalau begitu, biarlah semua tentangmu tetap menjadi misteri!" tolaknya kecewa.
"Kenapa kau sungguh keras kepala, Francy? Jika hanya masalah karier yang kau takutkan, maka dengarlah! Aku, Giovanni Francesco Ricci akan mendampingi sekuat tenagaku, dengan semua sumber daya dan koneksi yang kumiliki untuk membantumu meraih cita-cita dan kesuksesan yang kau harapkan!" tekadnya. Tak ada setitik pun keraguan dalam nada bicaranya.
"Bagaimana caranya, Ricci? Kau bahkan buta akan seluk beluk dunia modelling!" Francesca terdengar ragu. "Tunggu! Apa yang baru saja kudengar? Jadi, namamu mirip dengan namaku," tiba-tiba saja perhatian gadis itu teralihkan saat mendengar nama lengkap Coco.
"Ya, nama kita mirip dan aku yakin itu merupakan suatu pertanda. Lalu, aku juga akan berkata 'ya' sekali lagi untuk membantumu, meskipun aku tak tahu tentang modelling, tapi aku akan belajar." ujar Coco. "Jangan lupakan satu hal, untuk apa kau mempunyai kakak ipar berpengaruh jika tidak kau manfaatkan," lanjutnya sembari tergelak. Namun, tawanya harus terhenti, ketika ponselnya berdering nyaring.
__ADS_1
Coco segera menurunkan tubuh Francesca. Ia lalu merogoh ponsel dari dalam saku celana pendeknya. Nama Matteo tertera di layar ponsel itu.