Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Ragazza Eccentrica


__ADS_3

Seorang gadis bertubuh semampai telah memasuki Casa de Luca. Sesuai dengan perintah Matteo, petugas yang berjaga di pintu gerbang segera membawanya masuk dan menghadap kepada sang ketua klan. Kebetulan, saat itu Matteo sudah selesai sarapan. Ia dan Adriano tengah berbincang di ruang tamu. Sementara Mia memilih untuk kembali beristirahat di kamarnya.


Valerie Nikolaev. Ia adalah seorang gadis asal Rusia berumur dua puluh lima tahun. Penampilannya begitu unik dan sangat eksentrik, bahkan mungkin terbilang ekstrim. Valerie gemar memakai celana cargo panjang yang dipadukan dengan tank top hitam. Ia juga merajah tubuhnya dengan tato, dan bukan hanya di satu bagian. Valerie menutupi hampir seluruh tubuhnya dengan gambar-gambar penuh warna dan membuatnya terlihat begitu berbeda. Selain itu, gadis dengan bola mata berwarna hitam tersebut juga memasang tindik di beberapa bagian wajahnya. Satu hal yang pasti, penampilan Valerie sangat jauh dari kata manis. Ia merupakan kebalikan dari Mia apalagi Camilla yang seksi.


"Val, kau selalu datang tepat waktu," sambut Adriano seraya berdiri seraya mengajak Valerie untuk bergabung bersamanya dan Matteo. Valerie melepas topi yang ia kenakan. Gadis itu kemudian merapikan bagian atas rambutnya yang berwarna hitam pekat. Sesekali, ia memainkan ujung rambut dengan tatanan kepang dua. Gadis itu menyapu bibirnya dengan ujung rambut tersebut, kemudian melayangkan tatapannya kepada Adriano dan Matteo secara bergantian.


"Kau sudah tahu itu, Moy brat," sahut Valerie dengan aksen Rusianya yang sudah tidak terlalu kental. Ia lalu menghampiri Matteo dan menyalami pria bermata abu-abu tersebut. "Apa kabar? Kau pasti Tuan de Luca. Benar, kan?" sapanya dengan gaya bicara ala gadis tomboy.


Matteo tersenyum simpul. Ia membalas jabat tangan gadis itu. "Luar biasa, kau langsung mengenaliku," sanjung Matteo tenang.


"Aku bisa mencium bau mesiu dalam dirimu, Tuan," sahut Valerie diselingi tawa lepas. Ia benar-benar terlihat bebas dan tak terikat oleh adab-adab sebagai seorang gadis. Valerie begitu tak acuh dengan semua sikap yang ditunjukkannya saat itu. "Tempat yang sangat nyaman," ucap gadis itu lagi seraya mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruang tamu dengan beberapa bukaan besar yang menghadap langsung ke area perkebunan.


"Wow, luar biasa. Ternyata Tuan de Luca memang seorang tuan tanah," celetuk gadis itu membuat Matteo mengernyitkan keningnya seraya melirik Adriano yang tampak memijit pangkal hidungnya.


"Jaga sikapmu, Val," ucap Adriano pelan, membuat  gadis bertato itu kembali tertawa nyaring.


"Maafkan aku, Moy brat. Aku terbiasa tinggal di Monaco dan jarang sekali melihat perkebunan anggur seluas itu," kilah Valerie dengan polosnya.


"Kau selalu berkutat dengan senjata," timpal Adriano.


"Kau sangat mengenalku," ujar Valerie lagi. "Senjata adalah teman yang setia. Ia lebih dari seorang kekasih untukku. Seorang pria bisa berkhianat, tapi sebuah senjata akan selalu menurut padamu dan setia sampai kau sendiri yang membuangnya," lanjut gadis itu seraya mengalihkan tatapannya kepada Matteo, yang sedari tadi mengamati setiap bahasa tubuh gadis tersebut dengan lekat.


"Sangat menarik, Nona Nikolaev," Matteo menanggapi ucapan Valerie dengan sebuah senyuman simpul.

__ADS_1


"Kau jauh lebih menarik, Tuan de Luca. Kita sama-sama memiliki banyak tato dan juga menyukai senjata. Namun, aku yakin jika kau pasti jauh lebih unggul dariku. Aku sudah mendengar nama besarmu. Rasanya sangat menyenangkan karena bisa bertemu langsung, apalagi jika aku bisa bekerja sama denganmu sebagai satu tim," bola mata hitam Valerie menatap lekat kepada Matteo, dan beradu dengan warna abu-abu pria itu.


Sementara Adriano hanya tersenyum kalem seraya menggelengkan kepalanya. "Valerie selalu berbicara apa adanya, Tuan de Luca. Ia bukan tipikal orang yang gemar bersembunyi hanya demi mengamankan posisinya. Anda pasti akan menyukai karena memiliki partner kerja seperti saudariku ini," Adriano ikut menimpali.


"Jangan terlalu berlebihan! Kau harus bertanggung jawab seandainya Tuan de Luca tidak menyukaiku," sergah Valerie dengan seringainya kepada Adriano. Sedangkan Adriano hanya tergelak menanggapinya.


"Aku tidak yakin jika Tuan de Luca tak akan terkesan padamu, Dik. Aku hanya ingin agar kau bekerja sebaik mungkin dan menununjukkan semua potensi yang kau miliki. Lagi pula, ini bisa menjadi kursus gratis untukmu," ujar Adriano lagi dengan tenangnya.


"Aku harus melihat kinerjamu dulu, Nona Nikolaev," ucap Matteo datar.


Valerie mengalihkan perhatiannya kepada Matteo. Kesan pertamanya terhadap ketua dari Klan de Luca itu begitu istimewa. Ia sudah mendengar nama besar Matteo, begitu juga dengan semua sepak terjangnya dalam misi menguasai daratan Italia. Pria itu memang luar biasa, dan ternyata juga penuh pesona. Valerie tak menyangka jika Matteo de Luca setampan dan segagah itu. "Bisakah kau berhenti memanggilku dengan sebutan Nona Nikolaev? Aku tidak menyukai sesuatu yang terlalu formal."


"Tak masalah. Aku hanya menghargaimu sebagai seorang wanita yang belum kukenal dengan baik," sahut Matteo datar dan agak dingin, tetapi lagi-lagi membuat Valerie tergelak. Entah apa yang dirasa lucu oleh gadis itu.


Kini giliran Matteo yang tertawa pelan. "Jangan berusaha untuk menggodaku, karena aku sudah menikah. Tuan D'Angelo sangat mengetahui hal itu," lirik Matteo membuat Adriano segera membetulkan posisi duduknya.


"Valerie hanya bercanda, Tuan de Luca," Adriano menanggapi celotehan gadis bertato itu terhadap Matteo. Sedangkan Matteo sepertinya menangkap hal lain.


“Aku tidak biasa bercanda dan beramah-tamah dengan orang yang baru kukenal,” tegas Matteo.


“Luar biasa,” gumam Valerie. Rasa kagumnya pada sosok Matteo semakin menjadi. “Sepertinya aku harus memaksa agar kau mau menerimaku sebagai asisten perakit senjata di bengkelmu,” guraunya lagi. Namun, Matteo tak langsung menanggapi hal itu.


“Kau sudah sarapan, Nona Nikolaev?” Matteo memotong pembicaraan Valerie dan mencoba bersikap ramah sebagai tuan rumah. Ia mengalihkan topik pembicaraan untuk sesaat.

__ADS_1


“Kebetulan! Aku belum sempat makan apapun sejak tadi malam,” tanpa sungkan, Valerie langsung menyeret kursi di samping Matteo dan memutarnya hingga punggung kursi menghadap ke dirinya. Dengan santai, gadis itu duduk seraya meletakkan siku di puncak punggung kursi tersebut.


Adriano berdehem melihat kelakuan Valerie. Mata birunya sedikit melotot pada wanita berkepang dua itu. “Ah, maafkan aku. Sudah menjadi kebiasaanku duduk seperti ini,” Valerie membelalakan matanya yang dihiasi eye liner cukup tebal. Ia menyadari kesalahannya, Valerie pun segera memutar kursi itu kembali seperti semula. Ia lalu duduk dengan normal.


Matteo mengangkat tangannya pada beberapa orang pelayan yang masih berdiri di sana. Tanpa sepatah katapun, para pelayan itu seakan memahami maksud Matteo dan segera menyiapkan peralatan makan untuk Valerie.


“Berbagai menu hidangan sudah disiapkan di atas meja. Kau bisa memilihnya,” ucap Matteo seraya mengulurkan tangannya.


“Ah, semuanya terlihat lezat. Selamat makan!” Valerie mengambil beberapa lauk dan menjadikan satu di atas piringnya. Sementara Matteo masih terheran-heran dengan tingkah laku gadis yang terbilang aneh. Keraguan sempat menyelimuti benaknya, sehingga ia terpaksa harus melakukan sesuatu untuk menguji gadis yang kini sedang makan dengan lahapnya itu.


Matteo mengeluarkan pistol revolver antik yang sejak tadi terselip di belakang pinggangnya. Ia lalu meletakkan pistol itu tepat di depan Valerie, membuat gadis itu terhenyak untuk sesaat. Begitu pula Adriano yang bertanya-tanya akan maksud pria bermata abu-abu tersebut.


“Aku ingin kau membongkar pistol itu beserta pelurunya, lalu kau pasangkan kembali sampai kondisinya sama persis seperti semula. Lakukan semua itu secepat mungkin sebelum makananmu menjadi dingin!” titahnya datar dengan sorot mata tajam.


Valerie tertawa meremehkan. Ia segera meletakkan sendoknya, kemudian melakukan apa yang Matteo perintahkan. Tak sampai dua menit, gadis itu sudah berhasil menyelesaikan semua yang Matteo perintahkan padanya. "Tidak adakah tugas yang jauh lebih berat untukku, Tuan de Luca?" tantang Valerie seraya menjentikan jarinya. "Asal kau tahu, Tuan. Pistol seperti itu sudah menjadi mainanku sejak aku berusia delapan tahun," ucap gadis itu sombong.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2