
“Selamat siang, Tuan Gio,” sapa Valentino dengan sopan dan sangat ramah. Ia selalu menunjukkan sikap yang baik di depan pria paruh baya itu.
“Selamat siang, Vale,” balas Mr. Gio. “Sejak kapan kau berada di sini?” tanyanya dengan tatapan penuh selidik terhadap Valentino.
“Saya baru datang, Tuan,” jawab Valentino dengan sopan. “Saya ingin mengajak Mia keluar jika Anda tidak keberatan. Rencananya kami akan pergi ke Libreria Aqcua Alta untuk mencari buku baru di sana,” jelas Valentino.
Mr. Gio tidak segera menjawab. Tatapannya beralih kepada Mia yang saat itu tidak berani membalas tatapan sang ayah. Mr. Gio dapat memahami hal itu.
“Baiklah, tapi ingat kau harus segera mengantarkan Mia untuk pulang sebelum jam sembilan!” pesan Mr. Gio dengan tegas tapi masih terdengar santai. Valentino tersenyum lebar. Pemuda itu mengangguk dengan segera. Ia senang karena tidak harus berusaha terlalu keras untuk dapat membujuk Mr. Gio yang terkenal tegas.
“Bagaimana, Mia? Kau sudah siap?” tanya Valentino saat melihat Mia yang hanya terdiam.
Mendengar Valentino menyebut namanya, Mia seketika terkejut dan menjadi gelagapan. Akhir-akhir ini, gadis itu selalu terlihat melamun sendirian. Mia mengangguk saja meskipun dengan sedikit ragu. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Ambil tas-mu, Nak dan pergilah! Tenang saja, Ayah masih bisa menangani kedai sendirian. Lagi pula, pengunjung hari ini sedang tidak seramai biasanya,” ujar Mr. Gio. Ia seakan mengerti jika saat itu Mia sedang tidak berkonsentrasi. Gadis itupun mengangguk. Ia berlalu ke dapur untuk mengambil tas selempang kecil miliknya. Setelah itu, mereka pun berpamitan kepada Mr. Gio yang saat itu menatap kepergian putrinya dengan nanar.
Mr. Gio sepertinya dapat memahami apa yang tengah mengganggu pikiran Mia. Ia terus memerhatikan anak gadisnya yang bersikap aneh dari semenjak kepergian Matteo. Mr. Gio pun tidak dapat berbuat apa-apa, terlebih karena Mia gadis yang cenderung pendiam. Ia cukup tertutup untuk urusan pribadinya.
Mia duduk manis di dalam mobil VW Kodok berwarna merah milik Valentino. Lagi-lagi ia hanya termenung. Mia bahkan tidak terlalu menyimak semua yang Valentino katakan. Pikirannya masih tertuju kepada Matteo yang tak juga menemuinya. Mia kemudian menggigit bibir bawahnya dengan perlahan. Tiba-tiba ia tersenyum sendiri, karena ia teringat pada apa yang telah Matteo lakukan kepadanya. Mia masih dapat merasakan gigitan lembut itu bahkan hingga saat ini.
Valentino mengernyitkan keningnya saat ia melirik gadis di sebelahnya. Pemuda itu tidak sedang membahas sesuatu yang lucu, tapi ia melihat Mia tersenyum sendiri. “Ada apa, Mia? Apakah ceritaku tadi terdengar lucu menurutmu?” tanya Valentino dengan heran.
Mia tersadar. Ia kemudian menoleh kepada Valentino yang saat itu kembali fokus pada kemudinya. Lagi-lagi, dirinya tidak tahu harus menjawab apa karena ia sama sekali tidak menyimak semua penuturan dari Valentino. “Um ... i-iya, Vale. Aku ... maksudku ... um ... bisa kau ulangi lagi? Aku terlalu menikmati perjalanan, jadi ....” Mia tidak melanjutkan kata-katanya. Gadis itu mengulum bibirnya. Ia menyesal karena harus terlihat konyol di depan Valentino. Sementara, pemuda itu hanya tertawa pelan melihat sikap kikuk Mia.
__ADS_1
“Kau kenapa, Mia? Kulihat sejak tadi kau lebih sering melamun. Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Valentino dengan sangat penasaran.
Mia hanya tersenyum kecil. Ia tidak mungkin mengatakan jika dirinya tengah memikirkan pria bernama Matteo, di depan pemuda yang telah lama memiliki perasaan istimewa terhadapnya. Bagaimanapun juga, Mia harus tetap menjaga perasaan Valentino yang selama ini sudah menjadi sahabat terdekatnya. Pemuda itu juga sudah banyak membantunya, bukan hanya untuk tugas akademik saja.
Ya, Valentino adalah pemuda dengan tingkat kecerdasan yang tinggi. Ia selalu menjadi siswa yang berprestasi dari semasa sekolah dulu. Berasal dari keluarga baik-baik dan terhormat, sikap Valentino selama ini selalu sopan dan tidak pernah berani untuk berulah macam-macam.
Valentino sebenarnya merupakan sosok sempurna bagi setiap gadis. Namun, entah mengapa karena Mia lebih tertarik untuk menjadikannya hanya sebagai sahabat.
“Begini, Mia” Valentino kembali membuka obrolannya dengan Mia. “Rencananya aku akan menulis sebuah artikel tentang mitos-mitos aneh yang berkembang di negara kita. Aku hanya ingin mengetahui bagaimana respon dari generasi muda seperti kita tentang hal-hal seperti itu. Kau tahu bukan, zaman telah berkembang. Pemikiran kita pun makin lama semakin berevolusi. Apakah kita sebagai generasi muda akan selamanya terkungkung dalam sebuah mitos yang belum dapat dibuktikan kebenarannya bahkan cenderung terdengar tidak masuk akal,” papar pemuda itu dengan panjang lebar. Sementara Mia hanya manggut-manggut.
“Satu hal lagi, Mia,” lanjut Valentino lagi. “Entah kenapa karena aku mulai tertarik untuk mengulik tentang dunia gelap.”
“Dunia gelap? Maksudmu?” Mia mengernyitkan keningnya. Ia menoleh kepada pemuda itu dengan sorot mata yang tidak mengerti.
“Ya, dunia gelap. Sindikat mafia, gangster, dan segala hal yang berkaitan dengan organisasi mereka,” jelas Valentino lagi.
“Apakah kau akan menyelidiki tentang dunia mafia? Bukankah itu sangat berbahaya, Vale?” resah Mia.
“Wow, Mia! Apakah kau sedang mengkhawatirkanku? Kau membuatku berbunga-bunga,” sahut Valentino dengan senyum terkembang.
“Vale!” protes Mia.
“Baiklah, baiklah! Aku tidak ingin berdebat. Sekarang saatnya bersenang-senang,” Valentino melajukan kendaraannya dan berhenti di depan museum sekaligus perpustakaan terkenal di Venice.
__ADS_1
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” Velentino buru-buru melepas sabuk pengamannya dan membantu Mia melepas sabuk pengaman dari badannya.
Wajah mereka sempat berdekatan, dan itu membuat Valentino salah tingkah karenanya. Namun, tidak dengan Mia. Pikiran gadis itu masih dipenuhi dengan hal lain.
“Aku akan menunjukkan padamu tentang kisah cinta klasik zaman Romawi,” tutur Valentino. Ia kemudian keluar dari mobilnya dan berpindah ke pintu penumpang dan membukakannya untuk Mia.
“Grazie, Vale,” ucap Mia seraya mengembangkan senyumnya yang begitu manis.
Valentino meraih tangan Mia dan tergesa-gesa mengajak gadis itu memasuki area museum. Bangunan yang terlihat kuno tapi mewah dengan arsitektur romawi kuno dan dihiasi ukiran-ukiran khas abad pertengahan. Langit-langit ruangannya penuh dengan lukisan dewa-dewi, semakin menambah keindahan interior museum.
“Apa yang ingin kau tunjukkan, Vale? Kenapa mesti tergesa-gesa?” tanya Mia dengan sedikit terengah.
“Aku ingin mengingatkanmu pada satu hal yang menjadi awal keakraban kita bertahun-tahun lalu,” jawab Valentino seraya tersenyum penuh arti.
“Apa itu?” tanya Mia penasaran.
“Kisah cinta antara Amor dan Psyche."
__ADS_1