Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Prima Risata


__ADS_3

Semua rangkaian operasi telah dilakukan oleh tim dokter, yaitu tindakan yang mencangkup operasi di kepala dan juga tulang kaki Mia. Matteo begitu bersyukur, karena semua tahapan berjalan dengan lancar, meskipun ada beberapa hal yang harus dikorbankan. Selain janin dalam kandungan Mia yang tak mungkin untuk diselamatkan, wanita muda itu pun harus rela kehilangan mahkota indahnya. Namun, itu semua harus dilakukan, karena sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan.


Entah bagaimana reaksi Mia nantinya saat ia mengetahui kondisi dirinya pasca operasi. Sudah menjadi tugas Matteo untuk dapat memberikan pengertian dan dukungan penuh kepada sang istri.


Seperti halnya pagi itu, Mia mulai membuka matanya dengan sedikit demi sedikit. Perlahan ia menggerakan jemarinya. “Theo ....” suaranya terdengar begitu pelan dan hanya seperti sebuah hembusan angin. Namun, tidak bagi Matteo. Pria itu segera terjaga dari tidurnya. Ia yang terus menunggui Mia, tak beranjak sedikitpun dari sisi wanita itu.


“Mia, Sayang. Kau sudah sadar?” Matteo terlihat begitu bahagia bisa mendengar suara sang istri lagi. Ia mengelus kening wanita muda itu dan mengecupnya dengan lembut. “Apa yang kau rasakan saat ini?” tanyanya dengan setengah berbisik.


Mia menatap sayu kepada pria bermata abu-abu yang tengah memandangnya dengan sorot penuh binar kebahagiaan. Namun, saat itu tubuh Mia terasa begitu tak berdaya. “Aku haus. Kakiku juga terasa sakit. Tubuhku rasanya begitu aneh, Theo,” ucap Mia lemah.


“Tak apa, Sayang. Aku juga seperti itu saat pertama kali selesai operasi. Rasanya aku ingin berteriak dan turun dari ranjang, kemudian berlari dan memelukmu. Namun, kenyataannya aku bahkan kesulitan menggerakkan tanganku sendiri. Aku ingin menangis, tapi segera kutahan karena kau pasti akan menertawakanku,” ucap Matteo seraya kembali mengecup kening Mia.


Tersungging sebuah senyuman kecil di bibir Mia yang tampak pucat, saat mendengar ucapan sang suami. “Apa kau sudah makan, Theo?” tanya Mia. Nada bicaranya masih tetap lemah dan sangat pelan. Sesekali ia memejamkan matanya. Mia seperti tak punya tenaga sama sekali.


“Jangan pikirkan hal itu. Aku sangat mencemaskanmu,” bisik Matteo. “Kau akan segera sembuh. Semuanya pasti akan membaik, dan kita  pulang ke Brescia bersama-sama. Setelah itu, jangan harap aku akan membiarkanmu pergi lagi. Sudah kukatakan padamu, Mia. Kau akan jauh lebih aman jika berada di dekatku, karena itu jangan pernah mencoba untuk pergi sendiri,” Matteo kembali mengecup kening Mia dengan penuh cinta.


“Aku marah padamu, Theo,” ucap Mia lagi. Sekali lagi Mia memejamkan mata dan merasakan tubuhnya yang saat itu begitu tidak nyaman. Perlahan, ia berusaha mengangkat tangan dan hendak memegangi keplanya yang masih terbungkus perban. Namun, dengan segera Matteo mencegahnya. Ia menggenggam jemari lentik Mia dan menciumnya dalam-dalam.


“Maaf karena aku sering membuatmu marah. Aku janji, mulai saat ini aku tidak akan membuatmu marah lagi padaku. Apa kau kesulitan mengendalikanku, Mia?” Matteo menyentuh wajah cantik Mia yang pucat. Sedangkan Mia tak segera menjawab. Wanita muda itu menatap lekat sang suami. Matteo adalah pria yang sangat ia cintai dan selalu memberikan perasaan luar biasa dalam hatinya, meskipun tak jarang kerap kali membuatnya begitu tak karuan.


“Aku tak ingin mengendalikanmu, karena kau adalah suamiku. Bagaimanapun juga, kau tetap harus berada di depanku,” Mia kembali memejamkan mata dan meringis kecil demi merasakan tubuhnya yang tidak nyaman. Rasa sakit itu cukup mengganggunya. Melihat hal tersebut, Matteo kembali terlihat cemas. Ia segera menekan tombol yang berada di atas tempat tidur Mia. Tak berselang lama, seorang perawat masuk ke sana.


“Ada yang bisa dibantu, Tuan?” tanya perawat itu sopan.


“Istriku meringis kesakitan,” ucap Matteo dengan ekspresi kebingungan. Sementara perawat itu hanya tersenyum. Ia lalu menghampiri dan mulai melihat keadaan Mia. Setelah itu, ia menoleh kepada Matteo.


“Jangan khawatir, Tuan. Itu hal yang biasa pasca operasi. Nanti juga istri Anda akan mulai terbiasa. Setelah ini kami akan memberikan obat pereda rasa sakit. Untuk saat ini, sebaiknya biarkan istri Anda  beristirahat dulu,” jelas perawat tersebut. Ia lalu pamit dan keluar dari kamar rawat Mia.


Sepeninggal perawat tadi, Matteo segera menghampiri Mia yang terlihat begitu lemah. Kembali dikecupnya kening wanita muda itu dengan lembut. “Kau dengar yang dikatakan perawat tadi? Kau harus banyak istirahat, jadi sebaiknya kau tidur sekarang,” ucapnya lembut.


“Aku sudah terlalu banyak tidur, Theo,” protes Mia pelan. Namun, ia tetap mencoba untuk kembali memejamkan matanya, meskipun terasa begitu sulit.


“Tidurlah,” paksa Matteo. “Lagi pula aku harus ke toilet,” pria itu meringis kecil sebelum berlalu ke dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan di pintu. Wajah Daniella dan Francesca muncul dengan senyuman khas mereka.

__ADS_1


“Mia sedang tidur. Sebaiknya kita kembali saja nanti,” bisik Francesca. Namun, sebelum mereka beranjak keluar, Matteo muncul dari dalam kamar mandi.


“Kalian? Sejak kapan kalian ada di sini?” tanya pria itu seraya menghampiri kedua saudari iparnya.


“Kami baru saja datang. Kami pikir Mia tidak sedang tidur,” sahut Daniella.


“Perawat menyarankannya untuk lebih banyak istirahat. Tubuhnya masih terlalu lemah,” jelas Matteo datar.


“Kasihan sekali, Mia,” ucap Francesca pelan. “Sebaiknya jangan kau beritahukan jika ia telah mengalami keguguran, karena itu pasti akan sangat mengguncangnya. Lagi pula, Mia juga tidak menyadari jika dirinya sedang hamil,” lanjut gadis itu pelan.


“Ya, aku rasa Francy benar. Kau harus lebih menjaganya, Theo,” timpal Daniella. Tanpa sengaja pandangannya tertuju kepada Mia yang saat itu rupanya mendengarkan percakapan mereka. “Ya, Tuhan!” pekik Daniella pelan. Ia begitu terkejut. Segera dihampirinya sang adik yang saat itu terdiam menatap ke arah mereka.


Matteo yang menyadari hal itu, segera menghampiri Mia dan menggenggam erat jemarinya. “Tak apa, Cara mia,” bisiknya. Sedangkan Mia tak menjawab. Ia segera memalingkan wajahnya. Perlahan air mata mulai menetes di pipinya.


“Mia, semuanya akan kembali membaik. Kau tak perlu khawatir,” ucap Daniella pelan. Ia mencoba untuk menenangkan sang adik. Daniella tahu, Mia pasti begitu terpukul saat mendengar jika ia telah keguguran akibat kecelakaan yang menimpanya.


“Tinggalkan aku sendiri,” pinta Mia pelan tanpa menoleh pada kedua saudarinya. Daniella dan Francesca pun tak ingin membantah ucapan Mia. Mereka segera keluar dari dalam ruangan itu.


“Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan  tetap di sini!” tegas Matteo.


“Aku tidak ingin berdebat denganmu,” sahut Mia lirih. Air mata mulai berjatuhan di pipinya.


“Aku juga tidak ingin lagi. Cukuplah beberapa minggu yang lalu, menjadi pertengkaran terakhir kita. Aku akan menuruti apapun yang kau mau, asal jangan suruh aku untuk meninggalkanmu,” balas Matteo.


“Aku membencimu, Theo. Kau lah yang menyebabkan semua penderitaanku. Aku membencimu,” suara Mia terdengar pelan, seperti bisikan. Namun, Matteo dapat mendengarkan itu semua dengan jelas dan membuatnya terluka.


Fisik Matteo boleh saja teramat kuat. Ia bisa mengalahkan musuh-musuhnya dengan mudah seberapapun banyaknya. Akan tetapi, tidak dengan hatinya yang mulai rapuh ketika dihadapkan pada sosok Mia. Kalimat wanita itu dapat menghancurkan diri Matteo hanya dalam beberapa detik saja.


“Apa kau ingin agar aku pergi darimu, Mia?” tanya Matteo dengan suara bergetar. Sedangkan istrinya itu sama sekali tak menjawab. Ia hanya memalingkan muka dan memejamkan matanya.


“Sekalipun Mia memintamu untuk pergi, tolong jangan turuti, Theo. Ia memang terkadang keras kepala!” timpal Francesca yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Matteo. “Maaf jika aku menguping pembicaraan kalian. Ini sudah menjadi kebiasaanku sejak dulu. Sejak Mia mendapatkan penggemar pertamanya, yaitu Valentino,” tutur Francesca sambil tersenyum lebar. Ia lalu berjalan melewati Matteo dan berdiri di tepi ranjang Mia.


“Kau tahu, Theo? Aku ingat betul ketika Mia mendapat surat cinta pertamanya sepulang sekolah. Ia berlari begitu saja memasuki kamarnya bahkan tanpa menyapa ayah, ibu dan juga aku. Itu adalah hal aneh bagiku, karena tidak biasanya Mia bersikap begitu. Jadi, aku mengikutinya sampai di depan pintu kamar dan mendengarnya membaca surat itu dengan nyaring. Aku masih berumur sepuluh tahun kala itu,” papar Francesca panjang lebar.

__ADS_1


“Mia kemudian berteriak, kalau ia membenci Valentino dan tidak mau bertemu dengannya lagi. Namun, kau tahu kenyataannya? Keesokan hari, Mia berangkat sekolah dengan wajah ceria sambil menggandeng tangan Valentino,” lanjut Francesca.


“Kadang apa yang Mia ucapkan dengan apa yang ada di hatinya, sangat bertolak belakang. Ia seringkali menutupi perasaannya sendiri. Entah untuk apa,” sambung Daniella yang tanpa Matteo tahu, sudah berdiri di sampingnya.


“Kalau Mia tersiksa bersamaku, akan lebih egois lagi jika aku memaksanya untuk tetap seperti itu,” gumam Matteo kemudian.


“Tanyakan saja pada Mia. Apa memang ia bahagia atau justru tersiksa bersamamu?” telunjuk Daniella mengarah kepada Mia yang masih memejamkan mata dan malah memiringkan kepalanya.


Matteo yang memperhatikan hal itu, segera mengulurkan tangan dan membetulkan letak kepala istrinya. “Cara mia! Jangan terlalu menoleh seperti itu. Ingat luka bekas operasimu!” tegurnya.


Francesca dan Daniella melihat itu semua dengan penuh keharuan. Seakan tak peduli atas kalimat menyakitkan yang telah Mia lontarkan untuk dirinya, pria itu tetap saja memperlakukan Mia dengan sangat lembut. Bagi mereka berdua, apa yang Matteo lakukan saat itu adalah sebuah keajaiban.


Pria itu adalah kepala organisasi mafia. Sepak terjangnya di dunia hitam begitu mengerikan. Tak terhitung banyaknya nyawa yang berakhir di tangan Matteo. Namun, semua kekejian tersebut sama sekali tak terlihat saat itu. Ada sisi lain dari Matteo yang tak diketahui. Sisi manusiawi dan nuraninya yang tak jauh berbeda dengan orang kebanyakan.


“Aku tahu kau terpukul atas semua kejadian ini, Mia. Namun, tak adil rasanya jika kau menimpakan semua kesalahanmu pada Matteo,” tutur Francesca hati-hati. “Theo bahkan rela menukar nyawanya di pulau Elba demi menyelamatkanmu. Theo membiarkan dirinya menjadi tameng agar Antonio tidak membunuhmu. Jika itu bukan cinta, lalu apa namanya?”


“Jika semua hal itu masih kurang bagimu, aku tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan lagi olehnya,” sambung Daniella.


“Aku tak menyangka mafia kejam seperti dirinya, bisa bertekuk lutut di kaki Mia,” Francesca terkikik geli dan disambut oleh tawa Daniella.


“Hilang sudah semua wibawanya,” celotehnya.


“Kalian berbicara seperti ini, seolah-olah aku tak ada di sini,” dengus Matteo kesal.


Tanpa diduga, Mia tertawa melihat ekspresi Matteo. Ini adalah tawa pertama Mia sejak berminggu-minggu lamanya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2