
Selepas rutinitas yang ia kerjakan, biasanya Coco menghabiskan waktunya dengan bermain game online hingga saatnya makan malam tiba. Akan tetapi, lain halnya dengan sore itu. Coco justru tampak termenung sendiri dan memikirkan Francesca. Ia menurut saja ketika Francesca mengiriminya sebuah pesan yang mengatakan agar Coco tidak menemuinya di Venice. Namun, sudah beberapa lama gadis bermata hazel itu tidak lagi memberinya kabar. Ponsel milik Francesca pun bahkan tak bisa dihubungi.
Resah dan juga gelisah perasaannya saat itu. Ia tidak tahu apa yang terjadi terhadap Francesca. Akhirnya, Coco memutuskan untuk menghubungi Matteo. “Kapan kau akan ke Venice?” Coco membuka percakapan mereka di telepon.
“Apa menurutmu Mia akan baik-baik saja seandainya aku menemuinya dalam waktu dekat?” Matteo balik bertanya. Nada bicaranya terdengar ragu.
“Coba saja, Amico. Lagi pula, kau sudah mengantongi bukti yang cukup untuk ditunjukan kepada Mia tentang pelaku penyerangan yang sebenarnya,” Coco meyakinkan sahabatnya itu.
“Ya, kau benar. Aku harus segera membersihkan namaku di mata Mia. Terserah ia mau percaya atau tidak,” ujar Matteo pasrah.
“Aku tidak yakin kau selemah itu,” bantah Coco dengan nada sedikit meledek. Ia hanya ingin memanas-manasi Matteo agar tidak langsung menyerah begitu saja, seandainya Mia kembali menolaknya.
“Oh, tentu saja tidak!” sanggah Matteo tegas. Ia tidak akan terima jika dirinya dianggap lemah di depan seorang wanita. “Aku hanya ingin memberikan Mia sedikit waktu untuk berpikir,” kilahnya, padahal terbersit rasa khawatir yang cukup besar dalam hati kecil pria bermata abu-abu tersebut. Ia memang takut jika Mia akan menolaknya lagi seperti yang terjadi pada hari nahas itu.
Matteo terdiam untuk sejenak, begitu juga dengan Coco. Pikirannya tertuju pada gadis belia yang kini mulai mengisi hatinya. Namun, Coco sendiri belum berani untuk mengungkapkan hal tersebut kepada Matteo.
“Aku ingin segera ke sana, Sobat,” Matteo kembali memecah kebisuan di antara mereka berdua. Tatap matanya tajam menerawang pada perkebunan anggur yang sudah dipanen, bahkan telah menjadi berbotol-botol minuman yang tidak lama lagi siap untuk diantarkan kepada para pelanggan setia Du Fontaine.
“Bagaimana jika kutemani kau ke sana, Amico,” tawar Coco membuat Matteo tersenyum kecil. Ia kemudian meneguk minumannya yang masih tersisa sedikit.
“Boleh,” jawab Matteo pelan.
Keesokan harinya, Matteo datang ke bengkel Coco untuk menjemput sahabat setianya itu. Coco sudah bersiap, dan ia tampak begitu bersemangat kali ini. Ia bahkan berkali-kali mengganti jaket yang akan dikenakannya hari itu. Kelakuannya telah berhasil membuat Matteo merasa jengkel sendiri.
Pria bermata abu-abu tersebut duduk bersandar seraya menopang kening, karena pusing melihat Coco yang sudah hampir tiga kali mengganti jaketnya. “Apa kau akan terus membuang waktu-ku hanya untuk duduk di sini dan melihatmu bolak-balik ke dalam kamar?” seru Matteo. “Ya Tuhan, aku seperti tengah menonton pagelaran busana!” keluh pria itu lagi dengan kesal.
Tak berselang lama, Coco keluar dari kamarnya. Dengan wajah tanpa dosa sedikitpun, ia tersenyum kepada Matteo. “Sepertinya ... jaket ini yang paling nyaman,” ujar Coco sambil merapikan bagian depan jaket kulit yang biasa ia kenakan. Jaket yang ia pakai pertama kali sebelum memutuskan untuk bolak-balik membuka lemarinya.
__ADS_1
“Dasar konyol!” umpat Matteo seraya beranjak dari duduknya. Tanpa peduli ia bergegas keluar dari bengkel dan masuk ke mobil jeep hitam miliknya. Sementara Coco hanya tersenyum. Ia segera mengikuti Matteo menuju mobilnya. Beberapa saat kemudian, mobil jeep tersebut telah melaju kencang dan membelah jalanan kota Brescia dengan begitu gagah.
Selama di dalam perjalanan, Coco tak henti-hentinya bersenandung riang. Pria itu memang memiliki suara yang merdu. Semasa sekolah dulu, ia pernah membentuk sebuah grup band. Karena itulah, Coco pandai memainkan beberapa alat musik. Pantas saja jika sampai saat ini, Coco selalu menjadi idola para gadis.
“Kau tampak sangat bersemangat, Sobat?” sindir Matteo yang merasa aneh dengan sikap Coco yang dirasanya terlalu heboh. Padahal, Matteo yang akan bertemu Mia, tapi Coco yang terlihat sangat antusias.
Coco menoleh dan tersenyum. Namun, ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya terus bersenandung sambil sesekali memerhatikan jalanan yang mereka lewati. Selang beberapa jam, akhirnya kedua sahabat itu telah tiba di kota Venice. Matteo segera memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Ia lalu melepas sabuk pengaman yang melintang di dadanya. Begitu juga dengan Coco, tanpa menurunkan semangat yang sejak tadi ia bawa, pria berambut coklat tersebut keluar dari mobil dan segera mengikuti langkah Matteo. Mereka berdua menuju ke bangunan tempat tinggal Mia.
Kedua pria berpostur tegap tersebut berdiri di depan sebuah pintu berwarna hijau. Matteo tampak menyembunyikan rasa gelisah yang mulai menderanya. Begitu juga dengan Coco, ia berkali-kali menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Setelah beberapa saat hanya mematung di depan pintu tersebut, mereka akhirnya saling pandang. Matteo seakan meminta izin kepada Coco untuk mengetuk pintu itu. Sementara Coco mengangguk dan memersilakannya.
Matteo kemudian mengela napas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan. “Tenangkan dirimu, Amico,” bisik Coco seraya menepuk pundak Matteo. Setelah itu, ia kembali menggosok-gosokan telapak tangannya, karena sebenarnya Coco juga merasa sangat gugup.
Matteo mulai mendekatkan tangannya pada daun pintu itu. Ia lalu mengetuknya sebnyak tiga kali. Akan tetapi, tidak ada respon dari dalam. Matteo kemudian melirik Coco. Pria itu kembali memersilakan sahabatnya untuk mengetuk pintu tersebut sekali lagi. Barulah terdengar suara seseorang membuka kunci dari dalam, lalu pintu itupun terbuka.
Kedua pria tersebut serempak memasang senyuman. Coco memang telah terbiasa dengan senyuman manisnya, lain halnya dengan Matteo yang terlihat begitu kaku. Namun, senyuman beda tipe itu perlahan memudar dari wajah tampan keduanya, ketika mereka mendapati bahwa yang membuka pintu tersebut bukanlah Mia ataupun Francesca.
“Siapa, Bu?” terdengar suara gadis muda yang segera menghampiri mereka. Ia juga menatap Matteo dan Coco secara bergantian. “Mencari siapa?” tanya gadis itu.
Serempak Matteo dan Coco menjawab. Mereka menyebut nama gadis yang ingin mereka temui. Matteo menyebutkan nama Mia, sedangkan Coco tentu saja menyebut nama Francesca. Keduanya lalu saling pandang. “Kami mencari Mia dan juga Francesca,” jelas Matteo pada akhirnya. Sekarang ia mengerti kenapa Coco bersikap aneh sejak tadi.
Gadis muda itu terdiam untuk sejenak. “Anda yakin ini alamatnya, atau mungkin saja ia penghuni lantai tiga,” ujar gadis itu ragu. “Kami sudah menempati tempat ini sejak sebulan yang lalu,” lanjutnya lagi. Ia kemudian tampak berpikir. “Apa Anda mencari penghuni lama tempat ini?” tanyanya.
“Iya,” jawab Matteo singkat.
Gadis itu kemudian saling pandang dengan ibunya. “Coba tanyakan kepada Nyonya Rosario, pemilik apotek di deretan kedai dekat kanal. Ia merupakan pemilik tempat ini. Aku rasa ia pasti mengetahui ke mana penghuni lamanya pindah,” jelas gadis itu membuat Matteo dan Coco terkejut. Mereka saling pandang dengan ekspresi tidak percaya.
Dengan langkah terburu-buru, Matteo menyusuri gang sempit yang penuh kenangan antara dirinya dan Mia. Sementara Coco terus mengikutinya dengan gelisah. Setelah tiba di ujung gang, Matteo kemudian tertegun dan mengedarkan pandangannya. Ia mencari apotek yang dimaksud. Akan tetapi, sebelum ia menemukan apotek tersebut, pandangan Matteo lebih dulu terkunci pada kedai milik Mr. Gio yang kini sudah terlihat berbeda. Bangunan kecil itu bukan lagi merupakan sebuah kedai saat ini, tetapi telah berubah menjadi toko oleh-oleh dan aneka topeng khas kota itu. Dengan segera, Matteo melangkahkan kakinya ke sana dan memasuki toko tersebut.
__ADS_1
Kebetulan saat itu Nyonya Rosario tengah berada di sana. Ia segera menyambut kedatangan Matteo dan Coco di tokonya. “Anda mencari sesuatu, Tuan-tuan?” tanyanya.
Matteo mengangguk dengan agak ragu. Namun, lidahnya terasa kelu. Segera, Coco mengambil alih kendali. “Bukankah tempat ini dulunya kedai milik Mr. Gio?” tanya Coco ramah.
“Ya, benar sekali. Namun, aku sudah membelinya setelah putri beliau menjualnya kepadaku. Mereka memutuskan untuk pindah ke luar kota setelah orang tua mereka tiada,” jelas Nyonya Rosario membuat Matteo seakan tak bertulang.
“Apakah Anda mengetahui ke kota mana mereka pindah?” tanya Coco lagi.
Nyonya Rosario menggeleng pelan. “Mereka tidak berbicara tentang hal itu,” jawabnya dengan wajah yang terlihat sangat meyakinkan, membuat Matteo dan Coco hanya dapat mengeluh pelan.
Setelah mendengar penjelasan singkat dari Nyonya Rosario, kedua pria rupawan tersebut akhirnya memutuskan untuk kembali ke mobil. Sejenak, Matteo dan Coco tertegun seraya menatap bangunan bekas tempat tinggal Mia. Terlebih Matteo. Tatapannya kini tertuju pada balkon kamar dengan tirai putih yang bergerak-gerak tertiup angin. Masih terbayang dalam ingatannya, ketika ia memanjat ke atas dan menghabiskan malam dengan si penghuni kamar tersebut.
Matteo mende•sah pelan. Perasaannya saat ini terasa aneh. Kesedihan yang berbeda dengan ketika dia kehilangan orang tuanya, tetapi cukup mengganggu hati dan pikiran.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang, Amico?” tanya Coco lemah.
“Aku akan meminta mereka mencari Mia,” jawab Matteo seraya menyalakan kendaraan.
🍒
🍒
🍒
👋👋👋 satu lagi novel keren yang mau ceuceu rekomendasikan. Segera kunjungi 🤗
__ADS_1