Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Berlian untuk Mia


__ADS_3

“Maaf karena terlambat. Aku baru memikirkannya semalam, dan ....” Mia tidak melanjutkan ucapannya.


“Kau memikirkan hal itu?” sela Matteo dengan sedikit nakal, membuat Mia merasa semakin malu. Gadis itu mengulum senyumnya dan memilih untuk segera pamit ke dapur.


“Aku harus ke dapur dan memeriksa ... um ... kompor,” ucap Mia dengan terputus-putus. Gadis itu menggaruk keningnya karena merasa bingung. Ia segera berlalu dari hadapan Matteo yang hanya tersenyum simpul.


Siang itu, seperti biasa. Ketika Mr. Gio mulai membuka kedainya, maka pengunjung pun langsung silih berdatangan. Matteo dengan senang hati membantu Mia melayani para pelanggan. Itu adalah pengalaman pertama bagi Matteo. Selama ini, hidupnya yang justru selalu dilayani. Sekarang ia mengetahui, bagaimana rasanya melayani seseorang yang tidak semuanya bersikap ramah.


Matteo bahkan hampir terbawa emosi, seandainya Mia tidak segera datang dan membantunya. Sekali lagi, Matteo dibuat kagum oleh kelembutan seorang Mia. Ia merasa semakin sadar jika dirinya harus menjauh dari gadis itu.


Sementara dari sudut lain tempat itu, tampak sepasang mata tajam yang tengah mengawasi Matteo dari kejauhan. Pria berperawakan tinggi besar yang saat itu terlihat sedang menghubungi seseorang di telepon. Ia berbicara dalam logat Italia yang sangat kental.


Hampir satu minggu, Matteo menumpang di gudang kedai milik Mr. Gio. Kondisinya pun saat ini sudah pulih. Ia juga tidak ingin terlalu lama berada di sana. Selain karena takut membuat cemas kedua orang tuanya, Matteo tidak ingin membahayakan hidup Mia karena kehadirannya.


Matteo telah menyadari jika dirinya kini mulai diintai, meskipun ia sendiri belum mengetahui dengan pasti siapa yang tengah mengintainya. Namun, Matteo pasti akan segera mengetahuinya.


Bagaimanapun juga, Matteo dan Mia memiliki latar kehidupan yang sangat berbeda dan bertolak belakang. Kehidupan keras dan berbahaya yang dijalani oleh Matteo, tidaklah cocok untuk gadis selembut dan sebaik Mia. Meski berat, tetapi Matteo harus mengambil keputusan yang paling tepat bagi mereka berdua.


Malam itu, ia baru selesai membantu Mr. Gio menutup kedai. Sebelum pria paruh baya itu pulang dari kedai, Matteo memintanya untuk dapat berbincang sebentar. Mr. Gio menyetujuinya. Mia juga ikut serta dalam perbincangan itu. Mereka bertiga duduk di salah satu meja di dalam kedai.


“Tuan, aku sudah terlalu lama berada di sini. Lagi pula, sekarang kondisiku juga sudah semakin membaik,” Matteo mengawali perbincangan itu dengan gaya bicaranya yang tenang.


“Lalu?” Mr. Gio menanggapi ucapan dari Matteo tadi.


Matteo terlihat serba salah. Ia merasa berat untuk mengutarakan niatnya. “Orang tuaku pasti sedang mencemaskanku saat ini, jadi aku harus segera pulang. Aku merasa sangat berterima kasih untuk semua kebaikan Anda dan Mia selama ini. Sebagai tanda terima kasih, aku mohon Anda bersedia menerima ini ....” Matteo menyodorkan sebutir berlian asli kepada Mr. Gio.

__ADS_1


Untuk sesaat, pria dengan kumis yang cukup tebal itu terdiam. Ia menatap lekat benda kecil yang berkilau di atas meja, tepat di hadapannya. Begitu juga dengan Mia. Gadis itu ternganga tidak percaya. Ini pertama kalinya ia melihat berlian secara langsung.


“Apa itu asli?” celetuk gadis itu dengan lugunya.


Matteo menoleh kepadanya dan tersenyum. Pria itu mengangguk dengan yakin. “Berlian asli lima karat. Silakan cek sendiri jika kalian merasa tidak yakin,” jelas Matteo dengan penuh percaya diri.


“Hanya benda ini yang selamat dari aksi perampokan yang menimpaku,” lanjut Matteo lagi seraya mengalihkan pandanganya ke segala arah. Sebenarnya Matteo tidak ingin berbohong kepada mereka berdua. Namun, ia tidak mungkin mengungkapkan yang sebenarnya. Biarlah Mia dan Mr. Gio hanya mengenalnya sebagai seorang Matteo Bellucci.


“Untuk apa kau memberikan ini kepadaku? Berlian ini bukan benda yang sembarangan. Nilai jualnya sangat tinggi. Kau bisa memakainya untuk dirimu sendiri,” Mr. Gio sepertinya enggan untuk menerima pemberian dari Matteo.


Matteo kembali mengalihkan perhatiannya kepada pria yang ada di hadapannya. Ia paham jika Mr. Gio adalah pria yang sangat teliti dan berhati-hati. Karena itu, ia tidak mungkin dengan mudahnya menerima pemberian dari dirinya.??


Matteo kemudian tersenyum simpul. Ia kembali berusaha untuk meyakinkan Mr. Gio agar bersedia menerima pemberian darinya. “Ambilah, Tuan! Aku akan merasa senang jika Anda mau menerimanya,” bujuk Matteo lagi.


Matteo mengangguk dengan perasaan lega. Setidaknya ia tidak merasa meninggalkan hutang budi kepada Mia dan ayahnya yang sudah bersikap sangat baik kepadanya.


“Kapan kau akan berangkat?” tanya Mr. Gio lagi. Sementara Mia hanya diam dan tertunduk. Ia merasa sedih karena Matteo memutuskan untuk pergi dari sana.


“Malam ini, Tuan,” jawab Matteo dengan yakin.


Seketika Mia mengangkat wajahnya dan menatap pria itu. Ada rasa tidak rela dalam sorot matanya yang teduh. Ia tidak mengira jika Matteo akan pergi malam itu juga. Akan tetapi, Mia tidak berani untuk melakukan protes.


Mr. Gio manggut-manggut. “Baiklah. Aku harap kau selalu beruntung, Nak! Sampaikan salamku untuk orang tuamu!” ucapnya seraya berdiri. “Mia kita juga harus segera pulang,” Mr. Gio mengalihkan pandangannya kepada Mia yang masih terdiam.


“Bolehkah jika aku yang mengantarkan Mia pulang, Tuan?” Matteo ikut berdiri. Ia setengah berharap agar Mr. Gio mengabulkan permintaannya.

__ADS_1


Mr. Gio menatap Mia untuk sesaat. Gadis itu tidak berkata apa-apa. Namun, sorot matanya terlihat memiliki harapan yang sama dengan Matteo.


Sesaat kemudian, Mr. Gio kembali mengalihkan pandangannya kepada Matteo. “Kau tahu apa akibatnya jika sampai terjadi sesuatu dengan Mia!” pesan Mr. Gio dengan setengah mengancam. Namun, tak lama kemudian pria itu tersenyum seraya menepuk bahu Matteo. Senyum lebar pun terkembang di wajah rupawan itu. Matteo terlihat sangat senang.


“Ingat pesanku baik-baik!” pesan Mr. Gio lagi dengan tegas. Setelah itu ia kemudian berlalu dari sana.


“Tentu,” jawab Matteo dengan yakin. Ia kemudian melirik ke arah Mia. Gadis itu hanya tersipu malu.


Setelah menutup kedai, Matteo dan Mia berjalan bersama. Ada rasa canggung dalam hati keduanya. Namun, Matteo berusaha untuk tetap terlihat tenang.


Menyusuri gang yang cukup sempit dengan pencahayaan yang temaram, Mia lebih banyak menundukan wajahnya. Matteo pun terus melangkah di sebelah kanannya.


“Apakah sebutir berlian tidak terlalu berlebihan?” tanya Mia tanpa menoleh kepada Matteo.


“Tidak ada yang berlebihan untuk sebuah ucapan terima kasih, Mia,” jawab Matteo pelan dan terkesan datar.


“Bagaimana kau bisa menyimpan sebuah berlian?” tanya Mia lagi. Kali ini, ia memberanikan diri untuk melirik pria tampan di sebelahnya.


Matteo tersenyum simpul seraya membalas lirikan Mia. Seperti biasa, tatapannya begitu tajam dan dalam, sehingga langsung menembus ke relung hati gadis itu. Mia pun kembali mengalihkan tatapannya ke depan.


“Ibuku yang memberikannya,” jawab Matteo dengan singkat. Mia hanya mengangguk pelan sembari diam-diam melirik dan sejenak mengamati wajah rupawan itu.


Matteo tersenyum ketika ia mendapati Mia mencuri-curi pandang ke arahnya. Ia memberanikan diri meraih tangan Mia dan menggenggamnya.


Mereka semakin larut dalam sentuhan sederhana itu hingga tidak menyadari jika sedari tadi, ada beberapa pasang mata yang mengawasi mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2