Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Baciami


__ADS_3

Tak ada kesulitan yang berarti bagi tangan seorang Coco untuk melepas skinny jeans dan atasan sleeveless yang dikenakan Francesca saat itu. Dalam hitungan detik saja, ia telah berhasil membuat gadis dengan postur semampai tersebut benar-benar polos di hadapannya. Awalnya Francesca terlihat risih. Namun, pada akhirnya gadis itu mulai dapat mengendalikan perasaannya.


Francesca memiliki tubuh yang sangat ramping. Meskipun tidak se-seksi tubuh Lenatta, tetapi gadis belia itu tetap terlihat menawan, dengan ciri khas ala gadis belia seusianya. Hal itu tidak menjadi masalah yang besar bagi Coco. Baginya, ini adalah pengalaman pertama saat ia dapat mencium aroma perawan dari seorang wanita yang berusia jauh lebih muda dari dirinya.


Coco dapat merasakan perbedaan itu dengan begitu jelas. Setiap lekukan indah yang ia sentuh, masih terasa begitu kencang. Francesca seperti sebuah surga dunia yang belum terjamah oleh tangan-tangan jahil nan kotor. Ia begitu murni dan juga ranum, sehingga membuat Coco harus memperlakukannya dengan sangat hati-hati.


“Kau percaya padaku, Francy?” bisik Coco yang telah merasa puas, setelah membuat gadis belia itu berkali-kali menggelinjang tak karuan karena sentuhan-sentuhan lembut pada area sensitifnya.


Francesca yang sudah sangat terhipnotis dengan perlakuan Coco padanya, tidak mampu berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan diiringi senyuman kecil di sudut bibirnya. Bibir yang kini kembali menjadi sasaran kenakalan seorang pria yang sudah profesional seperti Coco.


Namun, beberapa saat kemudian, Francesca berkata dengan setengah berbisik. Suaranya pun terdengar agak parau. “Aku takut, Ricci. Menurut teman-temanku, untuk yang pertama kali rasanya menyakitkan,” resah gadis itu membuat Coco tersenyum simpul. Pria bermata coklat itu kemudian mengelus pucuk kepala Francesca dan merapikan rambut panjang gadis itu ke belakang.


Ditatapnya wajah manis yang sudah terlihat begitu lusuh dengan sorot matanya yang sayu. Coco kembali melu•mat bibir merah muda Francesca untuk sesaat. “Hal itu tidak akan berlangsung lama. Kau akan mengetahuinya sekarang juga,” ucap Coco dengan sorot matanya yang terlihat aneh. Sementara Francesca mulai meringis kecil disertai erangan-erangan pelan, saat menahan rasa sakit ketika ia merasakan ada sesuatu yang mencoba untuk menerobos masuk ke dalam dirinya. Dengan segera gadis itu menggerakkan tubuhnya untuk menghindar dari serangan Coco. Namun, Coco tak melepaskannya. Ia tidak dapat berhenti begitu saja jika sudah dalam posisi seperti itu.


Coco mengikuti tubuh Francesca yang terus bergerak dan seakan ingin menghindarinya. Francesca tidak menyangka, ternyata rasanya memang perih meskipun Coco belum berhasil melakukan penyatuan mereka. Sepertinya, ini akan menjadi sesuatu yang agak sulit bagi Coco, karena Francesca terus menolak ketika ia akan memulai permainan intinya.


Francesca terus beringsut ke pinggir, bahkan hingga kepala gadis itu kini telah berada di tepian ranjang, dengan rambut panjangnya yang menjuntai ke bawah. Akan tetapi, secara otomatis Francesca tak dapat bergerak ke mana-mana lagi.

__ADS_1


Hal tersebut merupakan sebuah kesempatan bagi Coco, untuk segera menuntaskan apa yang sejak tadi terjeda. “Kau tidak bisa ke mana-mana lagi, Francy. Diam dan peluk saja aku!” bisik Coco seraya membenamkan wajahnya di leher gadis yang kini melingkarkan tangan di lehernya. Coco tak ingin memberinya ampun lagi. “Sudah cukup main-mainnya, Sayang!” ucapnya dengan seringai, yang diiringi sebuah lenguhan panjang dari bibir tipis Francesca. Gadis itu memekik pelan karena menahan rasa sakit, setelah Coco berhasil mengoyak kegadisannya.


Francesca menggigit bibirnya seraya merintih pelan. "Sakit sekali ...." ringisnya pelan. Ia menatap Coco dengan mata hazelnya yang tampak sayu. Sementara Coco pun demikian. Ia memandang gadis itu dengan lekat. Tatapan keduanya pun kini beradu dan seakan tengah saling mendalami perasaan masing-masing.


Perlahan Coco menyeka bulir-bulir keringat yang muncul di kening Francesca dengan ujung jemarinya. Helaan napas berat mulai menghangat di wajah gadis itu. Makin lama, helaan napas pria itu semakin memburu seiring dengan terguncangnya tubuh ramping Francesca. Gadis itu tiada henti-henti mengeluarkan desa•hannya yang justru membuat Coco semakin beringas dalam memperlakukannya.


Sementara Francesca hanya dapat bersikap pasrah. Kepalanya terkulai di tepian ranjang, sedangkan Coco, ia tak bosan-bosan menciumi leher jenjang dengan hiasan kalung perak kecil yang melingkar indah dan semakin mempercantiknya. Tak lupa, Coco memberikan gigitan-gigitan yang disertai dengan sebuah isapan lembut di sana. “Aaah ... “ Francesca lagi-lagi mendesah manja. Dire•masnya rambut belakang Coco dengan lembut.


“Bagaimana rasanya, Francy?” bisik Coco di sela-sela helaan napas beratnya. Mereka kembali bertatapan.


Francesca mengangguk seraya menyentuh wajah rupawan yang dihiasi janggut tipis itu. “Sangat luar biasa,” jawab gadis bermata hazel tersebut. Ditangkupnya wajah Coco dengan jemari lentiknya. “Cium aku,” pintanya dengan setengah mende•sah.


Francesca merasa jika dirinya telah bertindak tepat dengan meminta Coco untuk mengajarinya cara bercinta. Coco memang sudah sangat berpengalaman. Ini akan menjadi satu kenangan yang tidak akan pernah Francesca lupakan, seandainya ia tidak dipertemukan kembali dengan pria yang telah begitu memikat hatinya.


Perasaan Francesca terhadap William si rambut pirang, ternyata hanya seperti sebuah percikan kecil dari kobaran api panas yang justru ia rasakan untuk Coco. Coco pun sebenarnya bukan tidak tertarik kepada gadis belia yang kini terkulai dalam kekuasaannya. Namun, pria dewasa itu selama ini selalu melawan perasaannya, karena alasan usia Francesca yang masih terlalu belia. Akan tetapi, pada akhirnya ia menyerah dan takluk terhadap pesona gadis delapan belas tahun tersebut.


“Seandainya kau datang padaku dengan usia yang jauh lebih dewasa, maka aku pasti akan langsung mengikatmu, Francy,” gumam Coco ketika mereka menyudahi aktivitas panas yang berlangsung selama beberapa saat lamanya. Tangan kekar Coco melingkar di lengan Francesca yang saat itu bergelayut manja di dalam dekapannya.

__ADS_1


Francesca begitu kelelahan. Ia tampaknya sudah tertidur. Gadis itu bahkan mengabaikan dering ponsel dari panggilan masuk untuknya. Berkali-kali, Mia berusaha untuk menghubungi gadis itu. Akan tetapi, sayang sekali karena semuanya hanya menjadi sebuah panggilan tak terjawab. Francesca seakan tak peduli jika sang kakak mulai khawatir, berhubung hari sudah mulai malam.


Coco kembali mengecup lembut kening gadis yang masih nyaman berada dalam dekapan hangatnya. Semenjak kematian Lenatta, ini adalah pertama kali bagi dirinya kembali melakukan aktivitas ranjang. Selama ini, Coco begitu sibuk dengan segala urusannya dalam membantu Matteo. Pria dua puluh enam tahun itu seakan lupa untuk bersenang-senang. Ia pun tidak pernah menyangka jika Francesca akan datang untuk menemui dan menyerahkan dirinya dengan begitu mudah.


Coco membelai wajah manis itu dengan punggung tangannya. Hal tersebut telah membuat Francesca menggeliat dengan perlahan seraya membuka mata. Gadis itu kemudian tersenyum dan mencubit hidung mancung Coco. “Kau memang pengganggu,” ucapnya dengan suara parau.


“Kau jauh lebih mengganggu,” balas Coco. “Bagaimana jika setelah ini aku tidak bisa berhenti memikirkanmu? Banyak hal yang pastinya akan kurindukan. Salah satunya adalah desa•han-mu,” godanya nakal dan diakhiri dengan tawa geli. Francesca segera membalas ucapan pria itu dengan sebuah cubitan di dagu Coco, membuatnya semakin tergelak.


“Kau tahu? Kau adalah pria paling menarik yang pernah kulihat, tentunya selain pemain sepak bola idolaku,” ungkap Francesca pelan. Ia tak henti-hantinya memainkan jemarinya di dagu milik Coco.


“Kau menyukai sepak bola?” tanya Coco seraya mengernyitkan keningnya.


“Ya,” jawab Francesca. “I Giallorossi,” lanjut gadis itu dengan senyum manisnya. Jarang-jarang ia menunjukkan senyum seperti itu kepada siapa pun. Hal itu telah membuat Coco merasa begitu terkesan. Coco kemudian membetulkan sikap duduknya menjadi lebih tegak. Tanpa diminta, Francesca segera menyandarkan tubuhnya di dada pria yang telah membuatnya seperti tak bertulang.


"Apa kau lapar?" tanya Coco seraya menciumi rambut Francesca. Ia membiarkan gadis itu memainkan jemari tangan kanannya. Sementara tangan kirinya, bersembunyi di dalam selimut yang menutupi sebagian tubuh Francesca.


Francesca memejamkan matanya untuk sesaat. Setelah itu, ia lalu menoleh ke arah wajah Coco berada. Pria itu membalas tatapan si gadis. "Apa kau akan selalu mengingatku, Ricci?" tanya Francesca lirih. Ada setitik rasa sesal dalam tatapan matanya yang membuat Coco merasakan sasuatu yang tidak beres.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja, Francy?" tanya Coco.


__ADS_2