
Seperti pagi-pagi biasanya, Matteo mengajak Mia berkeliling perkebunan untuk menghirup udara segar dan meregangkan otot, yang dirasa bagus dan penting untuk kesehatan istrinya. Setelah puas mengelilingi hamparan ladang anggur, Matteo membawa Mia kembali ke bangunan Casa de Luca dan langsung menuju ruang makan. Para pelayan pun sudah menyiapkan berbagai masakan di atas meja.
Valerie dengan gayanya yang santai, sudah duduk di sana sambil memegang sendok dan garpu di masing-masing tangannya. Gadis itu tersenyum lebar saat melihat kedatangan Mia dan Matteo di sana. “Selamat pagi, Tuan dan Nyonya de Luca. Maaf karena aku mendahului kalian di tempat ini. Aku tak kuasa menahan rasa laparku, apalagi saat melihat menu-menu yang menggugah selera seperti ini,” celotehnya panjang lebar tanpa rasa canggung sedikitpun.
Mia terkikik geli mendengar penuturan Valerie. Baginya gadis itu terlihat begitu jujur dan polos.
Melihat sikap Mia yang terlihat senang, Valerie meneruskan celotehannya. “Di keluargaku, aku terkenal yang paling banyak dan paling kuat makan, Nyonya. Aku bisa menahan rasa sakit, tapi tidak sanggup jika harus menahan rasa lapar,” lanjutnya lagi, diakhiri dengan tawa renyah.
“Sayang sekali karena kesehatanku belum pulih. Aku sangat suka memasak, Valerie. Jika saja aku berada dalam kondisi prima, maka aku pasti akan memasakkan hidangan yang lezat untukmu,” ujar Mia ramah.
“Selain sangat cantik, kau juga pintar memasak rupanya. Tak ada yang dapat mengalahkanmu, Nyonya. Pantas saja jika Tuan de Luca bertekuk lutut di hadapanmu,” puji Valerie tulus. Akan tetapi, tiba-tiba muncul rasa aneh dan sedikit menyakitkan, jauh di dalam hatinya. Namun, Valerie lebih memilih untuk mengabaikan perasaan itu dan terus menunjukan sikap tak acuhnya.
“Kapan Anda akan memproduksi komponen-komponen senjata lagi, Tuan? Sejauh yang aku tahu, stok Anda sudah mulai kosong,” Valerie memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan. Ia mengalihkan perhatiannya kepada Matteo.
“Aku masih belum memberi keputusan pada anak buahku di Palermo. Aku ingin istirahat sejenak, karena aku harus benar-benar fokus pada pemulihan kondisi Mia dan juga terapi yang harus dijalaninya mulai hari ini,” jawab Matteo datar.
"Jadi, jika Anda ingin fokus terlebih dahulu pada penyembuhan Nyonya de Luca, maka artinya Anda tidak akan ke bengkel. Lalu, apa yang harus kulakukan lagi di sini? Aku rasa, sebaiknya aku kembali saja ke Monaco," Valerie berbicara sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Terserah kau saja, Nona Nikolaev," sahut Matteo. Ia mengelap mulut dengan serbet, dan menyudahi sarapannya. Setelah itu, pandangan Matteo tertuju kepada Mia yang baru selesai minum. "Kenapa kau makan sedikit sekali, Sayang?" tegur pria bermata abu-abu tersebut. Sebuah pertanyaan sederhana yang membuat Valerie tersenyum. Kedua mata gadis itu berbinar indah. Kekaguman yang besar kembali hadir dalam hatinya.
Mia menoleh dan tersenyum. "Selera makanku belum sepenuhnya kembali, Theo. Aku begitu gugup menghadapi hari ini," jawab Mia polos.
"Apa yang membuatmu begitu gugup, Cara mia?" tanya Matteo seraya menyentuh wajah cantik Mia.
"Ah, Theo. Ini adalah hari pertamaku menjalani terapi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu," resah Mia. Ia kemudian menggigit kuku pada jari telunjuknya. Rupanya Mia belum menghilangkan kebiasaan itu, dan hal tersebut membuat Matteo sedikit terganggu.
__ADS_1
Matteo segera meraih tangan kanan Mia hingga menjauh dari mulutnya. Ia meletakan tangan sang istri di atas meja dan tetap menggenggamnya. "Satu hal yang pasti adalah kau akan segera pulih dan bisa kembali berjalan dengan normal," ucapnya dengan setengah berbisik, membuat Valerie yang menyaksikan adegan itu seketika merasakan getaran aneh dalam dirinya. Gadis berpenampilan eksentrik tersebut diam terpaku dengan tatapan yang tak teralihkan dari sosok seorang Matteo.
"Lihatlah aku, Cara mia. Setelah berminggu-minggu memakai arm sling yang sangat menghambat pergerakanku, kini aku dapat kembali beraktivitas dengan normal. Itu semua karena kau sangat cerewet, dan selalu mengingatkanku untuk melakukan terapi. Jadi, jangan salahkan aku, karena saat ini adalah waktunya pembalasan," seringai Matteo yang kemudian diiringi dengan sebuah kecupan mesra di kening Mia. "Tunggu sebentar, aku lupa membawa kunci mobil," Matteo beranjak dari duduknya dan berlalu menuju kamar. Ia meninggalkan Mia berdua dengan Valerie di meja makan.
Sepeninggal Matteo, perhatian Valerie kini tertuju kepada Mia yang saat itu tampak berseri. Wajah cantiknya terlihat begitu segar, bagaikan bunga yang baru terkena air. "Bagaimana rasanya, Nyonya?" tanya gadis bertato itu seraya memainkan ujung rambut kepangnya.
"Apanya?" Mia balik bertanya.
"Bagaimana rasanya memiliki seseorang seperti Tuan de Luca?" tanya Valerie lagi dengan polosnya, sehingga membuat Mia tertawa pelan. Ia meneguk dan menghabiskan sisa air putih dalam gelasnya, kemudian mengelap mulut dengan serbet. Sementara Valerie masih memperhatikan dan menunggu jawaban dari wanita bermata colelat itu.
"Matteo adalah sebuah anugerah besar yang telah diberikan Tuhan untukku. Seburuk apapun pandangan orang tentang hidupnya, atas semua yang telah ia lakukan selama ini, tetapi itu tak membuatku membencinya. Di mataku, Matteo tetaplah pria yang baik dan sangat manis," tutur Mia lembut.
"Ya, ia hanya bersikap manis dan lembut padamu," ujar Valerie membuat Mia tersenyum lebar.
"Aku merasa sangat beruntung, Val," balas Mia. "Kau tahu, kan? Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tak ada orang yang begitu jahat, ataupun terlalu baik dan suci. Seorang manusia biasa, akan selalu berada di antara kedua hal itu. Terkadang aku berpikir keras, bahkan orang yang selalu berusaha untuk bersikap baik sepertiku pun masih kerap kali melakukan sebuah kesalahan. Namun, itulah menariknya hidup. Sekolah dengan pelajaran yang tak terbatas oleh sebuah jumlah nilai," Mia tersenyum menatap Valerie. "Apa kau pernah jatuh cinta, Val?" tanyanya.
"Jangan katakan jika kau benar-benar jatuh cinta kepada suamiku," tukas Mia.
"Aku berusaha untuk menghindari perasaan itu, Nyonya," jawab Valerie seraya tergelak. Namun, sesaat kemudian gadis itu segera mengakhiri tawanya karena Matteo telah kembali ke ruang makan. Pria itu terlihat begitu tampan dengan jaket kulit dan kaca mata hitam yang menggantung di leher T Shirt putihnya.
"Makanlah sepuasmu, Nona Nikolaev. Aku akan menemani Mia ke dokter untuk terapi pertamanya," ujar Matteo seraya mendorong kursi roda Mia menuju ke halaman depan Casa de Luca. Di sana sudah terparkir mobil jeep hitam kesayangan sang ketua klan. Setelah membantu Mia masuk ke mobil dan memastikan sang istri duduk nyaman di dalam sana, Matteo pun segera masuk dan menyalakan mesin mobilnya. Tak berselang lama, mereka berdua pun berangkat lalu menghilang di balik gerbang kokoh Casa de Luca.
Tak membutuhkan waktu yang lama bagi keduanya untuk tiba di rumah sakit. Matteo segera turun dan menyiapkan kursi roda bagi Mia, setelah itu barulah ia menurunkan sang istri dan membawanya masuk untuk menemui seorang dokter ahli tulang. Sebelumnya Matteo sudah membuat janji, sehingga saat tiba di ruangan dokter itu Mia langsung diperiksa dan dilanjutkan dengan proses terapi pertamanya.
Semenjak hari itu, Matteo dengan setia menemani Mia menjalani terapi dalam masa pemulihannya. Selain hal tersebut, Mia juga disarankan untuk melatih dirinya selama berada di rumah. Matteo juga lah yang membantu Mia dalam hal itu. Ia begitu sabar meniti hari demi hari menemani Mia, hingga tak terasa satu bulan telah berlalu.
__ADS_1
Mia kini sudah mulai berjalan tanpa kursi roda, meskipun langkah kaki wanita itu belum senormal biasanya. Namun, hal tersebut merupakan sebuah peningkatan yang sangat luar biasa. Sementara Valerie memutuskan untuk pulang ke Monaco. Ia baru akan kembali jika nanti Matteo telah memulai lagi untuk merakit senjata.
Pada bulan kedua setelah menjalani terapi, Mia akhirnya benar-benar pulih. Akan tetapi, rambutnya masih belum tumbuh memanjang. Sepertinya akan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk masalah itu. Pada akhirnya, Mia memutuskan untuk memakai sebuah wig dengan model rambut pendek sebahu. Ia sudah terlalu bosan dengan turban yang selalu dikenakannya selama ini.
Malam itu, Mia mencoba mengenakan wignya. Rasanya memang sangat berbeda, terlebih karena Mia memang terbiasa memanjangkan rambutnya. Namun, ia masih terlihat cantik dengan rambut palsu berwarna gelap itu. Ia menatap dirinya lewat pantulan cermin lebar di meja wastafel kamar mandi. Terbersit sebuah ide nakal di kepalanya. Mia ingin berterima kasih kepada Matteo yang telah setia merawat dan menemaninya selama berbulan-bulan.
Rasanya sudah lama sekali Mia tak memberikan kebahagiaan duniawi untuk pria yang teramat dicintainya itu. Dengan tergesa, Mia keluar dan berjalan menuju lemari pakaian berukuran besar miliknya. Dibukanya salah satu rak yang berisi koleksi lingerie berbagai model dan corak. Mia memilih salah satu lingerie terbaru yang dipilih langsung oleh Daniella dan dihadiahkan kepadanya. Pipinya merona saat melihat potongan kain yang terpajang di depannya itu.
Lingerie merah hati berbahan tulle, dengan belahan dada rendah yang dilapisi renda dan sebuah pita cantik sebagai pemanis. Ia tak bisa membayangkan jika harus memakai pakaian seperti itu. Akan tetapi, tekadnya sudah bulat. Mia berniat untuk memberi kejutan kepada sang suami. Ia tak akan menundanya sedetikpun.
Mia lalu bergegas mengganti pakaiannya dengan lingerie super seksi itu. Setelah siap, ia menoleh pada jam dinding yang menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Sebentar lagi, Matteo akan masuk ke kamar setelah seharian berkutat di ruang kerja.
Sesuai dugaannya, pegangan pintu kamar terlihat berputar. Mia mematikan lampu dan bersembunyi di balik pintu. Pintu kamar semakin terbuka lebar. Langkah kaki Matteo terdengar pelan. Ia berdiri sejenak di sana sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar. “Cara mia? Dimana kau?”
Pertanyaan itu disambut dengan telapak tangan halus yang menutupi matanya dari belakang.
“Aku di sini, Theo,” de•sah Mia. Suaranya terdengar sangat merdu dan menggoda.
“Mia?” masih dengan mata tertutup, Matteo berusaha membalikkan badan sampai telapak tangan Mia terlepas dari wajah tampannya.
Napas Matteo serasa tercekat di tenggorokan. Dadanya berdebar kencang, bertalu menggila melihat penampakan sosok Mia. “Cara mia? Apa yang kau lakukan?” Matteo menelan ludahnya berkali-kali, berusaha mengembalikan logika dan meredam gejolak yang hendak meledak.
“Apakah aku terlihat jelek? Kau tak suka ya?” gumam Mia seketika murung.
“Jelek? Apa kau sudah gila? Kau tak tahu apa yang ada di pikiranku, Sayang. Rasanya aku ingin menerkammu sekarang juga,” suara Matteo terdengar bergetar.
__ADS_1
“Kalau begitu, lakukanlah,” tantang Mia seraya mendongakkan kepala dan sedikit membusungkan dadanya.