
Damiano beranjak dari duduknya. Ia menghampiri Coco yang masih berdiri di hadapan Stefano. Damiano kemudian membantu pria berambut cepak itu untuk bangkit. “Bangunlah, Nak!” ucapnya lembut. Ia bersikap begitu baik, meskipun tak mengenal Stefano sama sekali. Hal itu membuat pria tersebut menjadi terkesan.
“Terima kasih, Tuan,” sambutnya meski agak ragu. Sikap Damiano sangat jauh berbeda dengan sikap Matteo tadi.
“Dengarkan aku, Nak. Aku tidak mengenalmu ataupun adikmu, tapi aku hanya memberikan sebuah saran yang entah akan kau terima atau tidak,” Damiano berkata dengan penuh kasih. “Jangan pernah berkhianat pada sesuatu yang telah memberimu kehidupan. Itu sama saja kau tidak menghargai hidupmu sendiri,” ucapnya. “Kau pasti sangat mengkhawatirkan adikmu, aku bisa memahami hal itu. Namun, kenapa kau tak berpikir jauh sebelum memutuskan untuk berbuat curang? Akan selalu ada konsekuensi untuk setiap langkah yang kita ambil, dan aku rasa kau pasti sudah mengetahui hal tersebut.”
“Iya, Tuan. Aku sudah menyadarinya saat ini. Namun, aku juga begitu bingung. Aku ingin mencari adikku, tapi sayangnya aku tak memiliki uang sepeser pun,” sahut Stefano pelan. Sikap lembut Damiano, pasti akan meluluhkan siapa pun yang berhadapan dengannya.
Sesaat kemudian, Damiano mengeluarkan dompet. Ia mengambil beberapa puluh euro dari dalam sana. “Ambil ini dan gunakan untuk mencari adikmu. Jumlahnya memang tak seberapa, tapi itu cukup untuk biaya makanmu selama dalam perjalanan. Tenangkan dirimu dan berpikirlah baik-baik. Coba kau pikirkan, ke mana kira-kira adikmu akan pergi,” saran Damiano lagi. Stefano pun terdiam sejenak sebelum menerima uang tersebut.
Melihat sikap yang ditunjukkan Damiano, Coco hanya dapat mengempaskan napas pelan. “Ayolah, Damiano. Kau membuatku merasa tak enak,” keluhnya. Ia lalu mengalihkan perhatiannya kepada Stefano. “Berikan nomor rekeningmu. Aku janji akan mentransfer sejumlah uang sesuai yang kau butuhkan, tapi ingat! Gunakan itu untuk melunasi utangmu, bukan untuk yang lain! Kau akan merasakan bagaimana nikmatnya tinjuku, jika kedapatan berkhianat lagi!” ancam Coco dengan tegas.
“Satu hal yang juga harus kau perhatikan! Setelah ini, aku tak ingin kau membahas lagi tentang semua jasamu yang harus kubayar! Urusan kita selesai sampai di sini!” tegas Coco lagi dengan penekanan suara yang begitu berat.
“Baiklah. Aku janji, padamu,” sahut Stefano pelan. “Aku akan mencari Lucia ke kampung halaman kami di Positano. Aku rasa ia pasti pergi ke sana,” ujar Stefano.
“Itu bukan ide yang buruk, Nak. Selesaikan urusanmu di sini, dan mulailah hidup baru yang lebih baik. Maka niscaya kau akan merasa jauh lebih damai. Ingat, kedamaian hati itu hanya kita sendiri yang dapat menciptakannya,” petuah Damiano dengan sangat bijaksana.
__ADS_1
“Bolehkah aku memeluk Anda, Tuan? Akan tetapi, aku basah kuyup,” Stefano terlihat begitu terharu dengan kata-kata dan sikap Damiano yang telah menyentuh hati dan membuatnya sadar.
Damiano tersenyum lembut. Ia mengangguk pelan dan membalas pelukan pria berpenampilan sangar tersebut. “Theo memang terkadang kelewatan. Tolong maafkan putraku,” ucapnya seraya menepuk-nepuk punggung Stefano.
“Sebenarnya, geng mana yang saat ini tengah bermasalah denganmu?” selidik Coco yang menyela perlakuan lembut Damiano kepada Stefano.
"Artiglio Di Corvo," jawab Stefano singkat.
“Artiglio Do Corvo? Bukankah mereka hanya geng kecil?” tanya Coco lagi seraya mengernyitkan keningnya.
“Ya, itu hanya sebuah geng kecil, tetapi mereka berada di bawah naungan geng yang sangat kuat. Beberapa bulan terakhir, Artiglio Di Corvo mendapat pemasok baru sekaligus dukungan yang sangat luar biasa,” terang Stefano.
“Oh, ya? Dukungan dari siapa?” Coco semakin tertarik dan mendekatkan dirinya kepada pria yang kini sudah terlihat jauh lebih tenang.
“Tigre Nero?” ulang Damiano pelan.
“Jadi begitu,” gumam Coco tampak berpikir.
“Apa kalian pernah mendengar namanya? Tigre Nero? Mereka memasok narkoba kepada para bandar. Setahuku, awalnya mereka memberikan harga yang sangat bersahabat jika dibandingkan dengan produsen obat-obatan terlarang lainnya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu mereka justru mengikat para bandar dengan sangat mutlak. Kini sudah hampir sebagian besar para bandar narkoba berada dalam lingkaran mereka,” jelas Stefano. Ia memandang Damiano dan Coco secara bergantian. Namun, kedua pria itu tak memberikan jawaban apapun padanya.
Sesaat kemudian, Coco tersenyum. Ia seperti mendapatkan sebuah ide. “Bagaimana jika kutambahkan lima puluh ribu euro lagi ke rekeningmu, tapi kau harus melakukan sesuatu untukku?” tawarnya, membuat naluri Stefano yang haus akan uang menjadi kembali terbangun. Semua petuah Damiano tadi seakan menguap begitu saja dari dalam ingatannya.
“Untuk apa?” Stefano kembali mengernyitkan kening. Rasa penasaran mulai menggelitik hatinya. Matanya kian berbinar ketika mendengar nominal sebesar lima puluh ribu euro.
“Aku ingin agar kau memata-matai Tigre Nero melalui Artiglio Di Corvo. Bukankah itu keahlianmu? Memata-matai, sama seperti yang sudah biasa kau lakukan selama ini," ujar Coco dengan tenangnya.
"Itu bukan hal yang sulit bagiku. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, tapi sebelumnya aku harus memastikan dulu keadaan Lucia. Aku tak akan bisa bekerja dengan tenang jika belum mengetahui kondisinya," sambut Stefano dengan penuh semangat.
"Bagus!" seru Coco dengan tawa lebar seraya menepuk-nepuk lengan Stefano. "Kalau begitu, segera pergi dan carilah adikmu. Aku harap kau bisa menemukannya dalam waktu dekat, karena aku membutuhkan banyak informasi dengan secepatnya," lanjut pria berambut ikal tersebut.
__ADS_1
"Baiklah, tapi katakan padaku kenapa kau begitu tertarik dengan geng Tigre Nero? Apa mereka mengusik organisasi de Luca?" selidik Stefano sebelum ia memutuskan untuk benar-benar pergi.
Sedangkan Coco tidak segera menjawab. Pria itu menggeleng pelan. "Kau tak perlu tahu tentang apapun. Aku hanya ingin agar kau memata-matai mereka," sahutnya cukup tegas. Stefano pun setuju saja. Baginya selama ada uang yang masuk terlebih dalam jumlah banyak, maka ia akan mampu melakukan pekerjaan sesulit apapun. Sesaat kemudian, ia berpamitan kepada Coco dan Damiano.
Kini di dalam ruangan itu hanya mereka berdua. Damiano pun sama penasarannya dengan Stefano. Ia merasa heran karena tiba-tiba Coco menjadi begitu peduli dengan Tigre Nero.
"Apa kau menemukan sesuatu selama di Monaco, Anakku?" tanya Damiano. Seperti biasa dengan nada bicaranya yang lembut.
"Aku rasa, iya. Entahlah, aku harus memastikannya terlebih dahulu. Karena itulah aku meminta Stefano melakukan pekerjaan yang kuperintahkan," jawab Coco. Ia belum berani mengatakan apapun kepada orang lain. Coco mungkin akan langsung bertanya kepada Mia.
"Aku harap itu hanya kecurigaanmu saja. Geng Tigre Nero berada di bawah kepemimpinan Adriano D'Angelo. Kita sudah tahu seperti apa karakter pria itu," ujar Damiano dengan tatapan menerawang.
"Kau sangat mengenalnya, Damiano," selidik Coco.
"Kata 'sangat' terlalu berlebihan. Aku mengenalnya, hanya itu. Akan tetapi ...." Damiano tidak melanjutkan kata-katanya, karena saat itu Matteo hadir di antara mereka. Ia lalu mengambil segelas minuman dan duduk dengan sikapnya yang terlihat begitu gagah.
"Bagaimana keadaan Mia?" tanya Coco.
"Mia sedang tidur. Ia sudah jauh lebih tenang," sahut Matteo seraya meneguk minumannya. Sementara Coco segera menghampiri dan duduk di sebelah sahabat dekatnya itu.
"Aku dengar, ganguan kecemasan Mia kambuh lagi saat di Monaco," Damiano ikut duduk dengan menyilangkan kaki. Matteo menanggapi dengan sebuah anggukan pelan. Ia kembali meneguk minumannya. Raut wajah pria itu terlihat dingin dan datar.
"Apa teman lamamu sudah pergi?" Matteo menanyakan keberadaan Stefano yang tak terlihat di sana.
"Ya. Aku sudah menyelesaikan semua urusan utang budi dengannya," sahut Coco enteng.
"Coco bahkan memberikan bonus lima puluh ribu euro untuk pekerjaan tambahan bagi pria itu," timpal Damiano seraya menahan senyumnya.
"Pekerjaan apa?" Matteo membetulkan posisi duduknya dan menoleh kepada pria bermata cokelat tersebut. Sedangkan Coco tampak agak gelagapan. Ia belum siap untuk membicarakan kerja samanya dengan Stefano kepada Matteo. Namun, Damiano sepertinya sengaja mengatakan hal itu, karena pria paruh baya tersebut tampak begitu puas saat melihat sikap Coco yang agak gelisah dan salah tingkah.
"Um ... begini, Amico. Aku meminta Stefano untuk memata-matai Tigre Nero. Stefano sangat ahli dalam hal tersebut," jelas Coco bersemangat.
"Untuk apa kau menyuruhnya memata-matai D'Angelo? Lagi pula kau menjanjikan upah yang terbilang besar," Matteo mulai merasa tak enak dengan hal itu. Sedangkan Coco hanya menanggapinya dengan tawa renyah.
__ADS_1