
"Apa?" tantang Matteo. "Kau ingin mengatakan jika Adriano D'Angelo yang sudah menghabisi Alex? Bukankah kalian adalah rekan satu tim?" tanyanya dengan ekspresi mencibir.
"Cih! Adriano adalah orang yang sangat licik dan penuh siasat! Kami dekat hanya karena merasa saling menguntungkan. Ia adalah pria yang brengsek!" Sergei pun ikut mencibir.
"Ya, dan kau telah berani-beraninya menculik saudari iparku!" tegas Matteo seraya menendang dagu bagian bawah Sergei, hingga pria yang sejak tadi berlutut itu terjungkal ke belakang. Sementara Matteo masih berdiri gagah dengan pistol di kedua tangannya. "Kau ingin bermain-main denganku? Kalau begitu, biar kutunjukkan seperti apa Matteo de Luca saat bermain!" ujar Matteo seraya kembali melayangkan tendangannya kepada Sergei yang baru saja berusaha untuk bangkit. Pria Rusia itu kembali terjungkal ke belakang.
"Bangunlah, Bodoh!" sentak Matteo. Ia kemudian menurunkan tubuhnya dan setengah berjongkok di dekat Sergei yang masih terkapar tak berdaya. Matteo pun tak lagi menodongkan senjatanya kepada pria itu.
"Aku sudah bersumpah untuk menguliti siapa pun yang telah berani mengusik ketenangan orang-orang terdekatku, dan aku tidak pernah pandang bulu dalam hal itu. Jika kau tak ingin menjadi salah satu dari ratusan nyawa yang hilang di tanganku, maka kusarankan agar kau segera kembali ke Monaco dan jangan pernah menginjakan kakimu lagi di Italia. Karena jika aku melihatmu berada di Italia, apalagi sampai membuat kegaduhan seperti yang sudah kau lakukan kemarin-kemarin, maka ... suruhlah anak buahmu yang berada di Monaco untuk bersiap-siap menjemput jenazahmu kemari!" ancam Matteo lebih dari sekadar tegas.
“Namun, siapapun orang yang telah membunuh saudaramu, maka aku sangat berterima kasih padanya,” ucap Matteo seraya kembali membenamkan ujung pistolnya ke mulut Sergei yang baru saja bangkit dan terduduk.
Pria bermata hijau itu menggeleng ketakutan. Refleks ia memundurkan kepalanya. “Tolong, jangan lakukan ini padaku!” mohonnya dengan tangan yang terus tertangkup di depan dada. “Apapun ... apapun akan kulakukan untukmu asal kau mau mengampuniku,” pinta Sergei. Saat itu ia benar-benar terlihat seperti seorang pecundang.
Matteo tak segera menjawab. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan apartemen. Bau anyir dan cipratan darah tampak menghiasi beberapa sudut tembok yang berlapis bahan kedap suara itu. “Kau tahu bahwa tak akan ada siapa pun yang bisa menolongmu sekarang, bukan?” seringai Matteo dengan dingin dan datar.
“Aku tahu itu! Maka tolong ampuni aku!” Sergei mengangguk cepat. Hilang sudah semua wibawa dan kesombongannya.
“Tentu, tapi ada syaratnya!” tegas Matteo sambil menarik kedua pistol di tangannya.
“Apapun itu! Apapun itu!” sahut Sergei. Ia berusaha bangkit, kemudian beringsut mendekat dan memegang kaki Matteo.
“Selesaikan pesanan senjatamu sampai beres. Setelah itu, seperti yang kukatakan tadi, jangan pernah muncul lagi di hadapanku ataupun di negara ini!” bentak Matteo.
Sergei terdiam sejenak. Sesaat kemudian, pria itu pun mengangguk setuju. “Itu pasti! Itu pasti, Tuan de Luca,” sahut pria berambut pirang tersebut dengan sikap mengiba.
Sebuah senyuman samar tersungging di sudut bibir Matteo. “Bagus,” ucapnya pelan.
Setelah itu, Matteo kembali berdiri. Ia menyelipkan pistol kesayangannya di balik jaket. Tak lupa, pria itu mengeluarkan seluruh peluru yang masih tersisa dari pistol yang satunya lagi. Matteo kemudian melemparkan pistol kosong itu ke hadapan Sergei yang masih duduk bersimpuh di lantai. Kepalanya tertunduk seperti seorang ninja yang akan melakukan harakiri.
Matteo kembali menyunggingkan sebuah senyuman ketusnya. Ia lalu membalikkan badan dan melangkah menuju pintu keluar dengan santai, kemudian ditutupnya pintu apartemen itu perlahan, seolah tak terjadi apapun di dalam sana. Matteo berjalan menuju lift dengan pikiran yang dipenuhi oleh nama Adriano. Satu fakta yang berhasil ia dapatkan saat itu, bahwa Adriano tidaklah sejujur seperti yang selama ini ia kira.
Matteo terus berpikir hingga tanpa terasa akhirnya ia sudah berada di area parkir. Tanpa ada beban sedikitpun, pria berjaket kulit hitam itu masuk ke mobil jeep kesayangannya. Baru saja ia akan menghidupkan mesin mobil, terdengar dering ponsel dari dalam saku jaket. Matteo sudah dapat menebak siapa yang menghubunginya saat itu.
__ADS_1
Benar saja, nama Mia tertera dengan jelas di layar ponsel. Dengan segera, ia menjawab panggilan itu sembari menghidupkan mesin mobilnya. "Cara mia?" sapanya halus. Sikap yang sangat berbeda jika dibandingkan ketika tadi ia berhadapan dengan Sergei Redomir .
"Theo, kenapa kau lama sekali?" rengek Mia.
"Aku sedang di jalan, Sayang," sahut Matteo, padahal ia baru saja keluar dari area parkir gedung apartemen.
"Cepatlah pulang karena Marco sudah kembali. Dani dan Francy pun ada di Casa de Luca," ujar Mia lesu.
"Iya, Sayang. Aku akan tiba di Casa de Luca sebentar lagi," jawab Matteo sambil terus mengemudi.
"Ah, Theo. Sebelum pulang, tolong belikan aku tarocco," pinta Mia. "Setelah itu cepatlah kembali," lanjutnya manja.
"Sesuai permintaanmu, ratuku," sahut Matteo lagi dengan diakhiri helaan napas pendek. Setelah itu, ia pun mengakhiri perbincangannya dengan Mia dan kembali fokus pada kemudinya.
Msnjelang sore, Matteo sudah kembali ke Casa de Luca. Seperti yang Mia katakan, Marco dan kedua saudari wanita muda itu memang sudah berada di sana.
"Aku ingin bicara denganmu, Marc. Nanti saja setelah makan malam," ujar Theo seraya berlalu menuju kamar. Di sana Mia tengah ditemani oleh Daniella dan juga Francesca. Kedua gadis itu sangat bahagia dengan berita kehamian Mia, meskipun mereka melihat saudara tirinya itu dengan tatapan iba sekaligus aneh, karena Mia terlihat begitu kacau dengan penampikannya yang acak-acakan.
Melihat Matteo yang memasuki kamar dengan mendekap beberapa kantong belanjaan berwarna coklat, Mia segera bersorak kegirangan dari atas ranjang. “Kau membawa pesananku, Theo?” serunya.
“Astaga, kau membeli buah-buahan sebanyak ini?” Daniella langsung turun dari ranjang dan mengintip ke dalam kantong belanja yang dibawa oleh Matteo.
“Apa kau akan menjualnya lagi, atau kau akan membagikannya kepada seluruh pekerja di Casa de Luca?” Francesca turut keheranan saat mendekati Matteo dan mengamati empat kantong belanja yang seluruhnya berisi Tarocco. Tarocco adalah sejenis buah jeruk yang isinya berwarna merah darah khas kepulauan Sicilia.
Gadis itu mencoba mengambil salah satu buah yang ada di dalam sana, begitu pula dengan Daniella.
“Kalian berisik sekali. Ini semua untuk istriku,” Matteo menepuk dan menyingkirkan tangan kedua saudari iparnya itu, lalu berjalan mendekati Mia.
“Lihatlah, Cara mia. Aku memaksa penjualnya agar memilihkan buah terbaik untukmu,” ujarnya dengan mata berbinar sambil meletakkan kantong-kantong itu di sisi Mia.
“Aku tidak percaya ini,” decak Daniella yang terus mengikuti Matteo dari belakang.
“Seorang preman bertato membeli buah-buahan,” sambung Francesca seraya terkikik geli. Mereka tidak tahu jika sebelum itu, Matteo sudah membuat Sergei Redomir bertekuk lutut dan memohon ampun. Namun, tentu saja Matteo tak ingin membahas betapa hebatnya ia di depan para wanita yang ada di dalam kamar itu.
__ADS_1
“Kekuatan cinta,” goda Daniella lagi, menimpali ucapan sang adik yang disertai tawa geli.
“Aku mohon keluarlah dari sini. Kepalaku pusing sekali mendengar celotehan kalian!” keluh Matteo dengan nada tinggi. Sementara Mia hanya tertawa lebar melihat adegan di
depannya itu.
“Bene, Tuan de Luca!” ucap Daniella kesal. “Ayo, Francy. Kita cari kudapan sendiri. Bagaimana jika kita memporak-porandakan dapur, selagi Mia tidak bisa berbuat apa-apa,” gadis berambut pirang itu segera menarik tangan Francesca agar keluar dari kamar. Sementara Matteo hanya memperhatikan mereka berdua sampai pintu tertutup. Setelah kedua saudari Mia itu pergi, Matteo menoleh kembali kepada sang istri. “Kau menyukainya?” seutas senyuman lembut tersungging di bibir pria bermata abu-abu itu.
“Suka sekali, tapi ....” Mia meringis lucu pada Matteo.
“Tapi apa, Sayangku?” Matteo mulai was-was. Ia menautkan alisnya yang berwarna hitam dan cukup tebal.
“Dani dan Francy benar. Kenapa kau membeli buah ini banyak sekali,” ucap Mia sambil menahan tawa.
“Ah, Cara mia. Seumur hidup, baru kali ini aku berbelanja,” Matteo mengempaskan tubuhnya ke tepi ranjang, lalu duduk menghadap kepada Mia. Tak bosan-bosannya ia menikmati wajah cantik sang istri, meskipun saat itu Mia bahkan tak merapikan rambutnya.
Mia semakin terbahak. Ditangkupnya wajah tampan Matteo, kemudian ia kecup bibir pria itu berkali-kali. “Terima kasih, Suamiku. Kau yang terbaik dan terhebat. Tak akan ada pria yang sepertimu,” Mia memeluk tubuh Matteo erat-erat seakan enggan untuk ia lepaskan.
“Kau tahu, Sayangku. Aku mempunyai kejutan lain untukmu,” bisik Matteo.
“Oh, ya? Apa itu?” Mia mengurai pelukannya dan menatap sang suami dengan lekat.
“Malam ini aku akan mengadakan rapat penting dengan Marco. Kami akan membahas masalah pengunduran diriku dari jabatan ketua klan,” tutur Matteo pelan dan hati-hati.
Seketika mata indah Mia terbelalak mendengar ucapan sang suami. “Benarkah itu, Sayang?” tanyanya setengah tak percaya.
Matteo mengangguk cepat. “Keputusanku sudah bulat. Aku akan segera memiliki seorang buah hati darimu. Aku tak mau terus-menerus menempatkan keluarga kecilku dalam bahaya. Aku ingin hidup tenang bersamamu dan anak-anak kita, Cara mia. Kita akan membesarkan mereka bersama-sama dengan penuh kasih sayang,” ucap Matteo berungguh-sungguh. Tatapannya begitu lembut menyapu wajah cantik Mia.
“Terima kasih, Theo. Terima kasih karena kau telah bersedia melakukan hal itu. Aku sangat bahagia,” Mia kembali memeluk tubuh Matteo.
“Apakah kau mau mendampingiku dalam rapat nanti malam?” tanya Matteo.
“Oh, tentu saja!” Mia mengangguk cepat sambil membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami, meskipun nada bicaranya terdengar sedikit ragu.
__ADS_1
“Kalau begitu, maka kau harus mandi dan merapikan dirimu. Aku ingin agar kau tampil cantik di depan semua orang, seperti Mia yang biasanya” ujar Matteo sembari menyeringai lucu terhadap Mia.