
Pagi-pagi sekali, Coco sudah terlihat rapi. Ia keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu. Namun, saat melewati lorong yang menuju ke sana, ia berpapasan dengan Francesca. Coco sempat tertegun dan menoleh untuk sejenak. Akan tetapi, tak lama kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya.
Melihat sikap dingin Coco padanya, Francesca merasa begitu sedih. Ia tahu jika Coco masih marah padanya. Namun, Francesca kira tak akan sampai berhari-hari, tapi kenyataannya Coco telah mendiamkan dirinya dari semenjak mereka kembali dari Roma. "Ricci, tunggu!" panggil gadis bermata hazel tersebut. Ia melangkah cepat ke arah Coco berdiri. Diraihnya lengan berbalut jaket kulit hitam Coco, hingga pria itu berbalik dan menatapnya meskipun dengan sorot mata yang tak sehangat biasanya.
"Kau masih marah padaku?" tanya Francesca dengan lirihnya. Raut wajah cantik gadis itu, tampak sedikit memohon kerendahan hati Coco agar bersedia memaafkannya.
"Kenapa aku harus marah padamu?" Coco balik bertanya.
Francesca terdiam sejenak. Ia menatap pria bermata cokelat itu dengan lekat. Bibirnya bergetar menahan tangis yang sudah memberontak, ibarat sebuah gunung yang akan meletus dan memuntahkan lahar panas. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" suara Francesca terdengar semakin lirih.
"Karena memang seperti itu kenyataannya," jawab Coco datar. "Kau tidak salah untuk apapun, karena yang salah adalah aku, hidupku yang kurang beruntung," lanjut pria itu lagi. Tangan kanannya memegang erat helm full face hitam, sementara tangan kirinya tampak mengepal dengan kencang.
“Apa maksudmu, Ricci?” Francesca kembali merasa tidak mengerti dengan ucapan Coco. Gadis itu mengernyitkan keningnya. Sementara dadanya terus bergemuruh karena rasa gelisah. Francesca merasa takut dengan jawaban yang akan Coco berikan padanya. Jemari lentiknya semakin erat mencengkeram lengan Coco. Ia seakan tak ingin melepaskan pria itu.
“Dengarkan aku, Francy. Aku tidak memiliki apapun yang bisa kuandalkan untuk menjadi penopang kariermu, terlebih untuk memenuhi semua kebutuhan dan gaya hidupmu. Aku hanya pria biasa, Francy. Tempat tinggalku adalah sebuah bengkel sederhana, dan aku tidak memiliki siapa pun selain Matteo. Karena itu, aku berpikir jika selama ini memang bukan kau yang salah jika merasa ragu padaku. Aku rasa,memang sudah seharusnya kau menjauh dariku,” Coco melepaskan cengkeraman tangan Francesca dari lengannya. Setelah itu, ia melanjutkan langkah dan menghilang di balik dinding lorong itu. Ia pergi meninggalkan Francesca yang saat itu tak mampu berkata apa-apa selain meneteskan air mata.
Untuk sejenak, Francesca berdiri mematung. Nyawanya seakan telah direnggut paksa dari dalam raga yang masih ingin menikmati indahnya sinar mentari. Francesca terus berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa itu semua hanyalah mimpi. Tak mungkin jika ia harus kembali kehilangan pria yang telah menjadi cinta pertamanya. Sekuat tenaga ia kembali mengumpulkan seluruh kekuatan dalam dirinya.
Dengan segera, gadis itu menggerakkan kakinya. Ia berlari menuju halaman Casa de Luca dan berharap masih dapat mencegah kepergian Coco. Namun, sayang sekali karena saat itu Coco telah berada di gerbang kedua.
Tak ingin menyerah, Francesca kembali berlari ke arah gerbang pertama. Namun, saat itu motor yang Coco kendarai sudah benar-benar menghilang dari pandangannya. Lemas, gadis itu terpaksa kembali ke dalam rumah. Terulang lagi ketika ia harus menyaksikan kepergian Coco dengan hatinya yang hancur, seperti beberapa tahun yang lalu. Francesca memutuskan untuk segera menuju ke kamarnya. Ia pun mengunci diri di sana, membenamkan wajahnya di atas bantal, dan menangis dengan sepuasnya.
__ADS_1
Lain halnya dengan Daniella. Ia sudah mulai terlihat tenang, meskipun belum seperti Daniella yang biasanya. Namun, Daniella adalah gadis yang kuat dan selalu mencoba untuk mengabaikan segala hal yang membuatnya merasa tak nyaman. Ia tak suka terbebani dengan apapun. Ia hanya ingin menikmati kebebasannya saat ini, sampai tiba saatnya nanti di mana dirinya merasa lelah dan akan benar-benar menyerah pada cinta dari seorang pria yang ia kehendaki untuk menjadi pendamping hidupnya.
Siang itu, Daniella baru selesai berenang. Ia kemudian memutuskan untuk berjemur. Daniella begitu menikmati cahaya matahari yang memang tidak terlalu terik, sampai-sampai ia tak menyadari kehadiran Marco di sana. Pria berwajah kelimis tersebut duduk di kursi sebelah Daniella. “Hai, Dani. Kelihatannya kau sudah membaik saat ini,” sapa Marco membuat Daniella seketika membuka mata. Ia juga menurunkan kaca mata hitamnya, hingga menggantung di atas batang hidung.
“Marco? Sejak kapan kau di situ?” tanya Daniella. Ia seperti tak peduli dengan tatapan nakal dari sepupu Matteo tersebut, yang seolah tengah mengamati tubuh indahnya dalam balutan bikini two piece. “Apa yang kau lihat?” tanya Daniella penuh selidik. Namun, gadis itu kembali bersikap tak peduli. Ia menaikkan kaca matanya lagi.
“Bagaimana jika malam ini kita keluar? Semenjak ayahku meninggal, aku sudah lama tidak bertemu dengan teman-temanku,” ajak Marco. “Lagi pula, kau juga pasti butuh hiburan untuk membuang semua kenangan buruk dalam kepalamu,” rayunya lagi.
Daniella kembali menurunkan kaca mata hitamnya. “Kau mengajakku berkencan?” tanyanya dengan lugas membuat Marco mengernyitkan keningnya. Sesaat kemudian, pria dua puluh tujuh tahun itu tersenyum. “Terserah kau anggap apa, tapi aku yakin kau pasti akan menyukainya. Aku tahu jika kau adalah gadis yang menyukai sebuah tantangan, dan malam ini aku akan mengajakmu untuk merasakan tantangan mendebarkan itu,” jelas Marco membuat Daniella seketika bangkit dan duduk tegak. Ia menaikkan kaca mata hitamnya ke atas kepala, sehingga tampaklah bola mata berwarna hazel miliknya.
Daniella berpikir untuk sejenak. Beberapa saat kemudian, gadis itu tersenyum lebar. “Jika aku tidak terkesan dengan tantangan yang kau sebutkan tadi, maka kau harus mengganti waktuku yang terbuang percuma dengan sesuatu yang berharga fantastis,” tantang Daniella dengan seenaknya.
“Kita lihat saja nanti,” jawabnya seraya meletakan kaca matanya dan berdiri. Ia kembali menceburkan dirinya ke dalam kolam dengan diiringi tatapan Marco. Pria itu merasa terkesan, karena baru kali ini bertemu dengan gadis yang begitu tak acuh seperti Daniella.
“Aku menunggumu nanti malam di depan gerbang!” seru Marco sebelum beranjak meninggalkan area kolam renang.
Nyatanya ucapan Marco, bukan hanya omong kosong belaka. Di gerbang kedua, ia sudah siap dan bersandar di sisi mobil Nissan GT-R berwarna biru metalik miliknya. Tampak dari kejauhan, Daniella berjalan santai dengan senyuman yang cerah. Sosoknya yang makin lama semakin mendekat dan terlihat jelas. Gadis itu membuat Marco begitu terpukau dengan penampilannya malam itu. “Kau akan mengajakku ke mana?” tanya Daniella yang seketika membuyarkan semua lamunan nakal Marco.
“Nanti juga kau akan tahu,” Marco segera membukakan pintu mobil untuk Daniella. Setelah itu, ia kemudian duduk di belakang kemudi. “Kencangkan sabuk pengamanmu,” titahnya.
Ketika ia melihat Daniella telah siap, Marco segera menginjak pedal gas. Ia membiarkan knalpotnya meraung-raung, mengeluarkan asap putih yang membelah udara malam.
Tangan Marco begitu lincah memposisikan gigi, kemudian melajukan kendaraan sedemikian kencang. Hanya beberapa menit yang ia butuhkan untuk tiba di tempat tujuan, yaitu sebuah lapangan gersang yang teramat luas. Di sana sudah menunggu puluhan, bahkan mungkin ratusan mobil-mobil balap dari yang paling klasik hingga supercar terbaru. “Ini salah satu tempat pelarianku untuk melepas penat,” jelas Marco.
Sementara Daniella hanya bisa berdecak kagum melihat penampakan mobil-mobil antik di depan matanya.
__ADS_1
“Hei, Amico!” sapa seseorang yang menghampiri mobil Marco. Segera pria klimis itu membuka kaca jendelanya. “Kau siap bertarung malam ini? Giulio sudah menantikan saat-saat ini,” ujar pria itu lagi.
“Tentukan saja titik awal hingga garis finishnya,” sahut Marco sembari menyeringai.
“Bene! (Baiklah)” balas pria itu. Ia kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi sebagai isyarat. Satu supercar mahal pabrikan Italia, melaju dari arah kerumunan mobil dan terus bergerak mendekati mobil Marco. Dua mobil balap itu kini saling berhadapan. Lagi-lagi, Marco memainkan deru knalpotnya yang memekakkan telinga. Sementara supercar tadi segera membalasnya.
“Titik awal dimulai dari jalan masuk ke dalam lapangan! Titik finish berada di ujung jembatan antar kota!” seru si pria sambil membawa bendera kotak-kotak hitam dan putih. Pria itu kemudian berdiri di tempatnya dan mengangkat bendera yang ia pegang tinggi-tinggi.
Marco pun bersiap memegang kemudi dan memposisikan mobilnya tepat di samping si pria. Demikian pula supercar yang menjadi lawan tandingnya kali ini. Marco juga sigap meletakkan kaki di atas pedal dan mencengkeram erat persneling. Sementara Daniella memegang kuat pegangan pintu sembari memeriksa sabuk pengamannya. “Apakah kau yakin ini akan aman?” tanyanya dengan rona penuh kekhawatiran.
“Tentu saja,” seringai Marco sambil tetap awas menunggu aba-aba. Ketika bendera diturunkan, ia langsung menginjak pedal gas kuat-kuat sehingga mobil biru metaliknya melesat cepat membelah jalanan. Hal itu membuat Daniella menjerit ketakutan.
Awalnya, supercar itu unggul melampauinya. Namun, dengan lihai Marco menambah kecepatan sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ia mampu melewati supercar itu. Mobil yang Marco kemudikan pun telah melintasi beberapa tikungan, sampai tiba di titik akhir yang sudah ditentukan. Marco unggul beberapa menit dari supercar tersebut.
Tak hanya Marco, Daniella juga bersorak kegirangan. Tak terkira senangnya saat mobil yang ditumpanginya mampu mengalahkan supercar yang jauh lebih mahal dari harga mobil Marco. Raut wajah Daniella begitu ceria. Segala penat, sedih dan rasa kecewa yang ia alami ketika mantan kekasihnya sendiri berniat membunuh dan tak menganggap ia berharga, lenyap tak berbekas. Semua itu segera tergantikan oleh rasa bahagia, puas dan bebas tentunya.
"Ini benar-benar luar biasa!" seru gadis itu dengan riang. Sedangkan Marco membalasnya dengan sebuah senyuman. Matanya kembali menatap gadis berambut pirang itu.
"Sudah kukatakan jika kau pasti akan terkesan, Dani," ucap Marco seraya kembali melajukan mobilnya ke arah kerumunan tadi. Setelah berpamitan kepada beberapa orang sahabatnya di arena tersebut, Marco memutuskan untuk mengajak Daniella berkeliling kota sebentar.
Keceriaan Daniella tak juga hilang meskipun mereka telah kembali ke Casa de Luca. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi kedua sejoli itu masih terlihat penuh semangat.
Marco melirik gadis pirang itu sambil tersenyum penuh arti. Sesaat sebelum Daniella membuka pintu mobil, Marco segera mencekal lengan rampingnya. “Sepertinya aku menang taruhan kali ini,” ucapnya bangga.
Seakan mengerti arah dan maksud dari kalimat pria klimis itu, Daniella segera mendekatkan wajahnya pada Marco. “Kuakui, aku memang kalah taruhan. Jadi, inilah yang harus kubayar untuk menebusnya!” segera gadis itu menempelkan bibirnya pada bibir Marco. Tanpa canggung, Daniella memagut dan mengisap pelan bibir Marco.
Sementara Marco tentu tak akan menyia-nyiakan hal itu. Sebagai permulaan, ia merengkuh pinggang Daniella dengan erat. Disandarkannya tubuh gadis itu pada mobilnya. Tangan kanan pria itu mulai bergerak nakal dan mencari sasaran yang jauh lebih menantang dari sebuah balapan liar. Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua asyik menikmati manisnya ciuman tersebut.
🍒
🍒
🍒
Hai, kita lupakan dulu Dani sama Marco untuk sejenak, karena ceuceu bawakan lagi judul novel keren buat reader semua. Jangan lupa cek ya, dan ramaikan.
__ADS_1