
Setelah mengantongi restu dari para tetua organisasi, keesokannya semua orang di Cassa de Luca terlihat begitu sibuk. Mereka sedang mempersiapkan acara pernikahan Matteo dan Mia, yang akan diselenggarakan dua hari lagi. Sementara itu, Mia sendiri justru terlihat murung. Ia seperti tengah membawa sebuah beban yang berat di pundaknya.
Pagi hingga sore, cuaca sangat cerah di kota Brescia. Mia berdiri di dekat jendela kamar. Sedangkan Matteo disibukkan oleh laporan penjualan anggur pasca panen di ruang kerjanya.
Semenjak berada di Cassa de Luca, Mia senang sekali menikmati pemandangan indah yang terhampar di luar jendela. Tatapannya menerawang jauh pada perkebunan anggur yang luas. Tinggal empat puluh delapan jam lagi, ia akan menjadi nyonya besar di tempat itu. Nama belakang de Luca akan segera disematkan di belakang namanya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ponsel miliknya berdering. Wanita muda itu tersadar dari lamunannya dan segera beranjak ke dekat ranjang. Ia lalu meraih benda tersebut dan memeriksanya. Sebuah pesan masuk dari Francesca. Namun, Mia tidak membalas pesan itu. Ia langsung saja menghubungi sang adik. “Hai, Francy. Kau sedang sibuk?” sapa Mia ketika panggilannya sudah tersambung.
“Aku baru pulang dari kampus. Hari yang sangat menyebalkan!” terdengar Francesca mengerutu kesal.
“Ada apa, Francy? Apa kau sedang punya masalah?” tanya Mia khawatir.
“Filippo marah besar padaku, Mia. Menyebalkan!” gerutu Francesca lagi. Gadis itu terdengar mendengus berkali-kali.
“Memangnya ada masalah apa? Bukankah ia pria yang tidak pernah menuntut macam-macam darimu?”
“Ia melihatku bersama Ricci kemarin. Ah, sudahlah! Kepalaku sakit saat membahasnya,” keluh Francesca.
“Ya, sebaiknya kau meminta saran kepada Daniella. Kakakmu ahlinya dalam masalah pria,” celetuk Mia seraya tertawa pelan. “Lagi pula, aku juga saat ini sedang bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana, Francy,” Mia beranjak dari duduknya. Ia kembali berdiri di dekat jendela dan menatap perkebunan luas Cassa de Luca.
“Ada apa, Mia?”
Mia terdiam untuk sejenak. Tidak berselang lama, sepasang matanya mulai berkaca-kaca. Namun, ia terus berusaha menahan dirinya agar tidak menangis. “Theo sudah memutuskan hari pernikahan kami. Dua hari lagi, aku akan melepas predikatku sebagai janda. Akan tetapi, kau tahu sendiri bahwa hingga saat ini ada alasan kuat yang memaksaku untuk tetap sendiri,” terang Mia lirih. Ia lalu menyentuh sudut matanya yang basah.
“Ayolah, Mia! Jika memang kau berniat untuk membuka lembaran baru, cobalah untuk melupakan tragedi berdarah itu. Aku tahu, itu pasti sangat berat untukmu, tetapi kau juga harus menghargai ketulusan Matteo yang sudah ia tunjukan padamu.”
“Aku tahu itu, Francy. Namun, entahlah ... hingga saat ini aku masih begitu takut saat melihat gaun pengantin. Setiap kali aku melihat gaun putih itu, rasanya aku seperti kembali pada masa tiga tahun silam. Aku tidak sanggup ketika harus melihat ayahku, ayah kita, terbaring tak bernyawa dengan bersimbah darah. Begitu juga dengan Valentino. Ia tewas demi menyelamatkanku. Aku merasa sangat bersalah, Francy,” pada akhirnya tangisan itu terdengar juga.
Francesca terdiam untuk sejenak. Entah apa yang tengah gadis itu pikirkan di dalam kamar apartemennya saat ini. Setelah beberapa saat kemudian, barulah ia kembali bersuara. “Aku bisa memahami pergolakan dalam hatimu, Mia. Namun, bukankah ini yang kau impikan? Bukankah Matteo yang selama ini sangat kau rindukan? Sekarang Tuhan telah menyatukan kalian berdua setelah sekian lama, apa kau akan menyia-nyiakan kesempatan ini, Mia?”
Mia terdiam. Ia memikirkan dalam-dalam semua ucapan Francesca. Meskipun gadis itu lebih muda darinya, tapi bukan berarti apa yang diucapkannya tidak dapat diterima dengan baik oleh pemikiran Mia yang telah jauh lebih dewasa. Mungkin sudah saatnya bagi Mia untuk mengubah cara berpikirnya.
__ADS_1
“Iya, Francy. Kau benar. Aku harus berusaha untuk melawan rasa takutku,” ucap Mia dengan setengah bergumam. Tanpa ia sadari, Matteo telah berdiri di belakangnya.
“Kau bicara dengan siapa?”
Seketika Mia tersentak hingga ponsel yang ia pegang pun terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai. Sikap gugup berlebihan yang ditunjukan oleh Mia, telah membuat Matteo memicingkan matanya. Ia mencoba untuk menelaah dengan jauh lebih dalam. “Ada apa, Mia?” Matteo mengambilkan ponsel yang tergeletak di dekat kaki Mia. Ia lalu mengembalikan ponsel tersebut.
Mia menerima ponsel itu dengan gugup.
“Tidak apa-apa, Theo. Aku tadi sedang berbincang dengan Francy saat kau tiba-tiba muncul ....” Mia menjeda kata-katanya. “Jangan katakan jika kau menguping obrolanku dengan Francy!” tukas Mia seraya memalingkan wajahnya. Sementara Matteo hanya memainkan kedua alisnya. Ia masih merasa heran dengan sikap aneh Mia.
“Bagaimana jika kita berjalan-jalan sebentar ke perkebunan?” tawar Matteo. Tanpa menuggu jawaban dari Mia, pria itu langsung meraih pergelangan tangan calon istrinya dan membawa ia keluar kamar. “Kau pasti akan menyukainya, Sayang,” ucap Matteo seraya terus menuntun Mia untuk menuruni anak tangga menuju lantai dasar, yang merupakan akses langsung ke perkebunan.
Setelah melewati sebuah lorong yang cukup lebar dan tidak terlalu panjang, akhirnya mereka berdua tiba di perkebunan. Suasana di sana terasa sangat berbeda. Mia merasa begitu terhibur dengan lautan buah anggur yang berada di sekelilingnya. “Kau suka, Mia?” tanya Matteo seraya melirik wanita cantik di sebelahnya. Mia segera menoleh dan tersenyum manis.
Sementara itu, Camilla baru tiba di Cassa de Luca. Gadis bermata biru tersebut merasa heran dengan kesibukan orang-orang di sana. Tak ingin lebih lama berada dalam rasa penasaran, Camilla pun segera masuk. Saat itu, ia berpapasan dengan Damiano yang sangat terkejut melihat kedatangan Camilla di sana.
“Ada apa, Damiano? Kenapa kau begitu terkejut saat melihatku?” tanya Camilla dengan senyum khasnya. Gadis cantik itu menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.
“Kapan kau datang, Nona Rosetti?” Damiano balik bertanya. Ia mencoba untuk menguasai dirinya, dan menutupi rasa kikuk yang tiba-tiba datang menghampiri.
“Selamat sore, Tuan Damiano. Anda tahu di mana Tuan Matteo?” tanya pemuda yang merupakan sopir baru di Cassa de Luca. Nico menggantikan sang ayah yang telah mengundurkan diri karena alasan kesehatan.
“Tadi ia mengatakan akan ke perkebunan. Ada apa, Nico? Apakah ada sesuatu yang serius?” tanya Damiano dengan raut penasaran.
“Tadi pagi, Tuan Matteo menyuruh saya pergi ke Milan untuk mengambil cincin pesanannya. Namun, karena ada sedikit masalah dengan mobil, jadi saya pulang terlambat,” sahut Nico dengan sopan.
Seketika, mata biru Camilla berbinar indah ketika ia mendengar kata cincin pesanan Matteo. Dalam benaknya sudah terbayang sebuah cincin berlian nan cantik, yang akan Matteo persembahkan untuk dirinya. Dengan senyuman lebar dan wajah yang begitu ceria, Camilla melangkah cepat ke arah tangga menuju lantai bawah. Tujuannya tiada lain adalah perkebunan.
Ia tahu, pasti akan sulit menemukan Matteo di area perkebunan seluas itu. Namun, rasa bahagia yang tak terkira, membuatnya tak peduli. Gadis berambut panjang tersebut terus berjalan dengan membawa sejuta harapan yang akan segera terwujud. Pada akhirnya, penantian panjang yang ia jalani selama ini akan berbuah manis.
Namun, langkah penuh semangat dari kaki jenjang gadis itu harus terhenti dengan tiba-tiba. Camilla tertegun dengan rona tidak percaya. Senyum indah dan binar-binar kebahagiaan yang sempat muncul di matanya, kini sirna dengan seketika saat ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
__ADS_1
Tanpa terasa, air mata Camilla jatuh tatkala ia melihat Matteo yang tengah berciuman mesra dengan seorang wanita muda yang cantik dan tidak dikenalnya. Baru satu minggu ia meninggalkan pria itu, ternyata Matteo dengan mudahnya mencari pengganti dirinya. “Theo ....” sebut Camilla dengan suara bergetar. Ia mencoba untuk menahan tangisnya agar tidak pecah di tempat itu.
Seketika Matteo menghentikan adegan manisnya dengan wanita yang tiada lain adalah Mia. Sepasang calon pengantin tersebut sama-sama menoleh ke arah Camilla yang berdiri mematung dengan raut wajah tak karuan. Semuanya bercampur menjadi satu. Gadis itu terlihat marah, sedih, dan juga cemburu.
“Camilla?” Matteo tidak menyangka jika gadis itu akan menyusulnya ke perkebunan, karena biasanya ia tidak pernah mau turun ke sana dengan alasan tak ingin kotor dan terbakar sinar matahari. Namun, entah angin apa yang kini membawa Camilla bisa sampai berada di sana.
Mendengar nama Camilla, seketika raut wajah Mia berubah masam. Ia tahu siapa gadis itu, berhubung Matteo pernah menceritakannya. Mia merasa tidak enak hati terhadap gadis tersebut. Ia bermaksud untuk pergi dari sana. Namun, dengan cepat Matteo memegangi pergelangan tangannya. “Tidak, Mia! Tetaplah di sini!” titah Matteo tegas, membuat Mia mengurungkan niatnya. Namun, wanita muda itu tidak bicara sepatah katapun.
Sementara itu, Camilla begitu terkejut saat mengetahui jika wanita yang tengah bersama Matteo adalah Mia. Rasa cemburu yang sejak tadi mendera dan melumpuhkan logika, kini semakin membakar hatinya. Camilla sangat mengetahui siapa Mia. Nama itu selalu Matteo sebut, setiap kali mereka sedang bercinta. Matteo bahkan tak jarang menggumamkan nama tersebut meskipun dalam tidurnya.
“Mia? Mia?” Camilla menyebut nama itu sebanyak dua kali dengan nada tidak percaya.
“Ya, Camilla. Aku sudah menemukan Mia,” sahut Matteo datar. Pria itu masih terlihat tenang.
“Lalu, kenapa kau membawanya kemari, Theo?” Camilla terlihat begitu resah. Ketakutan bercampur menjadi satu dengan rasa cemburu yang kian menjadi. “Kenapa kau membawa wanita itu kemari?” nada bicara Camilla terdengar semakin meninggi.
“Aku sengaja membawa Mia ke Cassa de Luca, karena kami akan menikah lusa!” tegas Matteo yang membuat Camilla seakan tersambar petir.
🍒
🍒
🍒
hai, ada rekomendasi novel keren lainnya nih. Jangan dilewatkan ya 🤗
__ADS_1