Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Pesona Tuan de Luca


__ADS_3

Mia mendorong tubuh pria yang tiada lain adalah Matteo hingga pria itu melepaskan ciumannya. Rupanya, Matteo belum pergi dari sana. Ia justru kembali dan melakukan hal tersebut kepada Mia.


"Berani sekali kau, Theo!" bentak Mia seraya mengarahkan telapak tangannya ke wajah Matteo. Ia bermaksud untuk menampar pria yang dirasa telah bersikap kurang ajar terhadap dirinya.


Sigap, Matteo memegangi pergelangan tangan Mia dan menahan tamparan yang mengarah ke wajahnya. Ia menggenggam pergelangan tangan itu dengan erat, hingga wanita muda tersebut meringis kesakitan. Sesaat kemudian, Matteo menarik pinggang ramping Mia. Wanita bermata coklat itu kembali masuk ke pelukannya.


"Aku sudah mencarimu ke mana-mana! Aku menghabiskan banyak uang untuk menyewa seorang detektif agar dapat segera menemukanmu. Aku memikirkanmu dengan keras selama tiga tahun ke belakang. Kau kira aku akan melepaskanmu begitu saja, Mia?" ucap Matteo dengan penekanan suara yang begitu tegas dan dalam. Matteo menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak akan pernah, Bella!" ucap Matteo lagi dengan pelan tapi begitu pasti.


Sementara Mia masih berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Matteo. "Kau benar-benar ...." belum sempat Mia melanjutkan kata-katanya, Matteo telah terlebih dahulu membungkam wanita cantik itu dengan sebuah ciuman yang kembali ia daratkan di bibir dengan polesan lipstik nude. Mia terus memberontak, meskipun pada akhirnya ia memilih untuk pasrah dan membiarkan Matteo untuk beberapa saat.


"Aku tidak bisa melupakan semuanya dengan begitu saja, Mia. Apa yang terjadi pada malam itu ... semuanya ... semuanya terasa begitu ...." Matteo mengempaskan napas penuh penyesalan. Ia merekatkan keningnya dengan kening Mia. Perasaan itu, ternyata begitu besar dan telah menghadirkan sisi lain dari seorang Matteo de Luca. "Stammi piu vicino (Tetaplah di dekatku)," bisik Matteo lagi.


"Menjauhlah dariku! Tinggalkan aku sendiri!" Mia berusaha untuk menjauhkan Matteo dari dirinya. Ia mendorong tubuh tegap tersebut dengan segenap tenaga yang dimilikinya. Awalnya Matteo bergeming. Akan tetapi, pada akhirnya ia merasa kasihan ketika tenaga kecil Mia tak jua berhasil membuatnya keluar.


"Baiklah, Mia. Baiklah! Aku akan pergi," ucap Matteo. Ia melangkah mundur ke arah pintu hingga akhirnya keluar dan menghilang dari pandangan Mia. Sementara Mia menatapnya dengan napas yang agak tersengal-sengal seraya menggigit bibir bawahnya. Betapa nakalnya Matteo yang telah berani menciumnya tanpa permisi.


Ingatan Mia kembali pada beberapa tahun silam, ketika pria itu mencuri ciuman pertamanya dengan tanpa permisi. Lalu, ketika Matteo masuk ke kamarnya dengan tanpa permisi pula, dan kini sama saja.


Mia segera mengelap bibirnya dengan punggung tangan. Ia bergegas keluar dan mengunci pintu masuk restorannya. Sebelum beranjak dari sana, Mia sempat melihat ke sekeliling dan memastikan bahwa Matteo sudah benar-benar pergi dari tempat itu. Setelah dirasa aman, barulah Mia menghentikan sebuah taksi dan pulang ke apartemennya.


Tanpa Mia sadari, Matteo mengikutinya. Jeep hitam pria itu berhenti di seberang gedung apartemen. Ia bahkan dapat melihat dengan jelas ketika Mia turun dari taksi. Ia setengah berlari memasuki gedung apartemennya. Sebuah bangunan dengan gaya Romawi yang sangat kental.


Beberapa saat kemudian, barulah Matteo memberanikan diri turun dari kendaraannya dan menyeberang. Ia sempat berhenti di depan pintu masuk lobby apartemen sambil menarik napas. Dengan sikapnya yang begitu tenang, ia lalu mendorong pintu kaca tebal itu.


“Buona sera (selamat malam),” sapanya pada pria tua penjaga gedung yang duduk dengan tenangnya di belakang meja resepsionis. Pria itu tampak asyik menyaksikan siaran televisi.


“Buona sera, Signore. Apa ada yang bisa saya bantu?” balas pria itu ramah.


“Bolehkah saya tahu, di lantai berapa nona Florecita tinggal?” tanya Matteo.


Bukannya menjawab, pria itu malah terkekeh.


“Apa ada yang salah dengan pertanyaan saya?” Matteo memicingkan matanya. Ia merasa sedikit sebal melihat sikap pria tua itu.


“Tidak ada. Hanya saja, Anda adalah pria ketujuh yang menanyakan hal yang sama dalam sehari ini,” jawab pria itu, masih dengan tertawa kecil.

__ADS_1


“Oh, ya? Ternyata nona Florecita adalah gadis yang populer, bukan begitu? Bagaimana kabar mereka yang menanyakan pertanyaan yang sama dengan saya?” cecar Matteo.


“Nasib mereka akan sama seperti Anda sebentar lagi. Anda akan keluar dari gedung ini dengan kecewa, karena saya tidak akan mengatakannya,” sahut pria itu pongah.


“Apakah pasangan nona Florecita yang memaksa Anda untuk tidak mengatakan di mana ia tinggal?” Matteo tak putus asa sedikitpun. Ia malah makin bersemangat mengorek informasi dari pria tua tersebut.


“Nona Florecita tidak pernah memiliki pasangan. Dulu ia tinggal di apartemen ini bersama nenek dan adik tirinya. Namun, semenjak nenek Germanotta meninggal, nona Florecita tinggal berdua bersama adik tirinya. Baru tahun lalu adik tiri nona Florecita pindah ke apartemen baru yang terletak di tengah kota. Sejak saat itu, nona Florecita tinggal sendiri,” terang pria penjaga gedung itu panjang lebar.


Seutas senyuman penuh kepuasan tersungging dari bibir tipis Matteo. “Baiklah. Kalau begitu. Saya permisi,” pamitnya. Matteo melangkahkan kakinya diiringi dengan tatapan curiga dari pria tua itu. Akan tetapi, Matteo tak peduli. Ia berjalan menuju mobil, duduk di kursi kemudi lalu meraih ponselnya. Matteo kemudian menekan nomor Lorenzo, detektif swasta yang menjadi langganannya.


“Halo. Aku membutuhkan bantuanmu, Lorenzo,” ujarnya sebelum menyalakan kendaraan dan berlalu pergi dari sana.


................


"Francy, aku akan ke tempatmu hari ini. Ada hal yang harus kita bicarakan. Jika kau sudah bangun, segera hubungi aku," Mia mengakhiri pesan suara yang ia tinggalkan untuk Francesca.


Gelisah, Mia terus mondar-mandir sambil sesekali menggigit kuku jari telunjuknya. Ia tidak menyangka karena pelariannya selama tiga tahun harus berakhir. Matteo telah berhasil menemukan keberadaannya.


Mia kemudian memilih untuk duduk dan berpikir sejenak. Apakah ia harus kembali melarikan diri dari pria tersebut, atau akan lebih baik jika ia menghadapinya? Seberapa jauh ia menghindar, Mia yakin jika Matteo pasti akan kembali mencarinya. Sampai kapan ia harus terus bersembunyi? Kenyataannya, dunia ini terasa begitu sempit bagi mereka berdua.


Sekilas, Mia melihat arloji di pergelangan kirinya. Sudah waktunya ia pergi ke restoran hari ini. Ia bahkan telah bersiap dengan sheath dress hitam lengan tiga perempatnya. Dress dengan aksen V neck yang dilengkapi hiasan sabuk kecil di bagian pinggang tersebut, membuatnya terlihat sangat anggun dan dewasa. Ya, tentu saja. Mia kini telah berusia dua puluh lima tahun. Ia sudah semakin matang.


Ujung sepatu Matteo mengganjal ujung pintu, sementara jemari tangan kirinya mencengkeram tepian pintu. “Izinkan aku bicara, Mia. Sebentar saja,” pinta Matteo. Sorot mata abu-abunya terlihat begitu memelas.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Theo! Pergilah!” tolak Mia tegas.


“Jika kau tidak mengizinkan, maka aku akan tetap berada pada posisi ini. Kita lihat siapa yang akan bertahan,” tantang Matteo seraya menyeringai.


Mia sadar, tak ada gunanya melawan Matteo yang keras kepala. Pria itu bagaikan bongkahan batu besar yang kokoh dan tak akan mudah untuk digoyahkan. Dengan dada berdebar, Mia membuka pintu apartemennya lebar-lebar. Ia mempersilakan Matteo masuk dengan isyarat tangan.


Matteo tersenyum samar sembari melangkahkan kakinya ke ruang tamu Mia yang terlihat begitu rapi. Dekorasi warna putih mendominasi ruangan minimalis itu. Pria itu berdiri dengan gagah membelakangi Mia sambil melihat ke sekeliling ruangan. Dua tangannya ia letakkan ke dalam saku celana. Sementara Mia hanya sanggup menelan ludah saat memperhatikan sosok pria tersebut.


Bertahun-tahun, Mia berusaha untuk menghilangkan pria itu dari pikiran dan hatinya. Namun, ia selalu saja gagal. Terlebih saat ini, Matteo datang lagi kepadanya dan menghempaskan seluruh logika serta kebencian yang terus menguasai dirinya.


Wanita muda itu tak menyangka bahwa Matteo kini terlihat semakin menawan. Gaya urakannya berubah drastis menjadi sosok pria gagah dan parlente dengan rambut pendeknya yang rapi.

__ADS_1


“Katakan apa yang ingin kau sampaikan padaku, setelah itu segeralah pergi dari sini!” tegas Mia tanpa basa-basi.


“Kau tidak ingin menawariku minum?” goda Matteo dengan raut wajahnya yang terlihat sangat menawan.


“Sudah beruntung aku memperbolehkanmu masuk!” jawab Mia ketus.


Matteo tertawa pelan. Ia lalu menatap Mia dengan lembut. “Terima kasih atas kesempatan yang kau berikan untukku, Mia. Lagi pula, tak ada gunanya terus melarikan diri. Rasanya sungguh menyakitkan,” ucapnya pilu.


“Terkadang akan jauh lebih baik menghadapi segala sesuatunya, daripada terus berlari dan menghindar,” imbuh Matteo. Ia mulai bergerak maju, hingga wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Mia. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Ia terus memalingkan muka, menghindari sorot mata abu-abu Matteo yang melenakan dan mengikis akal sehatnya.


“Selama ini aku selalu lari dari perasaanku, Mia. Aku melampiaskannya pada hal-hal yang tak pantas dan aku sangat menyesali semuanya. Seharusnya aku lebih sabar menunggu momen ini tiba,” perlahan tangan Matteo terulur dan meraih dagu Mia. Ia menghadapkan wajah cantik itu kepadanya. Beberapa mili lagi, bibir Matteo akan menyentuh bibir ranum Mia, tetapi gadis itu segera menepisnya.


“Apakah pembicaraan kita sudah selesai? Aku hendak keluar. Kau boleh pergi!” sentak Mia. Ia begitu bersemangat untuk mengusir Theo.


“Aku lapar,” sahut Theo santai sembari berjalan ke ruang makan yang berada di dekat dapur, lalu duduk di salah satu kursinya. “Aku sangat menyukai Arancini buatanmu. Sebelum pulang, aku ingin mencicipinya sedikit saja,” rayu Matteo dengan senyum terkembang.


Mia hanya bisa mendengus kesal. Tak ada yang bisa ia lakukan saat ini, selain menuruti permintaan aneh dari pria itu. Sambil menghentakkan kaki, Mia meraih apron yang tergantung di samping lemari pendingin dan mulai mengeluarkan bahan-bahan yang ia perlukan untuk memasak. Sedangkan Matteo tetap asyik di tempat duduknya sambil memperhatikan setiap gerakan Mia. Gadis itu memasak dengan cepat dan cekatan. Ia kemudian menghidangkannya untuk Matteo. Mia juga memilih duduk di kursi makan yang terletak agak jauh di seberang pria rupawan itu.


“Aku masih mengingat dengan jelas, setiap pagi kau selalu mengantarkan Arancini untukku,” tutur Matteo sambil mengunyah, "padahal waktu itu aku sengaja mencium Daniella di depanmu,” Matteo meringis atas hal bodoh yang ia lakukan yang entah untuk apa tujuannya.


“Aku sudah terbiasa kau sakiti!” sahut Mia ketus.


“Aku juga hilang kendali ketika tak bisa menemukan keberadaanmu, bahkan aku melampiaskannya pada ... kau tahu, kan?” Matteo tak melanjutkan kalimatnya. Lidahnya kelu saat akan menceritakan kehidupannya selama tiga tahun ke belakang yang seakan terombang-ambing tanpa arah.


“Aku mendekati seorang wanita demi menghilangkan bayanganmu, tapi ternyata gagal. Setiap kali aku bersamanya, yang kulihat hanya wajahmu,” Matteo tersenyum getir. Mia terdiam mendengarkan keluh kesah pria itu. Sama sekali tak ada keinginannya untuk menanggapi.


“Bagaimana denganmu, Mia? Apakah kau pernah dekat lagi dengan seseorang sejak kejadian itu?” tanya Matteo ragu.


“Aku tidak pernah dekat dengan siapapun dan aku tidak ingin. Cukuplah kau saja yang berani menyentuh tubuhku dan menghancurkan hidupku,” jawab Mia datar.


Matteo tertegun atas jawaban Mia. Ia seakan membeku dan membiarkan keheningan merayap di antara mereka. “Hanya aku yang ...” kalimat Matteo mengambang. Ia lalu meletakkan sendoknya, kemudian bangkit perlahan dan menghampiri Mia. Matteo menarik pelan tangan gadis itu dan mengajaknya berdiri. Sementara Mia seakan terhipnotis oleh mata abu-abu yang terus memandangnya dengan tatapan memuja. Ia mengikuti isyarat dan bahasa tubuh Matteo, hingga tubuh keduanya kini saling berhadapan. Hembusan napas Matteo yang menyapu wajah Mia, kembali membuat logikanya lumpuh.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2