
Siang itu, Matteo tampak sudah bersiap dengan celana jeans dan jaket kulit yang ia tenteng dengan tangan kanannya. Tampaknya ia akan pergi. Sebelum berangkat, pria dengan mata abu-abu tersebut menyempatkan dirinya untuk menggoda Mia yang baru selesai membereskan meja makan. "Haruskah kau melakukan semua pekerjaan ini sendiri, Sayang?" tanya Matteo yang tiba-tiba memeluk Mia dari belakang. Apa yang dilakukannya telah berhasil membuat sang istri menjadi sangat terkejut.
"Astaga, Theo!" protes Mia seraya menoleh kepada suaminya yang kini sudah mulai membiasakan dirinya memasang senyuman lebar, terlebih karena ia sudah terlepas dari arm sling yang selama ini telah mengikat kebebasannya. "Kenapa kau suka sekali mengejutkanku?" protes Mia lagi dengan mimik kesal. Ia lalu mencubit pinggang Matteo dengan gemas.
"Karena aku senang saat melihatmu marah ...." Matteo terdiam. Ia tidak melanjutkan kata-katanya, ketika melihat Mia mendelik tajam ke arahnya. "Maksudku ... tentu saja marah yang menggemaskan," ralat pria itu seraya mengenakan jaket. Sedangkan Mia kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat terganggu.
"Apa kau akan pergi, Theo?" tanya Mia kemudian. Ia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Wanita berambut panjang tersebut, melepas apron kemudian menggantungnya dengan rapi.
"Ya. Aku akan pergi ke bengkel sebentar. Sudah lama aku tidak ke sana," jawab Matteo. Ia mengeluarkan kaca mata hitam dari saku jaket dan memeganginya. "Aku tidak akan lama," lanjut Matteo seraya mendekat ke arah Mia. Ia bermaksud untuk mencium wanita itu. Akan tetapi, Matteo harus mengurungkan niatnya karena saat itu seorang pelayan masuk ke dapur.
"Oh, maaf. Saya tidak tahu jika ...." pelayan itu bermaksud untuk kembali, tapi tak jadi karena Matteo segera berpamitan kepada Mia, yang saat itu hanya terdiam menatap kepergian Matteo. Ia tampak memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, Mia bergegas keluar dari dapur, dan berlari ke halaman Casa de Luca untuk mengejar sang suami.
"Theo!" panggil Mia dengan suara yang cukup nyaring, membuat Matteo yang saat itu hendak masuk ke mobil menjadi tertegun dan menoleh. Ia menatap Mia yang tengah berjalan ke arahnya.
"Kenapa, Mia?" tanyanya dengan ekspresi yang sedikit nakal. "Kita bisa melanjutkannya nanti," ujar Matteo membuat Mia tersipu.
"Bukan itu," bantah Mia pelan seraya memainkan kedua bola matanya.
"Lalu?" Matteo mengernyitkan keningnya.
Mia menatap sang suami yang saat itu terlihat begitu tampan dengan kaca mata hitamnya. Ia lalu tersenyum. "Bolehkah aku ikut denganmu?" pinta Mia dengan agak ragu. Ia takut jika Matteo akan menolaknya. "Aku merasa bosan seharian berada di sini tanpa melakukan apapun. Lagi pula Francy sedang pergi, sementara Dani selalu sibuk sendiri," ucapnya manja.
"Ya ampun, Mia. Kau mengatakan tidak melakukan apapun? Dengar, Sayang. Kau sudah terlihat sangat sibuk sejak pagi hingga siang ini. Satu-satunya yang belum kau lakukan hanyalah memandikanku," goda Matteo membuat Mia melotot ke arahnya. Ia melihat ke sekeliling karena takut jika ada yang mendengar percakapan mereka.
"Jadi?" tanya Mia.
"Jadi?" Matteo kembali mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Apa kau bersedia mengajakku?" tanya Mia lagi dengan penuh harap. Saat itu sikapnya terlihat begitu manja.
Matteo berpikir untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia lalu menuntun Mia menuju pintu mobilnya yang sebelah kanan. Matteo membukakan pintu itu dan mempersilakan Mia untuk masuk. Dengan wajah yang sangat antusias, Mia segera masuk dan duduk di dalam mobil. Ia juga memasang sabuk pengamannya tanpa harus diingatkan oleh Matteo. Beberapa saat kemudian, Matteo segera menjalankan mobilnya dan mulai meninggalkan halaman luas Casa de Luca.
Perjalanan dari Casa de Luca menuju bengkel tempat perakitan senjata milik Matteo, hanya memakan waktu sekitar satu jam saja. Tak berselang lama, mereka telah tiba di tempat tujuan. Matteo segera keluar dari mobil. Tak lupa ia juga membukakan pintu untuk Mia. Segera diraihnya pergelangan tangan sang istri, dan dituntunnya untuk memasuki bengkel yang sudah cukup lama tidak ia kunjungi.
Matteo membuka pintu besi yang menjadi satu-satunya akses masuk ke bengkel tersebut. Ia membawa Mia menuruni tangga. "Hati-hati dengan langkahmu," ucapnya seraya menuntun sang istri saat meniti satu per satu anak tangga tersebut, terlebih karena suasana di sana yang cukup gelap.
"Apakah di sini suasananya selalu temaram? Aku seperti berada di dalam gua," ujar Mia ketika mereka tengah berjalan menuju sebuah ruangan lain dari bengkel itu.
Matteo segera menyalakan lampu di ruangan tersebut. Seketika, ruangan yang tadinya gelap gulita kini menjadi terang-benderang karena sorotan tiga buah lampu berwarna putih susu yang tergantung pada langit-langit tepat di bawah meja. Mia mulai mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan dengan banyak rak dan lemari besi yang menempel di dinding. Di sana tersusun dengan rapi berbagai peralatan yang biasa Matteo gunakan untuk merakit berbagai senjata, termasuk senapan andalannya.
"Ini tempat favoritku, Mia. Jauh sebelum mengenalmu, aku sering menghabiskan waktu di sini bersama keempat anak buahku. Namun, kini mereka semua telah tiada. Mereka semua tewas di hadapanku. Sayangnya, hanya Luigi yang sempat kuberikan penghormatan terakhir. Aku bahkan mencukur rambut setelah kematiannya," tutur Matteo dengan setitik penyesalan di wajahnya.
"Aku tahu seperti apa rasanya kehilangan orang-orang yang kita cintai," balas Mia seraya menyentuh lengan Matteo dengan lembut, membuat pria itu menoleh kepadanya dan tersenyum simpul.
"Aku telah kehilangan banyak orang yang kucintai, Mia. Karena itulah, aku tidak akan membiarkan kau pergi. Kau menjadi hal pertama yang akan selalu kupertahankan, meskipun aku harus membunuh ribuan nyawa demi dirimu ...."
"Anak-anak?" ulang Matteo dengan nada ragu. Ia lalu memijit pangkal hidungnya dan tampak sedikit gusar.
Mia dapat merasakan ketidaknyamanan Matteo saat membahas masalah itu. Ia merasa jika Matteo sepertinya belum berpikir ke arah sana. "Kenapa, Theo? Jangan katakan jika kau tidak tertarik untuk memiliki anak," tukas Mia.
"Tentu saja aku ingin punya anak, Sayang. Namun, untuk saat ini terus terang saja aku belum berpikir ke arah sana. Aku ingin menikmati kebersamaan kita terlebih dahulu. Hanya berdua," jelas Matteo.
"Baiklah," sahut Mia. "Kalau begitu, maukah kau mengajariku menembak?" wajah Mia tampak sedikit berharap, tapi justru membuat Matteo mengernyitkan keningnya saat mendengar hal itu.
"Kau pernah mencoba untuk menembakku. Jika aku mengajarimu, apakah itu tidak akan menjadi sebuah ancaman bagiku?" guraunya.
__ADS_1
Mia tertawa pelan mendengar ucapan Matteo. "Ya, Tuhan. Sejak kapan Matteo de Luca merasa takut pada seorang wanita," ledek Mia seraya menggelengkan kepalanya dengan rona tidak percaya. Hal itu tentu saja telah membuat Matteo merasa tak terima sekaligus tertantang. Segera, ia membuka brankas besi tempatnya menyimpan senjata yang telah ia rakit. Matteo kemudian mengambil sebuah senjata laras panjang dan memamerkannya kepada Mia.
"Mari kita lihat, seberapa cepat sang ratu belajar menembak," tantangnya dengan sebuah senyuman yang penuh godaan, membuat Mia tersipu karenanya. Matteo kemudian mengajak Mia kembali ke atas. Mereka berjalan menuju tanah lapang yang terletak tepat di sebelah bengkel tersebut. Setelah itu, Matteo memposisikan Mia untuk berdiri di titik yang telah ia tentukan.
Dari jarak sekitar lima ratus meter, Mia dapat melihat sebuah objek yang akan menjadi sasaran tembaknya. Matteo memberinya penjelasan untuk sesaat, sebelum ia menyerahkan senjata yang dipegangnya.
"Baiklah, Nona. Mari kita mulai pelajaran pertama sebelum kau menggunakan senapan ini," Matteo berkata dengan lagaknya yang bak seorang guru. Ia lalu menyodorkan senapan itu kepada Mia yang seketika terkejut. Wanita berambut cokelat tersebut hampir menjatuhkan senjata itu. Mia tidak menyangka ternyata senapan tadi begitu berat. Sedangkan Matteo hanya tertawa melihatnya. "Payah. Kau bahkan tidak sanggup untuk memegangnya," ejek pria itu membuat Mia mendelik tajam ke arahnya.
"Hey! Aku tidak tahu jika ternyata sangat berat," protes Mia. Namun, sesaat kemudian ia memaksakan dirinya untuk mengangkat senjata itu dan memposisikan senapan tersebut meskipun dengan agak susah payah. Sementara Matteo kembali melanjutkan penjelasannya.
"Baiklah, Sayang. Kau lihat target di depan sana?" tunjuk Matteo pada sebuah target berbentuk manusia. "Bidiklah menggunakan mata dominanmu. Jangan membidik dengan kedua mata, karena itu merupakan cara yang tidak mungkin dilakukan. Mata dominanmu, merupakan mata yang menunjukan gambar paling akurat jika dibandingkan dengan mata yang tidak dominan," terang Matteo. Mia pun melakukan hal itu meski ia belum terlalu memahaminya.
"Setelah itu, sejajarkan bagian depan dan belakang hingga kau merasa nyaman untuk membidik. Ketika kau membidik dengan menggunakan senapan, posisi titik pembidik depan harus berada di tengah, di antara dua titik pembidik belakang," lanjut Matteo lagi seraya membantu Mia memposisikan apa yang ia terangkan barusan.
"Selanjutnya, fokuskan matamu pada senapan. Saat kau membidik dengan pistol, kau perlu melihat pada pembidik belakang, pembidik depan dan target. Secara fisik tidaklah mungkin matamu dapat fokus terhadap tiga objek dalam satu waktu. Lain halnya saat kau membidik dengan senapan. Kau harus memastikan bahwa matamu terfokus pada pembidik senapan dan bukan pada target," lagi, Matteo kembali memberikan penjelasannya kepada Mia dan membuat wanita itu menjadi semakin tidak memahami maksud dari kata-katanya. Namun, Mia tetap melanjutkan niatnya untuk belajar menembak.
"Setelah itu, tentukan titik sasaranmu. Terdapat tiga titik untuk membidik. Tidak ada pilihan mana yang lebih baik di antara ketiganya, jadi kau perlu untuk mencobanya agar mengetahui mana yang paling cocok denganmu. Berkonsentrasilah. Kecerobohan dalam membidik akan menghasilkan tembakan yang tidak akurat. Sekarang silakan lakukan, Sayang," Matteo berdiri di belakang Mia. Ia seperti tubuh pelapis bagi wanita itu. Dengan telaten, Matteo mengarahkan Mia pada sasaran tembaknya.
Mia mulai menarik pelatuk senapan tersebut. Ia begitu terkejut ketika terdengar bunyi dari letusan senjata yang baru saja ia lesatkan. Dengan rona yang terlihat gugup, ia melirik wajah Matteo yang saat itu berada tepat di sebelah kanannya. Matteo yang saat itu menyadari tatapan sang istri, segera menoleh dan membalas lirikan tersebut. Wajah mereka begitu dekat, sehingga mereka dapat mendengar dan saling merasakan hembusan napas masing-masing. Tanpa banyak basa-basi, Matteo segera menyentuh bibir red cherry Mia dan melanjutkan sesuatu yang tadi terjeda saat mereka berada di dapur.
🍒
🍒
🍒
Yuhu, jangan ganggu Matteo dan Mia. Lebih baik baca novel keren di bawah ini dulu, pasti suka. Jangan lupa. Grazie.
__ADS_1