
Matteo menatap kepada Coco. Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya terhadap Damiano yang masih terlihat tenang. Instingnya mengatakan jika ada sesuatu yang tak beres saat itu. “Kenapa kau hanya tertawa? Katakan padaku ada apa!” Matteo memasang wajah serius, membuat Coco seketika terdiam.
“Seperti yang sudah kujelaskan tadi, Amico. Aku menyuruhnya mematai-matai rekan bisnismu. Aku harap kau tidak tersinggung karena aku melakukan hal itu,” jelas Coco tenang.
“Lalu?” Matteo masih terlihat tidak puas dengan jawaban sahabatnya tersebut.
“Aku hanya merasa heran, karena dengan mudahnya Coco mengeluarkan seratus ribu euro untuk pria itu,” sela Damiano yang membuat Coco segera menoleh kepadanya.
“Kenapa kau harus merasa heran, Damiano? Bukankah kita memiliki Matteo? Baginya nominal sebesar itu bukan hal yang terlalu berat. Iya kan, Amico?” ragu Coco melirik Matteo yang saat itu melotot tajam padanya.
“Sudah kuduga,” gumam Damiano seraya mengusap wajahnya.
“Seandainya aku tidak menyayangimu, mungkin saat ini juga kau sudah kulempar ke dalam Danau Iseo,” gerutu Matteo jengkel.
“Ayolah, Kesayanganku. Seratus ribu Euro mungkin cuma penghasilan bersihmu selama seminggu,” bujuk Coco sambil berpindah tempat duduk ke samping Matteo. Ia memegangi lengan Matteo dan memasang wajah memohon.
“Kau telah menaruhku dalam posisi berbahaya, Coco. Untuk apa aku memata-matai D’Angelo setelah semua yang ia lakukan padaku? Jika ketahuan, maka aku sudah memantik perang terbuka dengan Tigre Nero,” ujar Matteo seraya berdecak tak percaya.
“Mereka tidak akan tahu kalau kau memata-matainya, Amico. Tenang saja. Bukankah kita menggunakan Stefano, orang luar yang tak ada sangkut pautnya dengan klan de Luca? Aku akan mengatur strategi agar Stefano tidak menyadari bahwa apa yang akan ia lakukan itu berhubungan dengan organisasimu. Aku akan menggunakan alasan pribadiku untuk menutupinya,” jelas Coco panjang lebar.
“Bagaimana caranya?” lambat laun, Matteo mulai tertarik dengan penuturan sahabatnya itu.
“Aku akan mengatakan kepada Stefano bahwa diriku membutuhkan informasi tentang ketua organisasi Tigre Nero untuk membalas dendam pribadiku. Anggap saja pria tampan bernama Adriano itu ada hubungannya dengan kematian orang tuaku. Stefano tak akan mencurigainya jika aku memakai alasan tersebut. Dengan demikian, organisasi de Luca akan aman dari tuduhan,” Coco menyeringai lebar. Tersirat rasa bangga pada wajahnya yang mampu mencetuskan ide sebrilian itu.
“Tunggu sebentar!” potong Damiano yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan penuturan Coco. “Sampai saat ini, aku belum menemukan jawaban untuk apa kalian berniat memata-matai Adriano?” tanyanya kemudian membuat Coco tergagap. Jelas ia tak akan mengatakan bahwa dirinya mencurigai Adriano telah berbuat sesuatu terhadap Mia. “Yang jelas, perasaanku mengatakan bahwa aku harus mengawasi partner bisnis Matteo yang satu itu. Lagi pula, tidak ada salahnya untuk selalu waspada supaya tidak terjadi lagi peristiwa seperti halnya Silvio dulu,” kilah Coco.
“Baiklah, kalau begitu, Nak. Kupercayakan segala urusan kepada kalian. Kuharap, semua keputusan yang kalian ambil telah melalui berbagai pertimbangan,” Damiano menepuk pundak Coco, lalu berpindah pada Matteo. Setelah itu, ia memilih untuk pergi ke perkebunan.
Sepeninggal Damiano, kedua pria itu saling terdiam sampai Francesca hadir di antara mereka. “Ricci, aku mencarimu,” panggilnya manja.
“Ada apa, Sayang?” seketika senyum cerah terkembang dari wajah tampan Coco. Terlebih saat Francesca mengambil tempat duduk tepat di sampingnya. Sementara Matteo berpindah ke seberang dua sejoli itu sambil mengamati mereka.
“Ada nomor tak dikenal menghubungiku berkali-kali. Aku tak berani mengangkatnya,” Francesca mengarahkan ponselnya di depan wajah Coco.
“Sepertinya aku tahu nomor ini,” Coco menautkan alis sambil memencet tombol panggil. Ia mencoba untuk menghubungi nomor tersebut. Hanya beberapa kali nada sambung, seseorang di seberang sana langsung mengangkatnya. Belum sempat ia mengucapkan ‘halo’, seseorang itu sudah berbicara dengan nada mengejek.
“Kau penakut juga rupanya, ya,” ujarnya.
__ADS_1
Coco hapal betul dengan suara itu. Ia mengetatkan rahangnya demi menahan emosi. “Dari mana kau tahu nomor kekasihku, Luce!” geramnya.
Seseorang yang tak lain adalah Lucia, terdiam. Ia tak menyangka jika Coco lah yang menjawab teleponnya. “Kau tak perlu tahu!” sentaknya.
“Apa lagi maumu?” tanya Coco dengan nada suara yang masih tinggi.
Alih-alih menjawab, Lucia malah memutus sambungan telepon, membuat Coco semakin kesal dibuatnya. “Gadis gila!” umpatnya.
“Sebaiknya kau hubungi nomor itu lagi dan katakan bahwa kau sudah memberi sejumlah uang pada kakaknya, untuk melunasi semua utang-utang mereka,” saran Matteo.
“Ide bagus,” puji Coco sembari kembali memencet nomor yang baru saja ia hubungi. Berkali-kali nada sambung, tetapi Lucia tak jua mengangkatnya.
“Kirim pesan saja,” ucap Francesca, yang segera dituruti oleh Coco. Ia mengetikkan kalimat sama persis seperti yang diucapkan oleh Matteo beberapa menit yang lalu.
Cukup lama mereka bertiga menunggu balasan dari pesan itu, hingga setengah jam berlalu. “Lucia sudah membaca pesannya, tapi tak berniat membalas,” Coco terlihat was-was. Ia menyugar rambutnya untuk menutupi rasa gugup dan khawatir.
“Apa gadis itu akan bertindak nekat?” tanya Francesca terlihat resah.
“Tidak apa-apa, Dolcezza mia (manisku). Selama ada aku, kau akan selalu aman,” jawab Coco seraya menempelkan bibirnya pada bibir Francesca lalu melunatnya dengan penuh perasaan.
Di dalam kamar, Mia terbangun dan tak mendapati Matteo di dekatnya. Perlahan, ia beringsut ke tepi ranjang dan turun dari sana. Mia berniat membuka pintu untuk keluar kamar, tapi Matteo sudah lebih dulu masuk dan tersenyum kepdanya.
“Kau sudah bangun, Cara mia? Sebentar sekali tidurmu?” tanya Matteo lembut.
“Aku tidak bisa tidur nyenyak jika kau tak ada di sisiku,” jawaban sekaligus rayuan Mia lontarkan terhadap sang suami. Ia juga mengecup lembut bibir Matteo.
Pria bermata abu-abu itu tertawa lebar. Wajahnya terlihat begitu bahagia. “Aku sangat menyukai ciumanmu,” Matteo berniat membalas ciuman Mia. Bibirnya sudah menyentuh bibir ranum kemerahan itu. Akan tetapi, ketukan kencang di pintu membuat Matteo harus mengurugkan niatnya. Dengan malas, ia bergerak ke arah pintu dan membukanya.
Seorang pelayan berusia belia, setengah membungkuk sebagai tanda hormat kepada Matteo. “Maaf, Tuan. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda,” ucap pelayan itu sopan.
“Siapa?” tanya Matteo datar.
“Detektif Fabrizio Ranieri. Beliau sudah menunggu di ruang tamu,” tutur pelayan itu lagi penuh hormat.
Matteo terkesiap, kemudian saling pandang dengan Mia.
“Untuk apa ia datang lagi kemari? Bukankah masalah kalian sudah beres, Theo?” raut khawatir terlihat begitu kentara di wajah cantik Mia.
__ADS_1
“Hei, tidak apa-apa, Sayang. Jangan khawatir. Tidak akan terjadi apapun. Tenanglah,” Matteo menangkup wajah Mia dengan kedua tangan. Sebisa mungkin ia memenangkan sang istri agar gangguan kecemasannya tidak kambuh.
“Aku ikut,” Mia segera mencekal lengan suaminya sesaat sebelum Matteo beranjak keluar dari kamar.
“Baiklah,” penuh kelembutan, Matteo mengurai jemari Mia yang memegang erat-erat lengannya. Ia lalu mengecup punggung tangan istrinya berkali-kali kemudian menggandengnya, mengikuti langkah si pelayan menuju ruang tamu. Dalam hati, Matteo sedikit mengeluh. Baru saja ia memasuki kamar, tapi dirinya harus keluar lagi.
Di ruang tamu bergaya Tuscany, detektif Ranieri sudah sigap berdiri, menyambut kedatangan Matteo. “Selamat sore menjelang petang, Tuan de Luca,” sapanya.
“Apa ada yang bisa kubantu, Detektif?” tanya Matteo tanpa basa-basi. Rautnya terlihat datar tanpa ekspresi.
“Ah, saya hanya sekadar mengabarkan kepada Anda bahwa Ernesto Homar kami bebaskan dari segala tuntutan dan dakwaan, karena tidak adanya cukup bukti,” jawab detektif Ranieri.
“Oh, begitu. Baiklah,” Matteo melirik Mia yang berdiri di sampingnya, sebelum kembali menatap detektif Ranieri.
“Anda tidak keberatan?” pancing detektif itu seraya mengangkat kedua alisnya.
“Tentu saja tidak. Aku sepenuhnya percaya kepada Anda,” tutur Matteo tenang.
“Jangan khawatir, Tuan de Luca. Kasus ini tetap dibuka sampai aku benar-benar menemukan pelakunya. Aku bersumpah untuk tidak akan menyerah demi keadilan atas nyawa Tuan Roberto dan Nyonya Gabriella de Luca. Mereka adalah orang-orang baik dan panutan,” tegas detektif Ranieri.
“Aku sangat menghargai dan mendukung usaha Anda, Detektif. Aku juga berterima kasih atas perjuangan Anda untuk kedua orang tuaku,” sambut Matteo dengan suara bergetar.
“Distrik ini berutang banyak pada keluarga Anda, Tuan. Tidak hanya masa sekarang, bahkan kakek-nenek kami semua juga berutang pada nama besar de Luca,” ujar detektif Ranieri.
“Masih teringat jelas, kakek buyut Anda yang menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk mendukung gerakan revolusi,” imbuhnya lagi. Sementara Matteo hanya tersenyum samar. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
__ADS_1