Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Hurt


__ADS_3

Mia terus melangkahkan kaki di atas jalanan kota Brescia. Tatapan matanya tampak sayu. Ia tak tahu akan ke mana petang itu. Wanita bermata cokelat tersebut, merasa malas untuk pulang ke Casa de Luca, sementara gelap sudah mulai menyelimuti kota.


Sesaat kemudian, sebuah super car berwarna merah berhenti tak jauh darinya. Seorang pria yang kini tak asing lagi bagi Mia, keluar dari mobil mewah tersebut. Ia dengan setengah berlari kecil menghampiri Mia yang tak menyadari kehadirannya. "Nyonya de Luca!" panggil pria yang tak lain adalah Adriano D'Angelo. Ia kini berada beberapa langkah di belakang Mia yang saat itu tertegun dan menoleh. Adriano pun mempercepat langkahnya, hingga ia akhirnya berada tepat di belakang wanita muda itu.


"Tuan D'Angelo? Anda di sini?" Mia mengernyitkan keningnya.


Adriano tersenyum kalem. "Ya. Ini hari keduaku di Brescia, tapi aku belum sempat mampir ke Casa de Luca," terang Adriano tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Mia, yang petang itu terlihat begitu memesona dalam balutan dress bodycon lengan tiga per empat. "Di mana Tuan de Luca?" tanya Adriano seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Ia merasa heran karena melihat Mia hanya sendirian di sana.


Mia tampak enggan menjawab pertanyaan dari Adriano. Ia hanya menyunggingkan sebuah senyuman samar di bibir red cherry yang terlihat begitu ranum dan menggoda bagi pria itu. "Suamiku sedang sibuk. Ia harus menemui seorang investor yang menawarkan kerja sama dengannya," jawab Mia dengan sorot mata yang mengisyaratkan bahwa ia sedang merasa tidak nyaman.


Adriano seakan dapat menangkap sesuatu yang tak biasa dari bahasa tubuh Mia. Sebagai pria yang telah berpengalaman dengan banyak wanita, ia tahu jika saat itu Mia pasti tengah berada dalam situasi yang tidak enak. Untuk sesaat, diperhatikannya dengan saksama raut wajah Mia yang tak secerah biasanya. "Bagaimana jika kutraktir minum?" tawarnya setelah beberapa saat terdiam.


"Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin mencari udara segar," tolak Mia dengan halus.


"Sekarang sudah mulai gelap. Tak baik wanita sepertimu berada di luar sendirian. Mari kuantar pulang," Adriano kembali menawarkan diri untuk melakukan sesuatu yang sekiranya dapat menghibur hati Mia, meskipun ia yakin jika Mia pasti akan menolaknya mentah-mentah.


Mia terdiam untuk beberapa saat. Pikiran yang dipenuhi dengan kekalutan akibat cemburu buta terhadap sang suami, membuatnya menyetujui tawaran dari Adriano. Ia pun mengangguk pelan. Sungguh, itu merupakan sesuatu yang di luar dugaan. Hal tersebut telah membuat Adriano tersenyum lebar. Ia segera mengajak Mia menuju mobil mewahnya. Dengan antusias, pria berparas rupawan itu membukakan pintu mobil, untuk wanita yang selama ini telah membuatnya dilanda rasa gelisah yang tak kunjung reda.


Mia duduk manis di dalam mobil mewah Adriano. Tangannya mencengkeram erat tas selempang kecil yang kini ia letakan di atas pangkuannya. Sementara Adriano mulai menjalankan kendaraan mahal itu dengan wajah berseri. "Aku akan mengantarkanmu ke Casa de Luca," ucapnya seraya melirik Mia untuk sesaat.


"Aku sedang tidak ingin pulang," sahut Mia pelan, tapi memberikan sebuah harapan besar bagi Adriano. Ia seakan tahu harus membawa Mia ke mana. Diarahkannya kendaraan itu menuju jalur yang sebaliknya. Sedangkan Mia masih terdiam, bahkan hingga Adriano memarkirkan mobilnya di sebuah gedung apartemen mewah tiga puluh lantai.

__ADS_1


Kosong, Mia tak punya pikiran apa-apa ketika Adriano membukakan pintu dan mengajaknya berjalan menuju lift, hingga akhirnya mereka kini berada di lantai tertinggi bangunan itu. "Silakan masuk, Nyonya de Luca. Aku baru membeli tempat ini sekitar satu minggu yang lalu. Bagaimana menurutmu?" tanya Adriano dengan raut wajahnya yang tampak sangat bahagia.


Mia tersenyum lembut seraya menoleh kepada Adriano. Sesaat kemudian, ia melangkah ke dekat kaca jendela dengan ukuran yang cukup besar. Mia berdiri di sana. Ia seakan dapat melihat seluruh kota Brescia dari dalam ruangan itu. "Indah sekali," gumamnya pelan. Tatapannya terus menerawang menembus suasana kota yang mulai diselimuti warna pekat.


Tanpa Mia sadari, Adriano telah berdiri di dekatnya. "Memang sangat indah. Apakah Anda sudah menerima lukisan yang kukirimkan?" tanya pria itu pelan, sedangkan tatapannya sejak tadi terus tertuju kepada Mia, yang saat itu menggangguk pelan demi menanggapi pertanyaan Adriano. "Itu lukisan yang sangat luar biasa," puji Mia pelan.


"Kau ingin minum sesuatu?" tawar Adriano lagi. Sedangkan Mia segera menggeleng. Ia lalu kembali menjaga jarak dari pria tersebut dan memilih untuk duduk di atas sofa.


Adriano paham dengan sikap yang ditunjukkan Mia padanya. Ia tahu jika wanita itu bukanlah seseorang yang akan merasa nyaman berada di dekat pria yang bukan pasangannya. Adriano dapat menghargai hal itu, dan justru hal tersebutlah yang telah membuatnya begitu tertarik kepada sosok Mia de Luca. "Apa Anda ingin beristirahat sekarang? Aku bisa mengantarkanmu ke kamar tamu. Setelah itu Anda bisa mengunci pintu kamarnya dari dalam, agar tak ada yang mengganggu," tawar Adriano lagi.


Mia tampak tidak terlalu nyaman saat itu. Namun, dirinya merasa sangat lelah. Sepertinya ia memang butuh istirahat. Mia kemudian mengangguk setuju. Ia segera mengikuti langkah Adriano yang membawanya ke sebuah kamar yang akan ia tempati malam itu.


Adriano membukakan pintu kamar tersebut dan mempersilakan Mia untuk masuk. "Buona notte. Buon riposo, Signora de Luca (Selamat malam. Selamat beristirahat, Nyonya de Luca)," ucap Adriano sambil terus berdiri di pintu kamar tersebut.


Sementara itu, Matteo baru kembali ke Casa de Luca sekitar pukul sepuluh malam. Ia mencari Mia ke mana-mana, tapi nyatanya sang istri tak juga ditemukannya. Matteo kemudian mencoba menghubungi ponsel Mia, tapi sayangnya ternyata nomor yang ia hubungi berada di luar jangkauan. Matteo pun bergegas keluar. Di pintu masuk, ia berpapasan dengan Nico yang saat itu terlihat cemas.


"Tuan," sapa Nico dengan gugup. Sudah dapat dibayangkan hukuman apa yang akan ia terima dari Matteo akibat kelalaiannya.


Matteo yang saat itu melihat gelagat aneh dari Nico, seketika merasa curiga. Ia menatap tajam pemuda itu. "Di mana Mia?" tanyanya dengan penekanan suara yang sangat dalam, dan membuat Nico merasa semakin terintimidasi karenanya. Pemuda itu pun menunduk takut dengan kedua tangan yang letakan di bagian depan tubuhnya.


"Di mana Mia!" tanya Matteo lagi dengan nada yang seketika meninggi, membuat jantung Nico semakin berpacu. Rasa takut membuat bibirnya terasa kelu. Ia kesulitan untuk bicara saking gugupnya. Untung saja, karena saat itu Damiano datang menghampiri mereka. Ia yang kebetulan akan pergi ke dapur, mendengar suara keras Matteo.

__ADS_1


"Ada apa, Nak?" tanya pria bermata hijau itu dengan nada bicaranya yang selalu terdengar lembut.


"Mia menghilang, Damiano," jawab Matteo tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari sang sopir pribadi.


"Bagaimana bisa?" Damiano mengernyitkan keningnya. Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Nico yang masih tampak ketakutan. Dengan segera pria itu menyentuh bahu pemuda tersebut. "Tenangkan dirimu, Nic," ucapnya lembut. "Katakan, apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Damiano dengan nada yang terdengar jauh lebih tenang, membuat Nico merasa sedikit aman. Pemuda itu pun mengangguk pelan.


"Bicaralah!" titah Matteo masih dengan sorot dan nada bicaranya yang tegas.


"Begini, Tuan," Nico mulai bersuara. "Siang tadi, nyonya meminta saya untuk mengantarkannya ke restoran yang biasa menjadi langganan tuan dan nyonya besar. Namun, sampai petang saya menunggunya, ternyata nyonya tidak kembali. Saya sempat mencarinya ke dalam, tapi nyonya tak ada di sana. Maafkan kelalaian saya, Tuan," Nico tak berani mengangkat wajahnya di depan Matteo yang saat itu benar-benar terkejut mendengar penjelasan dari Nico.


Tanpa banyak bicara, Matteo segera berlari menuju mobil jeepnya yang masih terparkir di halaman Casa de Luca. Ia bergegas menjalankan mobil itu dan pergi dari sana. Sementara Damiano hanya terheran-heran melihat sikap dari putra asuhnya tersebut.


Matteo menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Matanya dengan lincah menangkap setiap pergerakan di sepanjang jalan yang ia lewati. Entah ke mana ia akan mencari Mia saat itu. "Sial!" gerutunya kesal. Ia tahu jika Mia pasti melihatnya dengan Camilla siang tadi. Matteo yakin bahwa Mia telah salah paham kepadanya. "Di mana kau, Mia?" lirih Matteo dengan raut cemas.


🍒


🍒


🍒


Sementara Matteo sibuk mencari Mia, yuk kita intip dulu rekomendasi novel keren di bawah ini.

__ADS_1



__ADS_2