
Damiano mengetuk pintu ruang kerja yang kini telah menjadi milik Matteo. Tanpa harus menunggu jawaban dari dalam, pria paruh baya itu segera masuk. Dilihatnya Matteo tengah berdiri di dekat jendela. Tatapan pria muda itu menerawang jauh hingga ke ujung perkebunan luas, yang mengelilingi bangunan megah tersebut.
"Anakku," sapa Damiano dengan aksen Italia-nya yang begitu kental.
Matteo segera menoleh. Ia lalu mengeluarkan tangan kanan yang sejak tadi tersembunyi di dalam saku celana jeans-nya. Matteo kemudian beranjak menghampiri pengasuh sekaligus orang kepercayaannya selain Coco. "Urusanmu di perkebunan sudah selesai?" tanya Matteo seraya berdiri dengan setengah bersandar pada tepian meja kerjanya. Sementara Damiano, memilih untuk duduk dan menikmati segelas anggur. Pria itu mengela napas dalam-dalam.
"Akhir bulan ini kita akan panen besar, Nak. Ini berita bagus. Setelah itu, kita akan mengirimkan anggur-anggur hasil sortiran ke pabrik untuk diolah," terang Damiano seraya meneguk minumannya. Sesekali ia menggerak-gerakkan ujung kakinya yang dibalut sepatu hitam. Damiano terlihat begitu tenang menikmati anggur di tangannya sambil menyilangkan kaki. Sementara Matteo tampak sedang berpikir.
"Ada apa, Nak? Bukankah tadi kau mengatakan ingin bicara denganku?" tanya Damiano yang mulai penasaran saat melihat sikap Matteo. Pria muda berambut gondrong itu melayangkan tatapannya kepada sang pengasuh setia. Ia masih sedikit bingung untuk memulai pembicaraan tersebut. Namun, bagaimanapun juga Matteo harus meminta pendapat dari pria yang telah menjadi ayah kedua baginya.
"Ya, Damiano. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu. Semua ini berhubungan dengan Klan de Luca dan kejayaannya," jawab Matteo. Ia meletakkan kedua tangannya di samping. Jemarinya meremas erat pinggiran meja kayu yang menjadi sandarannya.
"Apa itu, Nak? Bicaralah! Aku pasti akan mendengarkanmu dengan baik," ujar Damiano.
Matteo kemudian menghampiri pria yang masih menikmati anggur di dalam gelas kristal kecil yang digenggamnya. Ia lalu duduk pada kursi berlengan kayu, yang terletak tidak jauh dari kursi yang diduduki oleh Damiano. "Semalam aku berbicara dengan Paman Antonio. Ia mengatakan sesuatu yang membuatku berpikir keras. Sesuatu yang berkaitan dengan kejayaan Klan de Luca," ucap Matteo pelan. Ia memulai perbincangannya dengan Damiano.
Mendengar hal itu, Damiano segera membetulkan posisi duduknya. Ia mulai merasakan sesuatu yang tidak baik. Raut wajah dengan beberapa kerutan itu tampak serius. "Apa yang ia katakan, Nak?" tanya Damiano.
"Ia menyarankan agar aku mendatangi daerah tenggara dan menawarkan kerja sama dengan gembong mafia di sana yang bernama Roccia Nerra," jawab Matteo dengan sorot matanya yang datar.
"Untuk apa ia menyarankanmu seperti itu? Kau tahu jika mereka berada dalam kekuasaan Moriarty. Tidak, Nak! Aku mencium sesuatu yang tidak baik!" Damiano menggelengkan kepalanya seraya meletakan gelas kecil yang ia pegang di atas meja. "Jangan membuat masalah lagi dengan Moriarty. Kau tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika sampai ia mengetahui pergerakanmu," saran pria bermata hijau itu.
"Aku tahu itu. Akan tetapi, jika rencana ini sampai berhasil, maka kita akan mendapat satu sekutu baru. Sementara Moriarty kehilangan satu wilayah kekuasaannya," bantah Matteo.
"Dengar, Nak. Roccia Nerra memang hanya sebuah kelompok kecil jika dibandingkan dengan de Luca ataupun Moriarty. Namun, pemimpin kelompok itu terkenal sangat brutal. Ada banyak kasus kekerasan hingga pembunuhan yang telah dilakukannya," papar Damiano membuat Matteo menyunggingkan senyuman sinis. Ia seakan menyepelekan ucapan pria itu.
"Jika Moriarty mampu membuatnya tunduk, maka aku pun bisa melakukan hal yang jauh lebih dari itu," ujar Matteo dengan penuh percaya diri. "Aku ingin membawa kejayaan kembali pada Klan de Luca. Aku tidak ingin kita dikalahkan oleh Klan Moriarty," tegasnya lagi.
Damiano mengela napas pelan. "Aku paham, Anakku. Namun, akan lebih baik jika kita bergerak dengan lebih hati-hati. Terlebih setelah aku mendengar ceritamu tentang pria-pria bertato lambang de Luca. Menurutku, sebaiknya untuk saat ini kau lakukan pembenahan dulu dalam organisasi internal kita. Barulah kau memikirkan untuk melakukan kerja sama atau apapun itu,” tuturnya.
Matteo tercenung. Kalimat Damiano telah menyadarkannya. “Kau benar, Damiano. Seharusnya aku lebih fokus pada satu hal dan tidak terpecah dengan hal lain. Bagaimana bisa aku melupakan tujuan awalku untuk menemukan pengkhianat yang telah menghancurkan hidupku dan Mia,” geramnya sambil bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati Damiano. Ditepuknya pundak pria itu, “Terima kasih,” ucap Matteo.
“Sudah menjadi kewajibanku untuk terus mengingatkanmu, Anakku,” balas Damiano lega.
__ADS_1
“Aku .…” Matteo tak melanjutkan kalimatnya ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Coco tertera di layar. “Aku harus menjawab panggilan ini,” gumamnya pada Damiano seraya menjauh dari pria itu.
“Amico ….” terdengar lirih suara Coco di seberang sana.
“Apa ada masalah dengan bengkelmu, Sobat? Apa anak buahku kurang cermat dalam merapikannya?” tanya Matteo.
“Tidak. Bukan itu. Tidak ada masalah dengan bengkelku, dan bukan itu pula yang ingin kubicarakan. Aku ingin menceritakan padamu tentang Mia,” terang Coco.
“Ada apa dengannya? Apa dia menyayat nadinya lagi?” tanya Matteo. Raut cemas begitu terlihat dari wajah rupawannya. Damiano mengamati itu semua tanpa berkedip. Sosok Matteo yang dingin dan tertutup, menjadi sangat berbeda setiap kali nama gadis itu disebut.
“Lebih parah dari itu. Gadismu mengalami depresi. Ia sangat ketakutan melihatku. Aku tak bisa membayangkan jika kau berencana menemuinya dalam waktu dekat, Amico. Mungkin ia akan melukai dirinya lagi,” papar Coco.
Matteo membuang napasnya kasar. Tanpa kata-kata, ia mengakhiri perbincangannya begitu saja dan melemparkan ponselnya ke atas meja. Matteo meraup wajah dan mengacak-acak rambutnya.
“Apa yang terjadi, Nak?” Damiano tampak khawatir melihat perubahan drastis pada sikap Matteo.
“Aku tidak bisa bicara apa-apa saat ini, Damiano. Aku ingin sendiri dulu,” Matteo kembali meraih ponselnya. Ia lalu pergi begitu saja meninggalkan pria paruh baya tersebut.
Tak ada yang ingin dituju Matteo saat ini. Segalanya terlihat buram. Pikirannya yang senantiasa tajam, kini seakan tak berfungsi. Matteo melangkah begitu saja, hingga tanpa sadarnya kakinya bergerak menuju ruang pengawas.
Adalah satu ruangan khusus di istana de Luca yang dipenuhi dengan belasan layar monitor. Layar-layar itu terhubung dengan kamera cctv yang tersebar di seluruh titik, yang berfungsi untuk mengawasi tiap sudut rumah dan perkebunan. Matteo duduk di kursi putar yang terletak di depan layar-layar itu. Matanya kosong memperhatikan setiap gerakan yang ada di tiap-tiap monitor. Satu tangannya asal menggerakkan berbagai tombol yang tersedia di meja navigasi, sementara tangan lainnya menopang dagu.
“Mia,” nama itu lolos begitu saja dari bibirnya seiring dengan ******* napas berat. “Apa yang harus kulakukan?” gumamnya lagi, sementara tangannya terus menggerakkan tombol di atas meja, mempermainkannya secara tak menentu. Hingga dia tak sengaja memperbesar gambar di satu kamera. Awalnya ia tak menyadari hal itu, sampai ia melihat hal aneh yang terekam di layar.
“Ada yang tidak beres,” insting Matteo kembali bekerja. Ia bergegas menuju tempat yang yang tadi ia lihat di dalam layar monitor. Lorong itu terletak tidak jauh dari ruangnya berada. Matteo hanya berharap semoga ia tidak terlambat memergoki dua orang pelayan tersebut.
Matteo berlari secepat kilat untuk mengejar dua orang pelayan yang hendak beranjak dari tempatnya, ketika melihat Matteo menuju ke arah mereka. “Berhenti!” serunya. Dua pelayan itu tertegun dengan wajah pucat pasi. Suara Matteo begitu membahana dan seakan menusuk gendang telinga mereka. Nyali dua wanita itu mendadak ciut, sampai-sampai tubuhnya terlihat gemetaran.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Matteo dengan nada cukup tinggi. Tak ada yang menjawab. Mereka hanya menggeleng sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Hal itu membuat Matteo semakin kesal. Ia lalu mendekatkan wajahnya kepada dua wanita yang terlihat seperti masih seumurannya.
“Apa yang kau berikan pada temanmu?” tatapan Matteo terkunci pada salah satu dari dua pelayan itu.
“Tidak ada, Tuan,” jawab wanita itu dengan terbata.
“Kau tahu kalau aku tidak suka pembohong, bukan?” Matteo semakin mendekat hingga napasnya menyapu wajah wanita itu. “Aku melihatmu memberikan sesuatu pada temanmu. Apa itu?” desaknya.
Pelayan itu mulai menangis ketakutan. Ia menoleh kepada temannya yang memiliki ekspresi sama dengan dirinya.
“Kuberi satu kesempatan bagi kalian untuk menjawab!” sentak Matteo hingga dua wanita itu berjingkat saking terkejutnya.
__ADS_1
“Haruskah kupotong lidah kalian?” ancaman Matteo serta merta membuat satu wanita membuka mulutnya.
“Kami hanya disuruh, Tuan. Mereka mengatakan, kami akan dibayar lebih untuk ini!” sahut wanita itu cepat. Sedangkan satu wanita lainnya buru-buru memberikan sebuah benda dari dalam kantong seragamnya kepada Matteo, yang segera mengamati benda yang ternyata adalah sebuah ponsel.
“Kenapa mereka memberikan ponsel ini untuk kalian? Siapa mereka?” Matteo terus mencecar kedua pelayan itu.
Dua wanita itu kembali menggeleng bersamaan. “Kami tidak tahu. Mereka hanya berpesan agar kami menghubungi mereka lagi melalui ponsel ini, untuk menerima tugas selanjutnya,” ungkap mereka.
“Selanjutnya? Mereka siapa?” ulang Matteo penuh penekanan.
“Pekerja perkebunan yang baru saja masuk ke sini,” jawab wanita itu.
“Siapa namanya?” cecar Matteo.
Dua wanita itu saling pandang sebelum menjawab. “Mereka orang-orang dari Sicilia, Tuan. Baru beberapa hari mereka bekerja di sini,” jawab salah seorang pelayan.
“Aku bertanya namanya,” desis Matteo. Mata abu-abunya tajam menghujam rasa takut wanita itu.
“Luis Jimenez,” jawab mereka secara serempak.
Setelah mendengar pengakuan dari para pelayan tadi, Matteo bergegas menuju ke perkebunan. Langkah Matteo kini tertuju pada paviliun yang terletak di sisi luar perkebunan. Di sana adalah tempat pekerja perkebunan tinggal dan beristirahat. Matteo melompati pagar paviliun setinggi badan manusia dewasa dengan mudahnya, seolah itu merupakan semak belukar yang hanya setinggi lututnya.
Geraknya semakin cepat mendekati teras dan menggedor pintunya kencang. Waktu sudah menjelang petang, di mana kebanyakan pekerja sedang makan malam. Akan tetapi, Matteo tak peduli lagi. Ia harus segera menemukan Luis Jimenez.
Tak berselang lama, seorang pria berkumis tebal yang Matteo kenal selama ini sebagai mandor, membuka pintu tersebut. “Selamat malam, Tuan,” sapa pria itu.
“Dario,” balas Matteo. “Aku mencari salah seorang pekerja bernama Luis Jimenez,” ujarnya.
“Luis Jimenez?” Dario mengernyitkan dahi. “Ia sudah tidak berada di sini, Tuan,” sahut pria itu.
“Ke mana?"
“Ia sudah kembali ke Sicilia,” jawab Dario.
__ADS_1