
Daniella menangis sesenggukan ketika Sergei menutup teleponnya dan kembali memusatkan perhatian hanya pada dirinya. Sejak tersadar dari pingsan, Daniella terus memutar otak sembari mengamati tiap sudut ruangan tempat Sergei menyekapnya.
Gadis berambut pirang itu bisa memastikan jika kini ia tengah berada di sebuah kamar hotel. Akan tetapi, Daniella tak dapat memastikan di hotel mana dirinya disembunyikan, karena tentunya ada ratusan hotel yang bertebaran di kota Roma.
"Rupapnya Matteo de Luca tengah mencarimu,” ucap Sergei tenang seraya menatap lekat gadis yang tak mau tunduk terhadapnya. Pria itu kemudian melepas sabuk senjata dari pinggang, lalu meletakkan pistol semi otomatis miliknya dengan begitu saja ke atas laci. Sedangkan Daniella terus beringsut menjauh ketika Sergei menaiki ranjang dengan perlahan dan mendekati dirinya.
Seringai menakutkan pria bermata hijau itu terlihat begitu jelas dan membuat Daniella merasa tak nyaman, terlebih saat tangan kekar pria Rusia itu membelai rambut, kening dan pipi mulusnya. Rasanya, gadis itu ingin berteriak sekuat tenaga, tetapi yang terdengar hanyalah erangan-erangan lirih karena mulutnya tertutup lakban.
“Ssh, jangan berisik, Дорогой (Dorogoy/Sayang), atau mereka yang berada di luar kamar akan mendengar rintihanmu. Jika mereka mendengarnya, maka aku tidak akan bisa menahan ketika mereka merangsak masuk dengan gairah memuncak saat melihat tubuh molekmu,” seringai pria itu lagi.
Daniella menggelengkan kepalanya dengan kencang. Sejak awal ia sudah berpikir bahwa Sergei adalah pria gila. Namun, dirinya tak menyangka jika Sergei akan senekat itu. Pria Rusia tersebut bahkan membawa serta anak buahnya.
“Kau tak punya pilihan lain lain lagi selain diam,” hati-hati, Sergei melepas lakban yang membebat mulut Daniella. Ia mengusap bibir ranum yang kemerahan akibat ulahnya.
Sergei pun tak dapat menahannya hasratnya lagi. Susah payah ia meredam gejolak di dalam dadanya, tapi ternyata ia tak kuasa. Segera dilu•matnya bibir manis Daniella. Tak dipedulikannya gadis malang yang makin meraung dan berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya itu. Sergei terus menciumnya dengan paksa.
Pria berambut pirang itu semakin buas. Ia menarik kaki Daniella yang masih terikat hingga tubuh gadis itu merosot dan telentang. Sergei kembali merangkak naik dan mengungkung tubuh Daniella. Ia bahkan mencengkeram erat rambut pirang dan leher gadis itu. Daniella tak sanggup berteriak karena terlalu takut jika Sergei akan benar-benar melakukan ancamannya. Bulir-bulir air mata mulai berjatuhan ketika Sergei mengarahkan kedua tangan Daniella yang terikat kuat ke atas kepalanya. Dengan leluasa, tangan Sergei mengembara ke dada indah Daniella, membuat napas pria itu makin tak beraturan kala menikmati salah satu milik Daniella yang telah membuatnya penasaran.
Awalnya Daniella hanya sanggup pasrah, tapi ketika tangan nakal Sergei semakin bergerak turun ke bawah pusar, ia tak bisa tinggal diam. Daniella mengangkat kedua kakinya yang juga terikat. Gadis itu menekuk lutut dan mengarahkannya dengan penuh tenaga ke pangkal paha Sergei. Pria itu pun kembali dibuat memekik kesakitan sambil memegangi miliknya. Hal tersebut tak disia-siakan oleh Daniella. Ia bergerak bagaikan ulat, menyambar pistol yang tergeletak di atas laci. Dengan tangan yang masih terikat, Daniella mengarahkan pistolnya kepada Sergei.
Akan tetapi, bukannya takut pria itu malah terbahak. “Aku suka dengan sikap liarmu, Dorogoy. Itu semakin membuatku ingin melahapmu,” desisnya kembali menyeringai.
“Kuperingatkan padamu, jika kau berani menyentuhku sekali lagi, maka aku akan melompat keluar dari sini!” ancam Daniella dengan suara tertahan. Ia tak ingin orang-orang yang telah disebut oleh Sergei tadi mendengar teriakannya.
__ADS_1
“Bagaimana caranya, красивая (Krasivaya/Cantik)?” tantang Sergei.
Daniella kemudian mengarahkan pistol itu ke jendela kamar hotel dan menembakkannya berkali-kali hingga kaca jendela itu pecah dan menjadi serpihan kecil. Dalam waktu sepersekian detik, puluhan pria yang berada di luar kamar segera merangsek masuk dan mengokang senjata mereka dengan serempak.
“Berhenti! Jangan tembak calon istriku!” cegah Sergei.
“Lebih baik mereka membunuhku sekarang juga, daripada aku harus merasakan sentuhanmu yang menjijikan!” sentak Daniella sambil meludah ke arah depan.
“Memangnya kau bisa melompat ke jendela dengan kondisi seperti itu, Cintaku?” Sergei terkekeh geli dengan sikap keras gadis itu.
Dengan gerakan pelan, Daniella mengubah posisi pistol itu sehingga moncong senjata tersebut kini mengarah tepat ke mulutnya.
Melihat apa yang Daniella lakukan, Sergei terlihat panik. Dengan segera ia turun dari tempat tidur dan sedikit menjauh dari gadis itu. Pria Rusia tersebut mengangkat kedua tangan dan mengisyaratkan agar anak buahnya yang tadi merangsak masuk ke kamar itu untuk keluar. Tanpa banyak bicara, mereka menuruti isyarat dari majikannya. Kini, hanya ada Daniella dan Sergei di dalam kamar tersebut, seperti beberapa saat yang lalu. “Baiklah, Sayang. Aku berjanji akan jauh lebih bersabar lagi dalam menghadapimu. Tolong jauhkan senjata itu. Pistol bukanlah mainan untuk gadis cantik sepertimu,” rayu pria berambut pirang yang kini memberanikan diri melangkah ke dekat Daniella berada.
Akan tetapi, yang membuat Segei terdiam bukanlah umpatan-umpatan yang dilontarkan gadis itu, melainkan nama pria yang Daniella sebutkan tadi. “Alex? Alex siapa maksudmu, Pirang?” tanyanya dengan raut wajah yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Kali ini, Sergei tak terlihat bodoh, tetapi ia tampak begitu serius.
“Alexander Khanchelskis, pria yang sama tololnya denganmu!” jawab Daniella kesal.
Secepat kilat tangan Sergei meraih rambut panjang Daniella dan menggenggamnya. Ia menarik rambut pirang yang membuat dirinya tergila-gila kepada gadis itu ke belakang, hingga Daniella sedikit mendongak. “Katakan padaku, bagaimana kau bisa mengenal Alexander Khanchelskis?” nada bicara Sergei terdengar penuh penekanan. Ia seperti menjadi seseorang yang berbeda saat itu, membuat Daniella tiba-tiba merasa takut padanya. Gadis itu merintih pelan karena cengkeraman tangan Sergei terasa semakin kencang, seiring dengus napas pria bermata hijau tersebut yang kian menghangat di wajahnya. “Katakan, Pirang!” desaknya masih dengan nada bicara yang terdengar aneh.
“Alex ... Alex adalah mantan kekasihku ketika kami sama-sama masih berada di Venice,” jawab Daniella sambi sesekali meringis menahan rasa sakit.
Mendengar penjelasan dari Daniella, Sergei kembali mendengus kesal seraya melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar. Daniella pun beringsut mundur dan menyandarkan tubuh pada kepala tempat tidur. Ia menarik kedua kakinya yang terikat. Tatapan gadis itu masih tertuju pada kepada Sergei dengan sikapnya yang tampak aneh. Pria itu terlihat gelisah. Dirinya terus mondar-mandir sambil sesekali mengacak-acak rambut pirangnya yang sedikit gondrong. “Alex … Alex … di mana ia sekarang? Katakan padaku di mana Alex berada!” sentak pria itu kesal. Ia kembali mengalihkan tatapannya kepada Daniella yang masih terlihat ketakutan. Sergei lalu mendekati gadis itu dengan seringainya yang sangat mengerikan. “Apa yang telah Matteo de Luca lakukan kepada Alex?” tanyanya dengan penekanan yang begitu dalam. Terdengar gemeretak dari gigi-giginya yang saling beradu karena menahan amarah.
__ADS_1
“Aku tidak tahu. Aku berharap Theo membunuhnya dengan tanpa ampun!” jawab Daniella mencoba untuk mengembalikan keberanian yang tadi sempat menciut. Namun, tak pelak jawaban yang terlalu berani dari gadis itu telah membuahkan sebuah tamparan keras di wajah cantiknya, hingga darah segar menetes dari sudut bibir gadis itu. Ketika Sergei kembali mengangkat tangan untuk mengulangi hal itu, pintu kamar terbuka dengan cukup keras, membuat Sergei dan Daniella serentak menoleh.
Adriano berdiri dengan gagah di lawang pintu. Ia menatap kepada Sergei dengan amarah yang terlukis jelas pada sepasang matanya yang berwarna biru. Pria bertubuh tegap itu melangkah masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Sementara Sergei segera menghampirinya. Sebuah tamparan yang tak kalah keras pun ia terima dari Adriano. Saking kerasnya tamparan itu, hingga membuat Sergei sedikit terhuyung.
Tanpa banyak bicara, Adriano segera menghampiri Daniella dan melepaskan ikatan dari tangan dan kaki gadis itu. Ia lalu membantunya untuk turun dari tempat tidur. Semalaman berada dalam kondisi terikat, membuat kaki Daniella terasa aneh. Ia hamper terjatuh. Untunglah karena Adriano sigap memapahnya menuju pintu keluar. Anehnya, Sergei tak berani melawan sama sekali. Sikap buas yang sempat ia tunjukkan di hadapan Daniella tadi, sirna seketika saat berhadapan dengan Adriano.
“Anda masih kuat berjalan, Nona Daniella?” tanya Adriano yang terus memapah gadis itu menuju lift.
“Aku tidak apa-apa, Tuan D’Angelo. Terima kasih banyak,” jawab Daniella dengan suara pelan. Tak biasanya gadis itu bersikap rendah hati di depan orang lain.
Lift bergerak turun membawa mereka ke lantai dasar. Adriano membantu Daniella berjalan menuju mobilnya yang terparkir. Setelah gadis itu masuk dan duduk tenang di dalam sana, Adriano bergegas mengikuti. Ia kemudian bersiap di belakang kemudi dan mulai menjalankan mobil sportnya. Kendaraan mewah itu pun melaju kencang meninggalkan halaman parkir hotel tersebut.
“Tuan de Luca kini tengah berada di apartemenmu, Nona Daniella. Aku akan mengantar Anda ke sana,” ucap Adriano dengan sikap dan nada bicaranya yang begitu sopan. “Akan tetapi, bisakah kuminta satu hal kepada Anda?” ia melirik Daniella untuk sesaat.
“Apa itu? Katakan saja, Tuan D’Angelo,” sahut Daniella pelan seraya mengusap sudut bibirnya.
Adriano kembali fokus ke depan. “Seperti yang Anda ketahui, Tuan de Luca dan Sergei Redomir tengah melakukan kerja sama yang akan menghasilkan keuntungan dengan nilai sangat fantastis. Sebagai seorang pebisnis, sayang sekali jika hal itu sampai dihentikan karena masalah ini. Aku tahu jika Anda pasti sangat muak terhadap sikap Tuan Redomir yang telah nekat melakukan kegilaannya. Namun, jika Anda berkenan maka mari kita bekerja sama agar segalanya berjalan sesuai rencana semula. Aku berjanji, mulai detik ini Sergei Redomir tak akan berani berbuat macam-macam lagi terhadap Anda. Tolong jangan katakan kepada Tuan de Luca jika ia adalah pelaku penculikan ini,” jelas Adriano seraya kembai melirik Daniella sebelum mengalihkan tatapannya ke depan, pada lalu lintas kota Roma.
“Lalu?” Daniella mengernyitkan keningnya.
“Sebut saja nama Alexander Khanchelskis yang menjadi dalang dari penculikan terhadap Anda,” ucap Adriano datar. Raut wajah pria itu terlihat lain dari biasanya. Sorot matanya pun tampak berbeda. Tak ada lagi kesan ramah dan bersahabat khas Adriano D’Angelo yang membuat Daniella merasa heran. Namun, utang budi yang telah terlanjur ia terima dari Adriano, membuat Daniella mau tak mau menyetujui hal itu.
Gadis berambut pirang tersebut akhirnya menganguk. “Baiklah,” jawabnya pelan.
__ADS_1
Adriano tersenyum puas. Raut wajahnya terlihat kembali ramah dan bersahabat. “Terima kasih atas pengertiannya, Nona Daniella,” balasnya seraya terus mengemudikan mobil sport mewah itu hingga tiba di depan gedung apartemen yang Daniella tempati. Kembali ia membantu gadis itu untuk turun dan melangkah memasuki gedung tersebut. Daniella yang masih tertatih, berusaha untuk terlihat kuat dan biasa saja ketika petugas keamanan gedung menyapa dirinya. Ia bersyukur karena dapat terlepas dari sekapan pria gila seperti Sergei.