
Mia memasuki kembali apartemen yang sudah beberapa lama ia tinggalkan. Daniella lah yang kini tinggal di tempat penuh kenangan itu. Tempat di mana Mia kembali bersatu dengan Matteo setelah tiga tahun berpisah.
Mia kemudian membuka pintu kamar utama yang kondisinya ternyata masih sama seperti saat terakhir kali ia tinggalkan. “Sepertinya Dani tidak tidur di kamar ini,” gumam Mia pelan.
Matteo yang sedari tadi berdiri di belakang Mia segera berjalan mendahului istrinya dan duduk di tepian ranjang. “Di sini, dulu kau mencoba menembakku,” ujarnya seraya terkekeh.
“Kenapa kau masih mengingatnya, Theo? Apa kau menyimpan dendam padaku?” Mia berkacak pinggang tepat di hadapan Matteo, tak terima jika suaminya terus mengungkit kejadian itu. Wajah Mia yang bersungut-sungut dan bersemu merah, kembali membangkitkan gairah dalam diri Matteo. Baginya, Mia selalu terlihat menggemaskan.
Tanpa aba-aba, Matteo menarik tangan Mia dengan menggunakan tangan kirinya sehingga wanita muda itu jatuh ke atas tubuh Matteo yang lebih dulu merebahkan badannya. Pria itu dengan cepat membalikkan tubuh Mia sehingga kini posisi istrinya berada di bawah Matteo. “Namun, aku suka di sini,” ucapnya seraya mendekatkan bibirnya pada bibir Mia.
“Astaga!” terdengar seruan seseorang dari arah pintu, membuat Mia terkejut dan mendorong tubuh suaminya. Gerakan tangan Mia yang tanpa sengaja menyentuh bahu Matteo yang terluka, membuat pria itu kembali merasakan sakit. Matteo terduduk dan meringis sambil meraba bahunya.
“Theo, maafkan aku, Sayang! Aku tidak sengaja,” sesalnya sembari mengusap-usap lengan suaminya. Mia kini berada begitu dekat dengan wajah tampan itu, sehingga Matteo tak menyia-nyiakannya. Segera disambarnya bibir manis Mia dan dilu•matnya untuk beberapa saat.
“Hei, apa-apaan kalian! Aku berdiri di sini sejak lima menit yang lalu dan sama sekali tak kalian hiraukan!” protes Daniella.
Matteo menghentikan ciumannya dan menoleh kepada Daniella. “Maafkan kami, Dani. Aku sedikit terbawa suasana. Kembali ke kamar ini seperti mengulang nostalgia beberapa waktu yang lalu,” Matteo mengulum senyumnya dan melirik nakal kepada Mia.
“Aku tidak peduli lagi padamu, Theo!” cibir Mia. Dengan muka yang memerah, ia berjalan cepat menghampiri Daniella. “Aku meminta tolong pada Dani untuk meminjamkan bajunya padaku. Mengingat ini pertama kalinya aku pergi ke club malam. Kau tahu kan, Theo? Ini pertama kalinya aku pergi ke sana,” celotehnya tanpa diminta seraya menoleh kepada Matteo yang masih terduduk di tempat tidur.
“Seandainya ayah tahu, ia pasti akan membunuhmu karena telah mengajak Mia pergi ke club,” gurau Daniella sembari menarik tangan Mia. Dua bersaudara itu kemudian menghilang dari pandangan Matteo. Akan tetapi, ia masih bisa mendengar dengan jelas suara istrinya yang bercakap-cakap dengan Daniella di kamar sebelah.
“Kenapa semua baju pestamu berukuran mini, Dani? Aku tidak bisa memakai jaring-jaring begini. Astaga! Bagian tubuh mana yang bisa ditutupi dengan model kain seperti ini?”
Celotehan Mia membuat Matteo menelan ludahnya. Pikiran nakalnya mulai membayangkan pakaian apa yang akan dipilih oleh sang istri.
Masih pada posisi duduk di ranjang, Matteo terus menguping pembicaraan Mia dengan kakak tirinya. Sembari menunggu, Matteo mengeluarkan sebuah benda yang tersimpan di saku kemejanya. Adalah sebuah bros mawar merah yang sempat ia bawa saat hendak berangkat menuju Roma.
“Suatu saat nanti, kau bisa memberikan bros ini pada wanita yang kau cintai, Nak,” terngiang kembali kalimat ibunya beberapa tahun yang lalu. Tersungging senyuman di bibir Matteo, sembari terus mengamati benda kecil berwarna merah itu dan menggenggamnya erat.
“Bagaimana menurutmu, Sayang?” tanya Mia setelah satu jam berlalu. Ia berdiri di ambang pintu sambil tersenyum manis kepada Matteo.
Mata abu-abu Matteo sama sekali tak mampu berkedip kala melihat pemandangan indah yang tersaji di depan mata. Adalah sesuatu yang telah berhasil mengusik naluri kelelakiannya.
Berkali-kali Matteo menelan ludah dan menarik napas panjang demi menetralisir debaran di dadanya. “Ka-kau yakin akan berpenampilan seperti itu, Cara mia?” suaranya terdengar begitu bergetar.
__ADS_1
“Ini sesuai dengan saran dari Daniella. Ia sudah sering pergi ke club malam. Lagi pula, aku tidak ingin membuatmu malu karena memakai pakaian yang tidak sesuai,” tutur Mia.
Dalam beberapa detik, kekaguman Matteo tiba-tiba berubah menjadi perasaan cemburu yang luar biasa. Saat itu, ia sudah membayangkan jika semua pasang mata pria, terutama Adriano akan memelototi tubuh indah istrinya. Matteo tentu saja tak akan rela dengan hal itu.
Keindahan itu rasanya tak ingin ia bagi pada siapapun, walau itu hanya berupa bayangan Mia.
"Oh, ya tentu saja. Aku harap Adriano D'Angelo adalah seorang penderita rabun senja," dengus Matteo kesal. Ia lalu berdiri mendekati istrinya.
Matteo membuka genggamannya tepat di depan Mia. Tampaklah bros cantik berbentuk mawar merah yang seketika membuat Mia terpana.
“Milik siapa ini, Theo?” Mia menyentuh permukaan bros kecil itu sebelum Matteo memberikan kepadanya.
“Bros ini milik ibuku dan ia memberikannya padamu,” tatapan Matteo sama sekali tak bisa lepas dari wajah cantik Mia. Tangan kirinya lembut mengusap pipi sehalus pualam itu.
“Bagaimana mungkin? Kami belum pernah bertemu sebelumnya,” sanggah Mia sembari tertawa kecil.
“Kau salah. Ia sudah mengenalmu jauh sebelum kita bertemu,” Matteo mengedipkan sebelah matanya lalu menyeringai nakal, membuat Mia tersipu.
“Tidak adakah yang akan berterima kasih padaku? Aku lah yang mendandani istrimu, Theo,” sela Daniella yang tiba-tiba sudah berdiri di antara mereka. Ia lalu menyandarkan tubuhnya di dinding luar kamar Mia. Belum sempat Matteo menanggapi ucapan Daniella, ponselnya sudah berdering terlebih dulu.
“Halo,” suara berat dan maskulin Matteo terdengar begitu menggoda di telinga Mia. Segera ia melingkarkan tangan di pinggang suaminya dan menggelayut manja. Sementara Matteo terlihat mengangguk beberapa kali, kemudian menyebut alamat apartemen Mia. Setelah itu, ia menutup teleponnya. “Sebentar lagi, jemputan kita akan datang,” ujar Matteo. Segera ia memakaikan mantelnya pada pundak Mia. “Kita tunggu di lobby supaya menghemat waktu,” ajaknya.
“Kalian bersenang-senanglah. Aku lelah sekali dan hanya ingin tidur,” tolaknya.
“Baiklah, kalau begitu. Kami pergi dulu,” pamit Mia, kemudian menutup pintu apartemennya dari luar.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil limusin berhenti di depan gedung apartemen Mia. Ia dan Matteo yang saat itu telah menunggu di sofa lobby, segera beranjak menghampiri seorang sopir yang baru saja turun dari kendaraan itu dan membukakan pintu untuk mereka berdua. Hanya membutuhkan waktu kurang dari setengah jam, hingga sepasang suami istri itu tiba di sebuah bangunan mewah berarsitektur Romawi dengan pintu masuk berbentuk melengkung dan melebar. Sisi kiri dan kanan pintu itu dijaga oleh dua orang pria tinggi besar yang memakai jas berwarna sama.
Matteo dan Mia berkesempatan melewati karpet merah, tanpa antrian. Dua penjaga yang memakai earpiece itu segera membuka pintunya lebar-lebar. Terdengar hingar bingar musik disertai sorot lampu berbagai warna, menyambut kedatangan mereka. Suara riuh rendah pengunjung yang berpesta dan melantai, semakin memeriahkan suasana. Mia yang baru kali ini melihat penampakan club malam secara langsung, hanya bisa berdecak kagum.
Matteo mengedarkan pandangannya ke sekeliling, sebelum mata abu-abunya terpaku pada seorang pria yang berjalan gagah ke arahnya. “Selamat datang, Tuan dan Nyonya de Luca,” sapanya seraya menjabat tangan Matteo, lalu mengecup punggung tangan Mia. Saat itu Mia masih memakai mantel Matteo yang terlalu besar untuk tubuh mungilnya.
“Musim dingin belum tiba, tapi Anda sudah memakai pakaian tebal, Nyonya,” gurau Adriano yang diikuti oleh tatapan tajam Matteo.
“Ah, suamiku yang memakaikan ini padaku. Sejujurnya, aku merasa sangat pengap,” Mia pun melepas mantel itu dan menyampirkannya di lengan kiri. Sementara lengan kanannya melingkar di tangan kiri Matteo.
__ADS_1
Adriano terpana melihat penampilan Mia yang saat itu terlihat sangat berbeda. Mia memakai little black dress tanpa lengan dengan tinggi beberapa senti di atas lutut. Sebagian dari paha mulusnya terlihat dengan begitu jelas. Dress cantik tersebut juga, telah berhasil membuat Mia memamerkan punggung indahnya, terlebih karena malam itu Mia mengikat rambutnya ala ekor kuda.
Adriano tertegun dan membeku untuk beberapa saat. Tatapannya tak teralihkan dari makhluk indah yang memang telah menarik perhatiannya sejak beberapa waktu yang lalu. Lamunannya melayang entah ke mana, sampai teguran Matteo menyadarkan pria berpostur tegap itu. “Apakah kau akan membiarkan kami terus berdiri di sini?” sindir Matteo yang menyadari arti dari tatapan Adriano untuk Mia.
“Ah, maafkan kelalaianku, Tuan de Luca. Mari kuantar,” Adriano membawa suami istri itu memutari lantai dansa menuju ruangan VIP berdinding kaca yang terletak di sisi ruangan yang berbeda. Sesampainya di sana, Adriano mempersilakan Matteo dan Mia duduk di sofa yang berbentuk setengah lingkaran yang berwarna keemasan.
Beberapa orang penari wanita yang berpakaian super seksi, tampak meliuk-liuk dan bergelayutan di tiang khusus yang biasa digunakan untuk tari tiang. Mia yang baru pertama kali melihat hal semacam itu, segera memalingkan wajahnya pada Matteo, yang ternyata terus mengikuti gerak-gerik Adriano yang sibuk menyuruh pelayan dan anak buahnya menyiapkan hidangan untuk mereka.
“Entah kenapa, rasanya aku lebih baik melihatmu memperhatikan para penari setengah telanjang itu, daripada terus memelototi Tuan Adriano,” bisik Mia.
“Aku tidak suka caranya mencuri-curi pandang padamu, Mia,” sahut Matteo dengan ketusnya.
“Astaga, Theo. Untuk apa da mencuri-curi pandang jika sosokku terlihat jelas di depan matanya,” Mia sama sekali tak habis pikir atas kecurigaan suaminya yang berlebihan.
“Seharusnya kau tetap memakai mantelmu,” geram Matteo dengan suara lirih tentunya.
Mia mendengus kesal dan menyandarkan punggungnya dengan sedikit keras di sofa. Ia baru tahu ternyata Matteo bisa begitu cemburu terhadap Adriano. Sikap Matteo yang terlalu posesif, mulai membuatnya tidak nyaman. Ia sama sekali tak ingin menanggapi Matteo yang terus mengajaknya bicara. Mia malah menyapu pandangannya ke seluruh ruangan VIP yang juga sama penuh sesaknya dengan ruangan di luar.
Ekor matanya kemudian terpaku pada sosok yang terlihat tak asing. Mia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengamati sosok itu. “Apakah itu … Filippo?” gumamnya ragu.
Matteo segera mengikuti arah pandang Mia dan berhenti pada seorang pemuda jangkung yang berdiri agak jauh darinya. Pemuda itu tampak bercakap-cakap dengan beberapa pria berbadan besar. Matteo mengenali pria-pria itu sebagai orang yang menghalau kendaraannya di jalan tol tadi pagi. “Apa yang dilakukan pemuda cantik itu di sini?” ucap Matteo sambil terus mengawasi Filippo yang tengah menerima sesuatu dari kawan-kawannya. Mata elang Matteo menangkap sesuatu itu adalah sebuah bungkusan plastik kecil yang berisi serbuk berwarna putih. Setelahnya, Filippo merogoh saku jaketnya dan terlihat memberikan lembaran uang pada pria-pria tinggi besar itu.
Beberapa saat kemudian, Filippo menggunakan ponselnya. Ia terlihat berbicara di telepon dengan mimik muka serius dan tegang. Filippo lalu tergesa-gesa keluar dari ruang VIP sambil tetap menempelkan ponselnya di telinga.
“Apa kekasih Francy itu seorang pengguna narkoba?” tanya Matteo dengan nada datar.
"Apa maksudmu, Theo?" Mia tampak mengernyitkan keningnya.
"Mungkin sebaiknya kau peringatkan adikmu, Mia."
🍒
🍒
🍒
__ADS_1
**Hai**, jangan lupa mampir ke novel keren di bawah ini.