Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Bloody Wedding


__ADS_3

Semenjak hari itu, Coco kembali ke kota Venice. Lagi-lagi ia harus mengawasi Mia, bahkan kini dengan jauh lebih intens. Kecemasan yang Matteo rasakan begitu besar. Ia tak ingin lagi harus menanggung beban karena kehilangan orang-orang terkasih, yang disebabkan oleh sepak terjangnya.


Matteo tampak bekerja keras di Casa de Luca. Ia membuktikan apa yang sudah ia janjikan kepada para tetua, saat proses pengangkatan dirinya. Ia memang melakukan penyelidikan besar-besaran dalam segala aspek penting di Organisasi. Tentu saja hal itu membuat kenyamanan beberapa pihak merasa terganggu. Namun, Matteo tak peduli. Niatnya hanya satu, yaitu membersihkan Klan de Luca dari segala kecurangan dan pengkhianatan.


Dengan dibantu oleh Damiano sebagai penasihat setianya, Matteo terus bergerak. Begitu juga dengan Antonio. Sang paman memberikan dukungan penuh kepada Matteo, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu mengemban tugas besar itu. Ia juga membantu melakukan penyelidikan untuk menemukan oknum yang bertanggung jawab, atas teror dan ancaman yang telah membuat pikiran Matteo kembali terpecah.


Lain halnya dengan Mia. Gadis itu kini tengah sibuk menyiapkan kelulusan dan juga segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahannya. Mia terlihat begitu sibuk. Ia harus memersiapkan segala sesuatunya sendirian. Alasannya, karena Mia tidak ingin merepotkan sang ayah, yang belum terlalu pulih dari dukanya atas kepergian Magdalena.


Sementara Coco terus mengawasi pergerakan Mia. Ia bahkan kini benar-benar menjadi seorang penguntit, karena Coco mengikuti Mia ke manapun. Pria itu hanya berhenti ketika Mia akan masuk ke toilet umum. “Tidak terlihat hal-hal yang mencurigakan, Amico,” lapor Coco ketika Matteo menghubunginya dan menanyakan keadaan Mia. “Semuanya begitu normal. Gadismu sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya yang akan diselenggarakan lusa. Apa kau akan datang kemari?” pertanyaan yang lebih terasa sebagai sebuah tantangan dari Coco untuk Matteo.


“Tidak!” tolak Matteo dengan tegas. “Aku terlalu sibuk untuk datang ke acara pernikahan. Kau tahu bukan, jika aku tidak menyukai keramaian seperti itu,” kilah Matteo. Ia mencari alasan yang hanya membuat Coco tertawa dengan nada mengejek.


“Aku pikir kau akan cukup berani untuk melihat gadismu dipersunting pria lain, tapi ternyata hanya sampai di situ nyalimu, pak ketua,” ledek Coco dengan sangat puas. Ia lalu mengisap rokoknya yang tinggal sedikit, setelah itu Coco membuang rokok tersebut ke tanah dan menginjaknya hingga padam.


“Tutup mulutmu!” sergah Matteo kesal. “Itu semua tidak ada hubungannya dengan seberapa besar keberanianku. Aku memang benar-benar sibuk,” Matteo tetap berkilah. “Lagi pula, aku rasa Mia tidak berharap aku akan menghadiri acara pernikahannya,” lanjut Matteo dengan nada bicara yang terdengar sedikit menyesal.


“Ya, sudahlah. Kau doakan saja semoga gadismu bahagia dengan pilihannya. Aku juga berdoa semoga kau segera menyusul, Amico” goda Coco seraya tertawa geli. Namun, seketika tawanya terhenti ketika ia melihat Mia keluar dari area kampusnya. Ia melihat Mia tampak begitu berseri dengan toga dan topi wisuda yang masih ia kenakan.


Hari itu merupakan hari kelulusannya. Mr. Gio dan Francesca terlihat sangat bahagia. Itu merupakan hiburan untuk mereka, karena Mia menjadi salah satu lulusan terbaik dari universitasnya. Sementara Daniella masih setia dengan wajah tidak bersahabat yang selalu menjadi ciri khas gadis itu. Ia bahkan tampak tidak senang berada di sana.


“Gadismu sudah menyelesaikan acara wisudanya, Amico,” lapor Coco lagi. “Aku senang melihat Mia yang begitu mengutamakan pendidikan. Rasanya aku juga ingin kembali ke bangku kuliah,” ucap Coco dengan tatapan menerawang.


“Untuk apa? Kau pasti hanya berniat untuk tebar pesona kepada mahasiswi-mahasiswi cantik dan seksi? Lupakan saja!” sindir Matteo. “Bisakah kau kirimkan foto Mia untukku sekarang?” pinta Matteo.

__ADS_1


“Oh, tentu saja. Sebentar, akan kuambilkan sebanyak mungkin,” jawab Coco. Ia menuruti permintaan Matteo dan mengambil beberapa foto Mia dengan berbagai ekspresi. Setelah itu, Coco segera mengirimkan foto-foto tersebut kepada sahabatnya.


Matteo segera membuka semua foto yang Coco kirimkan. Kerinduannya yang besar terhadap gadis itu sedikit terobati dengan melihat foto-foto tersebut. Matteo bahkan sampai menyunggingkan sebuah senyuman ketika melihat salah satu foto yang memperlihatkan Mia dengan tawa bahagianya. “Kau akan baik-baik saja, Mia. Aku pastikan itu,” gumam Matteo dengan setitik kepedihan di dalam hatinya.


Tak ingin berlarut-larut dalam perasaannya yang lemah, Matteo meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja, dan kembali fokus pada pekerjaannya. Siang itu, tim audit akan mengadakan pertemuan dengannya untuk melaporkan hasil penyelidikan yang sudah berlangsung selama tiga puluh hari. Matteo tak ingin apapun mengganggu konsentrasinya.


Dua hari telah berlalu dengan tanpa terasa. Cuaca di kota Venice begitu cerah, secerah perasaan Valentino yang kini telah sah menjadi suami dari seorang Mia. Acara pemberkatan pernikahan antara Mia dan Valentino yang selesai beberapa menit lalu, meninggalkan kesan mendalam dan perasaan lega pada pria tampan itu. Itulah saat-saat di mana untuk pertama kalinya, Valentino bisa mencium Mia meskipun hanya sesaat.


Mia begitu cantik dengan gaun pengantin putih yang sederhana tapi sangat indah. Mia memang sengaja memilih gaun yang tidak terlalu memiliki banyak ornamen, gadis itu lebih menyukai gaun polos, tapi masih terlihat sangat elegan. Kedua orang tua Valentino, sengaja memesankan gaun itu dari seorang perancang gaun pengantin kenamaan di kota Venice. Mereka begitu bahagia atas pernikahan Valentino dan juga Mia.


Dilihatnya wajah-wajah bahagia di pesta pernikahannya. Acara yang dilangsungkan di taman belakang sebuah bungalow yang sengaja disewa oleh orang tua Valentino, khusus untuk pesta istimewa putra kesayangannya itu terlihat mewah. Meja-meja tamu yang seluruhnya berbentuk bulat, didekorasi dan ditata sedemikian indah dan rapi mengelilingi kolam renang yang sudah dihiasi dengan bunga-bunga segar di tepiannya. Nuansa putih pun mendominasi acara itu.


Mia tak henti-hentinya tersenyum saat berkeliling dan menyalami tamu-tamu yang terdiri dari saudara dari kedua belah pihak. Mereka berasal dari keluarga dan juga teman-teman alumni. Tangannya juga tak pernah lepas dari genggaman Valentino. Mia sudah bertekad untuk membuang masa lalunya, demi menjalani hidup baru bersama sang suami.


Akan tetapi, kesempurnaan itu harus berakhir lebih cepat. Beberapa orang yang mengenakan kemeja dan kacamata hitam, memasuki ruang bungalow dan mengunci pintu utama. Mereka juga tampak mengunci setiap jendela yang ada. Hal itu menimbulkan sejumlah tanda tanya bagi para tamu yang hadir.


“Hei! Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian mengunci pintu dan jendela?” hardik seorang pegawai bungalow. Namun, bukan jawaban yang ia dapatkan, melainkan berondongan peluru, hingga pria malang itu rebah tak bernyawa.


Suara nyaring tembakan terdengar merambat hingga taman belakang. Orang-orang mulai bertanya-tanya tentang apa yang terjadi di dalam ruangan bungalow. “Biar kucari tahu apa yang sedang terjadi,” Mr. Gio menenangkan para tamu dengan berinisiatif untuk bertanya pada pihak pengelola.Akan tetapi, barulah beberapa langkah ia berjalan, pria-pria berkemeja hitam tadi sudah merangsak masuk ke arah taman, tempat dilangsungkannya resepsi. Mereka berhadapan secara langsung dengan Mr. Gio.


“Siapa kalian?” tanya pria paruh baya itu.


“Saluti dal signor de Luca (salam dari Tuan de Luca),” ucap salah satu pria itu sebelum menembak Mr. Gio tepat di bagian dada. Mr. Gio ambruk seketika, membuat seorang wanita yang kebetulan lewat di depannya langsung menjerit histeris. Peluru itu kembali dimuntahkan dari dalam senjata pria misterius tadi dan seketika membungkam jeritan wanita tersebut.

__ADS_1


Suasana pesta yang indah dan syahdu, mendadak berubah menjadi kacau balau dan penuh ketakutan. Coco yang berdiri di sisi kolam renang, di seberang tempat kejadian itu melihat kerusuhan yang terjadi. Ia segera mencabut pistol yang selalu terselip di belakang punggungnya. Sementara Francesca terperangah melihat hal itu dan menutup mulutnya yang ternganga. Tak dapat dilukiskan betapa terkejutnya ia. Apalagi ketika Coco tiba-tiba memerintahkannya untuk merunduk, saat orang-orang bersenjata mengarahkan tembakan ke arahnya.


“Lindungi kepalamu, Francesca!” seru Coco sambil membalas pria-pria yang berjumlah lima orang itu. Salah satu dari kelima pria itu roboh tertembus peluru yang berasal dari pistol milik Coco. Sementara keempat lainnya, tak berhenti memberondongkan peluru ke segala arah.


Seorang pria tampak menyapu pandangannya, mencari gadis dengan gaun pengantin. Ketika menemukannya, ia langsung menyeringai dan menembakkan senjatanya tepat ke arah Mia. Valentino mengetahui hal itu lebih dulu, sehingga ia segera merentangkan tangannya demi melindungi Mia. Valentino jatuh tersungkur sambil memeluk erat istrinya. Beberapa peluru sudah bersarang di punggung, menembus jantung. “Mia cara (sayangku),” ucap Valentino sebelum ia melepaskan napas terakhir dari tenggorokannya.


“Tidak, Vale!” Mia menjerit histeris. Darah Valentino membasahi gaun putihnya. Kengerian itu tak berhenti sampai di situ. Mia melihat empat orang bersenjata yang sedari tadi menembak ke segala arah, kini membidikkan pistolnya hanya kepada dirinya. Gadis itu segera memejamkan mata. Ia hanya pasrah, bersiap menjemput maut dan ikut menemani Valentino yang lebih dulu pergi. Namun, malaikat kematian tak hendak menjemput Mia saat itu. Dengan sigap, Coco menghambur ke arahnya dan membalas pria-pria keji tersebut.


Tiga orang roboh seketika. Timah-timah panas berhasil melubangi dada pria-pria misterius itu. Sedangkan seorang lainnya masih bertahan meskipun lengan kanannya sudah berlubang. Orang itu masih berusaha membidik dan melesatkan pelurunya ke arah Mia, tapi Coco jauh lebih jeli. Satu peluru berhasil memotong jemari pria yang tengah memegang senjata itu, sementara satu peluru lainnya berhasil bersarang tepat di dahi.


Coco terengah-engah menghampiri Mia. Jasad pria terakhir yang berhasil ia lumpuhkan, tergeletak sangat dekat dengan tempat Mia duduk bersimpuh. “Kau tak apa-apa?” tanyanya pada Mia sembari merebut pistol dari tangan si mayat. Tanpa sengaja, lengan kemeja jasad itu tersingkap. Coco terbelalak melihat tato yang tergambar di pergelangan tangan pria misterius itu. Demikian halnya dengan Mia.


Dua jam sebelum peristiwa itu terjadi, Matteo tampak gusar di ruang kerjanya. Foto-foto ketika Mia berjalan di altar, terpampang jelas di layar ponselnya. Hati pria itu bergolak dahsyat mengalahkan ego. Secepat kilat, ia memutuskan untuk meraih kunci mobil dan berkendara menuju Venice.


🍒


🍒


🍒


hai semua, tambahin koleksi novel kerennya yuk. Ini, ceuceu rekomendasikan salah satunya. Pasti ga akan nyesel. Jangan lupa tengok ya🤗


__ADS_1


 


__ADS_2