
Coco terlihat begitu jengkel. Sejak kemarin, Matteo begitu sulit untuk dihubungi. Pria berambut ikal tersebut berkali-kali mendengus kesal seraya mematikan rokoknya dengan kaki. Saat itu, Coco tengah berada di sebuah stadion megah milik club sepak bola yang berasal dari ibu kota Roma, yaitu Stadion Olimpico.
Niat hati ingin sekadar menghibur diri, dengan menonton pertandingan dari tim tuan rumah. Namun, Coco belum juga masuk meskipun ia sudah memiliki tiket. Pria bermata coklat itu masih berdiri di area luar stadion dan memperhatikan orang yang lalu lalang di sana. Untuk sesaat, ia sempat membuka ponselnya. Tak ada salahnya untuk mengabadikan momen keberadaannya di tempat itu. Coco mengarahkan kamera ponselnya untuk merekam suasana di sekitar stadion tersebut.
Namun, seketika ia menjadi terpaku pada satu objek. Tangannya bergerak mengikuti seseorang yang tanpa sengaja tertangkap oleh kamera ponsel yang ia pegang. Seorang gadis bertubuh semampai, yang tengah berjalan bersama ketiga rekannya. Dengan segera, Coco berlari ke arah gadis-gadis itu. "Francy!" panggilnya dengan suara yang agak nyaring. Keempat gadis tersebut seketika berhenti dan menoleh.
Sepasang mata berwarna hazel itu menatap lekat ke arah Coco. Sementara ketiga temannya menatap mereka berdua secara bergantian. "Francy, siapa pria itu?" bisik salah seorang gadis berambut pirang, yang berdiri di sebelah kiri gadis bermata hazel yang tiada lain adalah Francesca.
"Il mio primo amore (cinta pertamaku)," jawab Francesca dengan setengah bergumam.
"Baiklah. Kalau begitu, kami masuk dulu," ucap salah seorang yang lain. Mereka kemudian berlalu meninggalkan Francesca dan Coco yang saat itu hanya berdiri dengan saling pandang. Perlahan Coco melangkah maju hingga akhirnya ia berdiri di hadapan gadis yang menatapnya dengan rona tidak percaya.
Setelah perpisahan selama tiga tahun, akhirnya ia dapat kembali bertatapan secara langsung dengan gadis belia yang telah membuatnya lari dari semua prinsip yang ia pegang selama ini. “Apa kabar, Francy?” sapa Coco tanpa melepaskan tatapannya dari wajah manis Francesca yang kini terlihat semakin dewasa.
Tersungging sebuah senyuman kecil di bibir baby pink milik Francesca. Gadis itu masih tampak tidak percaya bahwa pria yang berdiri di hadapannya adalah Coco, yang merupakan pria pertama dalam hidupnya. “Kau ... di sini? Ke-kebetulan sekali,” balas Francesca masih dengan sedikit terbata-bata.
Di satu sisi, Francesca merasa bahagia karena dapat bertemu dengan Coco. Akan tetapi, di sisi lain ia tiba-tiba teringat kepada Mia. Dengan segera Francesca bergerak mundur. Setelah itu, ia berlari menjauh dari Coco dan menuju ke luar halaman stadion.
Sejenak Coco tertegun dan merasa heran dengan sikap Francesca. Ia tidak mengerti kenapa Francesca sampai bersikap seperti itu kepadanya. Gadis tersebut kini tampak sedang mencari taksi. Sepertinya ia akan segera pergi.
__ADS_1
Tanpa banyak berpikir, Coco bergegas menuju tempat di mana ia memarkirkan motornya. Segera diikutinya mobil taksi yang ditumpangi oleh Francesca. Selang beberapa saat, mobil taksi itu berhenti di depan sebuah apartemen. Coco bergegas memarkirkan motornya dan mengikuti Francesca yang tampak berjalan dengan terburu-buru.
Coco bersikap biasa saja ketika ia melewati lobi dengan meja resepsionis yang kebetulan sedang ditinggalkan oleh petugasnya. Itu merupakan sebuah kesempatan emas bagi Coco untuk dapat masuk dengan leluasa. Namun, sayangnya Coco kehilangan jejak gadis itu. Ia tidak tahu ke mana Francesca perginya. Coco berpikir untuk sejenak, untuk kemudian melakukan panggilan pada seseorang.
Sementara itu, Francesca dengan wajah gugup dan was-was tengah berada di dalam lift menuju lantai lima belas. Tujuannya hanya satu, yaitu menemui Mia dan memperingatkan kakak tirinya itu tentang kehadiran Coco, yang mungkin saja juga menjadi pertanda atas keberadaan Matteo di kota Roma.
Sementara dalam kamar apartemen, Mia buru-buru memungut pakaiannya yang tercecer di atas lantai setelah ia mendapat pesan bahwa Francesca akan datang. Belum selesai membenahi kamar, terdengar pintu apartemennya dibuka oleh seseorang. Mia menoleh pada Matteo yang tengah beringsut turun dari ranjang. “Francy datang,” ucapnya seraya keluar dari kamar. Mia sendiri tidak menyangka jika Francesca akan menemuinya, karena rencananya ia yang akan datang ke apartemen gadis itu.
“Francy? Ada apa?” tanya Mia. Ia terlihat resah karena di dalam kamarnya masih ada Matteo yang sedang merapikan diri. Tanpa menjawab pertanyaan dari Mia, Francesca segera masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Wajahnya terlihat sedikit cemas, sama cemasnya dengan raut wajah Mia.
Francesca kemudian memegangi tangan kakak tirinya dan berkata, “Mia, aku bertemu dengan Ricci di Olimpico. Aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan di Roma, tapi ....” Francesca tidak melanjutkan kata-katanya ketika ia melihat seseorang yang baru keluar dari dalam kamar tidur Mia. Gadis itu terdiam menatap pria yang tiada lain adalah Matteo. Dengan segera, ia melepaskan genggamannya dari tangan Mia.
“Mia, kau ....” Francesca menatap ke arah Mia dan Matteo secara bergantian. Sementara Mia ataupun Matteo sama-sama tidak berkata apa-apa.
Melihat hal itu, Coco segera mendekat. “Apa kabar, Francy?” sapa Coco. “Apa kau tidak ingin memelukku?” candanya dengan diselingi sebuah senyuman. Coco masih menunggu Francesca untuk mengangkat wajahnya, tetapi gadis itu tak juga melakukan hal tersebut.
Akhirnya, Coco memberanikan diri untuk menyentuh dagu gadis itu dan mengangkatnya perlahan, sehingga tampaklah sepasang mata hazel milik Francesca yang indah dan bercahaya. Coco kemudian menghapus air mata yang membasahi pipi mulus gadis itu. Pria dengan rambut ikalnya yang berwarna coklat tersebut kembali tersenyum seraya menangkup wajah cantik yang sangat ia rindukan. “Aku sangat merindukanmu,” ucapnya dengan setengah berbisik, membuat Francesca tersenyum sekaligus menangis. Dengan segera gadis itu menghambur ke dalam pelukan Coco dan memeluk pria tersebut dengan erat.
Coco tertawa renyah seraya menatap Matteo. Beberapa saat sebelum adegan mengharukan itu berlangsung, Coco sempat menghubungi Matteo yang saat itu tengah berpakaian. Ia mengatakan jika dirinya berada di sebuah apartemen saat mengikuti Francesca. Kebetulan saat itu Matteo sempat mengintip dari balik pintu dan ia melihat keberadaan Francesca di sana. Matteo langsung memberitahu Coco tentang nomor apartemen yang dihuni oleh Mia. Karena itulah, Coco segera menuju ke sana.
Mia hanya tertegun melihat adegan yang sedang berlangsung di depannya. “Francy ... Kau? Kau dan Ricci?” ia tergagap melihat bahasa tubuh kedua orang itu.
Francesca yang masih menangkup wajah Coco, perlahan menurunkan kedua tangannya dan membalikkan badan, menghadap ke arah Mia. “Aku mencintai Ricci, sejak tiga tahun yang lalu. Namun, aku tak berani mengatakannya padamu, karena kondisimu saat itu yang ketakutan padanya dan pada Matteo,” tutur gadis itu masih terisak.
“Ingin kukatakan padamu sejak dulu, jika Ricci tak bersalah, Mia. Namun, kau selalu histeris saat kusebut namanya. Saat itu ia adalah salah satu orang yang ikut melindungimu, ia menembaki penjahat-penjahat itu agar tidak bisa menyakitimu. Aku tahu, karena aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri,” tutur Francesca dengan yakin.
__ADS_1
“Aku mengorbankan perasaanku selama tiga tahun ini demi kau, Mia! Namun, lihatlah apa yang kau lakukan sekarang!” sambungnya.
“Sudahlah, Francy. Yang penting kita sudah bertemu sekarang,” hibur Coco sembari merengkuh pundak Francesca dan memeluknya lagi.
Mia membeku mendengar penjelasan Francesca. Rasa sesalnya mulai menyeruak. Tak disangka bahwa keputusan dan kemarahannya ternyata juga berdampak pada Francesca. “Maafkan aku, Francy. Aku sama sekali tidak tahu. Seandainya saat itu kau mau jujur kepadaku,” ucap Mia.
“Bagaimana bisa aku jujur jika kau selalu histeris ketika mendengar nama Ricci atau Matteo disebut!” sanggah Francesca.
Ada sedikit rasa perih di hati Matteo atas penjelasan Francesca. Ia membayangkan penderitaan Mia yang harus menanggung trauma untuk beberapa lama. Tentulah teramat berat bagi wanita yang terlihat rapuh itu.
“Aku teringat akan Mr. Gio. Saat terakhir kali kami bertemu, beliau sepertinya berharap bahwa diriku lah yang seharusnya melindungimu,” terang Matteo.
“Namun, aku terlalu mengkhawatirkan banyak hal, sehingga mengabaikan perasaanku sendiri dan juga perasaanmu, Mia,” lanjutnya lagi.
Mia yang awalnya terfokus pada Francesca, kini mengalihkan perhatiannya pada Matteo.
“Sekarang, aku tak ingin menahan dan memendam perasaanku. Aku tak ingin lari dan tak akan mencari pelampiasan lagi,” tiba-tiba saja Matteo berlutut di depan Mia seraya meraih tangannya.
Matteo kemudian melepas gelang paracord yang selalu melingkar di pergelangan tangannya dan tak pernah ia lepas. Ia pindahkan gelang itu dari tangannya ke tangan Mia.
Matteo memasang gelang itu di pergelangan Mia yang ramping. “Kau tentu masih ingat benda kecil ini, yang kutinggalkan untukmu di malam itu,” ujar Matteo dengan senyumnya yang tampak merekah.
Mia menjawab dengan anggukan, sambil sesekali menyeka air matanya.
“Aku tak ingin membuang waktuku lagi, Mia. Sekarang aku sudah menemukanmu dan aku tak ingin kehilanganmu lagi, walaupun sedetik. Jadi, izinkan aku ....” Matteo menjeda kalimatnya, lalu menunduk dan menarik napas panjang.
Masih dengan posisi berlutut di depan Mia, Matteo mendongak dan memberikan senyumnya yang paling menawan untuk Mia. “Florecita Mia, izinkan aku menikahimu. Tetaplah di sampingku, cara mia (sayangku). Akan kuhabiskan seumur hidupku untuk menyayangi dan melindungimu, sama seperti Mr. Gio menjaga dan merawatmu. Maafkan aku yang sempat tersesat selama tiga tahun ini. Aku berjanji akan menebus setiap detik yang terlewat ketika kita tak bersama,” ucap Matteo sungguh-sungguh.
Mia tak mampu berkata-kata. Napasnya serasa tercekat di tenggorokan. Sama sekali ia tak menyangka seorang raja Klan de Luca, rela berlutut di hadapannya, untuk menyatakan lamaran.
__ADS_1