
Francesca tersenyum kecil. Gadis itu beringsut ke sebelah Coco, sambil memegangi selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke dada. Francesca kemudian duduk dan menatap pria rupawan berambut coklat tersebut. “Apa kau akan membiarkanku mati kelaparan?” tanya gadis itu dengan wajah lugunya. Sementara Coco hanya tersenyum kalem. Seperti biasa, pria itu selalu terlihat tenang.
“Kau ingin makan apa?” Coco balik bertanya.
“Terserah. Aku tidak ada pantangan dalam makan apapun,” sahut Francesca dengan entengnya.
Coco terdiam untuk sejenak. Ia lalu meraih ponselnya dan tampak memainkan layar ponsel tersebut. Setelah beberapa saat, pria itu kemudian menyibakkan selimut dan turun dari atas tempat tidur. Ia bersikap biasa saja, meskipun saat itu dirinya tengah dalam keadaan telanjang bulat. Coco seperti sudah tidak merasa risih dengan hal seperti itu.
Lain halnya dengan Francesca. Gadis itu tersipu malu. Akan tetapi, ia tidak dapat mengalihkan tatapan penuh kekaguman, dari pria yang kini tengah mengenakan celana tidurnya. Francesca sangat menyukai ketika ia melihat tato bergambar burung elang di pundak sebelah kiri Coco. Gambar itu terlihat begitu jelas, saat Coco beranjak keluar dari kamar dengan bertelanjang dada.
Francesca termenung sendirian di dalam kamar. Ia belum pernah merasa tertarik dan begitu jatuh cinta terhadap seorang pria seperti yang tengah ia rasakan saat ini. Namun, ia sangat menyesal karena semuanya tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Gadis itu masih tidak banyak bicara, bahkan ketika makanan yang dipesan Coco telah datang. Francesca hanya makan dengan lahapnya. Gadis itu terlihat sangat kelaparan.
“Apa yang kau katakan kepada Mia sehingga kau bisa datang ke Brescia?” tanya Coco. Ia berkali-kali mengecup rambut Francesca yang duduk sambil bersandar di dadanya.
“Aku hanya mengatakan akan berpamitan pada seorang teman,” jawab Francesca sambil memainkan ponselnya. Ia juga sempat mengirim pesan kepada Mia agar sang kakak tidak merasa cemas. Sesaat kemudian, Francesca mengarahkan camera ponsel tersebut kepada dirinya dan Coco. Beberapa foto ia ambil dengan berbagai gaya.
Ternyata, selain tampan Coco juga merupakan pria yang sangat lucu dan konyol. Berkali-kali ia membuat Francesca yang selalu terlihat dingin dan ketus, menjadi tampak berbeda malam itu. Gadis tersebut kelihatan sangat ceria dengan senyum lebar di wajahnya. Malam itu mereka berdua bercengkerama dengan begitu akrab, hingga akhirnya Coco dan Francesca menutup semuanya dengan mengulang aktivitas panas mereka seperti sore tadi.
Sekitar pukul tujuh pagi, Francesca sudah terbangun dari tidurnya. Setelah selesai membersihkan diri, ia segera bersiap-siap. Francesca harus kembali ke Venice hari ini, karena rencananya ia dan Mia akan berangkat nanti malam ke kota tujuan mereka.
__ADS_1
Duduk di tepian ranjang dekat Coco yang masih terlelap, Francesca menyentuh wajah rupawan itu dengan lembut. Di dekat Coco, ia merasa seperti telah menjadi seorang gadis dewasa. Francesca pun sangat menikmati perubahan tersebut. Ia bahkan tak mampu untuk mengalihkan tatapannya dari Coco. Pria itu seperti magnet yang terus menariknya dan sangat sulit untuk ia lepaskan.
Gadis bermata hazel tersebut, begitu terkejut ketika dengan tiba-tiba Coco memegang tangannya. Ia seketika tersadar dari lamunan yang sejak tadi membuatnya menjadi hilang konsenrasi. “Aku harus pulang. Mia pasti akan memarahiku jika aku tidak kembali hari ini,” ucap gadis bermata hazel itu pelan.
“Tunggu sebentar, aku akan mandi dulu,” ujar Coco seraya bangkit.
“Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri,” tolak Francesca seraya mengikuti Coco dengan tatapannya. Sementara pria itu hanya berlalu begitu saja ke dalam kamar mandi. Ia tidak memedulikan ucapan dari Francesca yang menanggapi sikapnya dengan sebuah keluhan pendek.
Selang beberapa saat kemudian, mereka telah berada di perjalanan. Coco tidak membiarkan Francesca pulang sendiri dengan menggunakan bus. Ia memilih untuk meluangkan waktunya demi mengantarkan gadis yang telah menemaninya semalam suntuk. Selama di dalam perjalanan. Francesca tak melepaskan pelukannya dari Coco. Tubuhnya menempel erat pada punggung tegap pria dengan jaket kulit tersebut.
Sekitar beberapa jam, akhirnya mereka pun tiba di kota Venice. Namun, Coco tidak mengantarkan Francesca hingga ke dekat tempat tinggalnya. Ia tidak ingin mengambil risiko seandainya Mia melihat dirinya. Lagi pula, itu sesuai dengan permintaan Francesca sendiri.
Sementara Francesca tidak menjawab. Ia hanya tersenyum getir. “Pulanglah,” suruhnya. Francesca dengan sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak jatuh di depan pria itu, terlebih ketika Coco kembali memakai helmnya dan memutar arah motor untuk kembali ke kota Brescia.
Sebelum pergi, Coco sempat menoleh dan menatap Francesca dari balik helm full face-nya. Pria itu kemudian melambaikan tangan dan mengedipkan sebelah matanya. Setelah mendapat balasan sebuah senyuman dan lambaian tangan dari Francesca, Coco pun melajukan motornya dengan kencang. Hanya dalam hitungan beberapa detik saja, pria itu sudah terlihat jauh dan semakin menjauh, hingga akhirnya hilang dari pandangan mata hazel milik Francesca yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Tanpa terasa air mata itu akhirnya menetes juga. Rasanya memang sakit, bahkan jauh lebih sakit jika dibandingkan dengan saat pria itu merobek selaput dara-nya. Francesca menutupi mulut dengan telapak tangan, demi menyembunyikan semua rasa sedih yang menghampirinya saat itu. “Ciao, Ricci,” ucap Francesca pelan. Ia pun segera membalikan badan dan melangkah ke arah bangunan tempat tinggalnya dengan lesu.
“Seperti inikah rasanya patah hati yang sesungguhnya?” gumam Francesca di dalam hatinya. Ia segera menyeka sisa-sisa air mata yang masih menggenang dengan ujung jari tengah, sebelum memasuki bangunan yang menjadi tempat tinggalnya dan keluarga.
__ADS_1
Sesampainya di dalam rumah, Francesca tertegun untuk sejenak. Ia melihat barang-barang yang akan di bawa pindahan ke luar kota sudah terkumpul dengan rapi. Mia rupanya telah membereskan semuanya sendirian, karena Daniella segera memutuskan untuk pergi bahkan sebelum kedua saudarinya meninggalkan tempat tersebut. Francesca kemudian mengalihkan tatapannya kepada Mia yang baru muncul dari bagian lain rumah itu.
“Hai, Francy. Kapan kau datang?” tanya Mia dengan wajah yang terlihat jauh lebih berseri. Ia masih membereskan beberapa barang-barang lainnya. “Aku sudah membereskan semua barang-barang-ku. Kau bereskan sendiri barang-barang-mu,” ucap Mia lagi. Ia lalu kembali ke masuk. Mia terlihat begitu sibuk.
Lesu, Francesca melangkah ke dalam kamar. Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, tetapi menyimpan banyak sekali kenangan bagi dirinya. Duduk termenung di ujung tempat tidur, Francesca membuka galeri di dalam ponselnya. Dilihatnya kembali foto-foto yang ia ambil semalan dengan Coco. Seketika tangisnya pun pecah.
Mia yang saat itu kebetulan lewat di dekat kamar Francesca, bergegas masuk ke sana. Didapatinya gadis itu tengah menangkup wajah dengan tangisan yang terdengar begitu perih. Tanpa banyak bicara, Mia segera merangkul sang adik dengan penuh kasih. “Ada apa, Francy?” tanyanya cemas. Namun, Mia seakan sudah dapat memahami alasan yang membuat gadis itu terlihat sedih.
“Tenanglah, Francy. Aku sangat mengerti dengan apa yang kau rasakan, karena aku juga merasakan hal yang sama. Ada terlalu banyak kenangan di tempat ini. Kenangan tentang ayah, ibu, dan kita bertiga. Kita menjalani masa kecil bersama di sini. Semua yang telah terlewati itu merupakan sesuatu yang pasti akan terasa sangat sulit untuk kita lupakan begitu saja. Namun, kita harus pergi dan memulai hidup yang baru. Aku yakin jika ayah dan ibu juga pasti akan mendukung keputusan kita,” tutur Mia dengan lembut. Ia mencium kening sang adik seraya terus mengelus pelan rambut panjangnya. Untuk sesaat, Mia tertegun, karena mencium aroma parfume khas pria di tubuh adiknya.
🍒
🍒
🍒
Hai, hai ... ada yang lagi butuh tawa hari ini? Yuk, mampir dan simak keolengan Mumun & Ijem. Dijamin ngakak terus. Pasti!
__ADS_1