Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Il Controllore


__ADS_3

Lu•matan demi lu•matan terus memanjakan sepasang suami istri yang sudah sama-sama dilanda gairah tak terbendung. Sesekali, Matteo menjalarkan ciumannya ke leher jenjang Mia, sehingga membuat wanita itu berkali-kali menggelinjang karena merasakan geli bercampur nikmat, akibat sentuhan-sentuhan halus dari bibir berhiaskan janggut tipis sang suami.


Perlahan Matteo mengangkat paha sebelah kiri Mia hingga sebatas pinggulnya, bersamaan dengan tangan Mia yang mulai bergerak nakal dan begitu cekatan, saat melepas pengait dari celana jeans yang pria itu kenakan. Sementara bibir mereka kembali bertaut dengan mesra, dengan lidah yang saling memilin dan diiringi isapan serta gigitan-gigitan lembut.


Matteo mere•mas paha sang istri, ketika ia merasakan lidah wanita yang paling dicintainya itu bermain-main dan menggelitik langit-langit mulutnya. Ia menyukai hal itu. Mia semakin pintar dalam melayaninya. Wanita bermata cokelat tersebut kini tak lagi malu-malu untuk mengeksplore tubuh Matteo dengan setiap sentuhannya.


Akan tetapi, untuk sesaat Matteo harus melepaskan ciuman panas tersebut. Ia menatap wajah Mia yang mulai sayu seraya makin merekatkan tubuhnya. "Katakan jika kau menginginkannya, Sayang," bisik Matteo dengan helaan napas berat yang menghangat di wajah Mia. Wanita itu pun mengangguk pelan.


Matteo tersenyum puas. Sesaat kemudian, terdengarlah sebuah de•sahan panjang meluncur dari bibir red cherry yang terlihat begitu ranum. Mia semakin mempererat rangkulannya. Ia mere•mas tengkuk kepala Matteo dan sesekali memejamkan matanya, ketika Matteo memulai permainan panas di antara mereka berdua.


Helaan napas berat Matteo mulai berbaur dengan desa•han pelan dan lembut Mia. Hal itu berlangsung hingga beberapa saat lamanya, sampai Matteo merasa bosan karena sejak tadi mereka melakukannya dalam posisi berdiri.


Segera diangkatnya tubuh Mia ke dalam pelukan, dan dibawanya menuju meja. Tepat di bawah tiga buah lampu sorot yang terang dan terasa hangat, Matteo merebahkan tubuh ramping sang istri dengan perlahan.


Ditatapnya paras cantik itu untuk beberapa saat. Matteo kemudian meraih kaki Mia yang masih melingkar di pinggulnya. Dipeganginya kedua kaki mulus yang menjulur lurus ke atas. Sesekali, Matteo menciumi betis jenjang berbalut kulit kuning langsat sang istri, yang ia tempelkan di dekat bahu sebelah kirinya. Matteo kembali membuat wanita berambut panjang tersebut mende•sah dan mengeluarkan erangan-erangan lembut yang justru membuat dirinya semakin bernafsu.


Sesaat kemudian, Matteo menghentikan gerakannya. Ia membantu Mia untuk bangkit. Wanita bermata coklat itu sudah paham dengan apa yang diinginkan oleh sang suami. Ia segera berbalik dan membungkukan tubuhnya ke depan. Tangan kanan Mia mencengkeram erat pinggiran meja, sementara tangan kirinya Matteo lipat dan ia letakan di atas pinggang belakang wanita itu. Matteo kembali melanjutkan permainan. Ia terus menunjukkan kepada Mia bahwa dirinya adalah pria yang luar biasa.


Sesaat, Matteo ikut membungkuk sehingga dadanya menyentuh punggung Mia. "Sei la migliore, Mia (Kau yang terbaik, Mia)," bisiknya dengan napas yang menghangat di telinga Mia.


Mia kemudian menoleh ke samping, di mana wajah Matteo berada.


"Sei il più grande, Theo (Kau yang terhebat, Theo)," balas Mia seraya mengatur pernapasannya. Namun, Mia terlihat gelisah karena Matteo tak juga melanjutkan permainannya yang terjeda.


Matteo dapat merasakan hal itu. Ia lalu menegakkan tubuhnya. Perlahan pria rupawan tersebut kembali melakukan penyatuan di antara mereka, dan membuat Mia melenguh pelan, lagi dan lagi. Sementara, Matteo memejamkan matanya dalam-dalam seraya meringis kecil. Sesekali ia menggeleng perlahan. Apa yang dirasakannya kini adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Ia akan selalu menikmati saat-saat di mana dirinya dapat melakukan penyatuan indah tersebut bersama Mia. Matteo pun tak pernah mengerti, padahal Mia bukanlah wanita yang agresif. Ia bahkan terlalu lembut bagi seorang Matteo de Luca.


Beberapa saat lamanya, bengkel perakitan senjata itu menjadi saksi bisu adegan panas dari sepasang suami-istri tersebut. Berbagai gaya telah mereka lakukan, hingga pada akhirnya Matteo kembali membalikan tubuh Mia. Ia merebahkan tubuh sang istri di atas meja. Matteo menutup permainan penuh gairah itu dengan sebuah helaan napas berat. Tak berselang lama, ia menurunkan tubuhnya dan mencium kening serta bibir Mia dengan mesra. "Terima kasih, Mia," bisik Matteo dengan napas yang terengah-engah. Sementara Mia pun tersenyum puas.

__ADS_1


Menjelang sore, sepasang suami-istri itu baru kembali ke Casa de Luca. Matteo menggenggam pergelangan tangan Mia saat berjalan masuk. Namun, langkah tegapnya tiba-tiba harus terhenti karena ia melihat sebuah benda yang terbungkus rapi dengan kertas berwarna cokelat. Matteo dan Mia saling pandang dengan rasa penasaran. "Apa itu?" gumamnya. Ia melangkah ke dekat benda tersebut, tapi tidak berani menyentuhnya.


Sesaat kemudian, Damiano datang menghampiri mereka. "Rupanya kalian sudah kembali," ucapnya. "Apa itu, Nak?" tanyanya kepada Matteo.


"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Matteo dengan mimik aneh.


"Kenapa tidak kau buka saja, Theo? Aku rasa isinya bukan bahan peledak," ujar Mia. Ia mendekat ke arah Matteo dan ikut mengamati benda persegi yang masih terbungkus itu. "Apa kau memesan sesuatu? Bentuknya seperti lukisan atau mungkin bingkai foto raksasa," ucap Mia lagi seraya memainkan bola matanya, membuat Matteo merasa gemas dan ingin kembali melahap wanita itu.


"Baiklah. Mari kita lihat apa isinya. Aku harap bukan sesuatu yang ...." Matteo tidak melanjutkan kata-katanya. Ia tertegun menatap benda yang baru saja ia buka dari pembungkusnya. Tatapannya kemudian beralih kepada Mia yang saat itu ikut terdiam.


"Apa-apaan ini, Mia?" tanya Matteo dengan nada bicaranya yang terdengar sedikit kesal.


"A-aku tidak tahu ...." Mia tampak kebingungan.


"Coba kau lihat siapa pengirimnya," saran Damiano. Ia mencoba untuk tetap terlihat tenang, dan tentu saja berharap agar Matteo pun demikian.


Adalah sebuah lukisan dengan ukuran yang cukup besar, dan sudah diberi bingkai berlapis emas. Lukisan dengan gambar wajah cantik Mia di dalamnya, yang tengah mengenakan gaun pesta ketika di Pulau Elba. Lukisan itu begitu indah dan terlihat sangat nyata. Detailnya pun begitu sempurna. Sudah dipastikan jika lukisan itu dibuat oleh seorang pelukis yang sudah ahli.


Matteo mengempaskan napas pendek. Ia tengah menahan rasa marah yang mulai menguasai dirinya, karena saat itu wajah rupawan yang tadi berseri, kini terlihat begitu masam. Namun, itu merupakan hal yang sangat wajar bagi Matteo, berhubung ia tahu jika yang membuat dan mengirimkan lukisan tersebut adalah Adriano D'Angelo.


"Kau terlihat sangat cantik dalam lukisan ini, tapi sayang sekali karena aku tidak menyukainya," ujar Matteo seraya berlalu begitu saja.


Melihat sikap Matteo yang seperti itu, Mia hanya dapat terpaku. Sesaat kemudian, ia lalu menoleh ke arah Damiano. "Theo marah padaku?"


Damiano tertawa pelan. Ia lalu menghampiri Mia dan menyentuh pundak wanita itu. "Theo cemburu padamu. Itu sesuatu yang luar biasa. Artinya ia telah mulai menyertakan hati, bukan hanya insting. Kejarlah, Nak! Hibur suamimu. Kaum pria akan langsung luluh dengan sebuah rayuan," Damiano mengakhiri kata-katanya dengan sebuah tepukan lembut di pundak Mia.


Ragu-ragu, Mia mengikuti langkah Matteo yang terlebih dulu memasuki kamar mereka. Mia membuka pintunya perlahan dan melihat Matteo berdiri di dekat jendela dengan tatapan menerawang ke hamparan perkebunan anggur di depannya. Tampak jaket kulit yang dikenakan suaminya tadi sudah tergeletak begitu saja di lantai. “Theo?” panggilnya sembari memungut jaket itu, kemudian meletakkannya di atas sofa. Mia yakin Matteo mendengar, tapi pria itu sama sekali tak menoleh.

__ADS_1


Tak putus asa, Mia mendekati Matteo dan berdiri di sebelahnya. “Kau marah padaku?” tanyanya.


Matteo lagi-lagi tak menjawab. Ia bahkan sama sekali tak mau memandang ke arah Mia.


“Aku bingung, Theo. Aku sama sekali tidak tahu menahu tentang lukisan itu, tapi tetap saja kau melampiaskan amarahmu padaku,” keluh Mia sembari mende•sah pelan.


Matteo masih terdiam, tapi bahasa tubuhnya sudah tak setegang tadi. Mia juga menyadari hal itu, sehingga ia memberanikan diri untuk menyandarkan kepalanya di bahu lebar itu. “Aku mencintaimu, Theo. Sejak pertama kali kita bertemu hingga detik ini. Tak akan berubah sampai kapanpun, meski kau tak mempedulikanku seperti saat ini. Itu tak masalah bagiku,” Mia mengangkat kepalanya. Setengah berjinjit, ia mencium pipi Matteo. Sudut bibir Mia menempel sekejap pada sudut bibir Matteo, membuat pria itu tersenyum samar.


“Aku jadi bertanya-tanya. Apa Tuan Adriano telah memotretku diam-diam dan mengubah fotoku ke dalam bentuk lukisan?” gumam Mia. Wajahnya tampak serius berpikir.


“Aku tak ingin membicarakan tentang hal itu, Mia. Tolong diamlah!” Matteo berdecak kesal dan berpindah ke ranjang. Ia duduk di tepian ranjang sembari menopang kepala. Sesekali ia memijit pelipisnya.


Mia terkikik geli sambil mengikuti gerak suaminya. Ia duduk dengan gemulai. Jemarinya mulai bergerilya, bermain-main di dada bidang Matteo. “Aku suka jika kau cemburu padaku. Itu artinya, kau sangat mencintaiku,” bisiknya tepat di telinga sang suami.


Kali ini, Matteo menoleh kepada Mia dengan mata melotot. Sedangkan Mia tergelak melihat ekspresi suaminya. “Kau sangat tampan saat merajuk,” wanita itu berdiri dan duduk dalam posisi menyamping dengan seenaknya di pangkuan Matteo. Mia melingkarkan tangan di pundak Matteo, lalu mengecup lehernya. “Sesekali rasanya aku ingin mengendalikan permainan,” bisiknya manja dengan suara yang terdengar menggoda.


Pancaran amarah Matteo menghilang seketika saat menghadapi tingkah Mia yang membangkitkan naluri kelelakiannya. “Memangnya kau bisa mengendalikanku?” tantang Matteo. Setelah itu, ia melu•mat bibir Mia secara kasar. Tak mau kalah, Mia menjauhkan wajahnya dari Matteo. Ia berdiri di hadapan suaminya. Mia kemudian mendorong tubuh Matteo hingga telentang di atas ranjang. Perlahan, ia menaiki tubuh atletis itu dan menyeringai. “Kita buktikan sekarang juga,” godanya.


🍒


🍒


🍒


Hai, ceuceu datang lagi menyuguhkan novel keren yang pasti tak kalah asyik untuk dibaca. Yuk segera serbu sama-sama.


__ADS_1


__ADS_2