
Matteo berjalan berdampingan dengan Adriano memasuki aula pesta. Sedangkan Marco dan Coco mengikutinya dari belakang. Kedua pria yang terbiasa tampil dengan pakaian casual itu, kini terlihat berbeda dalam penampilan formal yang begitu rapi. Sementara para wanita berjalan tak jauh dari mereka dengan mengenakan gaun malam yang indah, di antara tamu yang hadir di sana. Semuanya berpenampilan rapi dan elegant, mencerminkan status sosial mereka.
Keempat pria dengan tuxedo itu terus berjalan membelah keramaian orang-orang yang tengah menikmati jalannya pesta. Akhirnya, Adriano menghentikan langkah di dekat seorang pria yang tengah asyik berbincang bersama beberapa tamu yang lain.
“Tuan Redomir,” sapa Adriano membuat pria itu seketika menoleh.
Sergei Redomir. Pria asal Rusia yang melanglangbuana dan meraih kesuksesan di Monaco. Usianya sudah menuju kepala empat, tetapi ia masih terlihat tampan dan awet muda. Perawakan Sergei tinggi besar dan tampak begitu gagah, khas pria Rusia. “Tuan D’Angelo. Apa kabar?” sapanya balik. Pria itu tersenyum kalem seraya menyalami Adriano.
“Baik, terima kasih,” sahut Adriano ramah. “Lihatlah, siapa yang datang bersamaku,” tunjuknya pada Matteo. Sergei pun ikut mengalihkan tatapannya. Sementara Matteo masih bersikap biasa saja. Pria itu terlihat tenang dan seakan tengah menelisik dengan saksama sosok pria asing di hadapannya. Begitu pula dengan Sergei Redomir. Ia menatap lekat kepada Matteo. “Tuan Redomir, perkenalkan Tuan Matteo de Luca dari Italia.”
“Tuan de Luca? Luar biasa, akhirnya kita dapat bertemu secara langsung,” sambut pria bermata hijau itu dengan senyum terkembang sempurna. Ia menjabat tangan Matteo penuh keakraban. Namun, semua sikap baik dan bersahabat yang ditunjukkan pria itu tak lantas membuat Matteo seketika terlena. Pria tersebut justru bersikap semakin waspada.
Matteo menatap lekat kepada Sergei Redomir. Ia memicingkan sepasang mata abu-abunya dan mencoba menelisik dengan saksama. Matteo baru tersadar ketika ia merasakan sentuhan lembut di lengannya. “Tuan Redomir,” balasnya mencoba untuk berbasa-basi. “Maaf, aku sedikit terpukau. Anda tidak seperti yang ada dalam bayanganku,” ucap Matteo.
“Oh, aku harap Anda tidak membayangkan sesuatu yang buruk tentangku, Tuan de Luca,” balas Sergei Redomir seraya tergelak. Pria itu memperlihatkan sikap yang demikian bersahabat kepada Matteo.
“Maafkan atas sikapku, Tuan Redomir. Aku hanya sudah terbiasa untuk selalu berhati-hati pada semuanya. Terlalu banyak pengkhianatan di masa lalu yang membuatku harus jauh lebih waspada dalam melangkah,” tutur Matteo dengan raut yang berangsur menghangat. Ia harus dapat mengendalikan dirinya sebaik mungkin.
“Tidak masalah, Tuan de Luca. Aku sangat mengerti dan dapat memahami bagaimana rasanya,” Sergei menepuk pundak Matteo pelan sebagai tanda keakraban. “Apakah Anda datang kemari berdua saja dengan Tuan D’Angelo?” tanyanya kemudian.
“Tidak," jawab Matteo tenang. "Kebetulan aku kemari dengan membawa serta istriku dan saudari-saudarinya. Aku juga mengajak sepupu dan sahabat baikku,” terang Matteo seraya mengarahkan tangannya pada Mia, Francesca dan juga Daniella. Setelah itu, ia memindahkan arah tangannya kepada Marco dan Coco. Kedua pria itu tengah asyik mencicipi minuman yang dihidangkan oleh para pelayan.
__ADS_1
Perhatian Sergei kemudian tertuju pada tiga bersaudara yang terlihat begitu cantik dan menawan malam itu. Tatapannya berhenti pada Daniella. Tubuh molek dan rambut pirangnya membuat Sergei Redomir terpesona sehingga tanpa sadar ia berjalan mendekat dan meninggalkan Matteo serta Adriano yang saling berpandangan.
“Aku harap wanita cantik ini bukanlah istrimu, Tuan de Luca,” ujar Sergei seraya mencium punggung tangan Daniella.
“Bukan. Inilah istriku, Tuan Redomir,” Matteo maju dan berdiri di samping Mia sambil melingkarkan tangan kekarnya di pinggang ramping sang istri. Adriano memalingkan wajahnya saat Matteo melakukan hal itu.
“Syukurlah, karena aku sangat tertarik dengan nona ....”
“Daniella!” sahutnya cepat seraya menyibakkan rambut pirangnya yang terlihat sangat indah dan berkilau.
“Daniella? Bolehkah aku mengenal Anda lebih dekat, Nona?” tanya Sergei. “Kita bisa mengobrol di luar, sambil menikmati gemerlap lampu kota Monte Carlo,” ajaknya lagi dengan sikap yang terlihat sangat berbeda.
“Tentu saja! Ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Monaco. Ada banyak hal yang sangat menarik perhatianku di sini,” sambut Daniella antusias dengan gaya bicaranya yang khas.
Akan tetapi, tanpa Daniella sadari bahwa Marco memandang ke arahnya dengan tatapan tajam. Tangannya terkepal, menandakan emosi yang kian memuncak dan siap meledak andai tak ada yang meredamnya. Coco yang melihat gelagat itu, segera merangkul Marco dan membisikkan sesuatu kepadanya. Demikian halnya dengan Matteo yang menggeleng samar pada sepupunya itu.
Meski agak terpaksa, tapi pada akhirnya Marco berhasil menguasai emosinya. Ia menunduk sambil mengela napas panjang. “Kalian benar. Lagi pula, aku dan Daniella tak memiliki hubungan apapun,” gumamnya pelan dengan penuh sesal.
“Sergei adalah seorang negosiator dan usahawan ulung. Kelemahannya hanya satu, wanita berambut pirang,” kekeh Adriano dengan tenangnya. Namun, hal itu telah berhasil membuat emosi dalam diri Marco kembali muncul. Pria itu lagi-lagi mengepalkan tangan ketika mendengar ucapan Adriano. Namun, tentu saja ia tak bisa melakukan apapun. Apalagi Daniella tampak menyukainya.
“Lalu, apa yang harus kulakukan di sini jika Sergei Redomir bahkan tak memedulikan keberadaanku?” Matteo terlihat sewot. Berkali-kali ia mengempaskan napasnya dengan sedikit jengkel.
__ADS_1
“Kita nikmati saja dulu pestanya. Aku yakin, sebentar lagi ia akan kembali,” tutur Adriano mendinginkan suasana.
“Terserah Anda saja, yang jelas aku harus ke toilet. Tunggu di sini sebentar, Cara mia,” Matteo mengecup kening Mia sesaat sebelum berlalu menuju ke toilet.
Beberapa saat kemudian, Francesca mendekati Mia. Ia terlihat membisikan sesuatu di telinga kakak tirinya tersebut. “Ricci mengajakku keluar. Kau tak apa-apa jika kutinggal sebentar? Aku rasa Matteo akan datang sebentar lagi,” bisiknya.
Mia mengangguk pelan.“Iya, tentu. Pergilah,” ucapnya segera.
“Kau yang terbaik, Mia” Francesca memeluk wanita itu. Ia lalu menggandeng Coco yang berdiri tak jauh darinya.
“Terima kasih,” ucap Coco tanpa bersuara, hanya membentuk gerak bibir saja sembari melambai. Ia segera membawa Francesca untuk keluar dan menikmati malam bersama sang kekasih.
Tanpa Mia sadari, hanya ada Adriano yang berada di dekatnya kini. Rasa tak nyaman mulai menyelimuti dirinya. Perlahan, Mia bergerak dan memundurkan badannya. Ia memberi jarak dan membuat dirinya sedikit menjauh dari pria rupawan itu. Sementara Adriano mulai menyadari hal itu. Tersungging senyuman kecil di sudut bibirnya yang dihiasi janggut tipis.
“Jangan takut, Nyonya de Luca. Aku orang yang sangat pandai belajar dari pengalaman. Aku tak akan berbuat kurang ajar padamu,” ujar Adriano. Sorot matanya lembut memindai tiap inci wajah cantik Mia yang terlihat gelisah.
Wanita muda itu mengangguk pelan demi menanggapi ucapan Adriano. Namun, ia kemudian segera memalingkan wajahnya ke arah Matteo berlalu. Mia berharap agar sang suami segera kembali.
Sementara itu, Daniella terlihat asyik menatap indahnya kerlap-kerlip lampu yang menghiasi malam kota Monte Carlo. Senyumannya terus terkembang dan membuat gadis itu terlihat semakin cantik. "Apa kau memiliki seorang kekasih, Nona Daniella?"
__ADS_1