Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Cool Coco


__ADS_3

Sekitar pukul delapan pagi, Mia terlihat sudah siap. Ia hendak berangkat ke kampus. Tampak pula Valentino yang sudah menunggunya dengan skuter matic berwarna biru muda. Pemuda itu tersenyum manis saat melihat Mia muncul.


 


Dengan segera, ia menyodorkan helm kepada gadis itu. Mia terlihat sangat manis, meskipun wajahnya masih tampak murung. Ia juga mengikat kembali rambut panjangnya seperti dulu. Sesekali Mia tersenyum kecil kepada Valentino, saat pemuda itu memasangkan helm untuknya. Beberapa saat kemudian, mereka berdua pergi dengan berboncengan.


 


Coco segera mengirimkan rekaman yang baru saja ia ambil menggunkan ponselnya kepada Matteo. Dengan segera, Matteo menghubunginya.


“Gadismu terlihat murung, Amico,” ucap Coco pelan. Ia masih belum beranjak dari dekat jendela. Sepertinya Coco tengah menunggu gadis lainnya.


 


“Wanita mudah jatuh cinta, Kawan. Aku rasa tidak lama lagi ia akan melupakanku,” sahut Matteo dari seberang sana.


 


“Semoga saja benar,” balas Coco. “Aku akan melanjutkan pengintaianku. Nanti kau kuhubungi lagi,” tutupnya ketika ia melihat Francesca keluar dari pintu rumahnya dan berdiri untuk beberapa saat lamanya. Dari balik penutup jendela itu, ia memerhatikan sosok cantik memakai atasan sleeveless warna putih yang dipadukan dengan celana panjang hitam ukuran 7/9. Tampilan yang sangat sederhana dan apa adanya.


Coco tersenyum tipis memerhatikan gadis belia itu. Namun, senyumnya tiba-tiba memudar ketika ia melihat Francesca pergi dengan seorang pemuda sebayanya. Pemuda itu tampak keluar dari rumah yang bersebelahan dengan rumah yang ditempati Francesca. Coco hanya dapat mengeluh pelan.


 


Lewat tengah hari, pria berambut coklat itu baru keluar. Dengan berjalan kaki, ia menuju ke tempat pengintaian berikutnya yaitu kedai. Kebetulan saat Coco tiba di sana, Mia sudah membuka kedainya. Valentino juga terlihat ada di tempat itu dan membantu Mia. Pemuda itu seakan memanfaatkan momentum patah hati yang Mia alami untuk menarik perhatiannya.


Valentino memang pantang menyerah. Ia bahkan rela membantu Mia, karena hari itu Mr. Gio tidak datang ke kedai. Kondisi sang istri yang tidak juga membaik, membuat pria berkaca mata itu harus tetap berada di rumah.


 


Beberapa saat kemudian, perhatian Coco kembali teralihkan pada seraut wajah manis yang baru muncul dari dalam kedai. Rupanya Francesca juga membantu Mia di sana. Dengan segera, Coco memanggil gadis itu. Francesca bergegas menghampirinya.


 


“Mau pesan apa?” tanya Francesca dengan gaya bicaranya yang memang tidak seramah Mia. Ia bahkan hanya menyunggingkan sedikit senyuman kepada Coco, yang saat itu terus menatapnya dengan senyuman kalem khas dirinya. Inilah pertama kalinya Coco menatap Francesca dari jarak yang yang begitu dekat. Gadis itu begitu dingin dan tampak tidak bersahabat. Namun, ia terlihat sangat menantang bagi Coco.


 


“Aku tidak bisa memilih dalam waktu singkat. Aku harus membaca dengan saksama. Menu apa saja yang tersedia di sini? Bisakah kau merekomendasikan sesuatu untukku?” Coco mulai menebar jaring pesona yang ia miliki. Jaring yang biasa ia gunakan untuk menangkap mangsa incarannya. Pria itu mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.


 


“Terserah kau saja. Silakan buka buku menu yang kami sediakan, dan kau dapat membacanya. Jika kau mau, kau bisa memesan semua yang ada di sana,” sahut Francesca dengan seenaknya. Ia tahu jika pria yang ada di hadapannya adalah seorang penggoda.


 


"Ah, sebenarnya ini pertama kalinya aku mampir kemari. Ada seorang teman yang merekomendasikan kedai ini padaku. Ia mengatakan jika makanan di sini sangat enak. Aku sangat penasaran," ujar Coco lagi. Ia kembali memamerkan senyumnya yang menawan.


 


"Oh, sampaikan terima kasih kami untuk temanmu. Jika kau masih belum menentukan pilihanmu, maka silakan berpikirlah dulu, setelah itu kau boleh memanggilku," balas Francesca masih dengan nada bicara yang sama. Malas rasanya harus meladeni seorang pria seperti Coco.


 


"Kau benar sekali, Signorina. Aku memang belum dapat menentukan pilihan. Namun, aku rasa aku mulai mendapat pencerahan setelah datang kemari," goda Coco lagi tanpa melepas senyum dan tatapannya dari wajah manis Francesca.

__ADS_1


 


Francesca mengeluh pelan seraya menggelengkan kepalanya perlahan. Raut wajahnya masih sinis seperti tadi, terlebih karena sikap Coco yang dirasa semakin berani menggodanya. "Terserah kau saja!" ucap Francesca tak peduli. Ia berlalu begitu saja dan kembali menghampiri Mia.


 


Sambil berpura-pura membaca menu, Coco mengarahkan kamera ponselnya ke arah Mia dan Francesca. Kedua gadis manis tersebut terlihat sibuk ketika beberapa orang pengunjung memasuki kedai secara bersamaan. Sedangkan Valentino yang juga tengah membantu di sana, tiba-tiba mendapat telepon dari ibundanya tercinta. "Bisakah kau segera ke rumah sakit, Sayang? Kakek-mu terus menerus menanyakanmu," terdengar suara ibunda Valentino di ujung telepon.


 


"Va bene, madre (baik, bu). Aku akan segera ke sana," sahut Valentino seraya mengakhiri sambungan teleponnya. Ia kemudian melepas apron yang dikenakannya dan menghampiri Mia. "Mia, maaf karena aku harus segera ke rumah sakit. Kakek-ku terus menanyakanku," ucap Valentino dengan menyesal. Hubungannya dengan sang kakek memang sangat dekat. Valentino merupakan cucu kesayangan dari kakeknya.


 


"Tidak apa-apa, Vale. Lagi pula, ada Francy yang menemaniku di sini. Sampaikan salamku untuk paman dan bibi, juga untuk kakek-mu. Semoga beliau cepat sembuh," ucap Mia dengan senyum lembutnya. Valentino mengangguk pelan. Tanpa diduga, tiba-tiba ia mengecup kening Mia dengan hangat. Meskipun hanya sesaat, tapi semua adegan itu sudah terekam dalam ponsel milik Coco.


 


"Semoga kau tidak patah hati melihat adegan manis ini, kawan," gumam Coco pelan seraya mengirimkan rekaman video itu. Coco juga sempat menatap Valentino yang saat itu berjalan melewati meja yang ia tempati.


 


Dalam pandangan Coco, Valentino tampak sangat baik dan peduli kepada Mia. Pemuda itu juga terlihat tulus dengan segala perhatian yang ia berikan terhadap gadis manis itu. Coco merasa jika Valentino cocok untuk mendampingi Mia. Ia pasti dapat menjaga gadis itu dengan baik.


 


Selepas Valentino meninggalkan kedai, datanglah segerombolan pemuda yang memilih tempat duduk di dekat Coco. Pemuda-pemuda itu begitu berisik dan sangat mengganggu. Coco mengamati mereka dengan serius. Ia dapat menangkap gelagat tidak baik sejak pandangan pertama. Ia yakin jika pemuda-pemuda itu tengah mabuk. “Aneh sekali, mabuk di siang hari. Ada apa dengan mereka?” gumam Coco tidak mengerti.


 


 


Salah satu dari mereka berdiri dan mengitari tubuh ramping gadis lugu itu. “Kau wangi sekali,” pemuda itu mengendus-endus rambut panjang Mia. “Bellisima,” bisiknya tepat di telinga Mia.


Mia bergidik ngeri dan memundurkan badannya beberapa langkah. “Cepatlah, apa yang ingin kalian pesan?” tanya Mia dengan agak gugup.


 


“Mendekatlah, Bella! Aku tak bisa mendengar suaramu,” rekan pemuda itu juga turut menggoda Mia dan berusaha menarik lengan Mia. Tentu saja gadis itu menampik tangan nakal pemuda yang tak dikenalnya itu.


 


“Bersikaplah yang sopan, atau terpaksa aku mengusir kalian dari sini!” tegas Mia. Entah dari mana ia mendapat keberanian untuk melawan. Pemuda-pemuda itu pun segera berdiri dan mengerubungi Mia. Mereka mulai terpancing emosi atas sikapnya.


 


Semua yang terjadi di depan Coco itu tak pernah lepas dari rekaman layar ponselnya yang terhubung langsung dengan ponsel Theo. “Kau lihat itu, Amico? Gadismu sangat pemberani,” pujinya.


 


Sementara Theo yang berada jauh di Brescia hampir tak sempat mengedipkan mata saat fokus ke layar ponselnya dan melihat rekaman pemuda-pemuda itu dengan seenaknya membelai rambut dan membelai pipi Mia. Theo mengepalkan tangannya demi menahan emosi. “Lakukan sesuatu, Coco! Jangan diam saja! Jangan sampai Mia terluka sedikitpun!” geramnya penuh amarah.


 


Coco mendengar suara Theo dari earphone yang tersambung dengan ponsel yang terpasang sempurna di telinganya. “Baiklah, jika itu yang kau inginkan,” Coco terkekeh dan beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


 


“Santai saja, teman!” Coco menepuk pundak salah satu pemuda itu dan menariknya sedikit keras. Hal itu membuat si pemuda menoleh dan menampakkan wajah tak suka.


 


“Jangan ikut campur, atau kau akan merasakan akibatnya!” ancam pemuda itu dengan tegas.


 


“Oh, ya? Memangnya apa akibatnya?” Coco terkekeh meremehkan.


 


Tanpa banyak bicara, salah satu rekan pemuda tadi segera maju dan mendekati Coco. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah tampan Coco. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. “Jangan menantang kami jika kau tak tahu siapa ka ….”


 


Kalimat pemuda itu terhenti akibat pukulan telak yang diarahkan Coco ke ulu hatinya. Pemuda itu terhuyung sambil terbatuk-batuk, lalu menabrak salah satu meja dan jatuh pingsan.


 


“Hentakan di ulu hati membuat kalian kesulitan bernapas selama beberapa menit,” seringai Coco.


 


Francesca yang mendengar keributan, segera berlari keluar dan melihat keadaan Mia. “Apa yang terjadi?” tanyanya sambil tergopoh-gopoh menarik Mia menjauh dari gerombolan pemuda yang tampak hendak menghajar seorang pria.


 


Francesca mengamati seorang pria berambut ikal bermata coklat yang tadi sempat menggodanya. “Siapa yang bermasalah?” tanyanya lagi.


 


“Berandalan-berandalan itu berniat menggodaku dan pria itu membantuku,” tunjuk Mia pada Coco. Perhatian Francesca akhirnya tertuju pada Coco. Tanpa berkedip, ia melihat Coco yang bergerak dengan gesit melawan pemuda yang berjumlah lima orang itu sendirian, dengan tangan kosong. Coco mengalahkan mereka satu per satu.


 


Francesca menjadi saksi ketika seorang pemuda tak mau menyerah dan menghambur ke arah Coco. Ia bermaksud menendang pria itu, tetapi Coco sigap memegang betis si pemuda dan memutarnya. Terdengar bunyi tulang bergeser, membuat Mia dan Francesca menutup telinganya. Pemuda itu terjatuh di lantai kedai dan memekik kesakitan.


 


“Apakah kalian masih ingin lanjut?” Coco berdiri gagah di depan para pemuda yang terkapar tak berdaya. Serempak mereka menggelengkan kepala. Sedangkan satu dari mereka berusaha berdiri dan menyerang Coco kembali. Coco mengelak dari pukulan, lalu mencengkeram pergelangan tangan dan memelintirnya ke belakang. Tak hanya itu, Coco juga menyeretnya ke jalan di depan kedai dan menyeberang hingga ke tepi kanal.


 


Pemuda itu memekik ketika mengetahui maksud Coco. “Hei, Amico! Kita bisa membicarakan semuanya baik-baik!” pintanya. Tangannya masih berada pada posisi terpelintir ke belakang.


 


“Terlambat!” Coco melepas tangannya dari pergelangan pemuda itu, dan menendang punggungnya. Pemuda itu tercebur, menimbulkan suara nyaring dan perhatian para penarik gondola.


Francesca terpana melihat itu semua. Baru kali ini jantungnya berdebar begitu kencang. Jauh lebih kencang daripada saat ia memandang Willie dari dekat. “Dia keren sekali,” gumamnya tanpa sadar.


 

__ADS_1


__ADS_2