Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Benedizione Dal Cielo


__ADS_3

Matteo kembali ke dalam mobilnya. Seperti biasa, ia menampilkan raut wajahnya yang datar. Hal itu membuat Coco dan Marco merasa penasaran. “Apa yang D’Angelo katakan, Amico?” tanya Coco yang duduk di jok sebelahnya. Sementara Marco dan Daniella duduk di jok belakang.


Matteo tak langsung menjawab. Ia menyandarkan tubuhnya dan tampak berpikir. Sesaat kemudian, pria berkaca mata hitam itu menoleh kepada Coco. “Apa menurutmu adalah hal yang wajar, jika D’Angelo bersikap biasa saja setelah aku memberitahunya tentang apa yang telah kulakukan terhadap anak buahnya tadi?” Matteo balik bertanya. Sedangkan Coco seketika mengernyitkan keningnya seraya tertawa renyah.


“Sungguh? D’Angelo tidak terpengaruh sama sekali?” Coco menggaruk keningnya.


“Apa mungkin jika orang-orang yang telah menyekap dan mengancam Dani, bukan lagi anggota gengnya? Bisa saja mereka hanya mengatasnamakan Tigre Nero untuk mengadu domba kau dan Tuan D’Angelo,” timpal Marco dari belakang.


“Aku rasa itu tidak mungkin. Siapa mereka? Adriano D’Angelo terlalu kuat untuk ditandingi.  Setidaknya itu yang Damiano ceritakan padaku,” bantah Matteo. Ia menghentikan pembicaraan itu untuk sejenak, karena ponselnya terus bergetar sejak tadi. Matteo segera memeriksanya. Ia pun tersenyum simpul.


Tentu saja, sebuah panggilan masuk dari sang istri tercinta. Matteo mengela napas pelan. Ia pun segera menjawab panggilan tersebut. “Mia?” sapanya membuka percakapan.


“Aku sangat cemas, Theo. Kenapa kau dan yang lainnya belum kembali juga? Bagaimana Dani? Apa ia bersamamu saat ini? Aku ingin bicara dengannya,” Mia berbicara dengan tanpa jeda sama sekali. Terdengar jika ia memang benar-benar cemas saat itu.


“Tenanglah, Sayang. Kami semua baik-baik saja. Kau ingin bicara dengan Dani? Baiklah,” Matteo menoleh ke jok belakang dan menyodorkan ponselnya. Namun, sebelum Daniella menerima ponsel tersebut, Matteo berkata dengan setengah berbisik, “Katakan jika kita sedang di jalan,” suruhnya. Daniella yang masih agak syok dengan kejadian yang telah menimpanya, hanya mengangguk lemah. Setelah itu, Matteo kembali menghadap ke depan dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Sedangkan Coco tampak menahan tawa. Entah apa yang dirasanya begitu lucu.


“Apa masalahmu?” lirik Matteo sesaat sebelum mobil jeep hitam itu melaju dengan gagahnya.


“Tidak ada,” jawabnya sambil memalingkan wajahnya ke luar jendela. “Aku jadi takut untuk menikah,” ujar pria itu pelan.


“Lagi pula, siapa yang mau menikah denganmu,” ledek Matteo dengan begitu enteng, membuat Coco mendelik tajam kepadanya. Sementara Matteo sendiri tampak begitu tenang saat mengemudikan mobil kesayangannya. Hal yang telah sekian lama tidak ia lakukan akibat cedera yang ia alami selama ini.


Beberapa saat kemudian, Daniella yang saat itu sudah selesai berbincang dengan Mia, segera mengembalikan ponsel tadi kepada Matteo. Daniella terlihat begitu lesu dan tidak seperti biasanya. Ia lebih banyak diam. Nyawa gadis itu seakan belum sepenuhnya terkumpul dalam raganya.


“Kau tak apa-apa, Dani?” tanya Marco yang duduk di sebelah Daniella. Sejak tadi, ia memperhatikan gadis itu. Daniella memang terlihat sangat kacau, dan itu adalah hal yang wajar setelah ia mengalami saat-saat yang menakutkan.


Daniella tampak sedikit kebingungan. Ia tidak tahu harus berkata apa. Tanpa diduga, Marco menyentuh punggung tangan gadis itu dan tersenyum. “Tenanglah, kau sudah aman sekarang,” ucapnya pelan. Daniella hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan pelan. Ia lalu menyandarkan kepalanya dan mencoba untuk tidur. Tak berselang lama, gadis berambut pirang tersebut akhirnya terlelap. Ia tampak begitu menikmati tidurnya, bahkan sampai tak menyadari jika kepalanya kini bersandar di pundak Marco.

__ADS_1


Marco sendiri tak merasa terganggu dengan hal itu. Ia hanya tersenyum kecil melihat Daniella yang tertidur pulas. Perjalanan panjang menuju Brescia kini mereka tempuh, dan sepertinya tak akan membutuhkan waktu yang terlalu lama dengan gaya mengemudi seorang Matteo. Akan tetapi, ketika sudah mulai memasuki kota Brescia, Matteo segera menyerahkan kemudi kepada Coco.


Menjelang malam, mobil jeep hitam itu baru memasuki gerbang Casa de Luca. Marco turun terlebih dahulu. Setelah itu, ia membukakan pintu untuk Daniella. Sementara Matteo tampak kebingungan. Ia menyalakan lampu dalam mobilnya dan terlihat mencari-cari sesuatu.


“Kau mencari sesuatu, Amico?” tanya Coco yang terlihat heran dengan apa yang Matteo lakukan saat itu.


“Ya,” jawab Matteo. Ia terdengar sedikit cemas. “Apa kau melihat arm sling milikku?” tanyanya kepada Coco yang saat itu hanya mengangkat kedua bahunya.


“Di mana kau terakhir melepasnya?” tanya Coco yang seketika menyadarkan Matteo. Pria bermata abu-abu tersebut seketika menepuk keningnya sendiri. Entah sejak kapan ia menjadi pelupa. Arm sling itu sudah tak berbentuk lagi ketika ia menyobeknya di apartemen Daniella.


“Ah, sialan! Bagaimana ini?” Matteo terlihat gelisah, apalagi ketika ia melihat Mia sudah berdiri menyambutnya di halaman teras rumah. Coco segera turun tanpa mau peduli dengan kegelisahan sahabatnya. Ia berjalan ke arah Mia sambil menahan tawa. Sementara Mia mengernyitkan keningnya karena Coco hanya turun sendiri.


“Hai, Ricci. Kau tahu apa yang sedang dilakukan suamiku di dalam mobilnya?” tanya Mia dengan sangat penasaran. Sedangkan Coco tidak segera menjawab. Ia membalikkan badannya dan mengikuti arah tatapan Mia.


“Aku rasa Matteo sedang mencari sepatu sebelah kanannya,” sahut Coco dengan ragu dan membuat Mia kembali mengernyitkan keningnya. Pria bermata cokelat tersebut kembali mengulum senyuman ketika akhirnya ia melihat Matteo turun dari mobil. Pria itu melepas jaketnya dan menggunakan jaket tersebut untuk menutupi tangan sebelah kanannya.


Mateo melangkah dengan tegap dan tampak baik-baik saja. Ia berusaha untuk tetap terlihat tenang, meskipun ia tahu apa yang akan dihadapinya setelah ini. Sedangkan Coco berkali-kali menundukkan wajah, terlebih ketika Matteo telah berdiri di hadapannya dan Mia.


“Kau baik-baik saja, Theo?” tanya Mia. Ia merasa ada kejanggalan dari sikap yang ditunjukan Matteo saat itu. Namun, belum sempat Matteo menjawab pertanyaan sang istri, Francesca datang menghampiri mereka. Gadis itu tampak sumringah melihat Coco dan Matteo telah kembali dalam keadaan yang baik-baik saja.


“Aku senang kalian sudah pulang,” ucap gadis itu seraya mengarahkan pandangannya kepada Coco, yang saat itu mencoba untuk menghindari pandangan Francesca padanya. Coco pun memilih untuk pamit dan segera masuk.


Sedikit kecewa akan sikap Coco, Francesca mencoba menguasai diri dan semakin melebarkan senyumnya. “Terima kasih, Theo. Entah apa jadinya jika tak ada dirimu. Kau tahu? Ayahku pernah mengatakan jika seandainya kalian ditakdirkan bersama, maka kau akan menjadi sosok yang paling tepat untuk melindungi Mia,” ucap Francesca. “Ia sendiri yang mengatakan hal itu padaku, tepat di malam setelah pemakaman ibuku,” imbuhnya. Tanpa menunggu balasan dari Matteo, gadis itu segera berlalu. Ia berjalan sambil menunduk saat kembali memasuki Casa de Luca .


Sementara Matteo masih terhenyak atas perkataan Francesca. “Kukira Mr. Gio tidak pernah menyukaiku,” gumamnya dengan wajah merona.


“Ia menyukai siapapun yang aku sukai,” bisik Mia sembari mengecup pipi Matteo dengan gemas. Tangannya bergerak menyentuh leher suaminya. Namun, tanpa sengaja Mia menggeser jaket yang tersampir di pundak kanan Matteo, hingga merosotlah jaket itu dan terjatuh di tanah. Tampaklah lengan kanan Matteo yang terbuka tanpa balutan arm sling, membuat Mia terkejut tak terkira. “Theo? Le-lenganmu?” mata indahnya terbelalak sempurna.

__ADS_1


Gugup dan gelisah bercampur menjadi satu di dada Matteo. Ia meringis untuk sesaat sambil memikirkan alasan yang tepat untuk Mia. “Wah, aku baru sadar jika tanganku sudah benar-benar sembuh!” serunya kemudian sembari memutar-mutar lengan kanannya.


Seketika Mia mengangkat alisnya dan bersedekap. “Jadi kau ikut berkelahi di sana? Kau selalu membohongiku, Theo!” keluh Mia dengan raut kecewa. Ia segera membalikkan badannya dan berniat untuk meninggalkan Matteo sendirian. Akan tetapi, Matteo lebih sigap. Secepat kilat, ia meraih pergelangan tangan Mia dan menarik sang istri ke dalam pelukannya.


“Hei, lihatlah sisi baiknya. Tanganku ternyata baik-baik saja walau tanpa arm sling itu. Artinya, aku sudah bisa menggendongmu, dan ....” Matteo mengurai pelukannya, lalu mengerling nakal kepada Mia.


“Astaga!” sungut Mia. Ia mendorong dada bidang suaminya dan setengah berlari meninggalkan pria rupawan itu di depan halaman. “Aku tak peduli lagi padamu, Theo! Terserah!” gerutunya dari kejauhan.


Sementara Matteo hanya tertawa pelan. Untuk beberapa saat, ia terdiam menikmati kesendirian di sana. Kepalanya kemudian menengadah, menatap langit hitam, lalu tersenyum. “Terima kasih atas restumu, Mr. Gio. Aku tak akan pernah menyia-nyiakan kepercayaanmu,” ucapnya pelan sebelum beranjak dari sana.


Sedangkan Mia masuk ke kamarnya dengan memasang wajah yang begitu jengkel. Ia bahkan tak peduli ketika Matteo masuk dan berdiri di belakangnya. Mia masih berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. "Kau sangat mencemaskanku, Mia?" bisik Matteo. Sementara Mia tak menjawab. Ia segera memalingkan wajahnya ke sebelah kiri ,demi menghindari wajah Matteo yang berada di pundak sebelah kanannya.


"Itulah mengapa aku sangat mencintaimu. Lama-kelamaan, kau menjadi begitu cerewet dan hampir sama persis dengan mendiang ibuku. Namun, aku sangat menyukainya," bisik Matteo lagi


🍒


🍒


🍒


Hai, ketemu lagi. Berhubung Theo lagi dimarahin sama Mia, lebih baik kita tengok dulu yuk, novel keren di bawah ini👇👇👇



 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2