Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Important Mission


__ADS_3

Matteo duduk di lantai seraya menyandarkan tubuhnya pada dinding. Ia mulai memikirkan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya. Ia harus menyusun rencana sematang mungkin. Matteo tidak boleh bertindak gegabah seperti yang sudah-sudah.


Malam semakin larut. Semua lampu di dalam kedai sederhana itu telah dimatikan, ketika Mia pergi dari sana. Matteo kini menyendiri dalam keremangan. Gudang itu, hanya diterangi oleh sebuah lampu kecil berwarna kuning. Matteo merasa jika dirinya tengah berada di dalam gorong-gorong saluran air. Ia juga harus berjuang dengan aroma tidak nyaman yang bercampur aduk, dari bumbu dan berbagai rempah yang ada di sana.


Perlahan, Matteo memejamkan matanya. Ia ingin beristirahat setelah melewati hari yang begitu berat dan juga menyakitkan. Beruntungnya, peluru dari lengannya telah berhasil dikeluarkan meskipun ia harus berjuang dengan rasa sakit yang teramat sangat.


Matteo duduk bersandar sambil memeluk bantal kesayangan Mia. Perlahan ia menghirup aroma semerbak yang menempel pada bantal itu. Wanginya sama seperti aroma yang ia hirup dari rambut Mia.


Matteo berkali-kali menggelengkan kepalanya. Ia menolak hal itu. Ia tidak ingin memikirkan gadis itu, karena saat ini wanita dan cinta bukan merupakan target utamanya. Satu-satunya yang ingin ia lakukan hanyalah balas dendam, dan mencegah agar jangan sampai senjata hasil rakitannya ditiru oleh Klan Moriarty.


Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama bagi Matteo untuk dapat terlelap. Kini pria itu sudah tertidur, meskipun dengan posisi duduk dan bersandar pada dinding. Ia bahkan tidak menyadari jika malam telah berganti dengan pagi.


Matteo segera membuka matanya ketika ia mendengar suara dari depan kedai. Ia menajamkan pendengarannya dan segera bangkit. Sebisa mungkin, ia tidak menimbulkan suara sedikitpun. Matteo kemudian merapatkan tubuhnya ke dinding. Ia harus waspada agar jangan sampai keberadaannya di kedai itu diketahui orang lain selain Mia.


Sayup-sayup, Matteo mendengar langkah kaki ke arah gudang. Pria itu mulai berpikir. Saat itu suasana masih cukup gelap. Lalu siapa yang datang sepagi itu?


Matteo semakin waspada, terlebih ketika suara langkah itu terdengar semakin mendekat. Hingga akhirnya ia melihat seseorang berdiri di dekatnya. Seseorang yang memakai jaket dengan penutup kepala yang menyembunyikan wajahnya.


Dengan segera, Matteo menarik orang itu dan memelintir tangannya ke belakang. Ia juga menahan leher orang itu dengan lengannya hingga wajah orang itu sedikit terangkat.


Akan tetapi, tak lama kemudian Matteo segera melonggarkan kunciannya ketika ia mendengar suara lembut yang mulai akrab di telinganya. “Mia?” sebut Matteo dengan setengah berbisik.


“Kau menyakitiku, Theo,” keluh gadis cantik itu.


“Ma-maafkan aku. Kukira kau orang lain,” Matteo segera melepaskan cengkeramannya dari leher jenjang Mia. “Apakah kau terluka?” Theo mendekatkan wajahnya pada gadis itu, mengamati dengan detail, setiap inci dari leher dan pergelangan tangan Mia.

__ADS_1


Gadis bermata coklat itu hanya bisa terpana. Pipinya berubah kemerahan saat menatap di kedalaman mata abu-abu Matteo yang berada cukup dekat dengannya. Bahkan dia dapat merasakan dengan jelas napas Matteo yang menyapu wajahnya.


“A-aku membawakan sarapan untukmu. Maaf jika terlalu pagi. Aku hanya sempat mengantarkannya sekarang, karena aku harus berangkat ke kampus,” tutur Mia seraya memundurkan badannya. Ia lalu memungut kotak makanan yang sempat terjatuh ketika tangan kekar Matteo memitingnya.


“Oh, tidak! Apa yang sudah kulakukan padamu? Maafkan aku, Mia,” sesal Matteo.


“Tidak apa-apa. Berapa kali Tuan Matteo harus meminta maaf padaku,” canda Mia sembari terkikik geli. Diserahkannya kotak bekal itu kepada Matteo.


“Kau memasak untukku?” tanya Matteo lembut.


“Sekalian. Aku juga selalu memasak bekal untuk istirahat siang di kampus nanti. Jauh lebih irit daripada aku harus menghabiskan beberapa euro di kantin,” tutur gadis itu dengan polosnya. Matteo tersenyum simpul mendengar hal itu. Ia pun mengangguk pelan.


“Apa kau tak takut padaku, Mia?” tanya Matteo begitu saja. Pertanyaan itu telah membuat Mia tertegun untuk sesaat.


Mia menggeleng pelan. Lagi-lagi ia memamerkan senyumnya. “Aku percaya padamu,” tegasnya. “Meskipun .…” dia menggantungkan kalimatnya begitu saja.


“Meskipun ciri-cirimu sama persis dengan ciri-ciri pembunuh yang dipaparkan oleh saksi di Breaking News pada saluran lokal tadi malam,” lanjut Mia pelan. “Apalagi cengkeramanmu terasa begitu kuat dan sedikit menyakitkan, menunjukkan bahwa kau bukan pria biasa,” imbuhnya.


Matteo terkesiap seketika. Ia lalu kembali menguasai mimik dan emosinya dalam beberapa detik. “Apa yang membuatmu percaya padaku?” tanyanya kemudian.


Gadis itu tak menjawab. Mia hanya tersipu malu sambil mengangkat bahu. “Aku harus pergi, atau ayah akan mencurigaiku," tutup Mia. Ia bergegas keluar dari gudang dan menutup pintunya dengan pelan.


Mia memegangi dadanya yang masih terasa berdebar dengan tak beraturan, seraya menyandarkan punggungnya pada pintu. Bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan Matteo? Jelas tidak mungkin jika ia harus berkata jujur, pada pria asing itu bahwa dia telah jatuh cinta kepadanya.


“Kau bodoh, Mia!” umpatnya lirih pada diri sendiri. “Hanya orang bodoh yang jatuh cinta dengan begitu mudahnya, dalam hitungan jam pula,” gerutunya.

__ADS_1


“Mia?” panggilan seseorang membuat gadis itu terlonjak kaget. “Ayah!” serunya.


“Sedang apa ayah di sini?” tanya Mia dengan heran.


“Seharusnya Ayah yang bertanya seperti itu padamu,” protes Mr. Gio.


“Eh, a-aku sedang memeriksa persediaan bahan, Yah. Sekalian aku akan mampir ke market siang nanti sepulang kuliah,” dalih Mia terbata.


"Sepagi ini?” Mr. Gio terlihat heran. Mata pria itu menunjukan tatapan curiga pada putri kesayangannya. "Baiklah!" lanjut Mr. Gio meski ragu.


Mia tersenyum lembut meskipun sedikit cemas. Dalam hati, Mia berdoa agar ayahnya tidak membuka gudang dan menemukan seseorang yang ia sembunyikan di dalam sana.


“Apa lagi yang kau tunggu, Mia?” Mr. Gio tak juga berbalik menuju kedai. Sementara Mia sendiri juga menunggu gerakan dari sang ayah.


“Aku ... menunggu Ayah. Aku akan membantu membereskan kedai sebentar. Aku masih punya waktu sekitar lima belas menit,” kilah Mia. Segera saja Ia menarik lengan sang ayah dan menyeretnya ke bagian depan kedai.


Dari dalam gudang, Matteo mendengarkan secara seksama semua yang diucapkan oleh gadis itu, dari sejak Mia menutup pintu, hingga mengajak ayahnya menjauh. Pria tampan itu mengembuskan napas panjang. “Jatuh cinta?” gumamnya.


Tersungging senyuman samar dari bibir tipis itu. Lalu, pikirannya melayang kembali pada kejadian kemarin, sesaat sebelum bertemu dengan Mia. Ia terpaksa menghabisi nyawa salah satu anak buah Silvio yang kedapatan mengikutinya.


Anak buah Silvio itu hampir saja menembak dirinya. Beruntung Matteo menyadarinya lebih dulu. Matteo berkelit dan menghindar. Ia masih tetap lihai meskipun dalam keadaan terluka.


Setelah itu, Matteo nekat menerjang tubuh anak buah Silvio dan merebut senjatanya. Matteo kemudian menembak dada kirinnya. Ia tak ingin mengambil resiko seandainya Silvio mengetahui keberadaannya saat ini.


Lagi pula, jika Matteo tidak membunuh pria itu, maka bisa dipastikan mayatlah yang mengambang di sungai dan masuk di siaran televisi lokal.

__ADS_1


Matteo belum ingin mengaku kalah. Ia tidak akan mati dengan semudah itu, terlebih karena ia membawa misi penting kini. Misi yang membuatnya harus terus fokus, meskipun sejujurnya jika saat ini konsentrasinya sedikit terbagi. Harus Matteo akui, ia juga memikirkan gadia bernama Mia.


 


__ADS_2