Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Ciao, Bella


__ADS_3

“K-kau mau apa, Theo?” tanya Mia dengan terbata.


“Menemanimu tidur,” seringai Matteo dengan sorot matanya yang semakin terlihat menakutkan.


Mia menggeleng pelan. Ia sungguh merasa takut. “Tidak! Aku benar-benar takut,” resah gadis itu tanpa mengalihkan tatapannya dari Matteo. Hal itu membuat Matteo dapat memahami sesuatu atas diri Mia.


Kembali diciumnya bibir gadis itu dengan lembut. “Tenanglah, Mia! Aku tidak akan menyakitimu,” bisik Matteo. Ia membelai wajah manis itu dengan penuh perasaan. Entah sejak kapan, Matteo menjadi pria yang romantis dalam memperlakukan seorang wanita.


Matteo kemudian turun dari tempat tidur. Ia melepas T Shirt round neck yang dipakainya. Ia juga mulai melepas pengait dari celana jeansnya. Sementara Mia merasakan dadanya berdebar dengan semakin kencang. Untuk pertama kalinya ia melihat tubuh polos seorang pria secara langsung.


Tatapan Matteo terlihat semakin aneh. Pria itu kembali berada di atas tubuh Mia, sehingga kulit tubuh mereka kini saling bersentuhan secara langsung. Mia terus menatapnya. “Sentuhlah, Mia,” suruh Matteo pelan. Ia seakan mengetahui apa yang ada di dalam pikiran gadis itu. Meski ragu, Mia melakukan apa yang Matteo perintahkan.


Dirabanya dengan penuh perasaan, setiap ukiran tegas dari tubuh Matteo. Dada yang berhiaskan gambar-gambar aneh, yang Mia sendiri pun tidak mengerti apa maksudnya. Jemari lentiknya kemudian bergerak turun pada perut yang terasa begitu kuat dan keras. Terasa sangat menakjubkan seperti sebuah dinding tebing yang kokoh. Mia mulai menyukai hal itu. Gadis itu tersenyum lembut. Ia kini mengalihkan sentuhannya pada kedua lengan Matteo yang berada di sebelah kiri dan kanan tubuhnya.


“Apa kau menyukainya, Mia?” bisik Matteo lagi. Mia menganggukan kepalanya dengan perlahan.  Ia menyentuh wajah Matteo dan menangkup rahang kokohnya. Mia kemudian menariknya agar lebih mendekat. Ia memberanikan diri untuk mencium pria itu.


Gairah yang telah memuncak, membuat wajah Matteo memerah. Tangan kanannya sigap menahan kedua pergelangan tangan Mia yang ia letakan dengan setengah tertekuk di atas kepala gadis itu. Sementara tangan kirinya bersiap untuk menerbangkan sang kumbang menuju kuncup bunga yang ingin segera ia hinggapi.


Mia terus menatap wajah Matteo yang terlihat semakin aneh. Gadis itu merasa begitu tegang dan tidak dapat menerka apa yang akan dilakukan Matteo terhadap dirinya. Sementara Matteo masih dengan napasnya yang kian memburu. Tanpa aba-aba yang begitu pasti, Matteo mulai melesatkan sang kumbang dari sarangnya dan membuat Mia terbelalak.

__ADS_1


Lagi, gadis itu hampir memekik dengan kencang, andai saja Matteo tidak membungkamnya dengan sebuah ciuman panas penuh hasrat yang ingin segera ia tuntaskan. Helaan napas berat terdengar dengan jelas di telinga Mia, ketika Matteo mendapat kehormatan untuk menjadi pria yang beruntung. Ia adalah pria pertama yang telah membuat Mia merintih kesakitan. Mia bahkan  hampir meneteskan air matanya, ketika Matteo membuka kuncup bunga itu dengan sekali tembakan. Darah pun menetes seiring dengan hilangnya mahkota indah yang selama ini Mia jaga dengan sebaik-baiknya.


Matteo tersentak. Kini, ia benar-benar yakin jika Mia adalah seorang perawan yang masih polos dan suci. Matteo pun mengerti kenapa Mr. Gio menjaganya dengan begitu baik.


Perlahan Matteo melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Mia. Ia membiarkan gadis itu untuk kembali menyentuhnya, mencari sebuah pegangan agar Mia dapat bertahan dari setiap hentakan yang akan diberikannya terhadap gadis itu. Matteo terlalu kuat untuk seorang gadis lugu seperti Mia. Ia terlalu berpengalaman sehingga dapat membuat Mia langsung takluk ke dalam kekuasaannya.


“Theo ... pelan-pelan!” pinta Mia di sela-sela ringisannya. Gadis itu melingkarkan tangannya pada leher Matteo. Sesekali ia meremas rambut belakang pria yang kini tengah berkuasa atas dirinya. Mia masih membutuhkan waktu untuk dapat mengimbangi pria itu.


Matteo menuruti permintaan Mia. Ia kini melakukannya dengan jauh lebih lembut. Perlahan tapi pasti, setiap gerakannya mulai membius gadis manis itu. Rasa sakit yang dirasakan Mia kini perlahan sirna dan berganti dengan sebuah rasa yang sangat sulit untuk ia ungkapkan.


“Seperti inikah rasanya?” pikir Mia. Untuk beberapa saat, Mia tidak dapat memikirkan hal lain selain menikmati setiap cumbuan dari seorang Matteo de Luca, pria yang bahkan belum ia kenal dengan baik. Akan tetapi, untuk saat ini Mia tidak peduli dengan hal itu. Ia terlalu bahagia dan merasa begitu bebas. Mia merasa telah melepaskan sebuah tali pengikat yang selama ini merantainya dalam sebuah norma. Namun, kini ia telah terlepas. Ia membiarkan Matteo membawanya terbang jauh, hingga tubuhnya berkali-kali merasakan sebuah gejolak yang begitu indah dan tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Jarum jam terus berputar. Entah sudah berapa lama kedua sejoli itu saling melepas rindu dan menyingkirkan segala penghalang yang selama ini membuat mereka berada dalam perasaan yang tak menentu. Matteo membiarkan dirinya terbawa dalam alunan kelembutan seorang Mia. Sedangkan Mia, ia begitu terpesona dengan kekuatan dan kegagahan seorang Matteo.


Keringat dan rasa lelah terbayar sudah. Matteo mengempaskan tubuhnya ke samping. Napasnya terengah-engah, tetapi ia merasa begitu puas.


Diliriknya Mia yang saat itu terlihat sama lelah dengan dirinya. Gadis itu tersenyum lembut ketika Matteo menyentuh wajahnya.


Matteo kemudian menarik selimut dan menutupi tubuhnya. “Kemarilah!” ajaknya kepada Mia. Gadis itupun menurut. Ia kini merebahkan tubuhnya dalam dekapan lengan kokoh Matteo.

__ADS_1


“Terima kasih,” ucap Matteo pelan seraya mengecup mesra kening Mia.


“Terima kasih untuk apa?” tanya Mia dengan polosnya. Ia menyandarkan kepalanya di dada Matteo.


“Untuk semuanya,” jawab Matteo pelan. “Aku akan pergi ke Palermo. Aku harap kita dapat bertemu kembali,” ucap Matteo lagi dengan datar. Tangannya tak henti mengelus lembut rambut panjang Mia.


Mia mendongakan wajahnya. Ia lalu menyentuh rahang tegas Matteo. “Apa kau sudah bertemu dengan orang tuamu?” tanya Mia lagi.


Matteo terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia pun mengangguk pelan. “Ya. Sudah,” jawabnya terdengar ragu. Matteo terpaksa harus kembali berbohong kepada Mia. Ia merasa jika belum saatnya bagi Mia untuk mengetahui jati dirinya.


“Kapan kau akan kembali dari Palermo?”


Matteo kembali terdiam mendengar pertanyaan itu. Ia tidak dapat memastikan apakah dirinya dapat kembali dengan selamat atau justru sebaliknya. Namun, Matteo terus meyakinkan dirinya bahwa ia harus kembali demi orang-orang yang ia cintai.


“Tidurlah, Mia! Ini sudah terlalu malam,” suruh Matteo seraya kembali mengecup kening Mia. Mia tersenyum. Ia begitu lelah hingga tak membutuhkan waktu lama, akhirnya gadis itupun terlelap di dalam dekapan Matteo yang saat itu terdiam dengan tatapannya yang datar.


Selang beberapa saat, Matteo melepaskan Mia dari dekapannya. Ia menidurkan gadis itu dan menyelimutinya. Matteo segera turun dari ranjang dan berpakaian lengkap. Setelah selesai memakai jaketnya, Matteo kemudian menatap Mia yang sudah terlelap di bawah selimutnya. Ia mendekati gadis itu dan memasangkan gelang tali paracord berwarna hitam putih di pergelangan tangan kiri Mia. Matteo kemudian mencium kening gadis itu seraya berbisik , ”Ciao, Bella. Dormi bene, Amore mio.” (Selamat tinggal, Cantik. Selamat tidur, Cintaku).


 

__ADS_1


__ADS_2