
Matteo terus berjalan mundur. Dengan hati-hati, ia menuruni deretan anak tangga hingga menuju ke lantai bawah.
Di bawah sana, terlihat beberapa pengawal Silvio beserta beberapa orang gadis yang ketakutan. Gadis-gadis itu berkumpul dan terdiam di sudut ruangan.
Lenatta menjadi bagian dari gadis-gadis itu. Ia memandang Silvio dengan penuh iba. Ia seakan tidak rela melihat Silvio berada dalam situasi seperti itu.
Matteo sempat menangkap gelagat aneh Lenatta. Namun, ia tidak terlalu mengindahkannya. Matteo kemudian memutar badannya dan melangkah maju seraya membidik anak buah Matteo yang masih tersisa.
Beberapa orang di atas terus mengawasi pergerakannya sembari bersiap dan terus mengarahkan senjata mereka kepada Matteo.
“Ingat! Satu butir peluru saja kalian tembakkan, maka kepala manusia tampan ini akan berlubang,” ancam Matteo kepada para pengawal Silvio.
Silvio hanya terkekeh pelan menanggapinya. “Apa kau sudah memikirkannya matang-matang, Theo?” tanyanya tiba-tiba.
“Memikirkan apa?” Matteo balik bertanya sambil terus bersikap waspada. Ia lalu menembakkan beberapa peluru yang ia arahkan pada pengawal Silvio yang berada di lantai atas hingga mereka pun roboh. Matteo tak menyisakan satu nyawa pun di atas sana. Tinggal beberapa orang pengawal lagi yang masih tersisa dan berada di lantai bawah. Tak ada satupun dari mereka yang berani melukai Matteo.
“Pikirkan apa yang akan dilakukan kakak-ku jika ia mengetahui bahwa kaulah yang membunuhku,” ucap Silvio dengan tenang, meski nyawanya kini sedang di ujung tanduk.
“Kakak-mu tidak perlu tahu. Lagi pula, kau yang memulai. Kau lah yang mengkhianatiku, Silvio! Rasanya teramat menyakitkan jika kita dikhianati sahabat sendiri!” balas Matteo. Ia terus berjalan mundur hingga mencapai pintu ke luar.
“Nona-nona! Aku yakin kalian akan tetap merahasiakan kejadian hari ini dan tidak menceritakannya pada siapapun. Iya, kan?” Matteo mengedipkan sebelah matanya pada para gadis yang terlihat ketakutan. Serempak mereka mengangguk. Sementara, Lenatta hanya berdiri membisu sambil menatap Silvio penuh arti.
“Bagus! Tak ada yang boleh tahu, apalagi polisi! Jika sampai hal ini bocor, maka kalian yang akan menjadi target buruanku selanjutnya!” ancam Matteo dengan dingin. Moncong pistolnya ia arahkan kepada gadis-gadis itu.
“Polisi tak akan sudi mengurusi perseteruan antar mafia seperti kita,” dengus Silvio kesal.
“Aku hanya berjaga-jaga!” sahut Matteo dengan dinginnya. Tangannya kini sudah berhasil membuka pintu keluar.
__ADS_1
Para pengawal Silvio yang masih tersisa juga terlihat tak putus asa. Mereka maju perlahan sambil mengarahkan senjatanya ke depan.
Matteo yang kini berada di atas angin tersenyum simpul. Ia lalu menarik pelatuknya. Beberapa tembakan bersarang di tubuh masing-masing anak buah Silvio hingga mereka habis tak tersisa.
“Tunggu! Aku ikut dengan Silvio! Jadikan aku tawananmu juga,” Lenatta memberanikan diri untuk berseru dan setengah berlari menghampiri Matteo.
“Terserah kau saja,” jawab Matteo datar. Tangannya masih melingkar dan menghimpit leher Silvio sehingga pria itu tak dapat bergerak bebas.
“Kau akan membawaku ke mana? Apakah ke van bututmu? Sepertinya itu ide yang buruk, karena anak buahku sudah membereskan siapapun yang ada di dalam mobil jelek itu,” ujar Silvio seraya tertawa pelan.
Matteo tertegun untuk sesaat. Apakah itu yang menjadi alasan kenapa Coco tidak memperingatkannya saat Silvio hadir di mansion? Ternyata sahabatnya itu tengah berada dalam bahaya. Sejenak pikiran Matteo terpecah, antara membawa Silvio dengan khawatir pada keadaan Coco.
Silvio melihat Matteo kehilangan konsentrasi. Ia segera memanfaatkan hal itu dengan baik. Silvio memiliki kesempatan untuk melawan Matteo.
Dengan segera, ia menekuk siku dan menyarangkannya ke wajah tampan Matteo.
“Satu hal yang harus kau ingat, Sahabatku!" tunjuk Silvio dengan senyum puasnya. "Jangan pernah terlalu peduli kepada seseorang selain dirimu. Lihat apa akibatnya! Kau sendiri yang rugi,” Silvio menyeringai. Ia lalu kembali menghantam Matteo yang masih terlihat linglung.
"Ya. Seharusnya aku juga tidak pernah memiliki seorang sahabat sepertimu!" balas Matteo terengah-engah.
Pistol Matteo terlempar dari tangannya dan jatuh di atas tanah berkerikil. Silvio menendang pistol itu agar semakin menjauh dari jangkauan Matteo. Ia juga kembali menghujani Matteo dengan tendangan dan pukulan yang bertubi-tubi.
Matteo tak dapat membalas. Tubuhnya roboh dengan posisi telentang. Namun, tangannya masih sempat melindungi kepala.
Silvio semakin beringas. Ia berdiri di atas Matteo dan menginjak lehernya. Kekuatannya luar biasa untuk ukuran seorang pria yang tengah terkena luka tembak di bagian kaki. Silvio bahkan lupa jika kaki kirinya berlubang karena terkena peluru Matteo.
Susah payah Matteo menahan serangan Silvio. Ia menahan injakan sepatu ankle boot itu, agar saluran pernapasannya bisa kembali berfungsi normal.
__ADS_1
Dari jarak beberapa meter, Lenatta memandang itu semua dengan sorot yang tak bisa diartikan. Ia memandang pilu kepada Silvio. Sedikitpun tak ada niatan baginya untuk membantu Matteo.
Sepertinya, gadis itu sudah terjerat pesona seorang Silvio Moriarty. Beberapa hari bersama pria itu, telah membuatnya jatuh cinta.
Dengan langkah ragu, Lenatta maju perlahan, lalu berjongkok di depan pistol Matteo yang terlempar. Ia memungut senjata itu dengan tangan gemetar, lalu mengarahkannya pada Matteo yang tak berdaya.
Beberapa saat sebelum kedatangan Silvio.
Di dalam van, Coco masih serius memberikan aba-aba kepada Matteo yang tampak kebingungan menentukan arah, ketika berada di lorong lantai atas. Ia mengarahkan Matteo agar berbelok ke kanan dan memberitahukan posisi kamar Silvio. “Luruslah sampai kamar yang paling ujung,” ujar Coco.
Tiba-tiba terdengar tembakan di dekatnya. Coco menoleh dan melihat pintu belakang vannya berlubang. Ia pun mengendap-endap, beringsut ke sudut pintu van dan bersikap siaga. Sebuah tembakan kembali dilesatkan oleh seseorang, tepat di sisi tempat Coco bersembunyi. Coco menempelkan telinganya di bodi kendaraan. Ia bisa merasakan ada beberapa orang yang sedang mengepung mobilnya.
Coco kini meraba pintu van. Ia dapat menebak jika ada seseorang yang mencoba membukanya.
Tanpa pikir panjang, Coco membuka pintu belakang van dan mendorongnya sekuat tenaga hingga menabrak seseorang di baliknya.
Orang itu jatuh terjengkang. Pelatuk senapan otomatis yang dipegangnya tak sengaja tertarik. Senapan itupun memuntahkan peluru ke segala arah, termasuk ke arah rekan-rekannya.
Coco menunduk seraya melindungi diri. Ia kemudian berpindah ke bagian depan kendaraan dan meraih posisi kemudi. Coco hendak menyalakan mesin dan bergerak menjauh saat tangan kekar menarik lengannya dan mencabut kuncil mobilnya.
Pria itu begitu tinggi menjulang, sampai-sampai menghalangi cahaya matahari. Ia siap menarik pelatuk pistol yang ia arahkan ke kepala Coco. Namun, Coco sigap membuka pintu samping kemudi dan membenturkannya sekencang mungkin ke perut pria tinggi besar itu hingga ia roboh.
Coco bergegas menaiki pria itu dan memukulnya beberapa kali. Akan tetapi, pria raksasa itu hanya menyeringai tanpa merasa kesakitan sama sekali.
Tak putus asa, Coco beralih mencekik leher pria itu, di saat tangan pria itu hendak membalas pukulannya. Pria tinggi besar itupun memberontak sekuat tenaga. Namun, Coco sudah mengalihkan tangannya dan bergeser hingga kini pahanya lah yang mengapit leher kokoh itu.
Sekuat tenaga, Coco mengaitkan pahanya dan menekan dada serta leher pria itu untuk beberapa menit sampai tak terasa lagi embusan napasnya.
Coco meraba denyut nadi di pergelangan tangan pria itu. Ia memastikan bahwa musuhnya telah tewas. Pria itupun mengela napas panjang. Coco memungut senjata yang tergeletak beberapa meter darinya dan berlari memasuki mansion.
Semoga belum terlambat baginya untuk dapat menyelamatkan Matteo.
Cek. Hi, Reader! Jangan lupa untuk mampir ke novel ini ya. Novel dengan tema semi religi karya teman ceuceu😊
__ADS_1