Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Cupid's Arrow


__ADS_3

Valentino mengajak Mia duduk di sebuah bangku yang terletak di depan lukisan raksasa bergambar Dewa Cupid atau Amor. Begitulah kebanyakan orang Romawi menyebutnya.


“Kau masih ingat awal perkenalan kita, Mia?” tanya Valentino. “Saat itu kau menangis di lapangan belakang sekolah karena Mariano mengganggumu."


“Kau datang dan memukulnya,” sahut Mia seraya tertawa.


“Mariano melaporkanku pada guru pembimbing,” balas Vale.


“Lalu kau dihukum,” timpal Mia.


“Saat itu guru pembimbing bertanya padaku di kelas hukuman. Alasan apa yang membuatku memukul Mariano. Kujawab karena aku tertembak panah Cupid yang bertuliskan namamu,” ujar Vale.


Mereka berdua terbahak di museum yang hening. Tak banyak wisatawan yang datang ke museum indah dan artistik itu. Umumnya mereka lebih tertarik menyusuri kanal dan menikmati pemandangan di atas gondola.


“Aku jadi teringat kisah cinta antara Cupid dan Psyche,” gumam Mia.


Valentino terdiam dan menunggu kalimat Mia selanjutnya. Apakah kisah cintanya akan berakhir bahagia? Seperti yang mereka berdua ketahui, menurut legenda, Dewa Amor atau Cupid adalah putra dari Dewi Venus, seorang dewi cinta dan kecantikan.


Dewi Venus adalah dewi tercantik di antara dewi-dewi kepercayaan masyarakat Romawi kuno. Semua mata yang memandang padanya dapat dipastikan akan terpesona. Akan tetapi, seorang anak manusia yang bernama Psyche telah mengalahkan kecantikannya.


Psyche adalah gadis perawan yang dianugerahi paras yang teramat jelita, mengalahkan dewi Venus. Sayangnya, kecantikan Psyche telah menimbulkan rasa iri pada diri Dewi Venus. Ia lalu memerintahkan putranya Cupid, untuk menulis nama seorang raksasa buruk rupa di ujung panahnya dan menembakkannya pada Psyche. Harapannya, agar gadis itu jatuh cinta pada sang raksasa.


Cupid tentu saja selalu menuruti perintah ibunya. Ia bergegas menuju kediaman Psyche. Tak disangka, setelah melihat Psyche secara langsung, Cupid malah jatuh cinta kepadanya dan melupakan tugas yang diberikan oleh sang ibu.


Logika Cupid seakan tercerabut melihat keindahan gadis itu. Segera saja ia menghapus nama raksasa dari ujung panahnya dan menggantinya dengan nama Psyche.


Cupid lalu menembakkan panah itu tepat di dadanya sendiri. Hal itu mengakibatkan dia jatuh cinta dan tunduk pada Psyche seorang.


Dewi Venus sangat marah mengetahui hal tersebut. Ia menghukum Psyche dengan berbagai cobaan yang teramat berat. Akan tetapi, Cupid yang sudah terlanjur jatuh cinta, selalu mendampingi Psyche dan tak pernah meninggalkannya. Hingga akhirnya, Dewi Venus luluh dan merestui mereka berdua. Dewi Venus juga mengangkat Psyche sebagai dewi minor.


“Cupid dan Psyche hidup bahagia selama-lamanya,” ucap Valentino pelan. “Apakah kau membayangkan dirimu sebagai Psyche, Mia?” tanyanya kemudian.


Mia tidak menjawab. Ia mengangguk dan tersenyum simpul.

__ADS_1


“Lalu, siapakah Cupid itu?” dada Valentino begitu berdebar menanti jawaban Mia. Ia berharap gadis pujaannya itu akan menyebutkan namanya.


“Entahlah. Aku membayangkan dirinya sebagai Cupid, tapi rasanya sangat tidak sesuai dengan karakternya yang dingin dan misterius. Ia juga terlihat begitu gagah dan memesona,” jawab Mia.


Seketika Valentino diserang kekecewaan yang luar biasa. Jelas sudah, Mia tidak menggambarkan dirinya. Valentino bukanlah seorang yang dingin dan misterius. Gambaran itu malah mengingatkannya pada sosok pemuda asing yang Daniella perkenalkan sebagai pacar barunya.


“Apakah itu Matteo?” tanya Valentino dengan suara setengah berbisik.


“Bagaimana kau bisa tahu?” Mia terbelalak menatap sahabatnya. Setidaknya status itu yang disematkannya untuk Valentino.


“Tidak ada yang tidak aku tahu tentang dirimu,” kelalar pemuda tampan itu. Mia tergelak mendengarnya. Pipinya tampak begitu merona.


“Mungkin ia bukan Cupid. Ia lebih pantas menjadi Mars. Dewa perang," gumam Mia.


“Kenapa begitu?” Valentino mengernyitkan keningnya.


“Sosoknya begitu garang sekaligus memesona. Ia pernah mencium Daniella, tapi juga menciumku,” Mia menunduk saat mengatakan hal itu. Wajahnya kembali tersipu.


“Vale, jangan gelisah. Duduklah!” suruh Mia. Ia tahu Valentino sedang menahan gejolak di hatinya. Akan tetapi, Mia merasa perlu menceritakan apa yang ia rasakan agar sahabatnya tak terlalu berharap pada dirinya.


Valentino, tak pernah bisa menolak apapun keinginan Mia. Ia kembali duduk di sampingnya.


“Kenapa, Vale? Bukankah kau dulu juga pernah berciuman dengan Daniella?” tanya Mia lembut.


“Aku melakukan itu hanya untuk membuatmu cemburu,” jawab Valentino sambil memalingkan muka.


“Bukankah sama saja? Kalian tetap berciuman,” Mia terkekeh.


“Tentu saja berbeda! Aku melakukannya bukan karena cinta, lain halnya jika aku menciummu! Aku ....” Valentino tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena terpotong oleh ucapan Mia.


“Aku lapar. Aku juga bosan di sini!”


Valentino mendengus kesal. Ia mengembuskan napas panjang demi menetralkan emosinya.

__ADS_1


“Kau ingin makan di mana?” tanyanya. Valentino akhirnya mengalah dan menuruti Mia, yang saat itu hanya tersenyum manis kepada Valentino. “Oh, Cupid. Kau salah menembakkan anak panahmu,” gumamnya.


“Setelah kupikir-pikir, ternyata aku tidak terlalu lapar. Aku sudah memakan banyak pasta buatan ayah di kedai, sebelum kau mengajakku keluar,” celoteh Mia.


“Jadi? Kau ingin ke mana?” tanya Valentino setengah putus asa.


“Bagaimana kalau kita ke toko buku? Aku akan membantumu mencari referensi untuk artikel terbarumu. Menguak jaringan mafia di negara kita,” ujar Mia sembari menaikturunkan alisnya.


Valentino terbahak. Satu hal yang teramat spesial dari diri Mia adalah, terkadang ia bisa berubah menjadi seseorang yang sangat lucu dan penuh kejutan seperti saat ini.


Tanpa permisi Mia menggandeng dan menyeret Valentino keluar dari museum. Mia memilih untuk mengajak sahabatnya itu ke sebuah toko buku yang terkenal paling lengkap dan paling besar di Venice.


Beberapa saat di perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah bangunan lima lantai yang berdindingkan batu bata berwarna coklat. Seluruh jendela terbuat dari besi yang dicat warna biru.


Demikian pula pintu masuknya. Mia dan Valentino seakan memasuki gedung sekolah para penyihir dalam sebuah film terkenal.


Mia membawa Valentino menuju rak buku yang menyimpan buku sejarah dan politik Italia.


Menurutnya, perkembangan jaringan mafia dan kejahatan di negaranya tak lepas dari pengaruh kekuasaan dan ketimpangan sosial yang terjadi, akibat kebijakan pemerintah yang kurang adil.


“Apa ini, Mia?” tanya Valentino sesaat setelah Mia mengulurkan sebuah buku yang berjudul ‘Perkembangan Perkumpulan Bawah Tanah Sejak 1819’.


“Mungkin dari situ kau bisa mencari asal mula menjamurnya organisasi terlarang di negara kita,” jawab Mia antusias. Ia ikut membaca halaman demi halaman yang dibuka oleh Valentino.


Entah kenapa, Mia begitu tertarik dengan nama-nama yang tertulis di dalamnya. Hingga matanya berhenti pada sebuah nama marga De Luca.


Perhatiannya terpaku pada tulisan yang menyebutkan bahwa klan De Luca adalah petani anggur pada awalnya. Mereka memiliki ratusan hektar tanah perkebunan yang tersebar di seluruh wilayah italia bagian utara. Akan tetapi, pada peristiwa revolusi di tahun 1848, mereka memilih untuk mengorbankan kebun anggurnya demi menyokong kegiatan pemberontakan yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan nasionalis dan mengubahnya menjadi negara liberal.


Klan De Luca juga mulai memasok senjata bagi para pejuang revolusi dan pasukan pemberontak yang saling bekerja sama. Dari sanalah awal mula organisasi De Luca terbentuk, meskipun pada akhirnya dibubarkan setelah revolusi berakhir.


 


 

__ADS_1


__ADS_2