Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Delusa


__ADS_3

Matteo tak ingin terlalu memusingkan tentang hal itu. Ia harus fokus untuk acara utama dalam pesta yang akan ssgera dilaksanakan, terlebih saat itu ia melihat Antonio dan Marco pun sudah hadir di sana. "Apa bisa kita mulai acaranya, Damiano?" bisik Matteo.


Damiano melihat ke sekeliling. Sepasang bola matanya yang berwarna hijau, menyapu satu per satu wajah yang hadir di sana. Mereka terlihat sangat menikmati jamuan anggur yang sudah sangat terkenal milik keluarga de Luca. "Aku rasa semua tamu undangan sudah hadir, Nak. Kau bisa memulainya," jawab Damiano seraya menyentuh punggung Matteo. Pria yang merupakan ketua dari Organisasi de Luca itu pun mengangguk setuju. Sebelumnya, ia mendekati Mia yang saat itu tengah asyik berbincang dengan Francesca dan Coco.


"Sayang, kemarilah," Matteo meraih pinggang ramping Mia dan membawanya sedikit menjauh dari dua sejoli itu.


"Ada apa, Theo? Apakah acaranya akan segera dimulai?" tanya Mia dengan suaranya yang terdengar sangat lembut.


"Iya," jawab Matteo. Ia terlihat sedikit gelisah. Hal itu membuat Mia mengernyitkan keningnya. Tanpa diminta, Mia segera merapikan jas dan dasi kupu-kupu yang Matteo kenakan malam itu. Ia juga mengusap wajah sang suami dengan janggut yang sudah dicukur rapi. "Kau sangat tampan malam ini," ucap Mia diiringi senyum manisnya.


Sedangkan Matteo membalasnya dengan sebuah senyuman kalem yang ia sembunyikan. Sesekali pria itu menunduk dan kemudian kembali menatap Mia. "Kau yang paling cantik," balas Matteo seraya mengelus lembut wajah cantik Mia. Sesaat kemudian, Matteo segera memulai sambutannya untuk para tamu undangan yang telah hadir seluruhnya.


"Buona sera, signore e signori. Benvenuti al Castello di Corradeo (Selamat malam. Selamat datang di Kastil Corradeo)," sambut Matteo yang seketika membuat suasana menjadi hening. Semua mata pun tertuju kepadanya. "Grazie per la tua presenza (Terima kasih atas kehadiran anda sekalian)," Matteo menatap para tamu undangan yang berdiri di barisan depan.


"Ini adalah malam yang sangat penting, karena malam ini merupakan malam yang istimewa. Lihatlah wanita cantik yang berdiri di sana," Matteo mengarahkan perhatian para tamu undangan ke arah di mana Mia berdiri. Wanita muda itu mencoba untuk tetap terlihat tenang dan menyingkirkan semua rasa gugup dalam dirinya. Ia menyunggingkan sebuah senyuman mamis.


"Florecita Mia de Luca. Ia adalah nyonya besar dari keluarga kami. Pesta ini, sengaja diselenggarakan untuk menyambut kehadirannya sebagai ratu dari Klan dr Luca, istri dari Matteo," dengan bangga Matteo menyambut Mia yang saat itu menuju ke arahnya, dalam setiap langkah yang menunjukan keanggunan dari wanita itu.


Kecantikan dan kelembutan yang terpancar dari dalam diri Mia, telah berhasil menyihir semua orang yang ada di aula luas tersebut, tak terkecuali Adriano D'Angelo yang memang sudah menaruh perhatian lebih kepadanya, sejak awal ia melihat sosok Mia. Lain halnya dengan Camilla yang tampak sangat kecewa.


“Seharusnya kau yang berdiri di sana dan mendapatkan penghormatan dari semua orang,” bisik Antonio yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Camilla. “Apa yang akan kau berikan pada Mia sebagai hadiah prosesi nanti?” tanyanya kemudian.


“Kita lihat saja nanti, Paman,” terlihat Camilla menyunggingkan senyuman sinisnya.

__ADS_1


Dalam upacara penyambutan ratu baru di suatu klan, terdapat satu prosesi di mana para tamu memberikan barang berharga mereka untuk sang ratu. Begitu pula malam itu, tampak beberapa pelayan berpakaian tuksedo menggotong kursi mewah dengan sandaran tinggi, seperti sebuah singgasana. Mereka lalu mendudukkan Mia di sana. Sementara Matteo berdiri tepat di belakang istrinya.


Beberapa saat kemudian, beberapa pelayan lain mendorong troli mewah berlapis emas yang berisi barang-barang istimewa dengan stiker bertuliskan nama dari masing-masing tamu undangan. Damiano maju dan menghampiri troli itu. Ia lalu mengambil satu per satu benda berharga yang akan diberikan kepada Mia.


Sebelumnya, Damiano memasang kacamatanya terlebih dahulu. Pria itu pun membaca nama yang tertera pada stiker. “Hadiah pertama berasal dari Tuan Giordano Verga bersama istri. Mereka memberikan kalung mutiara yang khusus dipesan untuk anggota inti klan Verga,” tutur Damiano seraya mengangkat kalung itu setinggi-tingginya.


Pria yang bernama Giordano Verga beserta istrinya, segera maju. Ia menerima kalung mutiara itu dari Damiano. Setelah itu, ia lalu memberikan kalung tersebut kepada Mia dengan agak membungkuk. “Anda akan selalu diterima di mansion Verga, kapanpun Anda bertamu, Nuonya de Luca,” ucap Giordano dengan senyuman lebar di wajahnya, begitu juga dengan sang istri.


“Grazie, Tuan dan Nyonya Verga. Suatu kehormatan bagi saya untuk dapat menerima hadiah dari Anda berdua,” balas Mia ramah yang disambut anggukan kepala dari sepasang suami istri tersebut. Setelah itu, Giordano dan sang istri kembali ke tempatnya.


Damiano mulai mengambil satu hadiah lagi dan menyebut nama tamu undangan lainnya, hingga sampailah pada nama tamu undangan terakhir, yaitu Camilla Rosetti. Dengan percaya diri dan langkah gemulainya, gadis itu menghampiri Damiano dan mengambil sebotol parfum mahal yang hanya berisi separuh untuk Mia. “Ini adalah barang paling berharga milikku yang akan kuberikan untuk Nyonya de Luca. Sebuah hadiah ulang tahunku di tahun kemarin. Matteo de Luca yang memberikannya spesial untukku,” ucap Camilla bangga dan cukup lantang. Ia juga mengedipkan sebelah matanya kepada Matteo.


Sontak saja, ruangan aula yang awalnya hening kini berubah menjadi riuh rendah, sampai-sampai Antonio harus turun tangan untuk menenangkan para tamu dan meredakan suasana.


Tak terkira betapa merah padamnya wajah Mia saat itu dengan ulah Camilla. Akan tetapi, untungnya Mia dapat mengendalikan emosinya dan tidak terpancing sama sekali. Ia menoleh kepada Matteo yang tampak sedang memijit pangkal hidungnya. Tatapan Mia seakan meminta penjelasan kepada suaminya. Matteo yang menyadari akan hal itu, segera mencondongkan badan ke arah Mia sembari berbisik, “Akan segera kuusir wanita itu dari sini,” ucapnya dengan tenang.


Pada awalnya Camilla seperti hendak protes kepada Matteo. Namun, akhirnya ia tak bisa membantah. Gadis itu pasrah ketika dua pengawal menggiringnya keluar dari aula. Semua mata memandang pada sosok cantik itu hingga tak tampak lagi di sana. Lain halnya dengan Coco yang saat itu seperti menahan tawanya. "Itulah bodohnya sahabatku," bisik Coco kepada Francesca yang berdiri di sebelahnya. Gadis itu mendelik. "Kau sama saja!" sahutnya dengan sedikit jengkel.


Mia masih menampakkan sikap tidak suka dengan kejadian tadi. Raut wajahnya yang ramah telah menghilang dan berganti menjadi mimik muram. “Maafkan aku, Cara Mia," ucap Matteo penuh penyesalan. Ia sama sekali tak mengira bahwa Camilla akan bertindak sebodoh itu.


Mia tak menjawab. Ia malah berdiri dari kursinya dan hendak pergi dari sisi Matteo. Akan tetapi, sebelum hal itu terlaksana, pria rupawan tersebut lebih dulu mencekal lengan istrinya. “Tolong jangan bersikap seperti itu, Mia. Kau pemilik pesta ini. Bertahanlah sampai acara selesai. Aku tidak mau para tamu undangan menilai buruk tentangmu. Kau harus tampak tangguh di depan mereka,” bujuk Matteo.


“Oh, baiklah jika itu yang kau inginkan, Sayang. Aku akan bersikap tangguh seperti keinginanmu,” tutur Mia dengan nada sinis, “tapi, sebelum itu kulakukan ... aku harus pergi ke toilet dulu. Ada sesuatu yang tak bisa ditahan, setangguh apapun aku mencoba,” lanjutnya dengan nada datar.

__ADS_1


Matteo segera mengurai cengkeramannya di lengan Mia dan membiarkan sang istri pergi dari hadapan. Pria itu pun mengalihkan perhatiannya kepada para tamu undangan. “Istriku akan kembali lima menit lagi. Ia harus pergi ke toilet,” ujar Matteo sambil memaksakan senyumnya. Diliriknya Coco yang masih memperhatikannya sambil menahan tawa. Matteo tahu, pria itu pasti akan mengejeknya.


Sementara itu, Mia sudah berdiri di luar ruangan aula. Ada dua penjaga yang berdiri di dua sisi tempat masuk aula. Mia sempat tersenyum kepada mereka. Ia kemudian berjalan tergesa-gesa menuju sebuah pintu yang bertuliskan ‘kamar kecil'. Mia memasuki toilet itu dan menutup pintunya dengan kasar. Sesaat ia bersandar di sana.


Mia hanya ingin menumpahkan rasa sesak dadanya, tanpa ada seorang pun yang melihat. Tak pernah Mia sangka jika cemburu akan terasa semenyakitkan ini. Berkali-kali ia menarik napas dan mengembuskannya dengan perlahan. Mia mencoba untuk kembali menenangkan dirinya. Namun, air matanya tetap menetes meskipun tidak terlalu deras.


Beberapa menit telah berlalu. Sedangkan Mia masih berada pada posisinya, sampai sebuah ketukan pelan di pintu terpaksa menghentikan tangisnya. “Nyonya, Tuan Matteo menyuruh saya untuk memeriksa keadaan Anda,” terdengar suara Sorella dari balik pintu.


Mia membuka pintu itu perlahan dan melihat wajah Sorella yang tegang. Wanita itu bahkan terlihat pucat dengan peluh bercucuran. “Sorella, kau tidak apa-apa?” Mia yang merasa khawatir, segera memegangi bahu wanita itu. Sorella menggeleng pelan. Ia semakin merasa tegang, saat Antonio berjalan ke arahnya.


Mia ikut menoleh kepada Antonio yang semakin mendekat. “Ada apa, Paman?” tanyanya.


“Kau tidak apa-apa, Mia? Theo sangat mengkhawatirkanmu,” ucap Antonio yang kini sudah berdiri di hadapan Mia. Sorella beringsut perlahan. Wanita itu mencoba menjauh dari Antonio dengan mimik yang terlihat seperti ketakutan. Hal tersebut membuat Mia sedikit curiga.


“A-aku akan menyusul Theo,” sedikit gugup, Mia berniat meninggalkan tempat itu secepatnya. Namun, langkahnya segera dihentikan oleh Antonio. Pria paruh baya itu mencekal lengan Mia, hingga wanita muda itu meringis kesakitan.


“Tidak usah terburu-buru. Aku sudah meminta izin kepadanya untuk mengajakmu ke taman. Siapa tahu dengan menghirup udara di luar, kau bisa menenangkan perasaanmu,” dalih Antonio dengan seringainya yang terlihat aneh.


“Ti-tidak usah, Paman. Aku sudah merasa lebih baik,” tolak Mia dengan terbata. Ia pun terlihat gelisah.


“Kurasa itu bukan keputusan yang tepat,” Antonio merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya. Sebuah pistol revolver berukuran kecil ia arahkan tepat pada Mia. Moncong pistolnya bahkan melekat di pinggang istri dari keponakannya.


Mia sempat terkejut dengan hal itu. Namun, tak ada yang dapat ia lakukan, selain menuruti perintah Antonio yang saat itu menggiringnya keluar. "Bersikaplah yang wajar," bisiknya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2