
Di dalam aula pertemuan, telah berkumpul beberapa tetua yang seluruhnya mengenakan mantel hitam dan topi yang menjadi ciri khas para mafia. Mereka berkerumun dan saling bertanya-tanya, ada apa gerangan sang ketua Klan hingga meminta mereka untuk datang dan berkumpul di sana. Namun, suara riuh rendah dari perbincangan mereka seketika terhenti, saat terdengar derap langkah sepatu yang menuju ke arah ruangan luas tersebut. Tak berselang lama, dua buah daun pintu itu terbuka dengan cukup lebar.
Tampaklah Matteo yang melangkah gagah penuh wibawa ke dalam aula tersebut. Di belakangnya mengiringi Marco dan juga Damiano. Kedua pria itu, kemudian berdiri di sisi kiri dan kanan sang ketua.
Matteo berdiri dengan tatapan tajamnya yang menyapu satu per satu wajah tua di dalam ruangan tersebut. Semuanya terlihat tunduk dan memasang sikap hormat kepada pria berusia dua puluh delapan tahun itu. Tak ada satu pun dari mereka yang berani melawan tatapan tajam seorang Matteo de Luca.
"Selamat siang semuanya. Terima kasih karena telah bersedia meluangkan waktu untuk menghadiri undanganku kemari," Matteo membuka acara pertemuan itu dengan sebuah sapaan khas dirinya.
"Seperti yang telah Anda semua ketahui, aku tidak akan mengadakan acara pertemuan jika bukan karena ada sesuatu yang penting. Begitu pula dengan saat ini, ada sesuatu yang harus kuberitahukan kepada Anda semua," Matteo terdiam sesaat. Ia lalu menoleh kepada kedua pria yang berada sedikit di belakangnya. Setelah itu, Matteo kembali mengarahkan pandangannya ke depan, lurus pada sekelompok pria tua yang berdiri dengan rapi bagaikan barisan tentara profesional.
"Aku, Matteo de Luca telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari keorganisasian karena satu dua alasan pribadi yang tak harus kuutarakan di sini. Namun, tentu saja aku tidak serta merta memutuskan untuk mundur dari jabatan sebagai ketua, tanpa adanya sebuah pertimbangan yang matang. Semuanya sudah kupikirkan baik-baik, begitu juga dengan calon penggantiku nantinya," Matteo mengela napas dalam-dalam dan mengempaskannya perlahan.
Sementara suara riuh mulai terdengar di dalam ruangan itu. Mereka kembali mempertanyakan alasan Matteo mundur dengan sangat tiba-tiba.
Tak berselang lama, salah seorang dari para tetua itu ada yang mengangkat tangan. Ia bermaksud hendak mengajukan sebuah pertanyaan. Matteo pun memusatkan perhatiannya kepada pria yang kini melangkah sedikit lebih ke depan dari rekan-rekannya. Dibantu oleh seorang ajudan bertubuh tinggi besar, pria itu melangkah naik melalui sebuah tangga kecil ke tempat Matteo berdiri.
Matteo mengenali pria itu sebagai Giorgio Monti, pemimpin para tetua. Ia mengangguk dan setengah membungkuk pada pria tua itu sebagai tanda hormat. “Apakah ada yang ingin Anda sampaikan, Tuan Monti?” tanyanya.
“Aku hanya ingin menanyakan, siapa yang akan Anda persiapkan untuk mengganti posisi ketua dalam organisasi?” Giorgio Monti kini berdiri berhadapan dengan Matteo. Mata tuanya menatap lekat pada mata abu-abu indah milik sang ketua klan.
__ADS_1
Matteo tersenyum simpul menanggapi pertanyaan itu. Sebelumnya, ia menoleh terlebih dahulu kepada Marco dan juga Damiano. Mereka mengangguk pelan. “Aku mengajukan nama Marco de Luca, tentu saja. Siapa lagi yang mempunyai garis keturunan murni selain kami berdua,” jawab Matteo tanpa ragu seraya mengerakkan tangannya ke arah Marco berdiri.
Suasana di aula kembali ricuh saat Matteo mengucapkan nama itu. Para tetua tampak saling berseru dan menunjuk satu sama lain. Mereka semua berhenti ketika Giorgio Monti mengangkat tangannya. Setelah semuanya tenang, ia kembali memusatkan perhatian kepada Matteo. “Dengan tidak mengurangi rasa hormat, aku mewakili semua para tetua yang hadir di sini untuk menolak keputusan Anda, Tuan de Luca,” tegas pria itu tanpa basa-basi. “Kami tahu dengan pasti, seperti apa Tuan Marco de Luca. Bagaimana sepak terjangnya di luar sana. Ia juha tidak memiliki ketertarikan sama sekali di dalam organisasi ini. Apa jadinya jika organisasi yang telah berumur ratusan tahun harus dipegang oleh seseorang yang tidak memiliki cinta pada nama besar de Luca!” suara Giorgio Monti menggema hingga ke sudut-sudut ruangan.
“Jaga bicaramu, Pak Tua!” seru Marco yang sedari tadi memilih untuk diam. “Aku menyandang marga de Luca di belakang namaku. Konyol sekali jika kau menuduhku tak cinta pada tempat di mana diriku dilahirkan dan bernaung selama ini!” elaknya. Telunjuknya lurus mengarah pada wajah Giorgio Monti yang penuh dengan kerutan.
“Kalau begitu, maka buktikanlah!” Giorgio mendongak, seakan menantang pria yang usianya terpaut sangat jauh darinya.
“Bagaimana caraku untuk membuktikannya?” geram Marco.
“Aku yang akan menjadi jaminan,” sela Matteo dengan tenang dan datar. “Kupastikan bahwa Marco adalah sosok yang tepat untuk menggantikanku. Jika ternyata pilihanku gagal, maka kalian para tetua boleh memasung kebebasanku, sehingga aku akan terus terikat pada organisasi sampai mati,” pungkasnya.
Giorgio Monti tersenyum samar, lalu menoleh pada ajudannya. Seolah paham dengan apa yang diinginkan majikannya meskipun tanpa kata, ajudan itu maju dan mendekatkan telinga pada pria tua itu. Ajudan itu mengangguk beberapa kali, kemudian merogoh sesuatu dari balik saku jasnya.
“Apa yang akan kau lakukan, hah!” berontak Marco. Ia berusaha mempertahankan tangannya. Namun, apa daya tenaga ajudan itu jauh lebih besar dari tenaganya.
“Turuti saja, Marc. Tenanglah, ada aku. Ia tidak akan berani melukaimu,” bisik Matteo.
Ajudan itu membalikkan tangan Marco hingga telapaknya mengarah ke atas. Setelah itu, Giorgio Monti juga melakukan hal yang sama. Ia mengarahkan telapak tangannya ke atas, sejajar dengan tangan Marco. “Aku ingin membuat sumpah denganmu, Tuan Marco de Luca,” ucapnya.
__ADS_1
Giorgio kembali menoleh pada sang ajudan, kemudian mengangguk. Ajudan itu membalas anggukan majikannya dengan menusukkan ujung pisau ke tengah telapak tangan Giorgio. Darah mulai keluar dari sela-sela robekan kulit. Akan tetapi, tak tampak kesakitan sedikitpun dari raut wajah Giorgio Monti.
“Jangan menghindar, Tuan Marco de Luca,” ujar si ajudan sebelum melakukan hal yang sama pada Marco.
Tak berapa lama, buliran darah keluar dari tengah telapak tangan pria berwajah klimis itu. Segera, Giorgio Monti menangkupkan tangannya ke atas tangan Marco, lalu menjabatnya erat-erat.
“Bersama sumpah ini, aku menantangmu untuk menunjukkan kekuasaan dan kecerdikanmu dalam memegang tampuk kepemimpinan. Kami para tetua, akan terus menilai kinerjamu. Jika terbukti kau gagal, maka kau wajib menyerahkan mahkota kembali pada Matteo, dan Matteo akan kami ikat dengan sumpah iblis,” ujar Giorgio Monti. Suasana di sekitarnya mendadak berubah mencekam sesaat setelah pria tua itu menyelesaikan kalimatnya.
“Sumpah iblis?” ulang Marco lirih. Ia terlihat sangat kebingungan.
“Sumpah iblis adalah sumpah di mana pihak yang kalah akan mengikuti apapun perintah dari pihak pemenang. Dengan kata lain, jika kau gagal dalam tantangan ini, maka aku akan menjadi budak Giorgio Monti selamanya,” jelas Matteo dingin.
“Apa?” Marco terbelalak tak percaya. “Kau gila jika menyanggupi perjanjian tidak masuk akal ini, Theo! Bagaimana kalau aku kalah? Apakah itu artinya, organisasi kita akan jatuh ke tangannya?” nada suaranya terdengar sangat cemas dan gelisah.
“Kalau begitu, jangan sampai kau kalah, Nak. Matteo sangat mempercayaimu. Jangan biarkan ia kecewa,” bisik Damiano.
Marco menelan ludah berkali-kali, sedangkan Matteo malah terlihat begitu tenang. Sebuah senyuman puas tersungging dari bibir pria bermata abu-abu itu. “Kenapa kau malah terlihat santai, Bodoh?” geram Marco pada sepupunya.
“Memangnya apa yang harus kukhawatirkan? Sudah jelas aku tidak akan sudi menjadi budak siapa pun, kecuali budak Mia,” kelakar Matteo seraya terkekeh pelan.
__ADS_1
“Kau gila!” desis Marco dengan raut tak percaya.
“Tuan Marco de Luca, para tetua dan semua orang di ruangan ini telah menyaksikan perjanjian kita. Oleh karena itu, saya nyatakan bahwa waktu tantangan Anda dimulai detik ini juga!” tegas Giorgio Monti.