Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Cavigliera


__ADS_3

Pandangan Camilla seketika tertuju kepada Mia yang saat itu berdiri dengan penuh percaya diri di samping Matteo. Ibu dari Miabella tersebut berusaha untuk tetap tenang dan tak menunjukkan rasa jengkel dalam hatinya, karena harus kembali melihat wajah mantan teman ranjang Matteo. Mia kemudian menyibakan rambut yang sebagian menutupi pundak. Sebuah kalung berlian yang sangat indah menghiasi leher jenjangnya malam itu, begitu berkilau dan semakin mempercantik penampilannya dalam gaun malam berwarna putih. Sebuah pemandangan yang begitu indah bagi Adriano D'Angelo.


"Nama yang sangat indah, Nyonya de Luca," ucap Camilla. Sebuah senyuman terkembang di wajah cantik khas wanita Spanyol itu. Camilla kemudian berdiri seraya mengangkat gelas berisi anggur merah. "Mari kita bersulang untuk kelahiran putri cantik dari tuan dan nyonya de Luca. Semoga kelak Miabella bisa menjadi seseorang yang hebat seperti sang ayah ... dan juga sang ibu tentunya," ucap Camilla dengan sikapnya yang mencerminkan gaya seorang wanita kelas atas. Semua yang berada di meja makan itu menyambut apa yang Camilla lakukan. Mereka serentak mengangkat gelas masing-masing dan bersulang secara bersamaan. Sementara Matteo dan Mia saling pandang dengan senyum penuh arti, membuat Adriano seketika memalingkan wajahnya.


Seusai acara makan malam, seluruh tamu undangan yang merupakan kolega bisnis Mattteo, kemudian berkumpul di aula luas nan megah untuk melanjutkan acara pesta penyambutan malam itu. Matteo tampak berbincang hangat dengan beberapa rekan bisnisnya. Sementara Mia berpamitan untuk menidurkan Miabella di kamar mereka. Kepergian Mia dari aula tersebut, tak lepas dari perhatian mata biru Adriano. Pria itu segera meletakan gelas dari dalam genggamannya, kemudian mengikuti langkah Mia menyusuri lorong dengan ornamen dan ukiran-ukiran khas Eropa kuno.


"Mia!" panggil pria itu dengan tidak terlalu nyaring, berhubung suasana di sana tak seramai di aula tadi.


Mia yang tengah berjalan tenang sambil menggendong putri kecilnya, segera tertegun. Ia sudah sangat mengenal suara pria itu. Namun, Mia tak berani untuk menoleh. Didekapnya tubuh mungil Miabella dengan erat. Balita tersebut menggeliat pelan.


"Mia, aku ingin bicara sebentar saja," pinta Adriano yang saat itu telah berdiri tepat di belakang Mia.


"Apa yang ingin Anda bicarakan, Tuan D'Angelo?" tanya Mia tanpa menoleh, sehingga dengan terpaksa Adriano berpindah ke hadapannya. Ia menatap lekat wanita yang malam itu tampil sangat cantik dan elegant dengan rambut panjang.

__ADS_1


"Mia, aku punya sesuatu untuk putrimu. Sebuah hadiah kecil yang ingin kuberikan secara pribadi," ucap Adriano dengan tulus. Sedangkan Mia hanya berdiri menatapnya. Ia terus memperhatikan ketika pria bertubuh tegap itu mengeluarkan sesuatu dari balik blazer. Adriano menunjukkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan polet emas. Pria bermata biru itu membuka penutup kotak tersebut, hingga tampaklah sebuah gelang kaki yang sangat cantik. "Aku memesannya khusus untuk Miabella. Perhiasan ini dibuat dari emas putih dengan kualitas nomor satu. Sebuah hadiah yang kurasa sangat layak untuk putrimu, Mia," jelas Adriano dengan penuh harap agar Mia bersedia menerima pemberian darinya.


Mia tidak segera menjawab. Ia masih merasa bingung. Akan tetapi, dalam hati dirinya mengakui bahwa gelang kaki itu memang terlihat sangat cantik dan unik, mungkin karena dibuat secara custom.


"Boleh kupakaikan sekarang juga?" tanya Adriano. "Anggap gelang kaki ini sebagai hadiah kenangan dariku. Aku berniat pergi ke Yunani dan menghabiskan waktu untuk menenangkan diri, sekaligus memantau bisnisku di sana. Kau akan lama tidak melihatku, Mia," ucap Adriano lagi dengan diiringi senyuman nanar pada paras rupawannya.


Tanpa menunggu jawaban dari Mia, Adriano kemudian memasangkan perhiasan itu di salah satu kaki Miabella yang sudah terlihat mengantuk. Namun, balita tersebut begitu tenang dan tidak bersikap rewel sama sekali. "Bolehkah aku menggendong Miabella sebentar saja?" Adriano kembali memperlihatkan wajah yang penuh harap dihadapan Mia, sehingga tak ada alasan bagi ibu satu anak itu untuk menolak permintaan Adriano. Ia lalu menyerahkan Miabella kepada Adriano yang segera menyambutnya dengan penuh suka cita.


"Terima kasih untuk semuanya, Tuan D'Angelo. Semoga sukses selalu untuk semua bisnis Anda," ucap Mia seraya meraih tubuh mungil Miabella dari pelukan Adriano.


"Kau juga, Mia. Doakan agar aku bisa melupakanmu. Melupakan kejadian malam itu," balas Adriano dengan tatap mata yang penuh arti terhadap Mia yang saat itu mulai terlihat gelisah. "Aku tak ingin mengingatkanmu dengan apa yang terjadi pada malam itu, tapi sejujurnya sulit bagiku untuk melupakannya. Bibirmu ...."


"Hentikan, Tuan D'Angelo!" sergah Mia tegas. "Tolong jangan ungkit sesuatu yang hanya akan membuatku semakin membencimu. Selama ini, aku sudah menyembunyikan identitasmu dari suamiku, karena aku tak ingin Matteo terlibat masalah yang hanya akan membuat ia kembali mengotori tangannya dengan darah. Aku juga mencoba untuk melupakan sikap tidak sopan yang telah kau lakukan. Namun, jika kau masih saja mengungkit semua itu, jangan salahkan aku jika sampai kubongkar semua rahasia tentangmu di hadapan semua orang, karena aku sudah bisa menebak niatmu yang sebenarnya dengan mendekati Matteo!" tajam kata-kata dan sorot mata Mia ia layangkan untuk pria itu. Akan tetapi, Adriano masih terlihat tenang. Pria itu hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman samar.

__ADS_1


"Kau tetap terlihat cantik meskipun saat marah seperti ini, Mia. Sejujurnya kukatakan bahwa dirimu terlalu lembut untuk bersikap sinis terhadap orang lain. Bagiku, kau tetap pemilik senyuman paling indah di antara senyuman wanita tercantik sekalipun, Florecita Mia," ucapan yang membuat Mia bukannya melunak, tetapi justru terlihat semakin jengkel atas sikap Adriano saat itu. Tanpa permisi, wanita bermata cokelat tersebut bergegas meninggalkan Adriano sendirian di sana. Ia melanjutkan langkahnya menuju kamar, dengan diiringi tatapan nanar sepasang mata biru yang mencoba untuk berlapang dada. Adriano pun berbalik dan kembali ke aula pesta, dengan sikap tenang yang ia gunakan sebagai topeng dari semua kisah kelam hidupnya yang begitu keras.


Mia ataupun Adriano sama sekali tak mengetahui bahwa perbincangan keduanya ternyata diperhatikan oleh seseorang yang segera berlalu dari sana, dengan tangan terkepal sempurna. Seorang pria yang juga memutuskan untuk kembali ke aula pesta dan berbaur dengan seluruh tamu undangan.


Sementara itu di dalam kamar, Mia sudah menidurkan putri kecilnya di atas kasur. Wanita berparas cantik itu pun duduk termenung di dekat Miabella. Ditatapnya gelang kaki pemberian dari Adriano. Mia bermaksud untuk melepas gelang kaki tersebut, tetapi niatnya harus terhenti ketika mendengar suara Matteo yang tiba-tiba sudah berada di dalam kamar. "Perhiasan yang sangat cantik, Cara mia. Kapan kau membelinya?" tanya Matteo yang membuat Mia terkejut setengah mati.


Dengan gugup Mia menoleh kepada sang suami yang tengah berjalan ke arahnya. Mia pun tak langsung menjawab pertanyaan itu karena ia tak tahu jika Matteo akan muncul dengan tiba-tiba di sana.


"Ah, Theo. Kenapa kau ada di sini? Bagaimana dengan para tamu?" Mia mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Ia sudah merasa resah ketika melihat raut wajah sang suami yang tampak berbeda dari biasanya.


"Mereka masih menikmati jalannya pesta di aula. Akan tetapi, apa artinya pesta itu jika kau dan Miabella tak ada di sana," jawab Matteo dengan dingin dan datar, membuat Mia terlihat gelisah. Ia tahu bahwa ada yang tidak beres dengan suaminya. Mia kemudian turun dari tempat tidur dan berdiri di hadapan Matteo. Sebisa mungkin ia menyembunyikan raut cemas yang tengah menderanya saat itu.


Dengan mesra Mia melingkarkan tangannya di leher Matteo dan mencium pria bermata abu-abu tersebut. Akan tetapi, Matteo tak meresponnya sama sekali. "Ada apa, Theo? Apa kau sedang merasa kesal?" tanya Mia lembut.

__ADS_1


__ADS_2