Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Suspicious


__ADS_3

Kedatangan Daniella dan juga Adriano, telah mengejutkan semua yang berada di dalam ruang apartemen itu. Matteo segera berdiri dan menyambut mereka dengan tatapan aneh, sedangkan Mia dan Francesca membantu Daniella. Mereka memapah gadis itu dan membawanya duduk.


Setelah duduk, kedua wanita cantik itu lalu memeluk Daniella secara bersamaan. Mereka begitu khawatir akan keselamatan kakak sulungnya. “Aku harap kau baik-baik saja, Dani. Siapa pun pelakunya, semoga ia tidak menyakitimu,” ucap Mia cemas. Keresahan pada wajahnya terlihat dengan begitu jelas.


“Tak apa, Mia. Aku baik-baik saja, hanya kakiku sedikit sakit karena terikat dalam waktu yang lama,” jawab Daniella mencoba terlihat kuat. Ia menunjukan tanda bekas ikatan tali pada kaki dan pergelangan tanganya.


“Katakan padaku siapa yang sudah berani melakukan ini padamu, Dani!” Matteo bertanya dengan suara dan sorot mata yang begitu tajam. Sedangkan Daniella pada awalnya terlihat ragu. Ia lalu melirik kepada Adriano. Pria itu memberi isyarat padanya. Daniella pun dapat memahami hal tersebut. Gadis berambut pirang itu mengangguk pelan.


“Alex yang telah melakukan semua ini padaku, Theo,” jawab Daniella. Sebisa mungkin ia bersikap tidak mencurigakan.


“Pria itu lagi?” Mia dan Francesca serempak mengatakan hal yang sama dengan raut tak percaya. Sementara Daniella hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan. Sesekali ia kembali melirik kepada Adriano. Kecanggungan mulai menyelimuti perasaan gadis bermata hazel tersebut. Namun, semua itu segera sirna ketika ia melihat sosok Marco, yang baru masuk dengan wajah murung. Seketika, raut sendu pria itu berubah drastis. Marco tak percaya bahwa Daniella telah kembali. Dengan segera, ia menghampiri gadis yang juga langsung berdiri saat melihatnya.


Tanpa ada rasa canggung, Marco menangkup wajah cantik Daniella dengan sedikit luka memar di dekat bibir. Bahagia bercampur tak percaya, membuat Marco seakan kehilangan kontrol dalam dirinya. Segera dipeluknya gadis itu dengan erat. Ia tak peduli dengan tatapan aneh dari semua yang berada di sana.


Sementra itu, Coco yang baru keluar dari kamar tertegun melihat kehadiran Adriano di sana. Adriano pun seperti tak nyaman saat menghadapi sorot mata menyelidiki yang Coco layangkan terhadapnya. Sesaat kemudian, pria berambut ikal itu mengalihkan tatapan kepada Daniella. “Dani, kau sudah kembali?”


“Tuan D’Angelo yang telah membawa Dani pulang. Syukurlah, karena ia baik-baik saja,” ucap Francesca polos. Namun, lain halnya dengan Coco. Rasa curiganya terhadap pria itu semakin menjadi. Coco kemudian menatap Matteo yang sejak tadi tidak berkata apa-apa. Ada semacam isyarat yang hanya dimengerti oleh kedua sahabat itu.


Matteo seakan mengerti apa yang ada di dalam pikiran Coco. Ia lalu mengalihkan pandangan pada pria bertubuh tegap di dekatnya. Ia menatap wajah Adriano dengan lekat. Wajah rupawan yang kini tengah menatap kepada Mia. Bukannya tak tahu tentang hal itu, tetapi ini bukan saatnya membahas masalah kecemburuan yang selalu menghantui diri Matteo. Pria bermata abu-abu tersebut mengesampingkan semuanya untuk sejenak. “Sayangku, bagaimana jika kau ajak Dani ke kamar untuk beristirahat,” ucap Matteo yang ditujukan kepada Mia. Wanita itu menoleh seraya tersenyum lembut. Ia mengangguk setuju.


Mia dan Francesca pun berdiri. Mereka berdua memapah Daniella yang segera melepaskan dirinya dari dalam pelukan Marco.


“Tolong jelaskan, bagaimana Anda bisa menemukan saudari iparku dengan begitu mudah, Tuan D’Angelo?” tanya Matteo datar dan penuh selidik, saat ketiga wanita itu sudah meninggalkan mereka.


Mendengar Matteo berbicara padanya, Adriano segera menoleh. Pria itu menyunggingkan senyuman kalem yang tampak begitu menawan khas dirinya. Sementara Marco saling pandang dengan Coco. Rasa bahagia karena Daniella telah kembali, membuatnya mengabaikan pemikiran itu.


“Bukan hal yang sulit bagiku untuk menemukan keberadaan Alex. Anda tahu bukan jika ia adalah mantan anggota Tigre Nero. Ada beberapa dari anak buahku yang merupakan rekan Alex. Mereka  masih terhubung. Jadi, aku bisa dengan mudah mendapatkan informasi,” jelas Adriano dengan entengnya.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka jika Anda bisa merekrut pria bodoh seperti Alex. Ia bukan lagi bagian dari geng Tigre Nero, terlebih Anda memecatnya dari keanggotaan begitu saja. Namun, ia masih begitu terbuka sehingga dengan mudah membiarkan dirinya dilacak,” gumam Coco penuh keraguan.


Adriano tertawa pelan mendengar ucapan Coco yang seakan tengah menyudutkan dirinya. Ia sadar betul bahwa Coco menyimpan kecurigaan yang besar, dari semenjak kejadian yang menimpa Mia ketika di Monaco. Akan tetapi, Adriano tak ingin terpancing. Ia tak mau menanggapi semua celotehan Coco dan tetap bersikap setenang mungkin. “Jangan katakana jika Anda mencurigaiku, Tuan Ricci,” balasnya menoleh kepada Coco.


“Oh, tentu saja tidak. Mana mungkin aku mencurigai seseorang seperti Anda, Tuan D’Angelo. Anda begitu baik, ramah, dan dermawan. Anda juga sangat terbuka dan tak menyembunyikan rahasia apapun dari kami. Matteo memiliki partner bisnis yang luar biasa,” bantah Coco dengan sanjungannya yang bernada sindiran, mengingat ia tahu apa yang Adriano lakukan terhadap Mia.


“Aku tidak membutuhkan sanjungan atau apapun itu. Yang jelas, aku hanya ingin membantu semampuku,” balas Adrianto santai. Ia tak terpancing sama sekali dengan perkataan Coco. Adriano bahkan menunjukkan mimik yang teramat ramah dan bersahabat. Akan tetapi, bukannya mencair, suasana di sana malah terasa semakin tegang.


“Sepertinya aku harus berterima kasih kepada Anda, Tuan D’Angelo, tapi aku tidak mau menganggap ini sebagai utang budi. Bagiku, apa yang Alex lakukan adalah sepenuhnya tanggung jawab Anda sebagai mantan pemimpinnya,” tegas Matteo beberapa saat kemudian.


“Oh, tentu saja, Tuan de Luca. Aku tidak pernah menuntut apapun dari Anda. Cukuplah menjadi rekan kerjaku, dan aku akan selalu setia kepada Anda. Aku harap Anda juga bersikap demikian,” balas Adriano seraya mengembangkan senyum. Untuk beberapa saat, tatapan kedua pria tampan itu saling beradu sebelum Adrino mengakhirinya.


“Baiklah, sepertinya Anda semua harus beristirahat dan menenangkan diri setelah peristiwa mengejutkan ini. Kalau begitu, aku permisi," Adriano berpamitan sambil menyalami Matteo serta yang lainnya. Ia kemudian berbalik menuju pintu keluar. Namun, sejurus kemudian Adriano menghentikan langkahnya dan kembali menoleh pada Matteo. “Jangan lupa, Tuan. Valerie menunggu Anda di Casa de Luca. Ia tak sabar untuk segera memulai bekerja di bengkel bersama Anda,” tutupnya. Kali ini, Adriano benar-benar membuka pintu dan berlalu dari sana.


“Bagaimana menurutmu, Amico?” tanya Coco dengan nada was-was. “Apa kau tetap melanjutkan kerja sama?”


Coco begitu tertegun mendengarnya. “Apa kau yakin, Amico? Kau tidak sedang bercanda, kan?” cecarnya sekadar untuk memastikan.


“Memangnya kau lihat aku tengah bercanda?” sungut Matteo jengkel.


“Wah, aku tidak menyangka. Sehebat itu pengaruh Mia di dalam hidupmu,” Coco berdecak kagum sembari bertepuk tangan.


“Mia sudah berhasil mengubah hidupku sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Senyum yang manis dan lugu, sikap yang polos dan naif, semua tentang Mia adalah istimewa bagiku. Kau tahu, Amico? Aku bahkan rela mengorbankan diriku demi kebahagiaan dan senyumnya. Aku tak bisa membayangkan jika seandainya aku kehilangan Mia, mungkin aku bisa gila,” ungkap Matteo dengan suara bergetar.


“Terutama jika ada seseorang yang berani menyentuh atau berbuat kurang ajar padanya. Iya kan, Amico?” seloroh Coco, meskipun kalimatnya itu berdasarkan fakta yang belum berani ia ungkapkan kepada Matteo.


“Tentu saja! Siapapun yang berani menyentuh Miaku, akan kukuliti hidup-hidup!” ujar Matteo tanpa ragu.

__ADS_1


“Siapa yang akan kau kuliti, Theo?” suara lembut Mia menyela pembicaraan kedua sahabat itu.


“Eh, Mia. Sedang apa kau di sini? Bagaimana Dani?” Coco mencoba untuk berbasa-basi.


“Dani sudah tertidur. Ia tampak sangat kelelahan. Aku akan memasakkan sesuatu untuk kita semua,” Mia berjalan cepat ke arah dapur dan membuka kulkas, lalu menutupnya kembali. Setelah itu, ia membuka lemari gantung. “Ya, ampun,” desah Mia pelan. “Sepertinya Dani belum sempat berbelanja,” keluhnya.


“Biar Coco yang akan berbelanja untukmu, Cara mia. Kau tulis saja apa yang hendak kau beli,” sahut Matteo secepat kilat.


“Astaga, Sayangku. Ricci tahu apa tentang keperluan dapur?” bantah Mia.


“Ya, aku tahu apa tentang bumbu-bumbu?” Coco semakin mempertegas ucapan Mia.


“Kalau begitu, aku yang akan mengantarmu belanja, atau Francesca?” tawar Matteo tak putus asa.


“Francy tertidur di samping Dani, Sayang. Jangan terlalu khawatir. Aku sangat mengenal kota ini. Kau ingat, bukan? Sudah tiga tahun aku tinggal di sini. Tak akan ada yang berani mengganggu Mia, terlebih jika mereka tahu bahwa kau adalah suamiku,” bujuk Mia seraya membelai lembut pipi Matteo dan mengecup bibirnya.


Seketika Matteo luluh menghadapi sentuhan memabukkan itu. “Aku ikut denganmu,” ujarnya lirih, dan tak setegas sebelumnya.


“Diam dan tenanglah di sini bersama Ricci. Jagalah kakak dan adikku. Aku akan berbelanja sebentar saja. Aku tidak akan leluasa memilih bahan masakan jika kau terus membuntutiku,” Mia mendorong pelan tubuh jangkung dan tegap itu, hingga jatuh terduduk di sofa. Satu lutut Mia tertekuk di atas paha Matteo, membuat pria itu melenguh pelan. Diciuminya bibir Matteo kembali beberapa kali, sebelum kemudian melepaskannya diiringi senyuman manis. “Tunggu di sini,”bisik Mia.


“Ehm, kuharap kalian tidak berbuat terlalu jauh karena aku masih di sini dan mengawasi kalian dengan merana,” celetuk Coco yang berdiri di hadapan mereka. Sorot matanya yang memelas membuat Mia terbahak.


“Maafkan aku, Ricci. Baiklah, aku tidak akan menggoda Theo lagi, meskipun ia tampak sangat menggemaskan,” Mia mengedipkan sebelah mata pada sang suami, lalu buru-buru meraih tas kecilnya dan membuka pintu apartemen.


“Jangan berbelanja terlalu jauh, Cara mia!” seru Matteo ketika tubuh ramping Mia hampir menghilang di balik pintu.


“Hypermart ada di lantai paling bawah gedung ini!” sayup-sayup suara Mia terdengar, tapi cukup untuk mengobati kekhawatiran Matteo.

__ADS_1


Sementara itu, Mia berjalan tergesa-gesa memasuki lift dan memencet tombol lantai dasar. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk tiba di supermarket yang dituju. Ia tampak buru-buru meraih troli, kemudian mendorongnya masuk melewati mesin pendeteksi dan berjalan lurus ke arah rak bagian sayuran dan ikan segar. Ketika tangannya hendak mengambil sebuah brokoli, sebuah tangan lain yang terlihat begitu kekar lebih dulu mengambil sayuran itu. Mia segera menoleh dan terperanjat mendapati Adriano lah yang merebut brokoli itu darinya.


__ADS_2