Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Confusion


__ADS_3

Helaan napas berat berbaur dengan desa•han pelan nan lembut yang menggoda, ketika Matteo bergerak dengan gagah di balik selimut putih yang menutupi sebagian tubuhnya.


Di bawah tubuh kekar yang dihiasi banyak tato, tersenyum dengan manis seorang gadis cantik berambut panjang, yang saat itu hanya dapat mengeluarkan erangan pelan. Tangan dengan jemari lentik berkuku panjang miliknya, memeluk erat tubuh Matteo ketika pria itu telah selesai mendaki puncak kenikmatan, yang sejak tadi ia lakoni sehingga membuat tubuh atletisnya dibasahi oleh butiran-butiran keringat.


Matteo terengah-engah seraya menatap wajah sumringah, dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Gadis itu menangkup paras rupawan Matteo dan menciumnya mesra. "Kau selalu menjadi yang paling luar biasa, Theo," sanjungnya membuat Matteo menyunggingkan sebuah senyuman puas. "Istirahatlah," balas Matteo pelan seraya mengecup kening Camilla dengan lembut.


"Jangan tidur terlalu malam. Kemarin-kemarin, aku terbangun, dan aku tidak melihatmu ada di sini," ucap Camilla.


"Aku tidak ke mana-mana," jawab Matteo singkat. "Tidurlah!" suruhnya kemudian. Camilla tersenyum dan mengangguk pelan. Gadis itu menurut saja.


Malam itu, Matteo meminta Camilla untuk datang. Seperti biasa, mereka menghabiskan waktu dengan melakukan aktivitas panas yang membuat Camilla kembali tertidur lelap di atas ranjang milik Matteo. Gadis berdarah Italia-Spanyol tersebut, seakan telah menjadi pemilik dari seisi kamar itu, karena entah untuk yang keberapa kalinya dalam tiga tahun ke belakang, ia menjadi satu-satunya gadis pemuas hasrat dari sang ketua klan.


Ya, tiga tahun telah berlalu dari semenjak kepergian Mia yang hingga saat ini tak diketahui keberadaannya oleh Matteo. Tiga tahun sudah, Matteo menjadi raja dari sebagian besar organisasi mafia di Italia yang telah berhasil ia rampas dari tangan Klan Moriarty, yang juga telah berada dalam genggamannya.


Kini Klan de Luca semakin berjaya. Setelah tewasnya Vincenzo Moriarty, Matteo menghukum mati semua anak buah Vincenzo yang membangkang. Mereka yang masih sayang nyawa dan juga mengharapkan sedikit Euro, tentu saja memilih untuk tunduk dan berbalik haluan. Mereka kini bergabung dengan Klan de Luca, dan berada di bawah kepemimpinan Matteo sepenuhnya.


Malam semakin larut, tetapi Matteo masih duduk termenung di atas tempat tidur. Ia lalu menoleh kepada gadis cantik yang saat itu sudah tertidur lelap di sebelahnya. Camilla tampak begitu kelelahan setelah melayaninya hampir berkali-kali dalam satu malam tersebut.


Sejenak Matteo berpikir. Ingatannya kembali melayang kepada gadis manis dari kota Venice yang selalu ia rindukan, bahkan ketika waktu telah lama berlalu. Akan tetapi, Matteo sendiri tak tahu di mana keberadaan Mia saat ini. Lorenzo memilih untuk menyerah dalam melakukan pencarian, yang telah ia lakukan hampir satu setengah tahun lamanya.


"Mia, di mana kau?" de•sah Matteo pelan seraya memejamkan matanya. Namun, tiba-tiba ia teripikir akan sesuatu, yaitu kedekatannya yang begitu intens dengan Camilla. Selama ini, mereka telah melakukan segala hal selayaknya pasangan kekasih. Akan tetapi, tak pernah terlontar sekalipun, ungkapan yang menandakan sebuah ikrar sebagai pertanda arah dari hubungan tersebut.


Camilla pun sepertinya tak berani untuk menuntut hal itu dari Matteo. Ia hanya merasa senang dapat selalu memuaskan pria bermata abu-abu itu, meskipun entah akan seperti apa hubungannya kelak.

__ADS_1


Matteo kemudian meraih ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Coco. Namun, malam itu Coco tidak sempat memeriksa isi pesan tersebut. Pria bermata coklat itu, tengah asyik membaca sebuah artikel pada majalah otomotif yang baru ia beli tadi siang. Di sana, tertulis artikel dengan judul : Francesca, Antara Model dan Motor Sport. Wajah manis gadis yang kini telah berusia dua puluh satu tahun itupun, terpampang dengan begitu jelas membuat Coco seakan tak dapat bernapas, terlebih ketika ia membaca isi dari wawancara di dalamnya.


Di sana, Francesca mengatakan bahwa dirinya menyukai pria yang mengendarai motor sport, karena ia selalu teringat pada seseorang yang merupakan cinta pertamanya. Gadis itu memang tidak menyebut nama ataupun inisial. Namun, hal itu telah membuat Coco tersenyum lebar. Setidaknya kini ia mengetahui di mana keberadaan gadis itu.


......................


"Hati-hati," pesan Matteo sebelum Camilla masuk ke mobil sedan hitam yang akan mengantarkannya pulang pagi itu.


"Aku akan ke Madrid untuk satu minggu. Ibu memintaku datang," ucap Camilla dengan senyum manisnya. Sementara Matteo tidak segera menjawab. Pria itu justru masih setia dengan ekspresi datar yang selalu menjadi ciri khasnya. "Apa kau mau ikut denganku, Theo? Siapa tahu kau ingin berkenalan dengan kedua orang tuaku," tawar Camilla dengan sedikit harapan yang tersirat dalan sorot matanya.


"Lain kali saja," jawab Matteo datar, membuat Camilla tampak cukup kecewa. Namun, Matteo segera mengecup kening gadis itu untuk memberinya sedikit hiburan. "Pulanglah. Aku akan menghubungimu lagi nanti jika sempat," ujar Matteo pelan. Mau tak mau, Camilla menurut saja. Ia masuk ke mobil yang kemudian membawanya meninggalkan halaman Casa de Luca.


Matteo tertegun menatap kepergian gadis itu. Ada setitik rasa bersalah dalam hatinya. Ia tahu jika sebenarnya Camilla mengharapkan sesuatu yang lebih. Namun, entah kenapa karena Matteo belum dapat memutuskan hal itu. Ia terus berharap untuk dapat bertemu dengan Mia. Matteo masih memiliki utang satu penjelasan yang akan membuat namanya kembali bersih di mata gadis tersebut.


Selang beberapa saat, Matteo kembali ke kamarnya. Ia mengambil mantel dan kunci mobil. Ia juga meraih ponsel yang tergeletak begitu saja, tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Matteo bergegas keluar dari kamar dan menuju halaman parkir. Sebelumnya ia telah menyuruh salah seorang pengawal agar menyiapkan mobilnya.


"Kau mau ke mana?" tanya pria bermata hijau itu lagi.


"Aku akan ke Milan. Ada sedikit urusan yang harus kulakukan di sana," jawab Matteo tanpa mengalihkan tatapannya dari Damiano.


"Hari ini kita akan mendistribusikan Du Fontaine. Ada seorang temanku yang telah lama bermukim di Monaco. Ia akan datang dan sepertinya tertarik untuk mengadakan kerja sama dengan kita. Bagaimana menurutmu?"


"Kau yang paling tahu, Damiano. Bisakah jika kita membahas ini nanti? Aku sudah terlambat."

__ADS_1


"Ya, tentu. Lagi pula, aku juga masih ada sedikit pekerjaan. Namun, kau harus janji untuk meluangkan waktumu. Kita harus membicarakan hal ini dengan serius," ujar pria bertopi itu.


"Tenang saja," balas Matteo seraya menepuk lengan Damiano.


"Apa gadis itu sudah pulang?" tanya Damiano lagi. Ia menanyakan keberadaan Camilla.


"Ya. Aku sudah menyuruh sopir untuk mengantarkannya," jawab Matteo. Langkahnya kembali terhenti.


"Boleh kukatakan sesuatu, Anakku?" Damiano kembali mendekati pria yang kini telah berusia dua puluh sembilan tahun tersebut. Sebuah usia yang terbilang matang.


"Jika memang kau sudah merasa yakin, aku rasa sebaiknya berhentilah bermain-main. Apa lagi yang kau tunggu? Semua yang menjadi targetmu sudah kau dapatkan. Aku ingin segera melihatmu menikah, Anakku," tutur Damiano lembut, tapi terdengar begitu tajam di telinga Matteo.


"Usiamu sudah cukup matang, dan kau sudah pantas untuk berumah tangga. Jangan biarkan aku mati sebelum menimang cucu," lanjut Damiano lagi dengan senyum yang tersungging dari bibir, dengan kulit di sekitarnya yang sudah semakin berkerut.


Matteo tersenyum simpul. "Kau tenang saja, Damiano. Aku akan menikah tidak lama lagi," jawab Matteo tenang. "Aku janji akan segera memberimu cucu," lanjutnya. Setelah itu, Matteo kemudian melanjutkan langkahnya menuju halaman di mana mobilnya sudah terparkir dan siap untuk menemaninya menuju kota Milan.


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Matteo untuk dapat sampai ke kota mode tersebut. Hingar-bingar napas kota besar sudah mulai terasa. Matteo menghentikan mobilnya di depan sebuah toko perhiasan yang telah lama menjadi langganan dari mendiang sang ibu. Ia berniat untuk memesan sebuah cincin.


🍒


🍒


🍒

__ADS_1


Berhubung Theo lagi dilanda kegalauan, ngga ada salahnya mampir dulu ke novel keren di bawah ini. Pasti suka. Yuk, ramaikan🤗



__ADS_2