
Mia tengah bersiap-siap di kamarnya, sementara Matteo menunggunya di ruang kerja. Ada beberapa hal yang ia periksa sambil mengisi waktu selama menunggu sang istri. Matteo juga memiliki alasan tersendiri mengapa ia memutuskan untuk pergi ke Venice dengan mendadak. Semuanya berawal dari perbincangannya dengan Coco di ruang penjara bawah tanah sebelum makan siang tadi.
Sahabatnya itu menemukan petunjuk penting untuk Matteo.
“Kau lihat, Amico? Penembaknya bukanlah orang sembarangan. Ia menembak dari sudut yang tidak terjangkau oleh titik kamera pengawas. Sementara, satu-satunya jalan masuk adalah anak tangga menuju langit-langit ruang,” tutur Coco beberapa jam yang lalu.
“Ia menembak dari tangga masuk di langit-langit?” ulang Matteo. “Siapa yang bisa menembak dengan gaya seperti itu? Bukankah ada satu kamera yang terarah tepat di jalan masuk? Jika ia menembak dari arah sana, tentu sosoknya akan terlihat jelas dan pasti muncul pada layar monitor di ruang pengawas,” Matteo merasa tak habis pikir dengan hal itu.
Coco segera mengangkat bahunya karena menyerah dengan pertanyaan Matteo. Ia sendiri tak tahu bagaimana caranya. “Coba kau perhatikan retakan pada lensa kameranya. Jika dilihat dari bekas tembakan, maka seharusnya ....” Matteo memperkirakan sudut yang terbentuk dari retakan CCTV dengan menggunakan kedua tangannya. Ia terus menarik garis lurus pada lubang di kamera CCTV dan mengarah tepat ke langit-langit di atasnya.
“Lihat itu!” tunjuk Matteo dengan setengah berseru. Sebuah lubang kecil tampak menyembul di langit-langit ruang bawah tanah yang terbuat dari kayu. “Seseorang telah melubanginya,” geram Matteo.
Coco berdecak kagum atas kejelian mata seorang Matteo, meskipun bukan hal yang aneh bagi pria bermata abu-abu tersebut akan kemampuannya itu. Matteo terbiasa membidik dari jarak jauh, sehingga mengamati segala sesuatu dengan sedetail mungkin adalah hal yang mutlak baginya.
“Jadi, itu artinya?” tanya Coco ragu.
“Pelakunya adalah seseorang yang paham betul dengan seluk beluk Casa de Luca,” simpul Matteo.
“Jangan katakan jika kau tetap bersikukuh menuduh Damiano!” geram Coco. "Keterlaluan!"
__ADS_1
“Tentu saja tidak. Zucca sudah memastikan bahwa Damiano ada di kamarnya saat pelayan itu dibunuh,” jelas Matteo.
“Lalu, kira-kira siapa pelakunya?” pertanyaan Coco menjadi akhir dari lamunan Matteo, yang segera tersadar ketika mendengar suara ketukan di pintu ruang kerjanya. Wajah cantik Mia muncul dari balik pintu berwarna cokelat tua tersebut.
“Aku sudah siap, Theo,” Mia berdiri di hadapan Matteo yang masih berada di belakang meja kerjanya. Jika sudah seperti itu, Matteo tidak akan bisa berkonsentrasi dengan apapun juga. Ia lebih memilih untuk menunda semua urusannya dan beranjak ke tempat di mana Mia berdiri.
Mia sudah tampil cantik dalam balutan palazzo pants berwarna hijau wardah yang dipadukan dengan sleevelees coklat muda polos. Mia juga menggerai rambut panjangnya. Sebagian rambut indah itu, ia biarkan menjuntai di atas pundak sebelah kirinya.
Matteo berdiri di hadapan Mia. Pria itu memang tak pernah bisa menghindar dari godaan wanita yang telah membuat dunianya berubah dalam waktu yang sangat singkat. Disibakannya rambut panjang itu ke belakang. Matteo kemudian menyentuh wajah cantik Mia. Ia tak akan pernah bosan untuk memberikan ciuman mesranya bagi sang istri. Hal itu sebagai pertanda sebagai dari rasa bahagia, karena telah berhasil memiliki Mia seutuhnya.
“Apa kita akan berangkat sekarang?” tanya Mia. Ia mengusap bibir Matteo yang berwarna merah karena bersentuhan dengan lipstiknya. Sedangkan Matteo hanya mengangguk pelan. Setelah mengambil mantelnya dan juga mantel untuk Mia, mereka segera menuju ke halaman di mana Nico sudah menyiapkan mobil jeep hitam kesayangan sang majikan. Setelah memastikan Mia duduk dengan nyaman di dalam mobilnya, Matteo segera menjalankan mobil jeep itu dan meninggalkan halaman luas Casa de Luca.
Selama di dalam perjalanan, Mia tidak banyak bicara. Rasanya seperti mimpi ketika dirinya akan kembali ke kota yang telah ia tinggalkan selama hampir tiga tahun lebih. Kota yang menyimpan banyak kenangan masa kecil, masa remaja, dan semua cerita tentang suka dukanya bersama sang ayah.
Matteo dan Mia berdiri dengan berdampingan. Sesekali, pria rupawan itu melirik sang istri dari balik kaca mata hitam yang ia kenakan. Meskipun begitu, Matteo masih dapat melihat kepedihan yang teramat dalam di mata wanita yang sangat ia cintai tersebut.
“Aku menyesalkan kepergian ayahku yang sangat tragis, Theo. Seharusnya saat ini ia masih berada di antara kami bertiga ....” ucap Mia pelan.
“Artinya aku tidak akan ada lagi dalam hidupmu, Mia,” sela Matteo. “Maaf, jangan salah sangka. Akan tetapi, semua hal yang terjadi dalam hidup kita sudah merupakan satu alur cerita yang nantinya akan bertemu pada sebuah titik persimpangan, di mana kita dipertemukan dengan sesuatu yang membuat kita harus menentukan pilihan tentang jalan mana yang akan kita ambil. Setelah itu, akan tercipta alur yang baru tanpa melepaskan alur cerita sebelumnya,” Matteo tersenyum renyah. “Itu yang sering Damiano katakan padaku,” lanjut pria itu.
__ADS_1
“Aku terkadang merasa bingung, Theo. Lihatlah! Di sana terbaring jasad Valentino yang saat ini pasti hanya menyisakan tulang belulangnya saja. Rasa bersalah dalam diriku tak pernah habis, setiap kali aku teringat padanya. Ia sudah melakukan banyak hal untukku. Ia menawarkan cintanya yang besar dan tak pernah bosan untuk menunjukkan perasaannya itu, meskipun hanya penolakan yang ia terima. Valentino tidak pernah menyerah terhadapku, Theo. Ia rela melakukan apapun untukku, bahkan mengorbankan nyawanya sekalipun. Ia tewas demi membuatku tetap hidup ....” Mia tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya. Wanita muda itu hanya tertunduk dengan isakan pelan. Deraian air matanya pun kian mengalir deras.
“Vale menyerahkan nyawanya untukku, sementara aku menyerahkan hidup dan cintaku padamu. Apakah menurutmu itu adil baginya?” lirih suara Mia di balik kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Melihat hal itu, Matteo tak tinggal diam. Direngkuhnya pundak Mia hingga wanita muda itu memiliki tempat untuk bersandar dan menyembunyikan tangisnya dari dunia.
“Sudahlah, Mia. Kau tidak harus terus menyesali semua yang telah terjadi. Seandainya kau memutar waktu dan kembali pada masa itu, maka kau tetap tidak akan dapat mengubah apapun. Tidak ada manusia yang dapat melawan takdir Tuhan. Jika memang kita dapat melakukannya, maka aku juga akan meminta orang tuaku untuk kembali. Aku akan mencegah mereka memakai mobilku, sehingga mungkin mereka masih ada di dunia ini hingga sekarang.”
“Kau tahu, Mia? Valentino Diori adalah pemuda paling pemberani yang pernah kutahu, dan ia juga tampaknya sangat mencintaimu. Untuk seseorang seperti Valentino, hanya dengan melihat gadis yang dicintainya bahagia, itu sudah jauh lebih dari cukup . Aku yakin dia tersenyum melihatmu dari atas sana."
"Jangan sia-siakan nyawa yang sudah diberikan oleh Valentino untukmu. Hiduplah dengan sebaik-baiknya dan buat dirimu menjadi lebih berarti,” lanjut Matteo. Ia kemudian mengempaskan napasnya pelan. “Aku bukan orang yang bijaksana, Mia. Aku bahkan tidak mampu mengendalikan emosiku seandainya tidak ada Damiano di sampingku ....” Matteo tertegun.
“Apa yang sudah kulakukan?” gumam pria bermata abu-abu itu pelan.
“Ada apa, Theo?” tanya Mia seraya mengangkat kepalanya dari dada Matteo, tetapi Matteo tidak menjawab. Sesaat kemudian, ia segera mengajak Mia untuk pergi dari area pemakaman itu.
“Apa kita akan kembali ke Brescia?” tanya Mia yang baru saja memasang sabuk pengamannya.
“Tidak,” jawab Matteo seraya menyalakan mesin mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu.
“Lalu, kita akan ke mana?” tanya Mia dengan wajah yang tampak sangat penasaran.
__ADS_1
Matteo menoleh. Ia menatap Mia dengan sorot matanya yang selalu terlihat menggetarkan hati wanita muda itu. “Kita akan menemui mereka yang bertanggung jawab atas semua ketakutan yang selalu menghantuimu hingga saat ini, Mia,” jawab Matteo dengan nada bicaranya yang terdengar sangat tegas.