
Rona tidak percaya menghiasi wajah Mia, ketika ia turun dari mobil Matteo. Ditatapnya sekeliling halaman Cassa de Luca. Mia masih ingat dengan jelas semua yang terjadi saat terakhir ia datang ke sana. Bayangan wajah Valentino pun tiba-tiba hadir di pelupuk matanya. Rasa sedih dan sesal itu kembali menyapa dan membuatnya merasa bersalah.
"Ayo, Mia!" ajak Matteo. Ia meraih pergelangan tangan kanan Mia dan menggenggamnya dengan begitu erat. Matteo seakan takut jika wanita itu melarikan diri lagi dari hidupnya. Pria bermata abu-abu tersebut, terus menuntun Mia masuk ke dalam bangunan megah bergaya Tuscany itu.
Untuk pertama kalinya, Mia menginjakan kaki di atas lantai berlapis ubin dengan seni mozaik yang indah. Tempat itu, adalah istana paling nyaman yang pernah ia datangi. Suasananya begitu hangat dan ternyata tak semenakutkan yang Mia kira.
Matteo tak melepaskan genggaman tangannya, bahkan ketika ada tiga orang pria yang menyambut kedatangan dirinya dan Mia di ruangan itu. Damiano tersenyum lebar seraya langsung memeluk putra asuhnya. Sementara Antonio menatap kedua sejoli itu dengan sorot mata tuanya yang aneh. Lain halnya dengan Marco. Ia menatap Mia dengan mata nakal yang diiringi senyuman culas. pria itu mengamati wanita cantik yang berdiri di sebelah Matteo, dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Kaki jenjang Mia yang dihiasi pump shoes 7 cm, begitu menarik perhatian Marco. Pria itu berkali-kali mengusap dagunya yang kelimis. Tak sedikitpun gerak-gerik Mia yang luput dari perhatiannya. Mia memang terlihat sangat cantik siang itu dengan sheath dress biru lengan pendeknya. Ia tampak begitu anggun dan berkelas. Wanita muda tersebut memang layak disandingkan dengan Matteo.
"Benvenuto a Cassa de Luca (Selamat datang di Cassa de Luca), Mia," sambut Damiano. Ia mencium kening wanita muda itu dengan hangat, seperti apa yang sering Mr. Gio lakukan kepadanya. Seketika Mia tersenyum. Ada rasa haru yang juga menyertai senyuman manisnya.
"Grazie (Terima kasih), Paman," balas Mia yang seketika membuat Damiano tergelak. Sementara Mia terlihat heran. Ia kemudian melirik Matteo yang hanya tersenyum kecil padanya.
"Damiano lebih suka dipanggil dengan namanya langsung. Ia tidak mau dianggap tua," kelakar Matteo dengan entengnya. Ia seakan tidak peduli jika Damiano akan tersinggung dengan kata "tua" yang baru saja ia ucapkan. Namun, kenyataannya memang begitu. Damiano malah tertawa dengan semakin lebar.
"Matteo adalah putra kesayanganku. Ia sudah mengenalku dengan baik," ujar Damiano seraya mengalihkan tatapannya kepada Matteo dan Mia secara bergantian. "Baiklah, Mia. Ini saatnya untuk berkenalan dengan anggota keluarga de Luca yang lainnya," Damiano menoleh kepada Antonio beserta putranya Marco, yang sejak tadi hanya berdiri dan mengamati calon istri dari Matteo.
"Itu pamanku, Mia. Ia adalah kakak kandung dari mendiang ayahku. Paman Antonio de Luca dan putranya Marco," Matteo memperkenalkan kedua pria tersebut. Sedangkan Mia tertegun untuk sejenak. Ia menatap kedua pria itu dengan perasaan aneh. Namun, segera disingkirkannya perasaan itu, terlebih ketika Antonio dan Marco mendekat kepadanya.
__ADS_1
"Benvenuto (Selamat datang), Mia," sambut Antonio dengan gaya bicaranya yang datar seraya mengangguk pelan. Mia membalasnya dengan sopan. Ia pun tersenyum lembut.
"Benvenuto, Bella dona (Selamat datang, Wanita cantik)," sambut Marco seraya meraih tangan Mia dan mencium punggung tangan itu untuk beberapa detik. Apa yang dilakukannya telah membuat Mia sedikit terkejut. Sementara Matteo hanya memalingkan wajahnya seraya mengepalkan tangan. Ia hanya tinggal menunggu waktu untuk menghadiahkan kepalan tangan tersebut, kepada sepupunya yang pemalas dan tak berguna itu.
"Kami sudah mengatur waktu untuk pertemuan dengan para tetua organisasi. Mereka telah setuju mengadakan pertemuan malam ini di aula Cassa de Luca. Persiapkan dirimu, Nak!" ucap Damiano seraya menepuk lengan Matteo. Sesaat kemudian, ia mengalihkan pandangannya kepada Mia. "Kau juga, Mia. Persiapkan dirimu. Aku akan menyuruh Sorella untuk membantu menyiapkan segala yang kau butuhkan," lanjutnya.
"Terima kasih, Damiano. Aku akan mengantar Mia ke kamar, dan tolong suruh Nico untuk membawakan barang-barang nona cantik ini ke kamarku. Semuanya masih di dalam bagasi mobil," titah Matteo dengan tenangnya. Ia kembali menuntun Mia seraya berlalu begitu saja menuju kamarnya.
"Apa aku akan tidur di kamarmu, Theo?" tanya Mia dengan ekspresi tidak yakin, ketika mereka telah tiba di dalam kamar Matteo.
Matteo menoleh dan tersenyum simpul. "Memangnya kenapa? Suasana kamarku memang tidak semanis kamarmu, Mia. Namun, aku pastikan kau akan merasa nyaman di sini," ucap Matteo pelan seraya mengelus lembut wajah cantik Mia. Belum sempat wanita bermata coklat itu menjawab pertanyaannya, Matteo sudah terlebih dulu mendaratkan sebuah ciuman di bibir Mia. Matteo sepertinya tak akan merasa bosan untuk melakukan hal tersebut. Ia baru melepaskan ciumannya dari Mia, ketika ada seseorang yang mengetuk pintu kamar.
"Letakan saja di dekat lemari!" terdengar prtintah Matteo kepada pria muda yang membawakan barang-barang Mia. Mia sendiri belum membawa semua barang-barangnya ke Cassa de Luca. Lagi pula, Matteo melarangnya untuk membawa terlalu banyak barang. Setelah meletakan koper itu, pemuda yang tiada lain adalah Nico, segera keluar dari kamar. Ia tidak ingin mengganggu tuannya.
Sepeninggal Nico, Matteo kemudian mengahmpiri Mia yang masih terpaku di dekat jendela. Tatapan wanita cantik itu menerawang jauh. Entah apa yang tengah menjadi titik fokusnya sehingga ia tampak begitu serius. "Apa yang kau lihat, Mia?" tanya Matteo. Ia berdiri di sisi jendela seraya menyenderkan lengannya. Sementara kedua bola mata abu-abu itu tajam dan tertuju langsung kepada Mia yang masih terdiam.
Beberapa saat kemudian, Mia membalas tatapan Matteo dengan sorot matanya yang lembut. "Aku pernah mencari namamu di internet. Namun, yang muncul adalah gambar perkebunan itu. Aku tidak tahu siapa Matteo Belluci yang sebenarnya, hingga kulihat tato yang menegaskan bahwa kau adalah Matteo de Luca," tutur Mia.
"Aku hanya merasa heran. Kau adalah seorang pemberani, Theo. Akan tetapi, kau takut untuk mengakui siapa dirimu di hadapanku," lembut, nada bicara Mia terdengar begitu menghanyutkan di telinga Matteo.
"Itulah pertama kalinya aku merasa takut akan sesuatu, Mia. Belum pernah aku merasa begitu cemas apalagi sampai memikirkan seseorang dengan .... kau tahu? Sepulang dari Palermo, aku mampir ke Venice untuk melihat keadaanmu. Kau terlihat begitu manis waktu itu, sangat lugu dan ...." Matteo tersenyum tipis kala mengenang saat-saat terberat dalam hidupnya. Perasaan cinta yang tak mungkin untuk ia wujudkan, karena terhalang keadaan.
__ADS_1
Mia mengalihkan pandangannya dari pemandangan indah Cassa de Luca pada sosok rupawan yang tak kalah indahnya. "Sejak kapan kau mulai menyukaiku?" pertanyaan yang terdengar begitu polos dari bibir Mia, sehingga membuat Matteo kembali menyunggingkan senyuman kecilnya. Pria itu terlihat agak malu-malu.
Terdengar sebuah helaan napas berat Matteo. Entah kenapa ia merasa ragu untuk menjawab pertanyaan sederhana dari Mia. Namun, pada akhirnya Matteo kembali bersuara. "Aku sudah menyukaimu ... dari semenjak kau memberikan setetes air dan menghilangkan rasa dahagaku. Saat itu, tenggorokanku sangat kering sehingga untuk bernapas pun rasanya begitu sulit. Kau seperti sebuah nyawa bagiku, dan entahlah ... aku tidak mengerti dengan semua yang kurasakan setelah itu. Semuanya terasa begitu aneh," ungkap Matteo. Ia kemudian menatap ke luar jendela. Tampak para pekerja perkebunan yang tengah sibuk memanen anggur.
Beberapa saat kemudian, kembali terdengar ketukan di pintu. "Itu pasti Sorella. Ia akan membantumu bersiap-siap untuk acara malam ini," ucap Matteo. Ia hendak beranjak ke arah pintu. Akan tetapi, dengan segera Mia memegangi lengannya. Wajahnya terlihat khawatir.
"Aku sangat gugup, Theo," ucap Mia pelan.
Matteo membalikan badannya sehingga jadi menghadap kepada Mia. Ditangkupnya wajah cantik sang kekasih yang baru ia temukan kembali. "Kau tidak harus merasa gugup apalagi takut. Selama masih ada aku di dekatmu, maka kau akan selalu baik-baik saja," balas Matteo seraya mengecup kening Mia dengan penuh perasaan. Setelah itu, ia menuju pintu dan membukanya.
Di luar kamar itu telah berdiri seorang wanita dengan usia sekitar tiga puluh tahun. Rambutnya yang berwarna pirang, ia sanggul dengan rapi di belakang. Seragamnya pun berbeda dengan yang dipakai para pelayan di Cassa de Luca. Wanita itu terlihat jauh lebih rapi, karena memakai kemeja putih tiga perempat yang dipadukan dengan rok span sebatas lutut. "Selamat sore, Tuan," sapanya dengan penuh hormat kepada Matteo yang saat itu tampak seperti tengah mengamatinya dengan detail.
"Kau yang bernama Sorella?" tanya Matteo datar dan dingin. Raut wajah dan tatapan manis yang ia tunjukan di depan Mia, seketika berubah ketika berhadapan dengan orang lain. Setelah semua yang terjadi, Matteo patut untuk mencurigai semua orang baru yang masuk ke Cassa de Luca.
"Benar, Tuan. Nama saya Sorella Vidal," jawab wanita berambut pirang itu dengan wajah tertunduk. Tidak berselang lama, Mia datang menghampiri mereka berdua. Ia berdiri di sebelah Matteo dan ikut memperhatikan wanita tersebut.
"Baiklah. Tugasmu adalah membantu menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan Mia. Aku rasa, Damiano pasti sudah memberitahumu sebelumnya," jelas Matteo tanpa melepaskan tatapan tajamnya. Sorella tidak menjawab. Wanita itu hanya mengangguk pelan. Sementara Matteo masih terus mengamatinya dengan lekat. Hal itu membuat Mia menjadi heran.
"Theo?" Mia menyentuh lengan pria di sebelahnya dengan lembut. Seketika Matteo tersadar. Ia lalu menoleh kepada Mia. Tatapan tajamnya pun kembali sirna dan berganti menjadi tatapan yang penuh cinta.
"Bersiap-siaplah, Mia. Sebentar lagi acara pertemuannya akan segera dilaksanakan," ucap Matteo dengan datar seraya berlalu. Namun, ia kembali menoleh kepada Sorella untuk sejenak.
__ADS_1