
Mr. Gio cukup terkejut melihat kehadiran Matteo di sana. Lama sudah ia tidak melihat keberadaan pria berambut gondrong itu. "Theo, kau di sini?" tanyanya di sela-sela rasa sedih dan duka atas kepergian sang istri tercinta.
Matteo mengangguk pelan, sebuah gerakan kepala yang terlihat hanya sepintas. Namun, Matteo pun sempat menyunggingkan sebuah senyuman tipis di sudut bibirnya.
"Theo yang mengantarku kemari, Ayah," ucap Mia dengan agak ragu. Hal itu telah membuat Mr. Gio segera mengalihkan pandangan kepada dirinya. Begitu juga dengan Daniella, yang memang sempat memiliki rasa tertarik kepada Matteo. Gadis itu masih terlihat sinis, meskipun sedang dalam keadaan berduka.
"Kau akan segera menikah dengan Valentino, tapi kau masih bertemu dengan pria lain, Mia? Luar biasa!" cibir Daniella dengan ketus.
"Aku melihat Mia berjalan sendirian malam-malam begini, wajar bukan jika aku memiliki inisiatif untuk memberinya tumpangan?" sela Matteo dengan tatapan tajamnya kepada Daniella. Pria itu seakan tengah membantu Mia dalam menghadapi sikap tidak bersahabat yang selalu ditunjukkan oleh saudari tirinya.
"Ah, Theo! Aku tahu dirimu," bantah Daniella.
"Hentikan, Dani! Kita sedang berkabung, haruskah kau membahas masalah seperti itu?" sergah Mia. Ia segera merengkuh pundak Francesca yang saat itu menghampiri dan menghambur ke dalam pelukannya. Francesca menangis dengan tiada henti. Ia sangat terpukul atas kepergian Magdalena, berhubung selama ini gadis itu begitu manja kepada sang ibu.
Daniella kembali menunjukkan sebuah cibiran untuk Mia. Daniella kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding ruangan itu. Ia melipat tangan kirinya lurus di dada, dan ia jadikan sebagai penopang tangan kananya. Daniella memijit keningnya dengan tangan kanan itu. Sesaat kemudian, gadis dengan dandanan mencolok itu terisak. Rasa sakit atas kepergian sang ibu, tak dapat ia elakan lagi.
Sementara Matteo hanya berdiri terpaku memerhatikan mereka yang tengah berduka. Tiga orang gadis dengan seorang pria paruh baya yang sama-sama berderai air mata karena kehilangan orang tercinta. Matteo, juga mengalami hal yang sama. Perasaan itu pasti tidak jauh beda dengan apa yang ia alami beberapa waktu lalu, ketika ia mendengar kabar kematian orang tuanya.
"Mia!" terdengar suara Valentino yang baru muncul di sana. Pemuda itu segera menghampiri Mia dan tidak menyadari kehadiran Matteo di sana. Dengan segera, ia memeluk Mia. Sementara Mia, hanya dapat melayangkan tatapan nanarnya ke arah Matteo yang kini lebih memilih untuk melangkah mundur, lalu berbalik dan pergi dari sana. Hal itu membuat kepedihan di dalam hati Mia kian bertambah. Ia terus menatap kepergian Matteo hingga pria itu tak terlihat lagi.
"Maaf karena aku baru kemari," sesal Valentino seraya melepaskan pelukannya.
"Tidak apa-apa, Vale. Terima kasih atas kedatanganmu," balas Mia. Ia lalu menghampiri Mr. Gio dan duduk di dekatnya. Mia merangkul sang ayah yang saat itu hanya duduk dengan posisi tertunduk.
Keesokan harinya. Setelah semua urusan pengembalian jenazah dari rumah sakit telah selesai, maka jenazah Magdalena segera dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan. Beberapa kerabat dekat datang melayat. Mereka ingin melihat wajah cantik mantan artis opera itu, untuk yang terakhir kalinya. Menjelang sore, barulah jenazah Magdalena di bawa ke tempat pemakaman.
Mr. Gio tak kuasa menahan haru, ketika peti jenazah mulai dimasukkan ke liang lahat. Pria itu memejamkan matanya. Ia tak sanggup melihat kekasih hatinya harus terkubur sendirian di dalam peti mati. Disampingnya, Mia dan kedua putri Magdalena yang juga tak kuasa ketika menyaksikan hal itu. Francesca terus menangis. Sementara Mia, mencoba untuk terlihat tegar. Ia merengkuh pundak sang adik dan terus mengelus lembut rambutnya. Sedangkan Daniella hanya berdiri terpaku.
Valentino berdiri di dekat Mr. Gio dan terus memegangi lengan calon ayah mertuanya. Sementara, beberapa meter di belakang kerumunan yang ikut mengiringi proses pemakaman mendiang Magdalena, berdiri seorang pria tampan dengan mantel hitamnya. Sepasang mata abu-abunya tak jua lepas dari memerhatikan kerumunan itu.
__ADS_1
Matteo, sengaja menghadiri acara pemakaman tersebut meskipun tanpa sepengetahuan Mia. Datar dan dingin, raut wajahnya terlihat tanpa ekspresi sama sekali. Hingga acara pemakaman selesai dan seluruh pengiring jenazah telah membubarkan diri, Matteo masih berdiri di tempatnya dengan posisi yang juga belum berubah. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel. Sementara, matanya mulai bergerak dan menyapu setiap sudut area pemakaman yang tertata rapi dan indah itu. Matteo seakan tengah berjaga dan mengintai setiap kali ada sesuatu yang tampak mencurigakan bagi dirinya.
"Ayah, mari kita pulang," ajak Mia. Ia meraih lengan Mr. Gio yang saat itu masih berdiri mematung di dekat makam sang istri.
"Aku masih ingin di sini, Mia," jawab Mr. Gio dengan datar. Tatapannya tampak sangat kosong saat itu.
"Ayolah, Ayah! Kita harus pulang!" ajak Daniella dengan nada bicaranya yang sedikit tegas. Sedangkan Mr. Gio masih saja terpaku di tempatnya.
"Tuan, aku turut berduka cita," terdengar suara berat dari arah belakang yang telah sangat Mia kenal, sehingga membuat gadis itu segera menoleh. Ia melihat Matteo berdiri di belakang mereka dengan raut muka yang seperti biasanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Valentino. Ia segera maju dan berdiri di hadapan Matteo. Pemuda itu tidak suka saat melihat kehadiran Matteo di sana. Namun, dengan segera Mia menarik lengan calon suaminya agar kembali mundur. Sedangkan Matteo masih terlihat tenang Ia tidak terpengaruh oleh sikap yang ditunjukan Valentino terhadapnya.
“Grazie, Giovanotto,” balas Mr. Gio tulus. Sepasang mata tuanya memerhatikan raut Matteo. Tanpa sadar, tangan Mr. Gio terulur dan menepuk pundak pria rupawan itu. “Aku ….” ucapan Mr. Gio terjeda. Ia melirik ke arah Mia.
Setelah putrinya menjauh, barulah Mr. Gio mengarahkan tatapannya kembali pada Matteo tengah memandang sosok Mia. “Apa yang menahanmu dari putriku?” tanya Mr. Gio datar tanpa basa-basi.
Matteo seketika terkejut. Ia hanya terdiam, lalu menunduk. Beberapa saat kemudian, Matteo mendongak dan menyunggingkan sedikit senyuman. “Aku bukanlah pria yang baik untuk Mia, Tuan,” jawabnya pelan.
“Kenapa kau tidak membiarkan Mia memutuskan sendiri apa yang baik atau tidak untuk dirinya? Kau tidak ingin berusaha?”
Lagi-lagi, Matteo hanya tersenyum. Ingin rasanya ia mengungkapkan pada pria berwibawa itu, jika dirinya tak sebaik yang Mr. Gio lihat. Jiwanya sudah berlumuran dosa. Tangannya sudah ternoda oleh darah, dari nyawa orang-orang yang telah ia habisi. Matteo, merasa tak pantas untuk bersanding dengan Mia yang suci.
“Valentino adalah pria yang hebat. Saya percaya dia bisa melindungi Mia dengan baik,” ujar Matteo pada akhirnya.
Mr. Gio mengela napas panjang. “Aku melihatnya, Anak Muda. Cara putriku memandangmu, sama seperti mendiang istri pertamaku saat memandangku. Sorot mata penuh kekaguman, yang tidak akan kau temukan di balik tatapan gadis-gadis lainnya. Hanya sekali saja untuk seseorang. Jadi, ketika seseorang itu pergi dan kau berhasil menemukan cinta lainnya, aku yakin cinta yang lain itu tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Berpikirlah sebelum menyesal,” saran Mr. Gio panjang lebar.
Nasihat itu begitu merasuk ke dalam hati Matteo. Ia seakan menemukan sebuah oase di tengah kehidupannya yang gersang dan keras.
__ADS_1
“Di balik sifatnya yang lemah lembut, Mia-ku adalah gadis yang kuat dan teguh pendirian. Ketika nanti dia sudah berstatus menjadi istri Valentino, maka tak ada celah lagi untukmu. Mia akan menjalankan perannya dengan baik sebagai seorang istri dan menutup pintu hatinya untukmu,” tutup Mr. Gio.
Ditepuknya pundak tegap Matteo, sebelum ia pergi meninggalkannya pria muda itu. Cukup lama Matteo termenung, hingga terdengar suara lembut seorang gadis yang menyentak lamunannya. “Kau masih di sini?” tanya gadis itu.
Matteo menoleh dan membalikkan badan. “Kau tidak apa-apa, Mia?” Matteo balik bertanya.
“Untuk saat ini aku tidak baik-baik saja. Namun, hidup pasti terus berjalan. Rasa sedih ini akan berganti. Tidak ada yang abadi, Theo. Kau tahu, bukan?” sindir Mia seraya tersenyum manis.
Matteo hanya tersenyum kecil. Ia lalu mendekati Mia. “Aku harap ini adalah kesedihan terakhirmu,” ucapnya. Dengan hati-hati Matteo mengarahkan tangannya ke pipi Mia yang terasa sangat halus.
Mia memejamkan mata merasakan sentuhan itu. “Dua bulan lagi aku akan menikah,” bisik Mia lirih.
“Semoga berbahagia,” sahut Matteo, datar dan dingin.
Mia membuka matanya kembali dan menautkan kedua alisnya, tandanya ia tak setuju dengan tanggapan Matteo. “Hanya itukah, Theo? Kau tak ingin melakukan apapun?”
“Memangnya apa yang bisa kulakukan untukmu, Mia? Valentino adalah pria yang terbaik untukmu,” tegas Matteo.
“Kau tidak ingin mencegahnya?” desak Mia. Kata-katanya begitu lugas, mengisyaratkan beban di hatinya.
“Pernikahan bukanlah permainan. Lagi pula, aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Jujur saja, Mia. Kau tidak pantas hadir dalam hidupku. Setiap hari, aku berurusan dengan bahaya. Setiap hari, hidupku penuh dengan tekanan. Aku tidak ingin menambah bebanku. Mengertilah!” jelas Matteo.
Setitik kepedihan menetes di sudut mata Mia. Lagi-lagi, Matteo mengucapkan kalimat yang menyakitkan untuknya. Gadis itu menggeleng kencang. Ia sama sekali tidak memahaminya. “Bukankah beberapa hari yang lalu kau mengatakan jika kau sangat mencintaiku dan akan mencegah pernikahanku? Kenapa sekarang kau berubah? Plin-plan sekali dirimu, Theo!” hardik Mia.
“Aku yakin kau jauh lebih aman dan bahagia tanpa diriku, Bella,” Matteo tak menghiraukan amarah Mia. Ia mendaratkan sebuah ciuman di kening Mia. Ia juga memeluk Mia dengan hangat dan lama. Setelah itu, Matteo menguraikan pelukannya. Ia kemudian mulai melangkah dan meninggalkan Mia yang masih terpaku.
“Ya, ini jauh lebih baik. Belum menjadi istriku saja, nyawamu sudah terancam. Apalagi jika kau bersanding denganku. Aku tidak akan bisa melihatmu terluka, Mia," ucap Matteo dalam hatinya.
__ADS_1