
Coco menghampiri keempat pemuda yang kini sudah berdiri meskipun dengan sempoyongan. Ia merapikan jaket kulit yang dikenakannya dan menepuk-nepuk jaket itu di beberapa bagian, untuk menghilangkan noda debu yang menempel di sana. Coco juga menyisir beberapa helai rambut ikalnya yang menutupi dahi dengan jari tangan. Sesaat kemudian, ia menyunggingkan sebuah senyuman kepada mereka yang tampak ketakutan. “Masih ingin bermain?” tantangnya. Sikap yang ditunjukan Coco terlihat begitu kalem, tapi sangat menakutkan bagi pemuda-pemuda itu.
Sementara itu, pengunjung lain yang kebetulan sedang berada di sana, begitu takjub melihat adegan perkelahian bak dalam sebuah film action Hollywood. Mereka terpana melihat kehebatan seorang Coco dalam menghadapi kelima pemuda tersebut.
Keempat pemuda itu serempak menggeleng. Mereka kemudian berhamburan meninggalkan kedai, bahkan sampai melupakan salah seorang teman mereka yang tengah merangkak naik dari dalam kanal, dengan dibantu beberapa penarik gondola. Melihat hal itu, Coco hanya tersenyum geli. “Hey, kalian tidak setia kawan rupanya!” seru Coco dengan nada mengejek, membuat pemuda yang baru saja naik dari kanal itu segera berlari tunggang langgang dengan sempoyongan. Ia mengejar teman-temannya yang lain.
Coco menatap kepergian mereka seraya menggelengkan kepalanya. Jelas sudah jika preman-preman jalanan kelas teri seperti mereka bukanlah lawan yang sebanding dengan dirinya. Coco menganggap perkelahiannya tadi sebagai olahraga ringan di siang hari. Sesaat kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada dua gadis yang sejak tadi memerhatikannya dengan rona tidak percaya. Coco kemudian melangkah ke arah mereka berdua.
“Kalian tidak apa-apa, Nona-nona?” tanya Coco. Ia menatap Mia dan Francesca yang berdiri merapat ke dinding, secara bergantian. Kedua gadis itu saling merangkul. Mereka tampak ketakutan karena melihat adegan perkelahian yang baru selesai berlangsung antara Coco dan pemuda-pemuda pengganggu itu.
“Kami baik-baik saja. Terima kasih, Tuan,” ucap Mia dengan gugup. Rona kecemasan masih terlihat di wajahnya. “Anda tidak apa-apa, kan?” tanya Mia khawatir.
Coco tersenyum kalem. Pria itu kemudian menggeleng pelan. “Aku seorang pria. Pukulan dari pemuda seperti mereka tidak akan membuatku mengerang kesakitan,” jawab Coco dengan tenangnya. “Maaf, kedai-mu jadi berantakan,” ucap pria itu lagi masih dengan senyumnya yang menawan.
Mia menggeleng pelan. “Tak apa. Aku dan adik-ku bisa membereskannya lagi nanti,” ucap Mia seraya menyenggol lengan Francesca yang saat itu terpaku menatap Coco. Gadis itu masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.
“Francy?” bisik Mia membuat Francesca tersadar dan seketika menjadi gelagapan.
“A-iya. Aku akan membuatkan secangkir espresso untuknya,” ujar Francesca dengan terbata. Ia berlalu menuju ke dalam kedai dan bermaksud untuk membuatkan secangkir espresso untuk Coco.
“Francy!” panggil Mia membuat Francesca menghentikan langkahnya. Gadis itu kemudian menoleh. “Fettucini? Baiklah!” ucap Francesca seraya melanjutkan langkahnya ke dalam kedai.
__ADS_1
Mia mengernyitkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan sikap aneh yang ditunjukan oleh gadis itu. “Ada apa dengannya?” gumam Mia heran.
“Adik-mu sangat lucu dan menggemaskan,” ujar Coco dengan senyum tipis di bibirnya.
“Ia tidak pernah bersikap aneh seperti itu sebelumnya,” balas Mia seraya menggerakan bola matanya ke kiri dan ke kanan.
“Sudahlah, tak apa. Biar ku bantu membereskan kekacauan ini,” ucap Coco. Ia bermaksud untuk merapikan meja dan kursi yang berantakan akibat insiden tadi. Namun, dengan segera Mia mencegahnya. “Tidak usah, Tuan! Kau duduk saja. Biar aku yang membereskannya,” cegah gadis itu. Ia segera melakukan pekerjaannya dengan begitu cekatan. Tak terlihat rasa canggung dalam setiap gerakannya ketika harus menata meja dan kursi yang tergeletak dengan tak beraturan, meskipun hanya ia kerjakan seorang diri.
Coco terus memerhatikan gadis itu dengan saksama. Ia semakin dapat memahami, mengapa gadis itu bisa membuat seorang Matteo menjadi terlihat berbeda dan seakan bukan Matteo yang ia kenal.
Akan tetapi, Coco harus kembali mengalihkan perhatiannya dari Mia, ketika Francesca datang dan menyuguhkan secangkir espresso untuknya.
“Bukankah kau akan membuatkanku seporsi fettucini?” tanya pria itu seraya mengulum senyumnya.
“Tidak usah!” cegah Coco. “Lagi pula, aku tidak lapar,” lanjutnya seraya meneguk espresso buatan Francesca.
“Itu gratis untuk-mu, Tuan. Anggap saja sebagai tanda terima kasih kami atas apa yang telah kau lakukan tadi,” ucap Francesca dengan gaya bicaranya yang memang tidak bisa seramah Mia.
Coco tersenyum simpul mendengar ucapan gadis itu. Setelah kembali meneguk minumannya, ia lalu menoleh kepada Francesca dan menatap gadis itu. Tatapan matanya yang berwarna coklat terang, terasa mengandung medan magnet yang begitu kuat dan menarik hati Francesca dengan sangat luar biasa. “Panggil saja Ricci. Jangan terlalu formal,” ucapnya dengan tenang.
Francesca terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, gadis itu mengangguk pelan. “Baiklah, Ricci. Aku permisi dulu. Aku harus membantu kakak-ku,” sahutnya seraya berlalu meninggalkan Coco yang kembali meneguk minumnnya sambil memerhatikan kakak-beradik yang manis itu.
__ADS_1
Coco kemudian meraih ponselnya yang ia biarkan tergeletak begitu saja di atas meja saat terjadi perkelahian. Ia pun mulai mengetik pesan untuk Matteo.
Ratusan kilometer dari Venice, Matteo menerima pesan dari Coco dengan senyuman yang tersungging di bibirnya. Ia lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Antonio yang telah menemukan seseorang untuk dikorbankan.
Matteo melihat Antonio membawa salah seorang anak buahnya keluar dari Casa de Luca menuju ke kantor polisi. Tak ada satu pun komentar dari mulut pria rupawan itu.
Sesampainya di kantor polisi, Antonio mendorong tubuh pria itu dengan sangat kasar ketika memasuki sebuah ruangan, hingga ia tersungkur di atas meja. Tidak berselang lama, inspektur muncul polisi di sana. Pria dengan perawakan sekitar 180 cm itu menghampiri Antonio dengan memerlihatkan raut keheranan. “Ada apa ini, Tuan Antonio?” tanyanya. Ia mengalihkan pandangannya kepada pria yang kini terduduk di lantai dengan wajah babak belur.
“Pria ini adalah pelakunya, Inspektur!” tunjuk Antonio kepada pria tadi dengan wajah bengisnya. Sedangkan pria itu hanya terdiam.
“Maksud Anda?” tanya inspektur polisi itu.
“Bajingan inilah yang sudah memasang bom di mobil keponakan saya sehingga menewaskan Roberto de Luca beserta istrinya. Saya ingin agar ia diberikan hukuman yang setimpal!” geram Antonio. Ia menatap penuh kemarahan kepada pria tersebut.
Inspektur polisi itu segera memerintakan anak buahnya untuk mengamankan pria yang dituding sebagai pelaku dari pembunuhan Roberto beserta istrinya. “Kami harus melakukan penyidikan terlebih dahulu untuk mengumpulkan bukti-bukti, barulah setelah itu kami dapat memastikan apakah pria ini pelaku yang sebenarnya atau bukan,” terangnya.
“Apa lagi yang harus Anda selidiki? Bajingan ini sudah mengakui semuanya! Jadi, segera berikan ia hukuman yang setimpal!” protes Antonio.
“Kami dapat memahami perasaan Anda, Tuan Antonio. Akan tetapi, tolong izinkan kami untuk melakukan segala sesuatunya sesuai dengan prosedur yang berlaku. Kami tidak dapat bertindak seenaknya, karena itu akan menyalahi aturan,” jelas inspektur polisi itu. “Serahkan semuanya kepada kami. Kami berjanji akan segera menyelesaikan kasus ini dan memberitahukan hasilnya kepada Anda. Sekarang, sebaiknya Anda kembali dan biarkan kami melakukan apa yang menjadi tugas kami di sini sebagai pihak yang berwenang,” lanjutnya.
Antonio mengeluh pelan. Tidak ada pilihan lain baginya selain menyetujui semua yang dikatakan inspektur polisi tersebut. “Baiklah. Keluarga de Luca menginginkan agar kasus ini segera selesai. Jika sampai kasus ini berlarut-larut, maka kami tidak akan percaya lagi pada instansi yang Anda pimpin!” ancam Antonio dengan tegas.
__ADS_1
Inspektur polisi itu mengangguk dengan yakin. “Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Kami akan bekerja dengan sebaik-baiknya,” tegas inspektur polisi tersebut. Ia kemudian memersilakan Antonio untuk kembali.
Antonio melangkah keluar dari kantor polisi itu. Seutas senyuman muncul di sudut bibirnya yang tertutupi janggut dan kumis tebal. Setelah itu, ia lalu masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan halaman parkir tempat tersebut.