
Mia membalikan badannya. Ia menghampiri Francesca yang saat itu masih berbicara dengan Valentino. Wajahnya terlihat cemas, dan kecemasan itu terlihat sangat jelas. “Francy, kita harus menutup kedai lebih cepat hari ini,” ucap Mia pelan. Ia terlihat begitu lemas dan tak bersemangat.
“Ada apa, Mia?” tanya Francesca dengan nada khawatir. Tak hanya gadis itu, Valentino pun tampak sama khawatirnya. Ia mengesampingkan perasaannya yang sempat kecewa dengan sikap Mia tadi. Valentino kembali menunjukkan rasa peduli, kepada gadis manis pujaan hatinya yang akan segera ia nikahi.
“Ada apa, Mia? Kenapa kau terlihat gusar seperti itu?” tanya Valentino seraya memegangi kedua lengan Mia dan membuat gadis itu menghadap kepada dirinya. Mia mengela napas pelan. “Baru saja ayah menghubungiku. Ia menyuruhku dan Francy untuk segera ke rumah sakit," jawabnya.
"Segera hubungi Dani dan suruh ia untuk menyusul kita,” ucap Mia mengalihkan pandangannya kepada Francesca. Setelah itu, ia lalu beranjak ke dapur untuk mengambil tas-nya dan juga tas milik Francesca.
Gadis belia itu segera merogoh ponselnya dan menghubungi Daniella. Sementara Mia mulai membereskan meja dan kursi dengan dibantu oleh Valentino. Kebetulan, pengunjung juga sudah mulai berkurang saat itu. Setelah menunggu pengunjung terakhir pergi, Mia segera menutup kedainya.
“Daniella masih di salon. Ia akan menyusul ke sana nanti,” ucap Francesca ketika mereka selesai menutup kedai. “Aku akan ke rumah sebentar. Aku harus mengganti pembalut. Aku lupa membawa ganti,” bisik Francesca kepada Mia. Ia tidak ingin Valentino mendengar apa yang ia katakan.
“Baiklah," jawab Mia pelan. "Lalu, nanti kau berangkat dengan siapa ke rumah sakit?” tanya Mia dengan sedikit resah.
“Ya ampun, Mia! Umurku sudah delapan belas tahun!” protes Francesca membuat Mia tersenyum kecil. Ia baru sadar jika gadis itu sangat sensitif jika dianggap sebagai anak kecil.
“Baiklah. Aku akan berangkat ke sana dengan Vale. Aku duluan, ya,” Mia mengecup kening sang adik dengan lembut. Setelah itu mereka mengambil jalur yang berbeda, karena Mia akan langsung menuju rumah sakit dengan menggunakan mobil milik Valentino, sedangkan Francesca menuju rumahnya terlebih dahulu.
“Jangan Khawatir, Mia! Semuanya akan baik-baik saja,” ucap Valentino seraya membukakan pintu mobilnya untuk Mia. Sementara Mia hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman tipis. Gadis itu kemudian duduk manis di dalam mobil VW Kodok milik Valentino. Tidak berselang lama, mobil berwarna merah itupun melaju dengan tenangnya.
Sementara Matteo kembali ke tempat Coco. Pria bertato itu terlihat semakin kacau. Ia merasa seperti bukan dirinya lagi. Matteo tak mampu mengendalikan perasaannya.
Dua cup kopi disuguhkan oleh Coco yang baru kembali dari luar. Ia juga tampak membawa makanan. Ia sudah tidak heran lagi melihat ekspresi aneh yang diperlihatkan oleh Matteo. “Kau baik-baik saja, Tuan Muda?” tanya Coco seraya menyodorkan makanan yang baru ia beli kepada Matteo. Sedangkan Matteo terlihat sangat tidak bergairah saat itu. Ia hanya duduk bersandar dengan wajah lusuh.
“Kita kembali saja ke Brescia. Aku rasa semuanya sudah berakhir,” jawab Matteo. Ia belum menyentuh makanan ataupun kopi yang disuguhkan oleh Coco.
“Kenapa, Amico? Apa Mia menolakmu?” selidik Coco.
Matteo mengela napas dalam-dalam kemudian mengempaskannya dengan kesal. “Aku tidak mau berada dalam situasi seperti ini lagi. Tidak, Sobat! Ini bukan Matteo de Luca!” sesal Matteo. Nada bicaranya terdengar begitu kesal.
“Maksudmu?” tanya Coco dengan mulut yang dipenuhi makanan.
“Mia akan mempercepat pernikahannya. Sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kau pikir saja sendiri, aku merasa bimbang saat ini! Sudahlah, aku tidak ingin lagi mengurusi sesuatu yang berhubungan dengan asmara, perasaan, cinta, atau apapun itu! Aku akan kembali ke Brescia dan fokus untuk mengurus Klan de Luca! Persetan dengan kisah cinta!” Matteo mendengus kesal. Ia merasa telah kehilangan harga dirinya karena terlihat lemah dan kalah oleh cinta, yang telah membuatnya menjadi terombang-ambing tak karuan.
“Theo, Theo. Kasihan sekali dirimu,” gumam Coco seraya menyudahi makannya. “Jadi, bagaimana dengan pria misterius itu? Haruskah aku melanjutkan untuk menyelidikinya?” tanyanya.
“Tidak usah! Siapa tahu itu hanya salah satu pria yang mengagumi Mia atau mungkin mantan kekasihnya, atau ... ah, sudahlah! Aku tidak peduli lagi!” ujar Matteo kesal.
__ADS_1
Coco hanya tersenyum simpul. Sesaat kemudian ia beranjak ke dekat jendela. Dilihatnya Francesca yang baru keluar dari pintu bangunan tempat tinggalnya. Sepertinya gadis itu akan pergi, karena ia tampak membawa jaket yang diikatkannya di pinggang. Rasa penasaran Coco terhadap gadis itu kembali muncul. Diliriknya Matteo yang masih tampak kesal. “Kau masih ingin di sini, Amico?” tanya Coco.
“Memangnya kenapa?” Matteo balik bertanya.
“Aku ingin keluar sebentar. Kau istirahat saja dan tenangkan dirimu. Jangan lupa makan. Jangan sampai otot kekar-mu hilang karena kau menjadi kurus akibat terlalu memikirkan cinta,” celoteh Coco seraya meraih helm dan kunci motor-nya. Sementara Matteo tak berniat untuk menanggapi ocehan sahabatnya itu. Ia bahkan tidak melihat ketika Coco keluar dari kamar itu.
Coco segera mengeluarkan motornya. Ia menjalankan motor itu dengan tidak terlalu kencang. Dari jarak beberapa meter, terlihat Francesca tengah berjalan sendirian. Coco kemudian menghentikan laju motornya, tepat di dekat gadis yang seketika menoleh kepadanya.
“Ricci?” Francesca tampak mengernyitkan keningnya. “Sedang apa kau di sini?” tanya gadis itu heran.
“Ini jalanan umum. Aku rasa tidak ada larangan bagiku untuk lewat sini,” jawab Coco dengan seenaknya, membuat Francesca menyunggingkan sedikit senyuman. Namun, sikapnya terhadap Coco tidak se-ketus sebelumnya.
“Boleh aku tahu kau mau ke mana?” tanya Coco.
“Aku harus ke rumah sakit,” jawab Francesca. “Maaf karena aku sedang terburu-buru,” Francesca bermaksud untuk melanjutkan langkahnya. Akan tetapi, dengan segera Coco mengikutinya. Francesca kembali menghentikan langkahnya dan menoleh.
“Naiklah, biar kuantar!” suruh Coco. Ia memberi isyarat agar gadis itu segera naik ke motornya. Francesca terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia lalu naik dan duduk di belakang Coco. Francesca juga segera mengenakan jaketnya.
“Berpeganganlah!” suruh Coco.
Di sana, Valentino sudah menunggu mereka di lobi. Rautnya terlihat sangat cemas.
“Di mana, Mia?” tanya Francesca.
“Ayo kuantar,” jawab Valentino singkat seraya mengarahkan Francesca dan Coco ke ruang perawatan Magdalena. Setelah itu, tak sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Mimik tegang terlihat jelas dari wajah tampan pemuda itu.
“Ada apa, Vale? Kau membuatku takut,” Francesca menghentikan langkahnya dan menatap Valentino lekat-lekat. Ia berharap pemuda itu mau memberinya sebuah jawaban.
“Nanti saja,” Valentino kembali menarik lengan Francesca dan membawanya masuk ke ruang perawatan Magdalena. Tampak Mia duduk di samping ranjang sembari terisak, sementara Mr. Gio hanya tertunduk lesu.
“Ada apa ini?” nada suara Francesca meninggi.
Mr. Gio seketika menoleh, lalu mendekati gadis itu. Dipeluknya Francesca sambil sesekali menepuk punggungnya. “Ibumu akan dipindahkan ke ruang gawat darurat sebentar lagi. Kondisi tubuhnya melemah, jadi untuk sementara proses kemoterapinya akan ditunda,” terang Mr. Gio.
“Sebelum masuk ke ruang steril, ia ingin bertemu dengan kalian,” imbuhnya.
Francesca terisak. Dengan segera ia mendekati ranjang sang ibu. Lirih terdengar suara ibunya menasihati Mia.
__ADS_1
“Apa kau yakin? Me-nikahi Valen-tino?” suara Magdalena begitu lemah dan terbata-bata.
“Iya, Bu,” Mia mengangguk pelan.
“Mi-a, selama ini kita tidak ter-lalu dekat, ta-pi aku menyayangimu. Terima ka-sih telah merawatku,” ucap Magdalena. “Semoga kau se-lalu menemukan kebahagiaan-mu. Aku ber-harap, siapa pun yang menjadi suamimu, i-a memiliki ketulusan dan kebaikan sa-ma sepertimu,” suara wanita itu terdengar semakin lirih dan lemah.
“Ibu!” seru Daniella, menghentikan segala petuah Magdalena untuk Mia. Sedangkan Mia memilih mundur dan memberikan kesempatan pada Daniella serta Francesca. Dua kakak beradik itu segera menghambur ke tubuh ibunya. Sedangkan Mr. Gio hanya terdiam di sudut ruangan, matanya kosong mengarah ke lantai.
“Mr. Gio, anda tidak apa-apa?” Valentino mengusap pundak pria yang begitu dihormatinya itu.
“Kehilangan itu menyakitkan, Vale. Aku tidak ingin mengalaminya lagi. Jika Magdalena meninggalkanku, aku akan memilih untuk ikut bersamanya,” jawab Mr. Gio dengan nada pilu.
“Jangan bicara seperti itu, Mr. Gio. Ingatlah nasib putri-putri Anda. Mereka masih sangat membutuhkan sosok kuat seperti Anda, Tuan,” hibur Valentino.
“Aku .…” kata-kata Mr. Gio terputus ketika serombongan perawat dan beberapa orang dokter, memasuki ruang perawatan sembari membawa brankar dan troli berisi perlengkapan kedokteran.
“Saatnya kami memindahkan Anda, Nyonya,” ujar seorang dokter dari balik maskernya.
Daniella dan Francesca beringsut mundur, berdiri di sisi Mia. Mereka memerhatikan para perawat yang cekatan memasang berbagai peralatan dan selang di tubuh Magdalena. Salah seorang dokter tampak menghampiri Mr. Gio dan berbicara sesuatu padanya. “Untuk sementara, Anda dan keluarga tidak dapat menjenguk Nyonya Ranallo selama berada di ruang steril. Jika kondisinya sudah membaik, kami akan memulai kembali proses kemoterapi dan radiasinya,” tutur dokter itu.
“Berapa lama?” tanya Mr. Gio.
“Kami tidak dapat memastikan,” jawab dokter itu ragu.
Entah kenapa, sisi hati Mia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi ketika mendengarkan penjelasan sang dokter. Mia mencoba untuk menepiskan perasaan itu, tapi air matanya tetap menetes jua. Magdalena memang bukan ibu kandungnya. Namun, mereka telah melewati waktu yang panjang bersama-sama.
Mia kemudian menghampiri sang ayah yang tampak sangat rapuh saat itu. Dipeluknya pria itu dengan penuh perasaan. Mia dapat memahami apa yang tengah dirasakan oleh ayahnya. Sementara Daniella yang biasanya terlihat angkuh dan sombong, kini hanya termenung seraya menyandarkan punggungnya pada dinding ruangan itu. Sementara Francesca, ia memilih untuk keluar dan menyendiri.
__ADS_1