Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Punishment


__ADS_3

Coco tertegun. Ia segera membalikkan badannya seraya mendengus kesal. Coco harus menunggu lagi untuk dapat bertemu dengan Lenatta. Sementara Lenatta sudah memasuki mobil. Ia dan gadis lainnya telah dibawa pergi dari tempat itu.


Sebelumnya terdengar salah seorang bodyguard itu menggerutu. Alasannya, ternyata ada salah seorang gadis yang membuat keributan di sana. Ia kedapatan bertemu dengan seorang pria secara diam-diam. Entah apa yang akan dialami gadis itu nantinya, karena ia telah melanggar kesepakatan kontrak yang sudah ditandatanganinya.


Coco memutuskan untuk kembali ke dalam van sewaannya. Ia lalu memeriksa layar monitor yang terhubung dengan kamera pengintai yang telah dipasang oleh Lenatta. Tampak di layar suasana dalam kamar Silvio kembali normal. Entah mereka masih di dalam ruangan rahasia itu, atau mereka justru telah keluar saat Coco tadi berusaha untuk menemui Lenatta. Pria bermata coklat itu mengeluh kesal.


Coco harus mencari cara untuk dapat menemui Lenatta secepatnya. Ia kembali memutar otak. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara perutnya. Coco kemudian melihat arloji di pergelangan kirinya. Pantas saja ia sudah lapar, karena memang sudah waktunya untuk makan siang.


“Sebaiknya aku mencari makan dulu. Otakku tidak bisa bekerja jika perutku kosong,” gumam Coco. Ia bergegas keluar dari dalam van dan berjalan menuju sebuah kedai pasta yang berada tidak jauh dari sana. Coco kemudian memesan salah satu menu yang tidak terlalu memakan banyak waktu dalam penyajiannya.


Sambil menunggu makanan yang dipesannya, Coco duduk seraya memerhatikan orang-orang yang berlalu lalang di sana. Dari bagian dalam kedai, muncul seorang anak muda yang membawa makanan dalam bentuk kemasan. Coco sempat mendengar jika ia akan mengantarkan pesanan, pada pelanggan yang telah memesan secara online. Tiba-tiba, munculah sebuah ide di benak pria bermata coklat itu. Senyumnya pun mulai merekah. Ia tidak menyangka, jika dirinya masih dapat berpikir meskipun dalam keadaan lapar.


“Meskipun itu hanya sebuah ide sederhana, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Inilah mengapa aku selalu merasa bangga pada diriku sendiri,” gumam Coco dengan sombongnya. Hingga pesanannya datang, pria itu terus memikirkan setiap langkah dari rencana yang akan ia susun malam ini. Bagimanapun juga, ia harus dapat menemui Lenatta secepatnya.


Sementara itu di Mansion Moriarty. Para gadis dibawa ke sebuah ruangan khusus, di mana hanya ada satu singgasana yang terletak di tengah ruangan. Suasana di dalam ruangan itu cenderung gelap. Di sana terdapat dua tiang yang letaknya cukup berjauhan. Entah untuk apa gunanya, tapi perasaan Lenatta mulai tidak enak saat berada di sana.


Tidak berselang lama, Silvio datang dengan langkahnya yang tampak sangat gagah. Ia menatap para gadis satu per satu dengan tajam. Silvio pun segera duduk di atas singgasananya.


Angkuh dan menakutkan, begitulah gadis-gadis itu melihat dirinya saat itu. Ia kemudian memberi kode kepada salah seorang pengawal.


Beberapa saat kemudian, terdengar jeritan seorang gadis yang meronta-ronta ketika dua pengawal berpostur tinggi besar menyeret tubuh rampingnya dengan kasar. Ia menyeret gadis itu hingga ke hadapan Silvio. Gadis itu tersungkur tepat di kaki penguasa mansion. Dengan senyuman dingin yang menakutkan, Silvio menarik rambut panjang gadis itu hingga wajahnya terangkat. “Siapa namamu?” tanya Silvio dengan penekanan suaranya yang terdengar sangat marah.

__ADS_1


“Lucette Lombardi,” jawab gadis itu seraya meringis kesakitan karena Silvio menarik rambutnya dengan sangat kencang.


“Kau tahu apa kesalahanmu sehingga kau harus mendapatkan hukuman?” tanya Silvio lagi masih dengan nada bicara yang sama.


Gadis itu mengangguk. Wajahnya terlihat pucat dan sangat ketakutan. Namun, bukan hanya dirinya, tetapi gadis-gadis lain pun merasakan hal yang sama. Tidak terkecuali Lenatta. Ia harus semakin berhati-hati kini.


“Aku benar-benar minta maaf, Tuan. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”


Silvio menyeringai. Tangannya masih terus mencengkeram rambut panjang gadis itu dengan kencang. Ia tidak peduli meskipun gadis itu tampak kesakitan dan terus memohon kepadanya.


“Aku sudah membelimu dari Fabio, itu artinya kau milikku dan aku berhak melakukan apapun yang aku mau!” ucap Silvio lagi dengan nada bicara yang terdengar semakin menakutkan.


“Tunjukan pada ja•lang ini hukuman apa yang akan ia terima!” titah Silvio dengan tegas. Kedua pria itu mengangguk. Mereka menarik paksa lengan gadis itu dan membawanya pada dua tiang tadi. Setelah itu, mereka melucuti seluruh pakaiannya hingga gadis itu benar-benar telanjang. Tak hanya sampai di situ. Kedua pria tadi juga mengikat tangan dan kaki si gadis pada setiap sudut tiang.


Silvio beranjak dari duduknya. Ia menghampiri gadis yang telah terikat tangan dan kakinya itu. Seorang pengawal datang dan menyodorkan sebuah alat seperti sabuk yang terbuat dari kulit. Silvio melipat alat itu menjadi dua. Tanpa perasaan, ia memukulkan benda itu pada seluruh tubuh si gadis dengan sangat keras.


Gadis itu memekik kesakitan. Namun, Silvio tak juga menghentikan hukumannya. Semakin gadis itu menjerit, maka pukulan Silvio justru semakin kencang. Para gadis yang menyaksikan hal itu hanya dapat menundukan wajahnya. Takut dan tentu saja tidak tega ketika harus melihat adegan seperti itu.


Sesaat kemudian, Silvio mengakhiri hukumannya saat tubuh gadis itu sudah dipenuhi oleh luka memar, bahkan hingga mengeluarkan darah.


“Bawa ja•lang ini! Berbagilah dengan teman-teman kalian!” titah Silvio lagi. Wajah tampan itu terlihat sangat buas. Sorot matanya tampak beringas dan seakan ingin menghukum serta menghabisi semua yang ada di ruangan itu. Silvio kemudian berdiri di hadapan para gadis terlihat ketakutan. Ia kembali menatap mereka satu per satu.

__ADS_1


“Kalian juga akan mendapatkan hukuman yang sama jika sampai melakukan kesalahan! Aku tidak akan pernah berkompromi dengan pelanggar aturan!” ancam Silvio dengan tegas. Napasnya terengah-engah karena kemarahan yang telah memuncak. Silvio berlalu seraya melemparkan sabuk itu ke hadapan para gadis.


Ketika pintu ruangan itu kembali dibuka, gadis-gadis itu segera menghambur keluar. Tak terkecuali Lenatta. Jantungnya masih berdebar, membayangkan kejadian yang baru saja ia saksikan Bagaimana jika hal itu terjadi kepadanya?


Sesampainya di kamar, gadis molek itu menutup pintu dan menguncinya. Ia kemudian berbaring di atas ranjang dengan wajah gelisah. Mungkin sudah terlambat baginya untuk mundur. Ia sudah terlanjur tenggelam terlalu dalam.


Tak lama, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Lenatta segera bangkit dengan perasaan was-was. Ragu-ragu Lenatta, turun dari ranjangnya. Pikirannya berperang antara membuka pintunya atau tidak.


“Nona Valecia, buka pintunya! Signor Silvio ingin bertemu denganmu!” terdengar suara pengawal dari balik pintu.


Jantung Lenatta berdebar semakin kencang. Dadanya serasa begitu sesak hingga ia kesulitan bernapas. Dengan gemetar, Lenatta memutar handle pintu kamarnya. Wajahnya memucat saat melihat sosok tegap dan bengis yang berdiri di hadapannya.


“Aku tidak membuat kesalahan padanya. Apakah dia akan menghukumku juga?” tanya Lenatta hati-hati.


“Tenang saja. Ia tidak akan menghukum siapapun lagi malam ini. Ia hanya memintamu untuk menemaninya berbincang,” jawab pria itu dengan seringainya.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2